Waspada
Waspada » Memimpin Dengan Hati Oleh Zulkarnain Lubis
Opini

Memimpin Dengan Hati Oleh Zulkarnain Lubis

Penulis adalah Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Ketua STIE MTU.

 

 

Pemimpin zalim abai terhadap keadilan, sering ingkar janji, sering menipu rakyatnya, berpura-pura baik, berpura-pura dermawan, bermuka bengis di balik senyumannya

 

 

 

Korupsi masih belum terkendali meski sudah 25 tahun reformasi diinisiasi. Nepotisme semakin diminati malah semakin menjadi-jadi dengan praktek politik dinasti yang makin digemari. Birokrasi masih juga tak menunjukkan perbaikan berarti, pelayanan yang serba lambat, serba panjang, dan serba sulit masih saja dihadapi.

 

Kelihatannya masih berpedoman pada ungkapan “kalau bisa diperpanjang untuk apa diperpendek, kalau bisa dipersulit untuk apa dipermudah, dan kalau bisa diperlambat untuk apa dipercepat” yang tentu membuat nyeri hati. Kesamaan di depan hukum masih sekedar ilusi, diskriminasi masih terjadi, hak azasi manusia sering dikangkangi, perbuatan tidak manusiawi masih menghiasi media sehari-hari, perbedaan pendapat seakan tak mendapat porsi, mengkritik dianggap karena benci, menyampaikan pandangan dituduh memprovokasi.

 

Entah kenapa ada perasaan tidak nyaman di hati, suasana mencekam sering menghampiri, seakan ada yang mengompori, yang dikhawatirkan perpecahan yang akan terjadi, tetapi mungkin itulah yang mereka ingini. Kecurigaan adanya adu domba seakan menunjukkan bukti, yang dilakukan halus sekali. Sehingga terus dipenetrasi, isu agama paling diminati, isu intoleransi dan radikalisasi sering tersaji, julukan nyinyir diberi jika terlalu banyak mengomentari.

 

Suasana sekarang ini memang sangat kondusif untuk beraksi bagi mereka yang ingin menguasai negeri, kondisi perekonomian belum pulih lagi, ditambah lagi pandemi yang menguras energi. Pertumbuhan tetap tak mau tinggi, kepincangan distribusi pendapatan semakin membuat ngeri, hutang luar negeri melambung tinggi. Infrastruktur memang menyenangkan hati, tapi banyak yang tidak memberi kontribusi yang berarti terhadap ekonomi.

 

Orang mungkin bertanya artinya reformasi yang 25 tahun diperjuangkan telah menelan korban baik nyawa maupun materi. Apalah artinya reformasi, jika tetap saja tidak ada perbaikan yang berarti terhadap nasib anak negeri, kehidupan berdemokrasi hanya sekedar demokrasi imitasi, kehidupan masyarakat kecil tetap susah untuk mencari sesuap nasi.

 

Dalam kondisi ini, susah memastikan apakah masih ditemukan pemimpin baik hati, jujur dan menggunakan nurani, serta yang betul-betul ingin berbakti dan mengabdi. Mungkin jalan keluarnya adalah munculnya pemimpin yang memimpin dengan hati, memiliki kecerdasan emosional tinggi dan kecerdasan spiritual mumpuni.

 

Kita berharap akan muncul pemimpin yang senantiasa main hati, yang selalu hati-hati, yang memimpin dengan sepenuh hati. Bukan setengah hati, bukan yang membuat makan hati, bukan yang membuat sakit hati, apalagi yang memimpin tanpa hati. Kita tidak memaksakan harus ada pemimpin baru dengan hati bersih dan suci, bisa saja pemimpin lama dengan hati yang telah bertransformasi dan bereformasi.

 

Memimpin dengan hati adalah mengatur berdasarkan pada pertimbangan hati. Semua yang terkait kegiatan mengatur, menata dan mengurus lembaga, organisasi, daerah, atau negara yang dipimpinnya selalu didasarkan atas pertimbangan hati nurani.

 

Disebut memimpin dengan hati, manakala dilakukan tulus, ikhlas, dedikatif dan integritas tinggi terhadap organisasi, lembaga, daerah, atau negara yang dikuasai. Rakyat dan orang yang dipimpinnya bukan dijadikan alat dan diperalat untuk memenuhi nafsu yang tak terkendali. Bukan dibuat untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi sebagai pihak yang sebaik-baiknya dilayani, dipuasi, serta kesejahterakan bisa mereka nikmati.

 

Memimpin menggunakan hati adalah memimpin dengan kasih sayang, rasa hormat, dan empati, sehingga mampu memelihara hubungan dengan orang lain dengan menumbuhkan kepeduliaan yang tulus dan sejati. Pemimpin yang menggunakan hati mengajak terwujudnya keadilan, kejujuran, kebersamaan, kepedulian, kebanggaan, pengakuan serta mengajak untuk saling membagi kasih sayang, saling menolong, saling bekerjasama, dan saling menghargai.

 

Pemimpin yang menggunakan hati tidak mau melihat orang lain sengsara dan menderita, sementara dirinya menikmati hidup berlebihan. Memimpin dengan hati menghendaki orang yang dipimpin merasa beruntung, bergembira, ceria dan bahagia.

 

Setidaknya enam karakter pemimpin yang menggunakan hati, yaitu dia cerdas tapi tidak membuat bawahan dan rakyatnya merasa bodoh; Cepat bertindak sekaligus sabar menghadapi kendala; Sosok yang sangat berani mengambil tindakan tapi matang dan selalu penuh perhitungan; Tegas dan berdisiplin tetapi tidak menakutkan bagi orang yang dipimpinnya;

 

Selalu berpikiran rasional menonjolkan sisi-sisi religiusitas dan spiritual; Meskipun memiliki banyak kesibukan tapi tetap bersahabat, kekeluargaan, dan masih punya waktu dengan rakyat dan bawahannya untuk kebersamaan.

 

Memimpin dengan hati, tidak hanya memerlukan kepintaran dan keterampilan, tetapi harus memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang baik. Orang yang memiliki kecerdasan emosional yang baik adalah orang yang memiliki kesadaran diri sendiri (self-awareness), mampu mengatur diri sendiri (self-regulation), memiliki motivasi, berempati, serta memiliki keterampilan sosial (social skill).

 

Orang yang memiliki kesadaran diri adalah yang percaya diri dan secara objektif mampu menilai diri sendiri, selanjutnya orang yang mampu mengatur diri sendiri adalah orang yang jujur serta mampu menjaga dan menata emosi.

 

Seterusnya memiliki motivasi kuat untuk mencapai tujuan, selalu optimis, dan bisa bangkit meskipun mengalami kegagalan. Berempati, mampu memahami dan merasakan emosi orang lain, mengidentifikasi dan menghargai keinginan orang lain, serta membantu mencari jalan keluarnya. Memiliki keterampilan sosial adalah pemimpin yang visioner, berpengaruh, komunikatif, mampu memberikan perubahan, dan mampu membangun kerjasama.

 

Sebaliknya orang egois, sama sekali tidak peduli reaksi orang lain tentang apa yang dilakukannya, tidak mau tahu keluhan rakyatnya. Ia adalah contoh pemimpin yang tidak menggunakan hati. Pemimpin zalim abai terhadap keadilan, sering ingkar janji, sering menipu rakyatnya, berpura-pura baik, berpura-pura dermawan, bermuka bengis di balik senyumannya.

 

Pemimpin yang memimpin dengan hati harus juga memiliki kecerdasan spiritual yang baik yaitu yang mampu mengerti dan memberikan makna spiritual atas kehidupannya. Serta mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan nilai, batin, dan kejiwaan.

 

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan potensial setiap manusia yang menjadikan dia menyadari dan menentukan makna, nilai, moral, serta cinta terhadap sesama makhluk hidup. Karena ia merasa sebagai bagian dari keseluruhan alam semesta.

 

Kecerdasan spiritual juga adalah adanya dorongan baagi seorang manusia memperoleh makna dari kehidupan dan menghubungkan dirinya dengan sesuatu yang Mahatanpabatas atau Mahatakterhingga yang memiliki kekuatan yang Mahabesar.

 

Makna spiritualitas tidak selalu bermakna agama, spiritualitas adalah tentang mengabsorbsi intisari dari hubungan diri seseorang secara rohani dan jiwa dengan Yang Mahasuci, Yang Mahabenar, dan Yang Mahakuasa yang dipercayainya. Jadi, spiritualitas dapat dimaknai bagaimana manusia sebagai makhluk spiritual melakukan segala sesuatunya dengan usaha terbaik dalam kesempurnaan bathin sesuai dengan nilai-nilai kehidupan yang diyakininya.

 

Serta mengedepankan moralitas, kepekaan, keseimbangan jiwa, kekayaan bathin, beretika dalam berinteraksi dengan orang lain, serta berusaha menyenangkan bawahan dan rakyatnya, serta memiliki kesadaran tinggi terhadap diri dan lingkungannya. Dengan mengedepankan spiritualitas, pemimpin akan menghadirkan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan, sehingga akan menghindarkan dirinya dari sikap ototarian, egois, arogan, dan sombong.

 

Kita berharap pemimpin yang sedang dan akan memimpin bangsa ini bisa bermetamorfosa menjadi pemimpin yang berbasis spiritual. Sehingga dia mencintai dan berharap dicintai bawahan dan rakyatnya, peka terhadap kepentingan rakyat dan bawahannya, serta gemar menebar kasih sayang dan benci kekerasan.

 

Mereka juga jujur, adil, baik hati, bijaksana, bermoral, dan beretika. Semoga Allah berkenan menghadirkan pemimpin atau menggerakkan hati para pemimpin untuk memimpin menggunakan hati, memiliki kecerdasan emosional, dan berbasis spiritual. Mari kita tunggu.

 

Duhai para pemimpin, kami berharap mulailah menjalani kepemimpinannya dengan hati, mereformasi hati, mentrasformasi hati. Karena hati penentu baik tidaknya seorang anak manusia.

 

Jika hati baik, maka baiklah anggota badan yang lain, sebaaliknya jika hati rusak, maka rusak pula yang lainnya. Ari Lasso juga sudah lama bersenandung “ada satu bagian yang sangat peka, yaitu hati dan jika disentuh tepat di hati dengan sangat hati-hati, maka dia akan jadi milikmu selamanya”. Betul sekali, ungkapan yang mengatakan bahwa “ukurlah seorang pemimpin dari hatinya, bukan dari kepalanya”.

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2