KEUNGGULAN INSTITUSIONAL DAN FAKULTATIF - Waspada

KEUNGGULAN INSTITUSIONAL DAN FAKULTATIF
Oleh: Dr. Junaidi, M.Si

  • Bagikan

48 Tahun UIN Sumut:

Tepat pada tanggal 19 bulan November tahun 2021 ini, UIN Sumatera Utara genap berusia 48 tahun. Di bawah Nakhoda kepemimpinan Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA, dengan bingkai Wahdatul ’Ulum (Integrasi Ilmu) UIN-Sumatera Utara terus melakukan kreasi dan inovasi dalam rangka mempersembahkan alumni sebagai kader bangsa yang memiliki karakter Ulul Albab untuk Indonesia yang Maju dan Modern.


Dalam rangka menghasilkan kader bangsa yang memiliki karakter Ulul Albab maka menjadi sebuah keniscayaan, UIN Sumatera Utara harus menjadi pusat keunggulan baik keunggulan yang bersifat institusional maupun keunggulan yang sifatnya fakultatif. Keunggulan-keunggulan tersebut kemudian akan dijadikan sebagai acuan berjalannya roda pengelolaan Pergruan Tinggi.
Keunggulan sebagaimana dijelaskan dalam kamus besar bahasa Indonesia, diartikan dengan “keadaan (lebih) unggul; keutamaan; kepandaian (kecakapan, kebaikan, kekuatan, dan sebagainya) yang lebih daripada yang lain”.

Berpedoman pada pengertian tersebut, di tengah-tengah persaingan global dalam pengelolaan perguruan tinggi yang semakin dahsyat maka memiliki keunggulan menjadi sebuah keniscayaan.
Keunggulan Institusional
Sebagai Universitas kebanggan Umat Islam dan bangsa, UIN Sumatera Utara mengusung tiga tema keunggulan yang menjadi target utama dan juga menjadi Visi Rektor yaitu: Wahdatul ’Ulum, Pemberdayaan Umat dan Moderasi Beragama.


Wahdatul ’Ulum yang berarti integrasi keilmuan, muncul di tengah-tengah maraknya problema dikotomi keilmuan para Sarjana Muslim di Indonesia. Dari analisis yang dilakukan oleh Prof. Dr. Syahrin Harahap, MA ditemukan ada lima dikotomi yang dihadapi dalam dunia keilmuan, terutama dalam keilmuan Islam.
Pertama, dikotomi vertikal, yaitu terjadinya pemisahan anatar ilmu pengetahuan dari Tuhan. Kondisi ini akhirnya menjadikan para ilmuan merasa dapat mencapai prestasi keilmuan dan berbagai penemuan tanpa bantuan dari Tuhan.


Kedua, dikotomi horizontal, yaitu pengembangan ilmu-ilmu keislaman (Islamic Studies hanya memperhatikan satu dimensi, dan mengabaikan perkembangan bidang ilmu-ilmu keislaman lainnya.
Ketiga, dikotomi aktualitas, yaitu tadanya jarak yang sangat jauh antara pendalaman ilmu dan aktualisasinya dalam membantu dan mengembangkan kehidupan serta peradaban umat manusia.
Keempat, dikotomi etis yaitu adanya jarak antara penguasaan dan kedalaman ilmu dengan etika dan kesalehan prilaku. Ilmu tidak sejajar dengan akhlak dan spiritualitas para penekunnya.


Kelima, dikotomi intrapersonal, yaitu hilangnya kesadaran para ilmuan tentang kaitan ruhnya dengan jasadnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini konsep penciptaan manusia dan kaitannya dengan kualitas sumber daya manusia menjadi teramat penting.
Beradasar pada paradigma Wahdatul ’Ulum yang ditawarkan maka diharapkan para alumnus UIN Sumatera Utara mampu melakukan integrasi keilmuan dalam kehidupan dengan lima bentuk berikut.
Pertama, integrasi vertikal, yaitu mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dengan ketuhanan.
Kedua, integrasi horizontal, yaitu mengintegrasikan pendalaman dan pendekatan disiplin ilmu keislaman tertentu dengan disiplin bidang lain sesama ilmu keislaman dan dengan ilmu pengetahuan Islam (Islamic Science) tertentu.


Ketiga, integrasi aktualitas, yaitu mengintegrasikan pendekatan ilmu yang dikembangkan dengan realitas dan kebutuhan masyarakat.
Keempat, integrasi etik, yaitu mengintegrasikan pengembangan ilmu pengetahuan dengan penegakan moral individu dan moral sosial. Kemudian mengintegrasikan pengembangan ilmu yang wasathiyyah, sehingga melahirkan wawasan kebangsaan dan wawasan kemanusiaan yang sejalan dengan pesan substantif ajaran Islam tentang kebangsaan dan kemanusiaan.


Kelima, integrasi intrapersonal, yaitu pengintegrasian antara dimensi ruh dengan daya pikir yang ada dalam diri manusia pada pendekatan dan operasionalisasi transmisi ilmu pengetahuan.
Pemberdayaan umat yang dilakukan oleh UIN Sumut merupakan bagian integral dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui lembaga-lembaga yang ada di bawah naungan LPPM (lembaga penelitian dan pengabdian pada masyarakat) UIN Sumut terus mengembangkan program-program berbasis ummat mulai dari pengabdian mahasiswa, KKN dan magang mahasiswa sebagai sebuah jawaban dari tuntutan borang akreditasi 9 standard.


Moderasi beragama yang dicanangkan oleh Rektor merupakan program strategis Kementrian Agama sebagai perpanjangan tangan Pemerintah yang memandang pentingnya mendiseminasikan moderasi beragama kepada masyarakat melalui institusi Pendidikan Islam untuk mewujudkan kehidupan beragama yang damai di tengah-tengah keanekaragaman pemeluk agama di negeri ini.
Moderasi beragama ingin memberikan pemahaman pada semua pemeluk agama bahwa pada level eksoteris (syariat) agama memang berbeda, tetapi pada level esoteris (budaya) semuanya sama saja.

Semua agama kemudian dipandang sebagai jalan yang sama-sama sah untuk menuju kepada Tuhan. Namun, dalam banyak hal, realitas menunjukkan bahwa ketegangan yang terjadi di antara umat beragama justru berkaitan erat dengan faktor-faktor yang berada di luar lingkup agama itu sendiri. Ini merupakan problem penting bagi semua pemeluk umat beragama untuk mejaga kedamaian dalam beragama.
Melalui Rumah Moderasi beragama yang diketuai oleh Dr. Phil. Zainul Fuad, UIN Sumatera Utara terus berupaya agar semua masyarakat Indonesia mendapatkan pemahaman yang mapan tetang moderasi beragama dengan berbagai kegiatan, dianyatanya Training of Trainer untuk mahasiswa sebagai ujung tombak penyampai pesan-pesan moderasi beragama di kalangan masyarakat.

Fakultatif.

Keunggulan Fakultatif
Dalam rangka mendukung keunggulan-keunggulan isntitusional sebagaimana telah disajikan di atas, maka semua fakultas yang ada di lingkungan UIN Sumatera Utara dituntut untuk memiliki kenggulan yang disesuaikan dengan latar belakang fakultas masing-masing. Keungulan inilah nantinya yang menjadi back up bagi Universitas dalam mencapai keunggulan institusional dan sekaligus menjadi visi Rektor.
Adapun keunggulan yang harus dimiliki oleh setiap fakultas adalah sebagai berikut:

  1. Fakuktas Syariah dan Hukum harus menjadi pusat keunggulan dalam bidang Hukum Islam yang bermoral dan Keutuhan Keluarga. Untuk mendapatkan keunggulan tersebut, maka Fakultas Syariah terus berupaya menjadi semua prodi yang ada di bawah naungan fakultas Syariah memiliki/mendapatkan akreditasi unggul, sehingga ketika masyarakat membutuhkan tenaga/pakar untuk konsultasi tentang hukum Islam, hanya fakultas Syariahlah yang dituju.
  2. Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam (FUSI) harus menjadi pusat keunggulan di bidang Moderasi Beragama yang Qurani. Keunggulan ini harus dimiliki karena FUSI memiliki program Studi “Studi Agama-Agama” dan Program Studi Ilmu Alquran dan Tafsir (S1 dan S2). Dengan kedua program studi tersebut menjadikan FUSI semakin handal dan menjadi ujung tombak untuk visi Rektor dalam bidang Moderasi Beragama.
  3. Fakultas Dakwah dan Komunikasi diharapkan menjadi pusat keunggulan dakwah wasathiyah yang marhamah. Dakwah wasathiyah yang Marhamah hanya bisa terwujud jika para pendakwah memiliki wawasan yang luas. Oleh sebab itu fakultas Dakwah dan Komunikasi mejadi garda terdepan dalam mewujudkan keunggulan ini sebagai salahsatu pilar pendukung dakwah wasathiyah yang marhamah sebagai bagian dari moderasi beragama.
  4. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) diharapkan menjadi pusat keunggulan Ekonomi Berbasis Ke Islaman dan Keindonesiaan. Di tengah-tengah kondisi perekonomian Indonesia mengalami kelesuan, FEBI diharapkan tampil di garda terdepan memberikan solusi perekonomian yang berbasis keIslaman disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan negara Indonesia. Kondisi perekonomian yang menurun ini menjadi sebuah peluang besar bagi FEBI untuk tampil menawarkan ekonnomi Islam dan pengelolaan keuangan sesuai ajaran Islam dengan memperkuat Bank berbasis Islam/Syariah.
  5. Fakultas Ilmu Sosial (FIS) harus menjadi pusat keunggulan di bidang Peace Studi dan penguatan Kohesi Sosial. Banyak permasalahan kehidupan sosial hari ini yang tidak bisa diselesaikan secara akademis dan menemui titik buntu, sehingga banyak masyarakat yang beralih pada “orang-orang pintar” yang ternyata tidak pernah sekolah ataupun kuliah untuk dijadikan tempat mengadukan masalahnya. Dengan Prodi Sosiologi Agama yang dimiliki oleh FIS, sudah saatnya FIS menjadikan kiblat bagi orang-orang yang ingin menyelesaikan masalah dan menjadi rujukan pemeritah dalam mengelola negara.
  6. Fakultas Sain dan Teknologi (Saintek) diharapkan menjadi pusat keunggulan Pengembangan Saintek Islami yang dapat menyahuti Perkembangan Teknologi 4.0. Zaman Globalisasi yang penuh dengan kecanggihan teknologi banyak disalahgunakan oleh para pengguna teknologi harus menjadi perhatian bagi Fakultas Saintek. Saat ini banyak pengguna teknologi yang melakukan kejahatan dengan aplikasi teknologi. Fakultas Saintek hadir memberikan muatan-muatan pengembangan Sain dan Teknologi dengan menanamkan nilai-nilai keislaman bagi para pengguna kecanggihan teknologi dan sekaligus terus berupaya meakukan penelitian-penelitian dan inovasi teknologi untuk menjawab perkembangan teknologi yang terus berkembang.
  7. Fakultas Kesehatan Masyarakat harus menjadi pusat keunggulan dalam bidang: Pengembangan masyarakat sehat dan bahagia. Masalah utama yang dihadapi bangsa Indonesia dan negara-negara lain di dunia ini adalah masalah kesehatan dan masalah kebahagiaan. Masalah kesehatan menurut para dokter terkait juga dengan pola pikir (Mindset) –di samping juga masalah makanan/gizi–. Di samping mendidik mahasiswa agar menjadi tenaga-tenaga handal dalam bidang pelayanan infirmasi kesehatan, FKM juga tampil sebagai garda terdepan dalam memberikan pemahaman pada masyarakat betapa pentingnya hidup sehat dan menjaga kesehatan, karena hidup sehat menjadi salahsatu pilar hidup bahagia.
  8. Program Pascasarjana harus menjadi pusat keunggulan Studi Islam Integratif. Keunggulan ini harus dimiliki oleh program pascasarjana sebagai pembeda dari pascasarjana yang ada di universitas umum. Kemampuan mengintegrasikan ilmu harus dimiliki oleh para alumni dari program pascasarjana UIN Sumut.

Penutup
Jika diilustrasikan pada manusia, usia 48 tidak lah usia muda, tetapi sudah pada usia dewasa yang banyak makan garam. Begitu juga UIN Sumatera Utara yang sudah melewati banyak tantangan menjadikan UIN Sumatera Utara lebih lihai dalam mendesain keunggulan-keunggulan dalam rangka melahirkan kader bangsa yang berkarakter Ulul Albab.

Dr. Junaidi, M.Si.
Dosen Agitasi dan Propaganda FUSI UIN Sumatera Utara

  • Bagikan