Ketika Pemimpin Kehilangan Power

  • Bagikan

Untuk keberhasilannya sebagai pemimpin, maka power ini tidak boleh hilang dan akan tetap dan terus digunakan selama jabatan sebagai pemimpin. Pertanyaannya, bisakah power ini hilang pada diri sang pemimpin..?

“Percuma tu, pemimpin, nggak punya power…”, demikian sering terdengar ucapan dari masyarakat atau orang-orang yang kecewa dengan sikap seorang pemimpin yang seolah-oleh tidak berdaya menghadapi situasi di lingkungan dimana dia menjadi pemimpin.

Ketidakberdayaan ini bisa jadi datang dari internal, pada diri sang pemimpin sendiri atau bisa juga dari faktor eksternal, datang dari luar diri sang pemimpin.

Kondisi seperti ini membuat sang pemimpin seperti tidak mempunyai kekuatan, wewenang, kekuasaan, dalam bertindak sesuai dengan tuntutan Uraian Tugas atau Job Description,atau Tugas Pokok dan Fungsinya sebagai pemimpin. Dia seperti kehilangan power-nya.

Ketika seseorang menjadi pemimpin, apakah melalui pemilihan, pengangkatan, atau karena faktor keturunan, maka power akan secara otomatis melekat pada dirinya. Power tersebut ditandai dengan acara pelantikan, penobatan, atau Surat Keterangan (SK), atau bisa juga dengan uniform atau aksesoris khusus yang diberikan kepadanya oleh pihak yang berwenang untuk hal itu.

Dengan power ini pemimpin tersebut melakukan berbagai hal yang menyangkut tugas dan tanggungjawabnya sebagai pemimpin. Dia akan menjalankan Leadership Skill dan Managerial Skill dalam kepemimpinannya.

Dia melakukan instruksi dan arahan-arahan kepada bawahannya, menjelaskan kebijakan-kebijakan menyangkut unit kerja atau organisasi yang ia pimpin, menjelaskan strategi-strategi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Melakukan penilaian terhadap kinerja dan performa sumber daya manusia yang berada dalam pengawasannya, serta memberiklan reward dan punishment sesuai dengan hasil penilaian tersebut. Melakukan promosi, demosi, mutasi, sesuai kinerja dan kebutuhan organisasi dan memberikan Surat Peringatan.

Bahkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja bagi SDM yang bermasalah dan merusak sistem pada unit kerja atau organisasi. Hal penting juga yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin adalah menerima laporan tentang segala sesuatu yang menyangkut pekerjaan “anak buahnya”.

Juga memberikan ide, gagasan, dan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja, menerima keluhan dan “tuntutan serta keinginan” dan sekaligus memberikan feedback dan solusi, bagi komunikasi dari bawah, yang diterimanya sebagai atasan.

Tidak jarang juga dia harus menerima tuntutan, kritikan, atau protes, bahkan aksi mogok kerja yang semua ini harus disadarinya sebagai konsekwensi tugas dan jabatannya sebagai pemimpin.

Power ini tentunya didasari oleh kredibilitas yang dimiliki oleh sang pemimpin ketika dia dipilih, diangkat atau dinobatkan menjadi pemimpin. Kredibilitas yang menyangkut tingkat keterpercayaan orang-orang atas kemampunnya sebagai pemimpin.

Kredibilitas ini dilihat dari tingkat pengetahuannya, pengalamannya, sikapnya, dan berbagai hal yang menguatkan pihak-pihak berwenng untuk memilih, melantik, menobatkan, dan meng-SK-kan orang tersebut menjadi pemimpin.

Ketika ia menjadi pemimpin, maka secara otomatis dia juga sudah mempunyai power dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Untuk keberhasilannya sebagai pemimpin, maka power ini tidak boleh hilang dan akan tetap dan terus digunakan selama jabatan sebagai pemimpin. Pertanyaannya, bisakah power ini hilang pada diri sang pemimpin..?

Seorang supervisor pada sebuah industri manufaktur, melapor ke atasannya yang seorang manager bahwa ada bawahannya yang akhir-akhir ini menunjukkan performa kerja yang sangat menurun. Padahal sebelumnya ia merupakan seorang pekerja yang rajin, disiplin, penuh semangat, dan punya prestasi yang baik.

Bawahannya tersebut sudah berkali-kali diingatkan, bukannya berubah malah seperti menantang dan tidak menganggapnya sebagai atasannya. Ketika si supervisor menyebutkan nama bawahannya yang rada membangkang tersebut, Pak Manager ingat bahwa Beliau adalah salah satu kandidat untuk menduduki jabatan supervisor yang sekarang dipegang oleh atasannya ini.

Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh manager, didapatlah informasi bahwa mereka berdua sebelumnya dikenal sebagai dua sahabat yang cukup dekat. Bahkan pernah tinggal di rumah kontrakan yang sama, dan juga saling memberi hutang jika salah satunya kesulitan keuangan.

Bahkan pernah makan sebungkus berdua ketika masih sama-sama baru bekerja. Kebetulan mereka berasal dari daerah yang sama. Ketika atasannya yang supervisor tersebut memberi instruksi, maka selalu saja keluar dari mulut si bawahan untuk jangan sok memerintah, dan mengingatkan bagaimana dulu mereka saling membantu ketika masih sama-sama susah.

Pengaruh buruk dari kondisi ini adalah bahwa teman lain juga ikut-ikutan tidak patuh dan akhirnya si supervisor kehilangan power-nya. Merasa sudah gagal, maka dia melapor ke manager-nya tentang kondisi ini, dan bahkan ingin mundur dari jabatan tersebut.

Sang manager yang bijaksana, dan tahu potensi yang dimiliki supervisor bawahannya ini, menyarankan agar dia bicara secara pribadi “empat mata” dengan kawan tersebut. Ingatkan kawan tersebut bahwa dia atasan, punya tugas dan tanggung jawab dari perusahaan yang harus dilakukan.

Selain itu, perusahaan punya target yang harus dicapai, dan jika tidak tercapai akan ada konsekuensi untuk kita semua, dan sebagai atasan dia bisa melapor siapa yang “buat ulah” hingga target tidak tercapai.

Tentu saja hukum akan menunggu, bukan tidak mungkin PHK juga bakal dialami. Sekarang tinggal pilih, kita akan sukses bersama, atau kamu akan menerima konsekuensi dari sikapmu selama ini.

Dengan mengikuti arahan sang manager, si supervisor bicara dengan sang teman, yang ternyata memang punya rasa cemburu karena bukan dia yang terpilih menjadi supervisor. Akhirnya dia sadar, minta maaf, dan berjanji akan kembali bekerja seperti biasa, dan suasana kerja kembali kondusif. Si supervisor pun kembali memperoleh power-nya yang sempat hilang.

Kedekatan seorang pemimpin dengan bawahannya, baik kedekatan emosional, pribadi, ideologi, maupun kedekatan secara nilai-nilai budaya memang dapat membuat si pemimpin akan kehilanagn power ketika berhadapan dengan orang tersebut.

Pemimpin tersebut tidak dapat menggunakan objektivitas secara penuh dalam mengambil kebijakan ketika bawahannya tersebut bermasalah. Hal ini diperkuat lagi dengan “budaya ketimuran” yang tidak mampu untuk dihilangkan ketika berhadapan dengan “budaya organisasi”.

Budaya organisasi, akan menuntut kesamaan perlakuan terhadap siapa saja yang ada dalam struktur organisasi, tanpa memandang hubungan kekerabatan, persahabatan, primordialisme, dan hubungan yang berdasarkan apapun diluar hubungan tugas dan dinas.

Yang berlaku hanya hubungan yang berlaku dan tertuang dalam Company Regulation atau Kesepakatan Kerja Bersama, atau Peraturan Perusahaan, dan juga Statuta yang sudah disepakati dan disahkan.

Kehilangan power bagi seorang pemimpin sebenarnya tidak perlu terjadi jika pemimpin tersebut sadar bahwa dia diangkat karena kemampuannya dan kredibilitasnya memang mumpuni.

Namun, banyak pemimpin yang diangkat karena faktor dukungan eksternal, yang sebenarnya “memaksakan” seseorang untuk menjadi pemimpin padahal kemampuannya belum memadai untuk itu.

Ketika memimpin, pemimpin ini mengalami kesulitan menghadapi tugas dan tanggung jawab yang ternyata memang diluar kemampuannya. Pemimpin ini akan segera kehilangan power-nya sebagai pemimpin.

Kasus lain adalah ketika pihak eksternal memilih dan mengangkat pemimpin tersebut, namun tidak melepaskan pengaruhnya. Jadilah sang pemimpin tetap dalam “cengkeraman”-nya dan segala kebijakan harus memperhatikan kepentingan pihak eksternal yang mengangkat dan memilih tersebut.

Di sini, sang pemimpin tidak punya power dan hanya seperti “boneka” dari pihak yang memilih dan mengangkatnya. Hal ini bisa diperparah lagi jika sang pemimpin, untuk menjadi pemimpin, telah memberikan imbalan tertentu dan membuat kesepakatan tertentu dengan pihak tersebut.

Power bagi seorang pemimpin merupakan sesuatu yang mutlak harus dimiliki, digunakan, dan modal yang tidak bisa ditawar oleh apapun untuk membuat unit kerja atau organisasi yang dipimpinnya dapat mencapai target atau tujuan dan visi yang telah ditentukan.

Power-lah yang akan membuat sang pemimpin mampu mempengaruhi orang-orang yang berada dalam pengawasannya untuk bekerja mencapai target dan tujuan serta kepentingan organisasi atau perusahaan.

Pemimpin hanya perlu mengetahui dan mengerti bagaimana agar power-nya tersebut tetap ada dalam genggamannya dan menjalankan kepemimpinannya dengan gaya kepemimpinannya.

Yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi unit kerja atau organisasi atau perusahaan dimana dia menjadi pemimpin. Baik pada level low management, middle management, apalagi pada level top management.    WASPADA

Penulis adalah Dosen Tetap pada Fisipol Universitas Medan Area.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.