Waspada
Waspada » Mengenang Kepergian Prof Chairuddin P Lubis, Rektor USU Periode 1994-2010
Headlines Opini

Mengenang Kepergian Prof Chairuddin P Lubis, Rektor USU Periode 1994-2010

Prof Chairuddin P Lubis bersama ibunda penulis alm Hj Nuriah Nasution.
Prof Chairuddin P Lubis bersama ibunda penulis alm Hj Nuriah Nasution.

“Dy, mamak ingin sekali foto bersama Prof Chairuddin, Spesialis Anak yang terkenal itu!”

UNGKAPAN keinginan ini terjadi tahun 1994 tatkala cucu dari almarhumah Emakku diterima sebagai Mahasiswa Fak.Kedokteran USU yang juga keponakan kandung saya (anak dari kakak saya no 3).

Ibundaku merasa bangga karena dia seorang Bidan yang cukup lama yang dididik oleh dokter Belanda di RS Sri Pamela (d/h RS Padang Bedagai) Tebingtinggi.

Dia hanya mampu sampai sekolah Bidan dan terus membuka praktek di rumah usai pensiun dari RS Sri Pamela hingga akhir hayatnya pada 1998 karena menderita sakit yang menahun, dan juga anaknya (orang tua kemenakan saya) Hj Suliawaty Purba sekolah bidan dan bekerja di RS Sri Pamela hingga pensiun saat ini.

Keinginan yang sudah lama terpendam oleh almarhumah Emak saya Hj Nuriah Nasution akhirnya 6 tahun kemudian terwujud ketika pada 2010 kemenakan saya dr Rini Aftitasari Saragih di wisuda profesi dokter di USU.

Emak saya tentu bangga bisa hadir meski saat itu dia sudah sakit yang kondisinya tidak prima tapi karena semangat ingin berjumpa dan berfoto dengan sang Prof yang dia paksakan untuk tetap tegar.

Usai wisuda saya bawa emak saya, kakak dan kemenakan untuk menuju lantai 3 Biro Rektor menemui sang Prof.

“Assalamu’alikum. Izin Prof ini emak saya boru Nasution sudah “tarhirim” 6 tahun menanti ingin jumpa dan berfoto dengan Prof idola emak saya”

Dengan ciri khas senyumnya sang Rektor berdiri dan memegang bahu emak saya untuk merapat dan berfoto.

Tampak linangan air mata emak saya rasa haru akhirnya bisa berjumpa berfoto dengan idolanya

Saya pun meminta foto kedua bersama dengan kakak, emak dan kemenakan saya.

“Tarimo kasih Profesor saya bisa jumpa dan pahoppu saya bisa jadi dokter. Anak saya eddy cerita karena jasa Profesor cucu saya ini bisa menjadi dokter,” demikian ungkapan emak saya dalam linangan air matanya kepada sang Profesor.

Kisah berikutnya juga saya alami.

Ketika anak saya sakit masih bayi, Dhyta Permatasari (alumni FE USU saat ini bekerja di BP Jamsostek) saat membawa berobat ke prakteknya di Jalan Abdullah Lubis.

Meski saat itu saya belum begitu akrab tapi hanya kenal sepintas, ketika mau mengambil resep dan membayarkan uang jasa konsultasi, tiba-tiba perawat mengatakan gratis pak.

Sampai anak saya kedua berobat selalu gratis apalagi semakin akrab.

Saya tanya sama perawatnya kok gratis? Ada kode “TS” di kartu berobat anak saya Dhyta dan Farhan.

Begitulah jiwa sosial dan kemanusiaannya.

Bahkan pernah suatu malam jam 2 pagi saya ketok rumah Prof di Jalan Sumarsono membawa anak saya yang masih bayi sakit.

Beliau ke luar kamar dan memeriksa serta menyarankannya di opname di RS Swasta serta beliau yang merawatnya.

Itupun honornya gratis.

Itulah sekelumit kisah yang saya alami mengungkapkan kebaikan almarhum Prof yang banyak dikagumi oleh masyarakat.

Subhanallah kebaikan almarhum tak terbayar dengan uang.

Posisinya sebagai Guru Besar konsultan spesialis anak dengan jabatannya Rektor, tetap saja membuka praktek dan melayani pasien anak yang membutuhkan sentuhan kasih sayangnya.

Di persaksian saya, almarhum sosok pemimpin yang sangat baik.

Banyak mahasiswa yang baru wisuda ternyata antri juga menjumpai ruang kerja rektor hanya untuk bersalaman dan berfoto.

Begitu juga banyak masyarakat yang berobat yang tidak mampu ataupun teman almarhum, dia gratiskan.

Di mata saya almarhum orang sederhana, familiar.

Ruang kerjanya terbuka untuk siapa saja yang mau bertemu.

Bahkan setiap jelang makan siang, almarhum selalu mengajak koleganya para dosen dan tamu yang datang untuk makan bersama sambil berdiskusi.

Dia juga sosok yang senang diajak berdiskusi.

Berjam dia bisa melayani diskusi apalagi kalau sudah berbicara tentang USU dan Sumatera Utara.

Masa Gubsu Raja Inal Siregar saya selalu berinteraksi karena pak Raja meminta beliau dan Tim USU untuk membenahi kualitas guru dan pendidikan khususnya di Tapanuli Selatan.

Sekolah Unggulan SMA Plus Sipirok banyak pemikiran kerja cerdasnya mengembangkan sekolah ini bahkan beliau mengajak Prof Andi Hakim Nasution (mantan Rektor IPB Bogor) membenahi kualitas guru di Tapanuli Selatan.

Begitu juga masa Gubsu T Rizal Nurdin saya juga sering berkomunikasi.

Bagaimana beliau gigihnya untuk memindahkan RS Mata (milik Pemprovsu) di Jalan Dr Mansyur kerena almarhum berkeinginan untuk membangun Fakultas Psikologi USU di lokasi RS itu.

Begitu juga keinginannya merelokasi Sekolah Perawat milik Kementerian Kesehatan karena programnya ingin membangun RS USU.

Perjuangannya yang sangat monumental ketika dengan gigihnya sejak masa Gubsu Raja Inal Siregar hingga Syamsul Arifin untuk mendapatkan tanah HGU PTP 2 yang berada di Kwala Bekala seluas 300 Ha menjadi Kampus 2 USU.

Perjuangan itu berhasil bahkan dia terus berjuang agar Pemprovsu membantu untuk memagar tembok kampus seluas 300 Ha melalui dana APBD Sumut.

Semua obsesi dan keinganan besar itu alhamdulillah terwujud dan mendapat ridho Allah.

Kini semua yang dia tinggalkan menjadi “tugu hidup” yang wajib dilanjutkan dan dikelola dengan profesional dan sentuhan jiwa yang tulus oleh para pemimpin USU kini dan mendatang.

Banyak jasa besar yang dia torehkan untuk membesarkan USU baik dari fasilitas infrastruktur maupun peningkatan kualitas para dosen.

Sudah ratusan dosen yang dia sekolahkan ke dalam negeri maupun luar negeri melalui berbagai donasi yang dia himpun dari berbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta.

Dia juga berjasa membangun kerjasama bidang pendidikan dalam pemanfaatan kerjasama regional IMT-GT.

Pada masa beliau banyak mahasiswa Malaysia yang mengenyam pendidikan di USU terutama pada Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi.

Karena jasanya besar membangun kerjasama pendidikan itu, almarhum pernah diberi gelar Datu oleh salah satu negara bagian di Malaysia.

Kini jasadnya telah terbujur di tempat peristirahatannya terakhir di perkuburan Sei Batugingging Medan.

“Meski jasadmu Prof telah terbujur dan siap menghadap sang khalik, inshah allah jasa dan kebaikanmu akan dikenang dan akan menjadi amal jariyah yang tak pernah putus.”

Aku dan keluarga besarku bersaksi bahwa Prof Chairuddin Lubis adalah hamba Allah yang baik dan telah banyak berbuat di bidang pendidikan dan kesehatan yang berkemajuan di Sumut.

Meski emakku tak menyaksikan semua cucunya, alhamdulillah cucunya saat ini sudah tamat 2 orang profesi dokter (dr Rini Aftitasari Saragih dan dr Hayati Matondang serta 1 orang lagi calon dokter Putri Rizkikah Khairiah Purba sedang kuliah semester V di FK USU)

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Masuklah kedalam golongan hamba-Ku dan masuklah kedalam Surga-Ku”

Saat mendengar alm wafat, saya minta kemenakan saya dr Rini Aftitasari Saragih yang saat ini bekerja sebagai ASN di RSU Kumpulan Pane Tebingtinggi untuk mengirimkan foto sang Prof yang terpajang dalam bingkai besar di rumah alm emak saya di Tebingtinggi.

Penulis adalah Pengamat Sosial dan Kebijakan Publik di Sumut

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2