Menjadi Baik Atau Terlihat Baik

Menjadi Baik Atau Terlihat Baik
Oleh Zulkarnain Lubis

  • Bagikan

Orang-orang yang ingin terlihat baik meskipun bukan orang baik, akan berusaha menutup keburukannya dengan merekayasa dan membungkusnya sehingga nampak seperti benar, baik, indah, unggul, jago, dan berkualitas

Sesuatu yang wajar jika setiap orang, setiap kelompok, setiap lembaga, atau setiap institusi menginginkan terlihat baik dan seiring dengan waktu ingin terlihat lebih baik oleh orang lain atau pihak lain atau institusi lain.

                                             

Namun sesungguhnya apa yang terlihat baik mestinya memang harus baik, jadi tidak berbeda antara apa yang terlihat dengan apa yang sebenarnya.

Itulah makna sesungguhnya dari pencitraan, yaitu memperlihatkan hal baik yang memang yang dimiliki dan faktanya memang demikian. Sehingga hal baik tersebutlah menjadi citra kita atau citra institusi kita di mata masyarakat.

Bukan seperti apa yang kita saksikan selama ini seolah pencitraan adalah memoles, memperindah, menghiasi diri atau institusi atau perusahaan kita dan menutupi kelemahan, kekurangan, dan keburukan kita. Sehingga menjadi terlihat indah, baik, benar, dan bagus, padahal fakta sebenarnya tidak demikian.

Sesungguhnya, jika hanya sekedar ingin terlihat baik padahal keadaan yang sesungguhnya tidak baik, maka apa yang kita lakukan, siapapun kita, dipandang sebagai perbuatan tidak jujur, tidak benar, serta berlawanan dengan etika dan moral.

Justru hal demikianlah yang banyak ditemui. Seperti ditunjukkan para pemimpin, tokoh, pejabat, elit, sampai masyarakat biasa pada berbagai lapisan dan usia, orang selalu ingin dilihat dan dipandang baik, hebat, atau jagoan meskipun keadaan sesungguhnya tidaklah demikian.

Seorang siswa atau lulusan sekolah menengah yang ingin masuk ke perguruan tinggi idamannya, ingin nampak berkualitas sehingga layak dipilih untuk menjadi mahasiswa di perguruan tinggi tersebut.

Bagi siswa yang memang memiliki kualifikasi sesuai persyaratan kelulusan, tentu saja tidak perlu lagi memoles dan mematut-matut dirinya, agar dinilai layak, karena memang sudah terpenuhi kelayakannya.

Namun bagi siswa yang merasa tidak memenuhi kualifikasi yang disyaratkan, agar terlihat memenuhi syarat untuk terpilih, mereka akan berusaha memoles dirinya dengan segala macam cara.

Termasuk dengan cara instan dengan mengikuti bimbingan belajar untuk meningkatkan “penampilannya” secara instan melalui “belajar menjawab soal ujian”, tapi yang lebih salah lagi adalah melakukan cara-cara melanggar etika.

Seperti “menyulap” rapor, menyewa “gacoan” atau “joki”, berusaha mencari “bocoran” soal ujian saringan masuk, atau cara-cara lainnya yang bertentangan dengan etika dan moral.

Kita sering mendengar dan membaca betapa banyaknya orang yang ingin terlihat berkualitas dan terdidik dengan memasang sejumlah gelar di depan dan di belakang namanya.

Gelar yang didapatkannya tak perlu melalui proses dan prosedur resmi, tak peduli apakah diterbitkan institusi resmi dan legal atau tidak. Tak peduli gelar itu pantas atau tidak, diakui atau tidak sebagai gelar akademik. Yang penting membuat dia seolah hebat dan berilmu.

Perilaku demikian menyebar pada berbagai tingkatan masyarakat mulai dari masyarakat biasa, sampai kepada pengurus organisasi politik, tokoh masyarakat, pengusaha, sampai kepada penguasa.

Mereka merasa dengan sederet gelar akademik ini, orang akan terpana dan terpesona sehingga mereka merasa lebih percaya diri dan mereka merasa sudah menjadi manusia terhebat.

Padahal sesungguhnya jika ditanya suara hati mereka, sejujurnya mereka mengakui tak punya kompetensi apa-apa sebagaimana deretan gelar yang mereka banggakan. Mereka hanyalah orang yang ingin terlihat memiliki kualitas baik, walaupun sesungguhnya kualitasnya baik.

Dalam dunia usaha dan dunia industri, upaya untuk terlihat lebih baik ini juga biasa dilakukan, mereka mempromosikan produknya melalui aneka iklan agar masyarakat tahu bahwa produk merekalah yang terbaik.

Dari sinilah muncul istilah “kecap nomor satu”, semua produsen menklaim bahwa produk merekalah yang terbaik, mereka berani membayar mahal pelakon dan pesohor untuk mengiklankan produk mereka.

Tentu saja tidak salah mereka mengklaim bahwa produknya baik jika memang faktanya memang demikian, tapi nyatanya tidak demikian, janjinya tidak sesuai kenyataan, faktanya tidak sesuai yang digembar-gemborkan.

Sehingga mereka sama saja dengan menipu masyarakat dan tindakannya dianggap salah dan melanggar etika dan moral.

Di antara anggota masyarakat, kita juga banyak menyaksikan orang-orang yang memaksakan dirinya agar terlihat baik, hebat, atau kaya.

Mereka memaksakan diri untuk nampak hebat dengan penampilan yang wah, padahal pakaian dan assesorinya adalah pinjaman atau diperoleh melalui hutang yang dipaksakan.

Mereka ingin terlihat kaya dan berhasil, dengan memaksakan diri untuk membeli kenderaan yang mahal yang semestinya belum saatnya jika dibandingkan dengan keadaannya.

Ada lagi yang menutupi kekurangannya dengan “omong besar” dan mengarang cerita yang bercampur antara fiksi, khayalan, dan keinginannya. Sehingga dari omongannya dia terlihat hebat, berprestasi, dan orang baik.

Jika sekedar terlihat baik dan hebat, kesalahannya hanya sekedar melanggar kepatutan, etika moral. Tapi jika penampilannya digunakan mengelabui, menipu, dan memperdaya, tentu bukan sekedar ingin tampil terbaik, tetapi sudah merugikan orang dan melanggar hukum.

Contoh lain adalah upaya perguruan tinggi untuk terlihat sebagai “perguruan tinggi terbaik” dengan cara mengupayakan hasil akreditasi dengan nilai terbaik. Padahal kinerjanya, proses pembelajarannya, luarannya, sumberdaya yang dimilikinya, tata kelolanya, penelitian dan pengabdiannya, dan sarana prasarananya, tidak yang terbaik.

Mereka berusaha memoles sejumlah borang isian, sekaligus menyiapkan barang bukti yang meyakinkan agar terlihat perguruan tinggi ini seolah-olah “yang terbaik”.

Persis seperti “Bimbel”, mereka akan belajar bagaimana trik-trik mengisi sejumlah borang isian yang semakin tahun semakin rumit, ruwet, dan njlimet cara mengisinya.

Tapi bagaimanapun sulitnya cara mengisi beberapa perangkat isian tersebut jika ingin mendapatkan status akreditasi yang diinginkan untuk dasar menyatakan diri sebagai yang terbaik, ada saja cara yang bisa dilakukan agar isian tersebut terlihat logis dan meyakinkan.

Meskipun sesungguhnya, pihak pembuat borang terus menerus telah berusaha memperbaikinya agar susah diakali, tapi tetap ada saja “celah” untuk “menpercantik” isiannya. Jadi tidak salah jika beberapa pihak meragukan hasil akreditasi banyak program studi dengan keadaan mereka yang sesungguhnya.

Cara lain bagi perguruan tinggi adalah berusaha untuk mendapatkan tinggi dari beberapa lembaga pemeringkat. Tentu saja tidak semua anggota masyarakat memahami lembaga pemeringkat ini.

Padahal tidak semua lembaga pemeringkat memiliki reputasi dan tidak semuanya sama indikator pemeringkatannya. Jika peringkat yang diperoleh berasal dari lembaga bereputasi, tentu perguruan tinggi tersebut bolehlah dikatakan yang baik bukan sekedar ingin terlihat baik.

Tapi jika peringkat yang diperoleh dari lembaga pemeringkat yang tidak bereputasi, maka kesannya perguruan tinggi tersebut hanya sekedar ingin terlihat terbaik bukan memang terbaik.

Upaya menjadi tampak baik, tentu saja dilakoni para peserta yang akan berlaga di kompetisi seperti lomba lari, renang, sepak bola, tinju, bela diri, dan lainnya. Tapi pada banyak perlombaan ini, kualitas dan kemampuan susah dipoles dan direkayasa supaya terlihat terbaik, biasanya hasilnya cenderung lebih objektif dan validitasnya tinggi.

Seorang yang terlihat bagus memang karena bagus dan seorang yang terlihat kurang bagus dan tidak bagus memang kalah dibanding yang lebih baik dan yang paling bagus, dan biasanya yang merasa kalah bagus dengan juaranya akan secara tulus mengakui kelebihan yang menang.

Mungkin inilah asal muasalnya perkataan “sportif” yang berasal dari kata sport karena para olahragawan dianggap memiliki sikap dan sifat gentleman, berjiwa besar, dan mengakui kelebihan lawan sekaligus mengakui kekurangan sendiri.

Perkataan sportif inipun menjadi biasa ditujukan kepada siapa sajapun yang memiliki sikap tersebut, meskipun di luar dunia olahraga.

Sayangnya banyak di antara kita yang tidak bersikap sportif, khususnya para pemimpin kita yang tidak mau mengaku salah, tidak bisa disalahkan, anti terhadap kritik.

Bahkan marah jika ada orang yang mengkritik. Mereka ini malah cenderung merasa paling benar, memonopoli kebenaran, serta apa yang disampaikannya dan dilakukannya harus dipandang sebagai kebenaran.

Pihak-pihak yang berbeda pandangan dengan ucapan dan tindakannya, dianggap sebagai lawan, dijadikan sebagai musuh, bahkan dianggap merongrong kewibawaannya.

Sikap berusaha menunjukkan dirinya terlihat terbaik, padahal belum tentu merupakan orang baik, paling banyak ditemui pada mereka yang maju dalam persaingan menjadi pemimpin.

Baik di organisasi pemuda, organisasi sosial, organisasi politik, bahkan organisasi keagamaan, terlebih-lebih lagi untuk menjadi pemimpin di pemerintahan, mulai dari tingkat desa, kabupaten/kota, provinsi, sampai tingkat nasional.

Mereka akan berusaha mematut-matut diri, memoles, dan menghias diri untuk memikat para pemilih agar para pemilih menganggap bahwa merekalah yang terbaik, meskipun sesungguhnya mereka belum tentu orang yang baik.

Begitu juga untuk mereka yang mengidamkan jabatan yang ditentukan atasan mereka, mereka akan berusaha agar nampak menjadi yang terbaik dimata atasannya, meskipun sesungguhnya mereka bukanlah yang terbaik atau bahkan mungkin bukan orang baik.

Orang-orang yang ingin terlihat baik meskipun bukan orang baik, akan berusaha menutup keburukannya dengan merekayasa dan membungkusnya sehingga nampak seperti benar, baik, indah, unggul, jago, dan berkualitas.

Hidup mereka yang ingin selalu terlihat baik tapi tanpa berusaha untuk sungguh-sungguh menjadi baik, akan selalu penuh dengan kebohongan, kepalsuan, dan rekayasa.

Mereka hanya sibuk dengan kulit tapi lupa dengan konten, mereka selalu ingin mempercantik pembungkus tapi tak perduli dengan isi, mereka selalu fokus dengan assesori tapi mengabaikan substansi.

Mestinya, siapapun kita, apakah pribadi atau institusi, silahkan saja melakukan pencitraan, asalkan pencitraan yang benar, yaitu yang menunjukkan citra sebagai gambaran dari keadaan sesungguhnya.

Bukan dengan berpura-pura, bukan dengan pura-pura baik tapi sesungguhnya jahat, pura-pura kaya padahal sesungguhnya biasa saja, pura-pura dermawan padahal sesungguhnya pelit, pura-pura peduli padahal sesungguhnya “masa bodo”.

Pura-pura simpati padahal sesungguhnya antipati, pura-pura merakyat padahal sesungguhnya hatinya jauh dari rakyat, pura-pura santun dan lemah lembut padahal hatinya kasar dan bisa bertindak keji.

Namun sesungguhnya, kita tak bisa juga menyalahkan jika gejala mengutamakan kulit daripada substansi ini marak dan terjadi di berbagai aspek kehidupan, tentu ada juga kaitannya dengan sikap masyarakat yang juga cenderung demikian.

Untuk menilai lulusan perguruan tinggi, dunia usaha justru melihat akreditasi perguruan tingginya, bukan dari kompetensi dan karakteristik lulusannya. Padahal belum tentu berkaitan antara lulusan dengan akreditasi perguruan tingginya.

Kompetensi seorang lulusan justru terkait erat dengan kualitas pribadi, motivasi belajar, cara belajar, dan penguasaan sains & teknologi yang bisa saja dia peroleh dari banyak sumber pembelajaran.

Untuk menilai kualitas seorang calon juga mestinya bukan dari apa yang dilakukannya menjelang pemilihan, tapi dengan melihat track record yang bersangkutan sepanjang hidupnya.

Bagaimana pola dan gaya hidupnya, siapa dan bagaimana perilaku keluarganya, siapa dan bagaimana kawan-kawannya, bagaimana jejak rekamnya dalam bekerja, dan lain sebagainya.

Untuk menyeleksi calon mahasiswa dari lulusan sekolah menengah juga mestinya tidak semata-mata ditentukan oleh ujian saringan masuk yang hanya diperoleh dalam beberapa jam saja.

Tetapi berdasarkan track record siswa yang bersangkutan selama di sekolah menengah, sehingga penentuannya tidak menjadi bias.

Untuk menilai seseorang, kita juga tak bisa hanya dari penampilannya dan bicaranya saja, karena banyak orang yang tertipu dan terperdaya dengan penampilan.

Padahal penampilan dan gaya bicara bisa mempesona dan mampu menutupi keadaan yang sesungguhnya, don’t judge a book by its cover.

Penulis adalah Ketua Program Doktor Imu Pertanian UMA dan Ketua STIE MTU

  • Bagikan