Ketika Perayaan (Hampir) Kehilangan Makna - Waspada

Ketika Perayaan (Hampir) Kehilangan Makna

  • Bagikan

Oleh Drs. Bahrum Jamil, MAP

Seiring waktu, antusiasme ini semakin menurun. Bukan hanya karena negara kita saat ini dilanda pandemi Covid-19, tetapi sebelum virus ini mewabah, sudah kelihatan kecenderungan menurunnya semangat merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ini

“Merdekaaa….. “, pekikan ini mengandung seribu makna, terutama bagi mereka yang ikut berjuang merebut kemerdekaan ini. Mengepalkan tangan sambil menyandang senjata rakitan atau bambu runcing.

Dengan ikat kepala merah-putih, pekikan ini akan merasuki jiwa, mengalir pada setiap aliran darah, dan memicu semangat untuk menyerang musuh, menyingkirkan rasa takut dan dengan gagah berani menyerang atau menghadang penjajah yang ingin menguasai tanah tumpah darah tercinta, melahirkan satu tekad, merdeka atau mati.

Bagi masyarakat yang hidup pada zaman kini, teriakan itu hanya dapat disaksikan pada media massa, atau media sosial, dan nyaris tanpa getaran jiwa kebangsaan.

Hanya sedikit pelaku sejarah yang masih hidup, yang mungkin masih bergetar jiwanya mengenang masa perjuangan dulu, ketika masa-masa perjuangan dulu disajikan dalam bentuk film atau sinetron, atau dalam pertunjukan drama dan sejenisnya.

Mengenang sedikit jasa yang telah diberikan kepada nusa dan bangsa, walaupun mungkin tanpa balasan yang setimpal dari negara. Tidak ada masalah bagi mereka yang berjuang tanpa pamrih, tanpa mengaharapkan bintang tanda jasa.

Memang, sejarah perjuangan merebut kemerdekaan tersebut penting untuk dikenang dan dirayakan, tetapi ada yang tak kalah pentingnya lagi, yakni mengisi kemerdekaan yang sudah diproklamirkan 76 tahun lalu, 17 Agustus 1945, oleh proklamator kita, Soekarno – Hatta.

Setiap tahun, ada acara yang secara resmi menjadi agenda pemerintah. Mulai dari istana negara, kantor kementerian hingga kantor-kantor instansi resmi pemerintahan di tingkat yang paling rendah, melakukan peringatan maupun perayaan untuk mengenang hari kemerdekaan republik tercinta ini.

Berbagai cara dilakukan memperingati hari kemerdekaan ini. Mulai dari upacara resmi, pengibaran dan penurunan bendera hingga berbagai permainan. Baik yang serius maupun yang sedikit konyol yang dapat mengundang tawa masyarakat yang menonton.

Juga selalu diisi dengan pawai, dari mulai drum band, karnaval, maupun mobil hias atau sepeda hias, ataupun kenderaan jenis lainnya yang dapat dihias untuk menyemarakkan peringatan hari kemerdekaan ini.

Permainan yang diadakan bahkan dapat dikatakan ada yang sudah mentradisi di kalangan masyarakat, bukan hanya masyarakat pedesaan bahkan juga hingga masyarakat perkotaan.

Berbagai kalangan dan berbagai kelas dan status sosial masih menikmati permainan ini, walaupun jika dikaji, sulit menarik benang merah antara maksud dari permainan ini dengan nilai-nilai kemerdekaan yang diperingati.

Permainan dimaksud adalah lomba panjang pinang atau pucang. Permainan yang menurut sejarahnya merupakan hiburan para tuan-tuan dan nyai Belanda pada masa itu.

Permainan yang harus menginjak kawan pada bagian tubuh yang bisa membuat kawannya sampai ke puncak pohon pinang yang dilumuri oli sehingga licin. Bahkan sampai menginjak kepala kawan yang menjadi penyangga, demi meraih hadiah yang sudah disiapkan di puncak batang pohon pinang tersebut.

Lomba makan kerupuk yang diikat tali, lomba mengambil koin mata uang dengan gigitan pada buah jeruk bali yang dilumuri oli atau minyak kelapa dicampur arang. Sehingga mulut dan wajah peserta beselemak tak karuan.

Lomba lari karung, lomba memasukkan paku yang diikat dengan tali di pinggang ke dalam botol dengan berjongkok, lomba lari dengan menggigit sendok yang di atasnya ada kelereng atau guli, dan banyak lagi permainan lain yang sudah menjadi tradisi.

Malamnya, biasanya akan diadakan hiburan rakyat, yang sekaligus memberikan hadiah bagi para pemenang lomba yang hadiahnya tidak dibagikan langsung pada saat perlombaan dilaksanakan.

Sayangnya, malam hiburan rakyat seperti ini, tidak jarang pula diisi oleh anak-anak muda dengan minuman keras, bahkan sampai mabuk dan berjoget hingga pagi.

Sungguh sulit untuk mencari benang merah antara apa yang dilakukan sebagai peringatan atau perayaan HUT Kemerdekaan ini dengan nilai-nilai kemerdekaan yang diperjuangakan dengan darah, air mata, dan jiwa para patriot dan pahlawan bangsa.

Pada era 70-an hingga 80-an, bahkan hingga awal 90-an peringatan dan perayaan seperti ini masih mendapat perhatian dengan antusiasme yang tinggi dari generasi muda, khususnya para pelajar, dan sangat dinikmati oleh para generasi tua maupun anak-anak.

Saat itu, 17-an adalah saat yang ditunggu-tunggu oleh banyak masyarakat. Sampai pada unit terendah dari hirarki pemerintahan, seperti kelurahan, atau lingkungan, maupun desa atau dusun selalu mengadakan acara keramaian merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ini.

Namun, seiring waktu, antusiasme ini semakin menurun. Bukan hanya karena negara kita saat ini dilanda pandemi Covid-19, tetapi sebelum virus ini mewabah, sudah kelihatan kecenderungan menurunnya semangat merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ini.

Apakah hal ini disebabkan oleh rasa nasionalisme yang sudah mulai menipis, khususnya di kalangan generasi muda yang didominasi oleh generasi yang selalu disebut dengan generasi milenial.

Atau karena begitu menjamurnya permainan-permainan yang dapat dimainkan melalui telepon genggam selular, yang mengakibatkan sianak muda secara tidak sadar.

Tidak bersosialiasi dengan lingkungannya secara intens dan menjadi individu yang asyik dengan dirinya sendiri dan tidak mau tau dengan urusan bangsa dan negara, menjadi makhluk yang individualis.

Atau, bisa jadi juga karena muncul kejenuhan di kalangan segala lapisan masyarakat untuk mengikuti atau menyaksikan perayaan yang dari tahun ke tahun tidak banyak berubah dengan permainan yang monoton.

Disadari bahwa perayaan dan permainan tersebut semakin jauh dari nilai-nilai perjuangan para pahlawan bangsa dan sangat jauh juga dari hal-hal positif dan inovatif dalam mengisi kemerdekaan.

Lantas, pertanyaannya, apakah perayaan hari ulang tahun kemerdekaan ini tidak usah dirayakan. Jawabannya tentu saja harus… harus dirayakan. Namun mestinya ada terobosan kritis yang membuat 17 Agustus setiap tahun menjadi momen yang ditunggu masyarakat.

Ada even yang setiap tahun menjadi agenda tetap dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ini yang bersifat monumental. Kalau saat ini, di tingkat nasioanal ada penganugerahan bintang jasa alangkah baiknya, ada even peluncuran karya anak bangsa yang inovatif.

Bukankah Indonesia, menurut datanya, memiliki lebih kurang 6000 profesor atau guru besar dan lebih banyak lagi tentunya kaum intelektual yang mempunyai tingkat pendidikan S3 atau bergelar Doktor.

Yang pastinya mereka sudah melakukan penelitian di berbagai bidang yang bisa membuat sistem kerja lebih efisien dan efektif, atau karya ilmiah yang implementatif, bisa diaplikasikan di tengah masyarakat. Sehingga hasil penelitian tersebut tidak hanya menghiasi dan memenuhkan rak-rak buku di perpustakaan saja.

Di tingkat daerah, baik tingkat Propinsi, maupun tingkat kabupaten/kota, dan jika memungkinkan juga hingga kecamatan, mengikuti apa yang dilakukan di tingkat nasional, juga mestinya ada perayaan yang meninggalkan kesan monumental pada daerah tersebut.

Acara peringatan HUT kemerdekaan tidak hanya diisi dengan upacara yang bersifat seremonial dan permainan yang sama sekali tidak jelas tujuan dan nilai-nilai yang dikandung di dalamnya.

Tetapi setiap 17 Agustus, suatu karya inovatif dan monumental dari putera daerah atau kelompok masyarakat, atau lembaga swadaya masyarakat dan organisasi perangkat daerah diluncurkan, diperkenalkan ke masyarakat daerah tersebut.

Sehingga perayaan HUT RI setiap tahunnya menjadi momen-momen perlombaan kreativitas anak bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Memang untuk mewujudkan hal ini bukan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Diperlukan pemimpin yang mau bekerja keras dan mempunyai integritas kebangsaan yang mumpuni dan teruji.

Pemimpin yang berwawasan dan punya visi ke depan, pemimpin yang jika menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, masih berdiri bulu kuduknya. Jika tidak, maka perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta ini lambat laun akan kehilangan makna.

Penulis adalah Dosen Tetap pada Fakultas Ilmu Sosial dan Imu Politik, Universitas Medan Area.

  • Bagikan