Kolam retensi Dan Solusi Banjir
Oleh Awaluddin Thayab

  • Bagikan

Sunatullah: Air banjir selain dikirim ke laut, juga dikirim ke dalam tanah untuk mengatur keseimbangan air tanah yang banyak disedot melalui sumur-sumur bor.
Kolam retensi, bertujuan penampungan/penyimpanan banjir sementara agar bisa diatur dan dikendalikan penyalurannya. Fungsi utamanya: mencegah run off banjir untuk dikirim ke dalam tanah. Namun tidak sesuai di inti kota kota besar

Banjir kota Medan 23 November 2021, cukup memprihatinkan karena titik banjir sudah bertambah dan menyentuh daerah daerah protokoler di inti kota. Fenomena ini memperlihatkan setelah banjir besar yang merendam kecamatan Medan, Pemko Medan belum melakukan upaya mengatasi banjir kota secara terstruktur masif dan sistematis.

Kesalahan penanganan banjir akan berakibat: 1.Banjir kota yang sudah memprihatinkan warga kota akan berulang terjadi di masa datang; 2.Biaya besar yang akan dikeluarkan, akan sia-sia sebagaimana sia-sianya biaya besar yang terbuang akibat pembuatan Kanal Banjir Timur yang tidak berfungsi mengatasi banjir. Ini akibat kesalahan design kanal itu.

Kolam Retensi
Kolam retensi berfungsi sebagai penampungan/penyimpanan sementara air banjir untuk diatur dan dikendalikan penyalurannya secara tepat. Secara lebih lengkap fungsi kolam retensi adalah:

Pertama, mengurangi run off banjir agar tidak semua air dialirkan ke laut melalui sungai-sungai. Kedua, mengendalikan dan mengatur penyaluran banjir ke dalam tanah. Ketiga, mengendalikan dan mengatur penyaluran banjir ke laut, dengan catatan parit serta sungai di Medan sudah dibenahi dan berfungsi secara sempurna.

Dari fungsinya tersebut maka: pertama, kolam retensi memerlukan lahan dengan luas tanah yang akan digali cukup besar agar tidak berubah fungsi menjadi kolam ikan. Kedua, tanah untuk galian kolam retensi haruslah memiliki porousitas dan permeabilitas yang besar untuk melalukan air kedalam tanah secara cepat, sebagai fungsi utamanya.

Ketiga, sedapat mungkin berada di catchment area (daerah genangan banjir). Menjadi aneh jika ingin atasi banjir di inti kota dengan memanfaatkan kolam retensi di lokasi Medan Selayang di Selatan kota Medan (lokasi yang direncanakan). Keempat, tidak tepat dibuat di kota besar yang padat pembangunan dan padat perumahan masyarakat. Karena tidak tersedianya lahan yang luas.

Dari pemberitaan tanggal 26 November bahwa kolam retensi akan dijadikan solusi atasi banjir kota. Sebagai warga kota kita berkewajiban mengadakan dialog cerdas memberikan masukan pada Wali Kota Medan, untuk mencegah terulangnya kasus pencegahan banjir MUDP dan pembangunan kanal banjir Timur yang sia-sia.

Persoalannya: 1.Dimana di inti kota ada tersedia lahan yang cukup luas untuk dikorbankan menjadi galian kolam retensi? 2.Sudahkah disurvei keadaan porousitas dan permeabilitas tanah di beberapa lokasi yang menurut wali kota sudah ditemui tersebut, memenuhi syarat sebagai kolam retensi? 3.Mampukah Pemkot Medan mengatasi tersumbatnya dan pendangkalan parit parit serta pendangkalan sungai sungai dalam waktu dekat?

Kita tentu tidak berharap Proyek Kolam retensi yang dicanangkan Wali Kota Medan akan menjadi Proyek yang sia sia. Atau hanya akan menjadi kolam ikan saja. Pemahaman atas fungsi kolam retensi harus dirasionalkan: Bahwa fungsi utama kolam retensi bukan untuk mengendalikan banjir ke sungai sungai agar tidak meluap. Tetapi mencegah run off dengan mengalirkan banjir ke dalam tanah.

Dalam berbagai kesempatan wali kota mengakui bahwa drainase (horizontal/parit dan sungai) di kota Medan dalam kondisi buruk akibat sendimentasi. Keadaan sungai di kota Medan dan sekitarnya juga terjadi pendangkalan pendangkalan akibat sendimentasi.

Pertanyaan dari persoalan persepsi tersebut adalah: Kalau keadaan parit dan sungai di kota Medan dalam kondisi buruk, lalu melalui apa genangan banjir pada kolam retensi akan sampai ke sungai sungai untuk diteruskan ke laut? (Tentu tidak bisa menggunakan jasa Gojek).

Artinya konsepsi tersebut akan saling bertabrakan dengan keadaan fakta Drainase horizontal/parit dan sungai sungai di kota Medan. Hampir setahun Boby Nasution menjadi wali kota, warga kota belum melihat strategi besar dari wali kota untuk atasi banjir kota Medan.

Terbukti dengan banjir besar baru-baru ini. Persoalannya sepertinya ada gap komunikasi dan informasi yang sampai ke wali kota dari para pakar banjir. Wali kota sebaiknya membuka diri menerima masukan masukan secara terbuka atas persoalan banjir yang cukup menyengsarakan warga kota.

Solusi Alternatif Atasi Banjir Kota
Problematika penyebab banjir secara Tradisional, adalah tidak berfungsinya parit parit karena terjadinya pendangkalan dan sumbatan di mana-mana. Sehingga air menggenang di berbagai titik banjir kota Medan.

Ir Jaya Arjuna M.Sc sudah menawarkan secara Teknis Mekanis, solusi tuntas atasi pendangkalan parit dan sungai di kota Medan. Sudah saat nya Wali Kota Medan mau berpikir seperti Gubernur DKI, yang mengamalkan Sunatullah di atas, selain memasifkan penggalian parit dan sungai.

Anies juga mengirim banjir ke dalam tanah. Sehingga Anies bisa bernarasi: Paling lambat banjir besar akan surut dalam 6 jam. Yang banyak terekpos adalah pembuatan sumur resapan, namun data detail engineering design yang diperoleh, ternyata Pemprov DKI juga membuat sumur laluan yang dikemas dibor di bawah kamulflase sumur resapan. Sehingga tidak terlihat sepintas lalu.

Konsep sumur laluan sebagai gagasan orisinal penulis, memang sudah pernah disampaikan sekitar Februari 2020. Namun ketika itu Pemprov DKI sudah mengantisipasi akan kedatangan Virus Covid-19. Sehingga Gubernur DKI memfokuskan diri ke antisipasi Covid-19 (data digital, konsep sumur laluan telah beberapa kali di webinarkan sejak pertengahan 2020).

Selama ini konsep drainase vertrikal adalah sumur resapan dan lubang biopori. Yang prinsipnya menghantarkan banjir ke dalam tanah permukaan melalui resapan. Sehingga akan sangat bergantung pada porousitas dan permeabilitas batuan tanah permukaan dalam peresapan air ke dalam tanah. Mungkin satu saat akan stagnan karena pori-pori tanah jenuh.

Berdasarkan lebih 20 tahun pengalaman dalam pembuatan “sumur bor dalam positif“ profesional, mengilhami pembuatan sumur laluan positif dan negatif sebagai solusi alternatif atasi banjir kota. Sehingga bisa memberikan manfaat tambahan atas fungsi Sumur untuk mengatasi banjir kota.

Sumur laluan berbeda dengan sumur resapan, karena air banjir langsung dihantarkan ke aquifer air tanah tanpa memerlukan waktu peresapan. Sehingga kapasitas daya laluan banjir sumur laluan akan jauh lebih besar dari resapan sumur resapan yang memerlukan waktu.

Bisa diumpamakan menuangkan air keatas sebuah sungai di bawah tanah. Untuk memberikan manfaat tambahan dan ekonomisasi pembiayaan, maka sumur laluan dibuat multi fungsi sumur positif dan negatif.

Multi Fungsi Sumur Laluan
Ketika banjir: Sebagai laluan banjir di permukaan langsung keaquifer air tanah di dalam tanah. Dalam keseharian, menjadi sumber air siraman bagi dinas kebersihan dan Dinas Pertamanan Kota. Sehingga mobil mobil tangki air jika kehabisan air, tidak perlu mencari sungai sungai. Cukup mencari sumur laluan positif negatif terdekat.

Jika terjadi kebakaran di kota, menjadi hydrant sumber air bagi mobil dinas kebakaran kota yang kehabisan air. Cukup mengambil dari sumur laluan positif dan negatif terdekat. Sebagai penyeimbang air tanah yang banyak disedot sumur-sumur bor.

Dengan fungsi utama untuk penjegahan banjir kota, sumur laluan di design untuk efektif dan efisein dibangun dimana saja, termasuk di inti inti kota yang padat penduduk dan padat bangunan. Karena dipermukaan tanah cukup memakan luasan 30 x 30 Cm dengan penutup plat besi. Sehingga tidak akan mengganggu dan tidak akan menghalangi aktivitas di permukaan tanah.

Jalan Diponegoro, Kesawan, Lapangan Merdeka inti kota yang kebanjiran baru-baru ini, sangat mungkin di amankan dengan Sumur Laluan seukuran permukaan 30 x 30 Cm saja.Yang pasti tidak mungkindibuat Kolam Retensi

Memang berbeda dengan Sumur Resapan, Sumur Sumur Laluan ini harus dibangun dengan memanfaatkan Teknologi Tinggi pada pembuatan “Sumur Bor Dalam” agar saringan laluan air terbuka maksimal guna memaksimalkan fungsi SumurLaluan melalu Teknologi Swabbing,Teknologi Jetting Screen, Water LiftingdanAir Lifting yang sudah terbukti efektif membuka saringan saringan pada pembuatan Sumur Dalam Profesional hingga kedalaman 200 meter.

Kesimpulan
1.Kolam retensi Fungsi utamanya adalah mengendalikan dan menghantarkan banjir kedalam tanah. (mencegah run off air); 2.Kolam retensi memerlukan lahan yang luas; 3.Kolam retensi tidak sesuai untuk dibangun di inti kota kota besar; 4.Sumur laluan menghantarkan banjir langsung ke aquifer air tanah. Sehingga tidak tergantung pada porousitas dan permeabilitas lapisan batuan pada tanah permukaan;

5.Kapasitas banjir yang bisa dihantarkan ke dalam aquifer air tanah, jauh lebih besar dan lancar dibandingkan sumur resapan; 6.Perbandingan antara sumur laluan dengan sumur resapan : Ibarat kendaraan melalui jalan tol bebas hambatan, dengan kendaraan melalui jalan biasa yang rawan kemacatan;

7.Perkiraan sementara untuk kawasan Medan kedalaman sumur laluan kisaran 10 – 15 meter, dengan konstruksi Casing Ø 6 inc.; 8.Sumur laluan berkerja sangat Independent tidak tergantung satu dengan yang lain sebagaimana Drainase Horisontal yang harus terhubung dengan baik satu sama lain; 9.Sumur lLaluan difungsikan per catchmen area;

  1. Sumur laluan di kota Medan tidak akan menyebabkan liquifaksi/pembuburan lapisan tanah permukaan yang karakteristiknya luvial dan aluvial dengan pola aliran sendimentasi.
    Liquifaksi akan berkibat mengurangi daya dukung tanah karena resapan air yang terus menerus (liquifaksi terdahsyat pernah terjadi di PALU. Amblasnya 1 perkampungan ditelan bumi).

11.Dapat dibuat di dasar kolam retensi, untuk mempercepat banjir masuk ke dalam tanah; 12.Biaya Sumur Laluan memang lebih mahal untuk pencegahan Banjir kota yang lebih efektif.

Penulis adalah Dosen Fakultas Teknik USU, Pemerhati Banjir dan Penemu gagasan Sumur Laluan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *