Waspada
Waspada » Mamang Sahala & Jenderal Spoort
Headlines Opini

Mamang Sahala & Jenderal Spoort

Belanda mengklaim kematian Jenderal Spoort bukan diakibatkan peristiwa penyerangan di Jembatan Aek Gambiri Sipirok melainkan disebabkan penyempitan katup jantung.

 

Mamang Sahala yang memiliki nama asli Sahala Muda Pakpahan adalah pejuang kemerdekaan RI yang aktif ikut bergerilya meski usia muda. Tidak sanggup melihat penduduk Sipirok hidup dalam penindasan tentara Belanda, akhirnya memutuskan bergabung dengan lasykar pejuang Sipirok.

Beliau lahir di sebuah desa kecil terpencil “Panggulangan”, lebih kurang 10 Km dari Sipirok. Kehidupan di desanya, pada Zaman Belanda dan Jepang tidaklah begitu sulit, karena letaknya jauh dari jalan raya. Namun Mamang Sahala selalu gelisah jika berdiam di desanya. Ia tidak menyukai pekerjaan sebagai petani yang lazim dilakoni pemuda seusianya ketika itu.

Pada hari pekan yaitu hari Kamis di Sipirok, ia sering mendapat tugas untuk mengangkut hasil-hasil bumi dengan kuda beban ke suatu tempat di pinggir jalan raya Sipirok-Padang Sidempuan yang berada di desa Situmba. Hasil-hasil bumi ini ditampung oleh pedagang pengumpul untuk diteruskan ke pasar Padang Sidempuan.

Pada masa pendudukan Jepang transportasi angkutan darat (truk dan bis) dari Sipirok ke Sidempuan digantikan pedati (kereta gandeng yang ditarik kerbau). Mamang Sahala turut dalam rombongan ini, selama bertahun-tahun sebagai pekerja pedati dengan trayek Sipirok-Padang Sidempuan.

Mamang Sahala yang hanya mengecap pendidikan sampai Sekolah Rakyat (SR) setingkat Sekolah Dasar hingga duduk di kelas tiga dan sedikit menguasai bahasa Belanda, plus sering berinteraksi dengan banyak orang. Terutama dengan orang kota di Sipirok dan Padang Sidimpuan, sangat bermanfaat dalam menjalankan profesinya di bidang perniagaan.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan RI, pemerintahan Jepang di Sidimpuan dan di Sipirok lumpuh. Kehidupan yang sebelumnya mencekam dalam penderitaan, perlahan normal sebagaimana penjajahan zaman Belanda.

Namun, denyut perekonomian belum sepenuhnya pulih. Bis dan truk yang dahulunya disita militer dan polisi Jepang diambil kembali para pemiliknya. Armada pedati-pun lambat laun bubar digantikan angkutan mobil kembali melayani trayek Sipirok-Padang Sidempuan. Pada masa transisi ini Mamang Sahala kehilangan pekerjaannya sebagai crew pedati dan memutuskan kembali ke desanya.

Ketika kembali ke desanya, Sahala Muda Pakpahan kembali jadi petani sawah dan ladang. Pekerjaan ini ternyata tidak disukainya sehingga berusaha mencari kegiatan lain. Stabilitas keamanan yang tidak kondusif pascaaggresi militer Belanda, mendorong Sahala ikut berjuang membebaskan penderitaan rakyat atas penindasan tentara Belanda.

Ketika itu antisipasi perlawanan terhadap pasukan Belanda sudah terbentuk, yang dilakukan lasykar rakyat yang dinamakan AGS (Angkatan Gerilya Sipirok). AGS ini kemudian dipimpin Sahala Muda Pakpahan yang dibantu wakilnya Maskud Siregar.

Jendreal Spoort

Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoort, merupakan Penasehat Ahli Jenderal Daouglas McArthur, yaitu Panglima Tinggi Sekutu di Wilayah Asia-Pasific. Terkait berita diterimanya mengenai pendudukan Belanda yang tidak sesuai fakta lapangan, mendorong Spoort tidak lagi mempercayai laporan intelijennya dan mulai melakukan kunjungan ke daerah-daerah.

Hal ini terjadi sekitar tahun 1949, yaitu saat Ibu Kota Negara Republik Indonesia dipindahkan ke Fort de Kock (Bukit Tinggi). Jenderal Spoort mencoba mengontrol daerah di luar Bukit Tinggi dengan menempatkan pasukannya di wilayah Keresidenan Tapanuli termasuk wilayah Kota Padang Sidempuan.

Berdasarkan laporan dari pasukannya, telah berhasil melumpuhkan segenap perlawanan di wilayah Tapanuli. Spoort memutuskan meninjau langsung ke wilayah Tapanuli. Tinjauan ini dilakukan menempuh rute perjalanan darat dari Padang Sidempuan menuju Utara. Konvoi pasukan Jenderal Spoort mulai bergerak menuju daerah Sipirok.

Dalam perjalanan konvoi, tepatnya 25 Mei 1949, Jenderal Spoort tidak menyangka pasukannya dihadang saat melewati Jembatan Aek Gambiri di sekitar Desa Situmba Paringgonan.

Front gerilya yang menguasai seluruh hutan di wilayah Gunung Sibualbuali, membombardir pasukan Jenderal Spoort sebelum melewati jembatan Aek Gambiri. Dengan serangan mendadak tersebut, pasukan Jenderal Spoort terdesak dan berusaha bertahan.

Jenderal Spoort mengalami luka berat sehingga dibawa pasukannya ke Padang Sidempuan untuk penanganan medis intensif. Satu hari setelah peristiwa serangan 25 Mei 1949 di Jembatan Aek Gambiri, santer berita kematian Jenderal Spoort.

Atas berita yang beredar luas ini, Belanda mengklaim kematian Jenderal Spoort bukan diakibatkan peristiwa penyerangan di Jembatan Aek Gambiri Sipirok melainkan disebabkan penyempitan katup jantung.

Dua hari setelah peristiwa Jembatan Aek Gambiri, pasukan elit Belanda yang dibentuk Jenderal Spoort yaitu, eks anggota pasukan khusus yang pernah dipimpin Kapten R.P.P. Westerling membantai ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan, masuk ke wilayah Sipirok.

Pasukan elit yang merupakan tentara bayaran itu melakukan tindakan tidak terpuji dengan melakukan perbuatan asusila kepada kaum wanita dan mengorbankan penduduk sipil. Mereka mengobrak-abrik rumah penduduk, dan menyiksa penduduk tidak berdosa dengan modus mencari keberadaan pemuda yang bernama Mamang Sahala alias Sahala Muda Pakpahan.

Nama Sahala Muda Pakpahan-pun semakin santer di kalangan pasukan elit Belanda sebagai sosok yang paling berperan melancarkan serangan Jembatan Aek Gambiri yang menyebabkan kematian Jenderal Spoort.

Dalam hitungan hari, pasukan elit Belanda yang telah banyak menyiksa dan membunuh masyarakat Sipirok, berhasil menangkap Sahala Muda Pakpahan.

Anak muda yang mengorbankan masa mudanya untuk melindungi rakyat Sipirok dari kekejaman Belanda ini mendapat laporan bahwa Belanda telah mengorbankan rakyat sipil hanya untuk mengetahui dan menangkap dirinya.

Terkait berita ini, ada versi menyebutkan, Sahala Muda Pakpahan sengaja menyerahkan diri agar rakyat tidak disiksa tentara Belanda.

Versi lain mengatakan, Sahala Muda Pakpahan dijebak Belanda dengan cara menyebarkan mata-mata menguntit keberadaannya. Namun semua versi menegaskan, Sahala Muda Pakpahan punya andil luar biasa menghentikan aksi militer Belanda pasca Kemerdekaaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, dan membuat agresi militer Belanda tidak lagi berlanjut dengan tewasnya Jenderal Spoort.

Penutup

Jiwa dan raganya telah dipertaruhkan untuk keutuhan dan mempertahankan kemerdekaan negeri tercinta. Dalam usia 22 tahun sudah ikut bergerilya. Pusaramu kini terbujur di Taman Makam Pahlawan Tor Simago-mago Sipirok, namamu-pun diabadikan menjadi nama Stadion Sepakbola Tanjung Medan Sipirok.

Sahala Muda Pakpahan, bukanlah satu-satunya anak muda yang rela berjuang untuk keutuhan negeri ini. Di antaranya Robert Wortel Mongonsidi yang berasal dari Desa Malalayang Manado Sulawesi Utara telah dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional, Kapiten Pattimura lahir di Negeri Haria Saparua Maluku, telah dinobatkan Pahlawan Nasional, Kapten Pierre Tendean juga telah dinobatkan sebagai Pahlawan Revolusi. Akankah Mamang Sahala alias Sahala Muda Pakpahan mendapat pengakuan yang sama dari pemerintah. Semoga..! Waspada

Penulis adalah Dosen Fisipol-UMA, Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2