Waspada
Waspada » Keulamaan Yang Dinamis Konstruktif
Headlines Opini

Keulamaan Yang Dinamis Konstruktif

Oleh M Ridwan Lubis

Globalisasi semakin kuat cengkeraman nilai-nilai modern seperti demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia. Kondisi inilah yang disebut Islam publik, ekspresi, simbol dan pernyataan keagamaan yang ramah terhadap nilai-nilai modern dan globalisasi

Corak keislaman di Indonesia relatif homogen yang mengikuti corak Asy’ariah-Mturidiah dalam akidah, Hanifiah-Malikiah-Syafi’iyah-Hambaliah dalam fikh dan Imam Junaid Dan Al Gazali dalam tasawuf. Kalaupun ada perbedaan, lebih banyak yang bersifat simbolik.

Homogenitas keislaman nusantara ditandai oleh kesamaan corak pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam khususnya dalam bidang akidah, syariat dan akhlak. Hal itu disebabkan karena format keislaman di Asia Tenggara telah selesai diletakkan dasar-dasarnya oleh para muballig yang datang pada awal fase keislaman.

Sebagaimana yang dikemukakan Prof Taufik Abdullah, fase islamisasi nusantara melewati tiga tahapan yaitu Islam datang, Islam berkembang dan Islam menjadi kekuatan politik. Ketika berlangsung fase Islam datang, terjadinya perubahan format keyakinan masyarakat tidak ditekankan pada perubahan yang bersifat simbolik akan tetapi lebih substantif yaitu menekankan pendekatan akhlak kepada Allah, lingkungan dan diri sendiri dengan tujuan pengayaan kerohanian (spritual enrichment).

Formula dakwah Islam tidak mengalami konflik dengan pengembangan kerohanian pasca tradisi Hinduisme dan Budhisme. Sehingga, Islam yang diperkenalkan muballig dipahami masyarakat sebagai milik asli (genunine) mereka. Penyiaran Islam berlangsung secara damai (penetration pacifique), karena sekalipuun melakukan perubahan tetapi tidak menimbulkan goncangan psikologis.

Proses perkembangan selanjutnya menuju fase Islam berkembang juga berlangsung dengan mulus. Hal tersebut bisa terjadi tidak terlepas dari strategi dakwah melalui pendekatan adaptasi, akomodasi dan seleksi. Pendekatan adaptasi lebih diutamakan karena dengan cara demikian, berpeluang terjadinya penyebaran Islam melalui sarana budaya yang telah dihayati dalam kehidupan masyarakat.

Demikian selanjutnya proses penyiaran Islam memanfaatkan budaya lokal sebagai sarana memperkenalkan Islam dengan secara bertahap terbentuk pelembagaan Islam melalui strategi internalisasi lembaga pendidikan pondok pesantren. Suatu hal yang tidak bisa diabaikan adalah terjadinya persinggungan Islam dengan politik kekuasaan pada fase ketiga penyiaran Islam yaitu Islam politik.

Tetapi dalam fase ini juga para muballig tidak berminat memasuki secara teknis-politis lembaga kekuasaan tetapi muballig lebih memilih menempatkan diri sebagai pendamping yang memberikan nasehat terhadap jalannya pemerintahan atau kesultanan.

Terdapat dua hal disini yang dapat dicermati yaitu proses islamisasi lebih memilih aspek yang berkenaan dengan hukum keluarga (ahwal al syakhshiyah) demikian juga lebih menonjolkan semangat membangun integrasi antara Islam dengan budaya lokal.

Persoalan menyangkut hukum kemudian menimbulkan perdebatan apakah adat yang mempengaruhi agama, agama yang mempengaruhi adat atau ketuanya berlangsung secara hubungan timbal balik.

Kemudian, tentang integrasi Islam dengan budaya lokal, sebagian pengamat, memandang sebagai bentuk sinkretisme kepercayaan lama dengan Islam. Sehingga diperlukan upaya pemurnian Islam serta pembaruan pemikiran Islam.

Pemurnian diperlukan untuk mengembalikan dinamika tauhid sebagai sumber inspirasi keagamaan. Sedang pembaruan pemikiran diperlukan untuk melanjutkan semangat kecendekiawanan Islam.

Adanya kesan terjadinya sinkretisasi Islam dengan budaya lokal sulit dihindari mengingat strategi pengislaman menggunakan pendekatan penetration pacifique. Hal tersebut merupakan konsekwensi cara para muballig yang membangun pola interpretasi, pengalaman dan penghayatan terhadap Islam dengan memberdayakan kearifan lokal yang sudah lebih dahulu akrab dalam pemahaman masyarakat.

Dalam kerangka itulah, proses dakwah berlanjut kepada pemurnian dan pembaruan pemikiran dengan tetap memelihara kedekatan antara masyarakat dengan Islam.

Akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang melahirkan modernitas, diperlukan penguatan strategi pembaruan pemikiran yang dinamis, kreatif dan inovatif sebagai jawaban terhadap perkembangan pranata sosial agar tetap berakar pada nilai akidah, syariah dan akhlak. Sehingga dengan demikian, wacana keislaman tidak hanya memadakan terbentuknya peta geografi Islam di berbagai kawasan nusantara tetapi yang terpenting, Islam menjadi faktor pendorong tumbuhnya produktivitas nasional untuk menuju kehidupan bangsa yang berkemajuan dan berperadaban.

Dalam kaitan itulah, sumbangan Islam kepada bangsa dijauhkan dari sifat eksklusif. Tetapi inklusif yaitu kemajuan peradaban seluruh bangsa Indonesia tanpa membeda-bedakan suku, budaya maupun agama.

Sebagaimana diketahui, landskap keislaman akhir-akhir ini mengalami perubahan akibat terbentuknya ruang publik Islam (islamic space public) yang baru. Pola pikir lama yang berdasar sikap kontras antara agama dengan modernitas, semakin tidak relevan lagi karena globalisasi mendorong terjadinya budaya global homogen.

Globalisasi semakin kuat cengkeraman nilai-nilai modern seperti demokrasi, toleransi, dan hak asasi manusia. Kondisi inilah yang disebut Islam publik, ekspresi, simbol dan pernyataan keagamaan yang ramah terhadap nilai-nilai modern dan globalisasi. Atas dasar itu, corak berpikir yang masih memilah antara tradisi dan modern atau mempertahankan polemik seputar khilafiah menjadi semakin tidak relevan lagi.

Tuntutan berpikir umat telah bergeser kepada merumuskan fungsionalisasi ajaran agama. Agar nilai agama berfungsi landasan etos kerja untuk menjawab tantangan pemikiran modern yang terus menggerus orientasi cara berpikir konservatif dan tradisional.

Dalam pada itulah, umat berharap lembaga-lembaga keulamaan lebih dinamis, kreatif dan inovatif menggagas pemikiran besar sebagai jembatan penyalur aspirasi umat kepada pemerintah sekaligus juga menjadi penerjemah gagasan pembangunan dari pemerintah kepada masyarakat, sekaligus juga menggagas pemikiran besar bagi kemaslahatan bangsa dan umat manusia.

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2