Waspada
Waspada » Memaknai Hari Kebangkitan Nasional
Headlines Opini

Memaknai Hari Kebangkitan Nasional

Oleh Drs. Indra Muda Hutasuhut, MAP

Dengan Budi Utomo, perjuangan bangsa Indonesia semakin memiliki tujuan jelas yaitu, melawan penjajah secara nasional untuk kepentingan tanah air menuju kebebasan dari melepaskan diri dari cengkeraman bangsa asing

Sebuah pernyataan guyon yang memiliki makna mendalam yang isinya kira-kira berikut: “Semestinya bangsa Indonesia berterima kasih kepada Belanda yang telah menjajahnya lebih kurang 350 tahun. Karena dengan dijajah Belanda, Indonesia yang sebelumnya terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil, kini dapat bersatu menjadi salah satu negara terbesar di dunia”.

Pada satu sisi, ungkapan ini ada benarnya karena wilayah teritorial Indonesia dari Sabang hingga Merauke berasal dari seluruh wilayah bekas daerah jajahan kolonial Belanda. Wilayah Indonesia kini terdiri dari 17.508 pulau besar dan pulau kecil dihuni lebih kurang 265 juta penduduk pada 2020, berasal dari berbagai suku, agama, etnik dan golongan.

Namun apabila dilihat dari segi kemanusiaan tentunya bentuk perlakuan penjajahan merupakan perbuatan yang melanggar Hak Azasi Manusia yang sangat bertentangan dengan upaya perwujudan perdamaian dunia.

Menoleh lembaran sejarah bangsa Indonesia, terdapat beberapa negara pernah menjajah antara lain, Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda dan Jepang. Untuk melepaskan diri dari cengkeraman penjajahan asing tersebut, perlawanan para pejuang kemerdekaan sebenarnya tidak pernah berhenti.

Kita mengenal beberapa pahlawan bangsa yang berjuang gigih melawan penjajah. Abad XVII dan XVIII perlawanan digerakkan Sultan Agung di Mataram (1645), Sultan Hasanuddin di Makassar (1660), Sultan Iskandar Muda di Aceh (1635), Untung Surapati di Jawa Timur (1670), Ibn Iskandar di Minangkabau (1680).

Selanjutnya abad XIX oleh Pattimura di Maluku (1817), Imam Bonjol di Minangkabau (1822-1837), Pangeran Diponegoro di Mataram (1825-1830), Badaruddin di Palembang (1817), Pangeran Antasari di Kalimantan (1860), Anak Agung Made di Lombok (1895), Jelantik di Bali (1850), Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya’Din di Aceh (1873-1904), Si Singamangaraja di Tanah Batak (1900) dan lain-lain.

Dengan demikian, sejak mendaratnya Cournelus Dehoutman di Banten 1596 bersama pasukannya, yang merupakan awal penjajahan bangsa Belanda di nusantara. Perlawanan rakyat Indonesia hampir terjadi di setiap daerah.

Berhubung perlawanan secara fisik dilakukan secara sendiri-sendiri, secara regional, secara kedaerahan tanpa adanya persatuan dan koordinasi perlawanan. Sehingga mudah ditaklukkan penjajah yang relatif memiliki peralatan persenjataan yang lebih modern dan lebih lengkap.

Kebangkitan Nasional

Pada permulaan abad XX bangsa Indonesia mengubah cara untuk melawan kolonialis Belanda. Kegagalan perlawanan secara fisik yang tidak terkoordinasi mendorong pemimpin Indonesia abad XX menerapkan perlawanan dalam bentuk lain.

Bentuk perlawanan ini dilakukan dengan cara menyadarkan para pejuang kemerdekaan dan seluruh rakyat Indonesia akan pentingnya makna hidup bernegara. Untuk mewujudkan maksud tersebut, muncul pemikiran mendirikan suatu organisasi yang dapat dijadikan alat menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan pendidikan anak bangsa dan berjuang secara diplomatis. Organisasi ini terkenal dengan nama Budi Utomo didirikan 20 Mei 1908.

Mencermati tujuan yang terkandung dalam organisasi Budi Utomo, bukanlah organisasi politik, melainkan organisasi pelajar yang dipelopori beberapa orang pelajar Stovia sebagai intinya. Sebagai organisasi modern pertama di Indonesia, kehadiran Budi Utomo mendapat sambutan positif di berbagai daerah.

Menjelang kongresnya yang pertama di Yogjakarta telah berdiri tujuh cabang Budi Utomo yaitu, di Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogjakarta, Surabaya dan Ponorogo. Untuk mengonsolidasikan diri yang dihadiri 7 cabangnya, Budi Utomo mengadakan kongres pertama 3-5 Oktober 1908.

Kongres ini memutuskan, 1. Budi Utomo tidak ikut dalam mengadakan kegiatan politik, 2. Kegiatan Budi Utomo terutama ditujukan pada bidang pendidikan dan kebudayaan, 3. Ruang gerak Budi Utomo terbatas pada daerah Jawa dan Madura.

4. Memilih RT. Tirtokusumo Bupati Karanganyar sebagai ketua, 5. Yogjakarta ditetapkan sebagai pusat organisasi. Hinga akhir tahun 1909 telah berdiri 40 cabang Budi Utomo dengan jumlah anggotanya mencapai 10.000 orang.

Kelahiran Budi Utomo merupakan awal kebangkitan rakyat Indonesia dan timbulnya kesadaran bahwa, perjuangan dan perlawanan dengan cara-cara yang pernah ditempuh melalui perlawanan fisik tidak akan membuahkan hasil. Untuk menperoleh perjuangan maksimal harus dilakukan melalui tujuan yang jelas dan pandangan yang luas.

Dengan lahirnya organisasi Budi Utomo, maka perjuangan bangsa Indonesia semakin memiliki tujuan jelas yaitu, melawan penjajah secara nasional untuk kepentingan tanah air menuju kebebasan dari melepaskan diri dari cengkeraman bangsa asing.

Walaupun organisasi Budi Utomo sudah menegaskan bahwa, tidak memiliki tujuan politis dan ruang lingkup kegiatan hanya mencakup Jawa dan Madura. Namun Budi Utomo tetap memiliki andil dan jasa besar dalam sejarah pergerakan nasional.

Yaitu membuka jalan dan mempelopori gerakan kebangsaan Indonesia. Sebab itu setiap tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai hari Kebangkitan Nasional yang diperinghati setiap tahun hingga era reformasi ini.

Penutup

Persoalan bangsa yang dihadapi pemerintah hingga era reformasi ini, sangat beragam dan variatif. Seperti disintegrasi di Papua, bencana alam silih berganti, kasus korupsi yang tidak kunjung terselesaikan, kebakaran hutan di berbagai daerah, hingga Covid 19 yang tak kunjung terselesaikan yang memaksa pemerintah mengambil melarangan mudik.

Karenanya pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021 ini mari kita jadikan sebagai momentum awal untuk kembali membangun sinergi antara pemerintah. Dan masyarakat agar dapat keluar dari berbagai persoalan bangsa tersebut.    WASPADA

Penulis adalah Dosen Fisip UMA, Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan USU.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2