Memahami Pertumbuhan Ekonomi Masa Pandemi

  • Bagikan

Pertumbuhan 7,07 persen belum sangat kuat mengungkit kinerja ekonomi secara keseluruhan. Untuk kembali kepada keadaan normal tidak mudah. Resources kita sangat terbatas…

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka pertumbuhan ekonomi nasional selama triwulan II-2021. Rilis tersebut menyebutkan bahwa secara y on y (perbandingan triwulan II-2020 dengan triwulan II-2021), ekonomi Indonesia tumbuh 7,07 persen.

Sedangkan secara q to q (perbandingan dengan triwulan sebelumnya), ekonomi Indonesia juga mengalami pertumbuhan dengan angka 3,31 persen.

Secara spasial, pertumbuhan ekonomi terjadi merata di seluruh kelompok pulau di Indonesia yang tentunya dengan level yang berbeda-beda.

Pertumbuhan tertinggi di Pulau Sulawesi dengan angka 8,51 persen. Sedangkan pulau Jawa sebagai daerah dengan kontribusi PDB terbesar (57,92 persen) tumbuh 7,88 persen.

Informasi yang menyenangkan buat kita semua, bahwa Indonesia telah mulai mengalami perbaikan perekonomiannya. Bagaimana tidak, sejak pandemi melanda Indonesia di tahun 2020 silam, kinerja ekonomi Indonesia sangat terpukul.

Awal merebaknya pandemi pada akhir Maret 2020 telah menyebabkan ekonomi mengalami perlambatan yang cukup parah dengan angka pertumbuhan minus 5,32 persen pada triwulan II-2020.

Menggeliatnya perekonomian Indonesia ditopang oleh membaiknya kinerja ekspor dan impor. Ekspor dan impor masing-masing tumbuh sebesar 31,78 persen dan 31,22 persen. Pertumbuhan ini tentu tidak lepas dari pertumbuhan yang terjadi di negara-negara mitra dagang seperti China, Singapura, Korea Selatan, dan Vietnam.

Dari segi lapangan usaha, semua sektor telah tumbuh positif dengan angka pertumbuhan tertinggi terjadi pada transportasi dan pergudangan, serta sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.

Peningkatan kinerja sektor pergudangan tentu sebagai dampak dari peningkatan distribusi barang yang saat ini meningkat seiring peningkatan transaksi secara daring, demikian juga penyediaan makan dan minum yang juga dilakukan secara daring.

Menarik, membicarakan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada masa pandemi. Ada beberapa hal yang mesti kita garisbawahi, terkait pertumbuhan tersebut. Pertama, bahwa pertumbuhan yang dirilis adalah kondisi April-Juni 2021.

Sehingga tidak ada kaitannya dengan PPKM yang baru dimulai di Bulan Juli 2021. Dampak PPKM periode Juli-Agustus akan diketahui pada triwulan III-2021.

Terbatasnya kegiatan di masyarakat, seperti kegiatan perjalanan, jual beli, dan kegiatan keramaian lainnya tentunya akan sangat berpengaruh pada roda perekonomian.

Selanjutnya kinerja ekspor sebagai pendorong tumbuhnya ekonomi juga perlu diwaspadai, karena hal ini berada diluar kendali dalam negeri. Artinya permintaan ekspor akan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi negara tujuan. Dan Ini tentu tidak bisa dicampuri Indonesia.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi ini dapat kita maknai sebagai awal pulihnya sektor-sektor yang selama ini ambruk. Hal ini terlihat dari besaran PDB pada triwulan II-2021 mencapai 2.772 triliun rupiah atau ini naik sekitar 2,5 persen dibanding PDB sebelum masa pandemi (Triwulan I-2020).

Hal ini wajar karena pandemi telah begitu kuat menghantam sektor-sektor pertumbuhan. Jadi kenaikan pertumbuhan 7,07 persen belum sangat kuat mengungkit kinerja ekonomi secara keseluruhan.

Untuk kembali kepada keadaan yang normal tentu tidak mudah. Kita mesti menyadari, bahwa resources yang kita miliki sangat terbatas, tetapi potensi kemunculan virus dalam bentuk lain tidak terbatas dan bahkan seringkali mengejutkan.

World Bank telah juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi di 2022 yang berkisar di angka 4 persen di negara-negara berkembang akan sulit menutup kerugian akibat pandemi yang telah terjadi sejak 2020.

Kita harus tetap optimis, meski di tengah kondisi yang dapat dikatakan belum menentu. Prediksi tentang kapan berakhirnya pandemi ini masih terus bermunculan, meskipun belum ada yang betul-betul akurat.

Langkah strategis yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan sampai kelalaian kita menjadikan energi habis untuk mengatasi penyebaran pandemi ini.

Pelaksanaan vaksin oleh pemerintah harus juga mendapat dukungan dari masyarakat hingga menjangkau masyarakat secara luas yang saat ini baru mencapai 25 persen. Mengurangi konsumsi berita-berita yang membuat panik harus kita mulai, sehingga tidak menggerus imun tubuh.

Semakin luasnya jangkauan vaksin, diharapkan menjadi pertimbangan penghentian kebijakan PPKM, sehingga geliat ekonomi riil di masyarakat kembali terjadi. Hal ini penting karena hingga saat ini pengeluaran konsumsi rumah tangga masih tumbuh cukup kecil.

Padahal komponen ini sangat besar pengaruhnya dalam perekonomian nasional. PDB konsumsi rumah tangga saat ini mencapai 1.450,3 triliun rupiah atau tertinggi dalam struktur PDB menurut pengeluaran.

Pelonggaran kegiatan di masyarakat selain sebagai pemicu pertumbuhan, tentu juga sebagai pemicu perbaikan kualitas simpul-simpul sosial yang selama ini ikatannya semakin lemah.

Sekali lagi kita harus bersyukur atas capaian pertumbuhan ekonomi saat ini. Ruang-ruang perdebatan tentu terbuka dalam setiap data yang muncul, tetapi dasar atas semua hendaklah kejujuran dan semangat untuk perbaikan.

Pertumbuhan ekonomi ini harus dimaknai sebgai keberhasilan seluruh elemen di tengah ujian yang cukup berat. Mari jadikan momen ini sebagai penyulut semangat untuk bersama-sama menjadi solusi. WASPADA

Nizaruddin, S.ST., M.Si. adalah Statistisi Ahli Madya pada BPS Provinsi Sumatera Utara.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.