Masa Depan Perbankan Syariah

Masa Depan Perbankan Syariah

  • Bagikan

Ekosistem ekonomi syariah akan terbentuk dengan baik dan berkelanjutan dan diharapkan memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional

Pesatnya perkembangan perbankan syariah tidak terlepas dari moralitas dan nilai-nilai agama Islam yang melekat pada industri perbankan syariah itu sendiri. Kesuksesan perbankan syariah harus terus diperjuangkan oleh seluruh stakeholder perbankan syariah.

Eksplorasi, inovasi dan kreasi pengembangan perbankan syariah harus dilakukan dengan strategi yang tepat guna. Target sosialisasi juga harus lebih fokus terutama kepada stakeholder seperti maysarakat umum, akademisi, mahasiswa, pelajar, tokoh masyarakat dan ulama-ulama. Upaya ini dilakukan guna meningkatkan pemahaman masyarkat terkait fungsi, kemanfaatan, peran dan positioning perbankan syariah nasional.

Perkembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 diprediksi masih tumbuh positif dan industri perbankan syariah akan berperan dominan, didukung kehadiranPT. Bank Syariah Indonesia, Tbk, entitas hasil merger tiga bank syariah milik bank BUMN. Saat ini Indonesia sudah dalam jalur tepat untuk memaksimalkan segala potensiekonomi syariahyang ada.

Sejak 1 Februari 2021 telah diresmikan bank terbesar bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) yang merupakan hasil penggabungan usaha tiga bank milik anak usaha BUMN yakni PT Bank BRIsyariah Tbk., PT Bank BNI Syariah, dan PT Bank Syariah Mandiri dengan Nama bank yang akan digunakan telah ditetapkan, yaitu PT Bank Syariah Indonesia Tbk.

Keberadaan BSI Industri perbankan syariah akan berperan dominan dalam perkembangan ekonomi syariah. Karena sektor ini telah mencatat pertumbuhan yang baik pada 2020 dan di tahun 2021 diyakini dapat membangkitkan ekonomi dan keuangan syariah serta memajukan ekosistem halal di Tanah Air

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juni 2020 nilai aset industri perbankan syariah dapat tumbuh hingga 9,22 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan aset perbankan konvensional sebesar 4,89 persen. Bank syariah hasil merger akan bergerak bersama dengan bank syariah lainnya serta berkolaborasi dengan lembaga keuangan syariah, perusahaan sekuritas, manajer investasi, perusahaan fintech serta lembaga pengelola dana ZISWAF untuk melayani kebutuhan para pelaku usaha di industri halal atau industri lainnya.

Ekosistem ekonomi syariah akan terbentuk dengan baik dan berkelanjutan dan diharapkan memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional. Selain didukung bank syariah hasil merger, ekonomi syariah juga berpotensi tumbuh pesat apabila potensi besar keuangan sosial atau ZISWAF (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) bisa dimanfaatkan sepanjang tahun. Saat ini Indonesia memiliki potensi zakat nasional hingga Rp217 triliun dan Rp233 triliun potensi wakaf produktif.

Triliunan potensi ZISWAF ini bisa bermanfaat apabila dimaksimalkan pengumpulan dan distribusinya bagi masyarakat yang berhak. Ziswaf melalui mekanisme perlindungan sosialnya dalam melindungi kaum yang lemah mampu membantu dalam mengatasi ancaman krisis di tengah pandemi Covid-19.

Hal ini juga diperkuat dengan status kedermawanan masyarakat Indonesia, di mana Indonesia juga berhasil menjadi negara paling derwaman dalam World Giving Index (WGI). berpeluang tumbuh positif, pengembangan ekonomi syariah sepanjang 2021 disebut harus mampu menjawab sejumlah tantangan. Salah satunya, harus ada langkah untuk mengatasi masalah terbatasnya jangkauan lembaga keuangan syariah ke pelosok negeri.

Perbankan syariah butuh faktor pendorong untuk meningkatkan kinerja perbankan. Terdapat beberapa faktor yang secara signifikan menjadi pendorong peningkatan kinerja industri perbankan syariah, baik dalam kegiatan penghimpunan dana maupun penyaluran pembiayaan.

Pertama, ekspansi jaringan kantor perbankan syariah mengingat kedekatan kantor dan kemudahan akses menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pilihan nasabah dalam membuka rekening di bank syariah. Kedua, gencarnya program edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai produk dan layanan perbankan syariah semakin meningkatkan kesadaran dan minat masyarakat.

Ketiga, upaya peningkatan kualitas layanan (service excellent) perbankan syariah agar dapat disejajarkan dengan layanan perbankan konvensional. Salah satunya adalah pemanfaatan akses teknologi informasi, seperti layanan Anjungan Tunai Mandiri (ATM), mobile banking maupun internet banking.

Untuk mendukung hal ini, secara khusus Bank Indonesia mendorong bank konvensional yang menjadi induk bank syariah agar mendorong pengembangan jaringan teknologi informasi bagi BUS dan UUS yang menjadi anak usahanya. Faktor keempat adalah penegasan beberapa produk perundangan yang memberikan kepastian hukum dan meningkatkan aktivitas pasar keuangan syariah.

Keempat, keuangan syariah, termasuk fintechs yariah, sendiri sudah mendapatkan momentumnya, yang gerakannya langsung dipimpin oleh Presiden melalui KNEKS (Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah) guna membawa Indonesia menjadi kiblat ekonomi dan keuangan syariah dunia 2024. Kehadiran BSI pertanda besarnya potensi perkembangan ekonomi nasional tahun ini didorong industri syariah.

Penerapan sistem ekonomi syariah juga menguntungkan non-Muslim. Saat ini indeks literasi syariah nasional masih berada di angka 8,93 persen, jauh di bawah tingkat literasi masyarakat atas keuangan konvensional yakni 37,72 persen.

Kehadiran BSI diharap bisa meningkatkan literasi keuangan syariah masyarakat ke depannya, dan membawa beragam produk serta layanan keuangan sesuai syariat Islam yang lebih terjangkau bagi masyarakat. Terdapat beberapa fakta dan angka dapat dicatat yang memberikan harapan dari rencana merger ini.

Selama 2020, BRI Syariah mengalami peningkatan pembiayaan di segmen ritel yang tumbuh 49,74 persen menjadi Rp20,5 triliun. Sedangkan BNI Syariah, yang baru saja menjadi Bank BUKU III pada kuartal I tahun ini, berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih 58,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp214 miliar.

BSM, membukukan laba bersih Rp368 miliar pada kuartal I 2020, naik 51,53 persen dibandingkan periode sama tahun lalu . Statistik terbaru yang penulisupdatedari laman OJK menunjukkan, tiga bank yang akan dimerger, meminjam bahasa Ahmad Dani, merupakan separuh napas bank syariah Indonesia. Aset mereka sekitar 40 persen dari total aset seluruh bank syariah.

Di tengah perkembangan industri keuangan perbankan syariah, kita perlu sadari bahwa masih adanya beberapa tantangan yang harus diselesaikan agar perbankan syariah dapat meningkatkan kualitas pertumbuhannya dan mempertahankan akselerasinya secara terus menerus. Tantangan yang harus diselesaikan dalam jangka pendek (immediate), antara lain pemenuhan gap sumber daya manusia (SDM), baik secara kuantitas maupun kualitas.

Ekspansi perbankan syariah yang tinggi ternyata tidak diikuti oleh SDM secara memadai. Hal ini karena masih sedikitnya lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi yang membuka program dibidang studi keuangan syariah. Karena itu dibutuhkan dukungan akademis termasuk Kementerian Pendidikan mendorong pembukaan program studi keuangan syariah.

Selanjutnya Inovasi pengembangan produk dan layanan perbankan syariah yang kompetitif dan berbasis kekhususan kebutuhan masyarakat. Kompetisi di industri perbankan sudah sangat ketat sehingga bank syariah tidak dapat lagi sekedar mengandalkan produk-produk standar untuk menarik nasabah. Pengembangan produk dan layanan perbankan syariah tidak boleh hanya sekedar ‘mengimitasi’ produk perbankan konvensional.

Tantangan yang harus diselesaikan dalam jangka panjang, antara lain perlu adanya kerangka hukum yang mampu menyelesaikan permasalahan keuangan syariah secara komprehensif. Seperti yang telah kita ketahui bahwa sistem keuangan syariah secara karakteristik berbeda dengan sistem keuangan konvensional, terdapat kekhususan yang tidak dapat dipersamakan.

Sehingga penggunaan kerangka hukum konvensional menjadi kurang memadai. Karena itu, perlu semacam kompilasi hukum ekonomi atau keuangan Islam yang disepakati bersama untuk dijadikan rujukan dan disahkan negara. Penyempurnaan kerangka hukum akan memberikan suasana yang kondusif bagi pengembangan keuangan syariah, baik secara nasional maupun global.

Selanjutnya kodifikasi produk dan standar regulasi yang bersifat nasional dan global. Karena itu, perlu penyelarasan produk secara nasional maupun global agar keuangan Islam dapat tumbuh bersama di berbagai negara, tidak saling memproteksi karena adanya berbedaan pendapat. Kemudian, perlu adanya referensi nilai imbal hasil (rate or return) bagi keuangan syariah.

Nilai imbal hasil yang dibagikan (sharing) dalam sistem keuangan syariah, termasuk perbankan syariah, hendaknya merupakan hasil yang nyata dari aktivitas bisnis. Oleh karena itu, perlu adanya dukungan dan peran serta dari kalangan akademisi dan asosiasi para pakar untuk melakukan kajian lebih lanjut dan komprehensif mengenai hal ini.

Berbagai tantangan itu menunjukkan bahwa upaya keras dari seluruh stakeholders industri keuangan syariah sangat dibutuhkan. Perlu kerja sama dari para praktisi, akademisi, tokoh agama maupun asosiasi agar pengembangan menjadi lebih efektif dan efisiensi. Melihat dari tantangan-tantangan, baik yang tantangan jangka pendek maupun tantangan jangka panjang, tersebut kita bisa melihat peluang bagi perbankan syariah untuk terus berkembang menjadi lebih baik lagi. Di masa yang akan datang perbankan syariah akan menjadi hal utama dimata masyarakat. Bukankah saat ini masyarakat telah ‘meragukan’ tentang halal-haramnya akan bunga bank konvensional.

Melihat fenomena tersebut merupakan peluang bagi perbankan syariah untuk menunjukkan jadi dirinya di masa depan. Perbankan syariah di Indonesia melangkah secara perlahan, namun dengan pasti. Dengan banyaknya tantangan di era globalisasi ini perbankan syariah memiliki sistem yang stabil, karena berprinsip syariah.

Perbankan syariah yang semakin hari perkembangannya semakin kuat dan stabil dan semakin dikenal oleh masyarakat. Bukan hanya untuk kalangan umat Islam saja, melainkan juga kalangan non muslim. Sehingga bisa kita prediksi peluang perbankan syariah kedepannya bisa terbilang amat besar.

Peluang yang besar dan terbuka lebar bagi perbankan syariah di Indonesia, merupakan sesuatu yang benar-benar harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Pada usianya yang masih relatif muda, kehadiran perbankan syariah di Indonesia sungguh memberikan segudang harapan bagi umat, akan terciptanya kehidupan perekonomian nasional yang berkah demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang adil dan makmur.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa perkembangan perekonomian perbankan syariah dimasa depan mempunyai peluang yang sangat besar dan mampu membantu kestabilan perekonomian negara. Meskipun dengan banyaknya tantangan yang ada perbankan syariah akan tetap terus berkiprah, akan tiba saatnya, dimana bank syariah menjadi ‘primadona’ yang berperan penting dalam pembangunan perekonomian nasional bahkan internasional.    WASPADA

Penulis adalah Dosen FEBI UIN SU, Pengurus MES Sumut, Pengurus IAEI Sumut.

  • Bagikan