Waspada
Waspada » Konsep Manusia Dalam Alquran
Opini

Konsep Manusia Dalam Alquran

Oleh Diah Widya Ningrum

PADA saat sekarang ini banyak orang yang tidak menyadari dirinya sendiri. Ia mengaku sebagai seorang manusia tapi justru berprilaku seperti bukan manusia. Dalam kehidupannya, ia tidak perduli dengan aturan-aturan Tuhan yang telah ditetapkan. Pada akhirnya,  menganggap bahwa ia adalah segalanya.

Mencari harta sebanyak-banyaknya untuk memperkaya diri, tapi tidak perduli apakah itu diperoleh dengan jalan yang haram seperti : korupsi, merampok, mencuri, berjudi dan lain-lain. Melaksanakan aktivitas sehari-hari tanpa mempertimbangkan baik dan buruk akibat dari perbuatannya. Hal terpenting dalam hidupnya, ia bisa senang dalam artian zahir walaupun harus mengorbankan orang lain. Tidak merasa bersalah dan berdosa tatkala melanggar perintah Tuhan, menganggap itu adalah suatu hal yang lumrah dan wajar yang akan senantiasa dikerjakan oleh setiap manusia.

Prilaku-prilaku seperti ini menunjukkan bahwa seseorang yang sudah memisahkan nilai-nilai ruhaniyah (bathin) dalam dirinya maka ia tidak layak lagi disebut sebagai manusia. Karena, dalam diri manusia itu ada dua unsur yang tidak bisa dipisahkan yaitu jasmani dan Rohani. Lihat Q.S.Shad (38) : 71-72 yang menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan setelah disempurnakan kejadiannya dihembuskanlah kepadanya Ruh Ilahi. Sebagaimana halnya air yang merupakan perpaduan antara oksigen dan hydrogen dalam kadar-kadar tertentu. Bila kadar  oksigen dan hidrogennya dipisahkan maka ia tidak lagi disebut air.

Dengan demikian, menyadarkan kembali bahwa manusia itu adalah makhluk istimewa yang telah diciptakan oleh Allah Swt. sebagai wakil Allah di muka bumi (Khalifatullah fil Ardh) adalah hal yang sangat penting dilakukan. Terlebih di dunia pendidikan Islam, para pendidik harus mengajarkan kepada anak-anak didiknya terhadap pengetahuan tentang konsep manusia itu sendiri.

Manusia dalam Alquran

Alquran, kitab suci dan sumber utama ajaran Islam, melihat dan memandang makhluk Allah yang istimewa ini dengan menggunakan tiga term kunci untuk menyebut manusia, yaitu basyar, insan dan al-nas.

Basyar, yang  disebutkan  dalam Alquran menunjuk pada manusia sebagai makhluk biologis. Ketika nabi Muhammad saw. dianggap sama dengan manusia lain Alquran mempergunakan kata basyar hingga persamaan itu lebih dalam artian biologis. Lihat Q.S. Al-Kahfi (18) :110 : “Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu. Dari sisi lain diamati bahwa banyak ayat-ayat Alquran yang menggunakan kata basyar yang mengisyaratkan bahwa proses kejadian manusia sebagai basyar, melalui tahap-tahap sehingga mencapai tahap kedewasaan. Seperti dalam Q.S. Al-Rum (30) :20 : “Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya (Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu menjadi basyar kamu bertebaran.” Bertebaran di sini bisa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rizki.

Insan, menunjuk manusia sebagai mahluk yang memiliki aspek ruhani-spritual, yang tercipta dalam kondisi terbaik, tetapi juga berpotensi untuk jatuh. Dalam Alquran, manusia berulang kali diangkat derajatnya, berulang kali pula direndahkan. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam surga, bumi dan bahkan para malaikat; tetapi, pada saat yang sama mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipun. Manusia dihargai sebagai makhluk yang mampu menaklukkan alam, namun mereka juga bisa merosot menjadi yang paling rendah dari segala yang rendah.

Setiap Alquran berbicara tentang potensi manusia, ia menunjuk pada predisposisi positif atau negatif, dalam artian kemampuan untuk memilih dan beramal, selalu memakai kata insan. Potensi manusia untuk belajar dan mengetahui (Q.S.Al-‘Alaq (96) :4-5), dan mendapatkan al-bayan (kejelasan) (Q.S. Ar-Rahman (55):3), juga dalam kapasitasnya sebagai insan.

Alquran banyak membicarakan tentang sifat-sifat manusia. dalam hal ini ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan sebaik-baiknya (Q.S. Al-Tin (95) :5) terbaiknya penciptaan manusia bukan dari sisi basyariyahnya (biologis-fisik)akan tetapi lebih dalam artian psikologis-rasional-spritual, dan penegasan tentang dimuliakannya mahluk ini bila dibandingkan dengan mahluk yang lain (Q.S.Al-Isra’ (17) :70). Tetapi, di samping itu sering pula manusia mendapat celaan dari Tuhan karena ia amat aniaya dan mengingkari nikmat Tuhannya (Q.S.Ibrahim (14) :34), sangat banyak membantah (Q.S. Al-Kahfi (18) :54) dan bersifat keluh kesah lagi kikir (Q.S.Al-Ma’arij (70) :19) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ini bukan berarti bahwa ayat-ayat Alquran bertentangan antara satu dengan yang lainnya, akan tetapi ayat-ayat tersebut menunjukkan beberapa kelemahan manusia yang harus dihindarinya. Di samping menunjukkan bahwa mahluk ini mempunyai potensi untuk menempati tempat tertingi sehinga ia terpuji atau berada di tempat yang rendah dan hina sehingga ia tercela.

Al-nas adalah manusia sebagai makhluk sosial. Manusia yang senantiasa berinteraksi dan saling membutuhkan antara satu dengan yang lainnya. Makanya, Rasulullah saw bersabda : “sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia yang lain”. Alquran menggunakan kata al-nas untuk menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya.  Ayat seperti ini umumnya diawali dengan ungkapan wa min al-nas (dan di antara sebagian manusia) dan aksar al-nas (kebanyakan manusia). kata al-nas sering dihubungkan Alquran sebagai petunjuk atau al-kitab (lihat antara lain : Q.S. Al-hadid (57) : 25; Q.S. An-Nisa’ (4) : 170; Q.S. Ibrahim (14) : 1; Q.S. An-Nur (24) ; 35; Q.S. Az-Zumar (39) :27).

Tampak bahwa Alquran memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan sosial.

Manusia akan betul-betul menjadi manusia yang sebenarnya bila ia menghargai potensi rohaniyahnya untuk selalu dekat dengan Tuhan, ingin senantiasa bermanfaat bagi orang lain serta mampu untuk meminimalisir potensi-potensi buruknya. Untuk itu, memang perlu adanya upaya untuk memanusiakan manusia kembali. Dalam artian menyadarkan diri setiap manusia untuk tidak mengabaikan nilai-nilai ruhaniyah (bathin) dalam setiap kehidupannya.

Penutup

Sebagai refleksi perlu untuk kita renungkan apa yang telah diperingatkan Allah kepada kita dalam Alquran Surat Al-A’raf (7):179: “Dan sesungguhnya kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih parah dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Manusia yang sebenarnya adalah yang menyadari dirinya secara utuh yang tidak dapat dipisahkan  antara kekuatan fisik (biologis) dan hati nuraninya (fsikologis dan sosial).

Memanusiakan manusia berarti kita menyadari kembali akan siapa kita sebenarnya. Alangkah merugi bagi kita yang mengaku sebagai manusia tapi dalam aplikasinya kita menggunakan cara-cara yang berasal dari bukan manusia. Upaya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan senantiasa menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan akan menghantarkan kita menjadi manusia yang sebenarnya. Wallahu A’lamu.

Penulis adalah Mahasiswi S2 Prodi Tadris Bahasa Inggris, FITK UIN SU Medan

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2