Waspada
Waspada » KERJA KERAS, TUNTAS, IKHLAS DAN BE THE WINNER
Opini

KERJA KERAS, TUNTAS, IKHLAS DAN BE THE WINNER

Susi Suaidah Hasibuan
Susi Suaidah Hasibuan

SETIAP manusia hampir memiliki tujuan yang sama, yaitu memiliki kehidupan yang baik dan makmur. Untuk kehidupan yang baik dan makmur itu, manusia tersebut berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan itu pada dasarnya ada yang baik dan ada yang buruk.

Sama halnya seperti dunia ini   merupakan arena kompetisi untuk meraih kesuksesan di dunia dan akhirat sehingga, kunci keberhasilan dan keselamatan kita adalah “amal kebajikan”.

Djohan Effendi (2001) menjelaskan bahwa jika seorang berharap menuai sesuatu, hendaklah ia menanam. Jika ingin berhasil hendaklah dia bekerja. Hal tersebut jelas tertuang di dalam Al-Qur’an, “bahwasanya tiadalah manusia memperoleh sesuatu kecuali apa yang telah dia usahakan. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatakan (kepadanya).

Kemudian akan diberikan balasan yang paling sempurna” (Q.S Al-Najm /53: 39-41). Itu berarti manusia tidak mendapatkan apa-apa kalau dia tidak melakukan apa-apa. Karena apa yang dia hasilkan dalam hidupnya adalah apa yang dia kerjakan itu.

Premis di atas sekaligus menjadi sunnatullah bagi kehidupan manusia sangat berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Kecenderungan umum manusia adalah ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang mudah dan gampang dengan hasil yang besar dan fantastis.

Dan kalau bisa manusia ingin sekali tidur enak di rumah tetapi rezeki datang sendiri, right? Iya, manusia dan siapapun orangnya, pasti ingin hidup enak dan santai tanpa susah payah dan capek. Mengapa demikian?

Karena pada zaman now (zaman sekarang ini). Kita sangat jauh menurun akidah dan akhlaknya. Tetapi itulah yang amat dibenci oleh agama.

Beberapa orang yang bisa dikatakan tidak berkeinginan untuk bekerja tetapi mengharapkan rezeki itu datang sendiri, ada juga yang merasa bahwa sudah bekerja saja pun belum tentu memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan.

Apalagi orang yang tidak bekerja, disamping hasilnya selalu tidak ada, kecewanya jelas selalu ada. Kendatipun demikian, Allah belum memberikan hasil yang kita harapkan, kita tidak boleh mengeluh. Agama Allah menghendaki, jika ingin hidup enak, maka haruslah susah dahulu, kalau ingin santai maka mestilah capek dahulu.

“Berakit – rakit ke hulu, berenang – renang ke tepian: bersakit –sakit dahulu bersenang – senang kemudian,” begitulah kata pepatah. Dan prinsip dasar Islam tentang amal shaleh, ada pada posisi itu.

KARENA APA ENGKAU BEKERJA?

Sebelum mengetahui alasan karena apa kita bekerja, penulis ingin membahas terlebih dahulu makna dari kata “kerja” itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti “kerja” ialah kegiatan melakukan sesuatu. Hampir serupa dengan arti kata “kerja” di dalam kamus Oxford Advanced Learning’s Student of Current English ialah penggunaan fisik dan daya mental dalam melakukan seuatu. Kedua arti kamus tersebut hampir sama, kerja ialah melakukan sesuatu.

Istilah kerja menurut Brown dalam Anoraga (1998) ialah penggunaan proses mental dan fisik dalam mencapai hasil yang produktif. Hasan Sadily pun mengatakan hal yang sama bahwa kerja itu adalah kegiatan yang meghasilkan sesuatu. Ditinjau dari segi Al-Qur’an bahwa kerja itu memiliki beberapa kata yang berbeda di dalam Al-Qur’an. Kata – kata tersebut adalah Amal, Al-Fi’il, Al Kasb, As-Sa’yu. Arti dari beberapa kata tersebut adalah “kerja”.

Awadh ( 2009) berpendapat kerja itu bisa yang berbentuk jabatan, profesi, bisnis dan lain – lain. Kerja memang menjadi tujuan setiap orang, khususnya mereka yang bahkan sudah berada di dalam dunia kerja. Ketika diajukan pertanyaan “Mengapa masih kuliah? Bukankah sudah memiliki perkerjaan yang bagus?” Jawabannya tetap sama, “iya, tuntutan dari kantor/lembaga harus memiliki ijazah”. Jelas terlihat bahwa tujuan kuliah itu bukanlah lagi untuk mencari ilmu, melainkan karena tuntutan pekerjaan.

Alasan setiap orang untuk bekerja itu pada umumnya sama. Yaitu ingin memiliki kehidupan yang lebih baik, ingin menjadi orang kaya, ingin menjadi terkenal, bahkan ada juga yang mengatakan karena tidak ingin lagi menjadi orang miskin. Jawaban – jawaban yang demikian sangatlah merugikan diri kita.

Djohan Effendi (2001) mengatakan bahwa Allah  adalah Al-Ghaniyu (Mahkaya) dari segala yang kaya di bumi ini. Ia tidak memerlukan apa – apa dari makhluk-Nya. Ketaatan manusia kepada-Nya tidak akan menambah kekayaan-Nya.

Begitu juga sebaliknya, pembangkangan manusia tidak akan mampu mengurangi secuil pun kekayaan-Nya. Terdapat dalam firman Allah yang dengan santun menegaskan “Barang siapa yang berusaha keras maka ia berusaha keras untuk kebaikan dirinya sendiri, sungguh Allah Mahakaya atas alam semesta (karena Itu Dia tidak memerlukan apapun dari makhluk-Nya)” (Q.S. 29:6).

Bukan kah jelas karena apa kita bekerja? Karena Allah SWT, tanpa seizin-Nya, sekeras dan semaksimal apapun yang kita lakukan, jika Allah tidak menakdirkan atas kekayaan-Nya untuk diberi kepada kita, pekerjaan yang kita kerjakan tidak akan membuahkan hasil apapun. Maha Kuasa Allah atas segala apapun. Disamping itu hasil kerja yang mulia adalah kerja yang membuat kita tidak lupa untuk menunaikan hak – hak Allah dan hambanya..

TARGET KEHIDUPAN ATAU TUJUAN HIDUP?

Untuk menjajaki sebuah pekerjaan, proses yang pertama kali kita lalui adalah menentukan target keghidupan atau tujuan hidup. Alviko (2014) mengatakan bahwa banyak orang yang mengejar target kehidupan, dan mereka lupa mengejar tujuan hidupnya. Apa sebenarnya perbedaan target kehidupan dengan tujuan hidup? Let’s read more!

Dalam kehidupan sehari – hari kita sering  mendengar orang mengeluh dengan sangat pesimis, “hidupku sudah tidak berarti lagi.” Seolah orang yang pesimis seperti ini berpendapat bahwa hidup ini sebenarnya tidak saja tanpa makna dan tujuan, melainkan juga penuh dengan kesengsaraan. Lain waktu kita mendengar pula ucapan yang bermakna sebaliknya, dengan optimis, “rasa – rasanya sayalah orang paling bahagia di dunia ini.” Dua uangkapan ini menunjukkan bahwa betapapun menariknya hidup ini akan dapat dilihat dari awal dan akhir dari tujuan kamu hidup didunia ini.

Alviko (2014) menjelaskan bahwa target kehidupan adalah suatu rencana yang kita buat dalam perjalanan hidup kita untuk membuat perjalanan hidup kita lebih baik, nyaman, dan berkualitas dan membuat kita lebih mudah menjalani kehidupan ini seperti ingin memiliki rumah yang layak, ingin memiliki tabungan yang banyak.

Sedangkan tujan hidup adalah sebuah rencana yang menjadi arah dan acuan kita dalam menjalani kehidupan ini, misalnya seorang ibu rumah tangga yang telah menggapai cita-citanya sebagai business woman memilih kembali untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.

Ibu tersebut merasa bahwa dirinya lebih sangat dibutuhkan untuk berperan lebih banyak di rumah daripada di kantor. Jadi untuk menentukan tujuan hidup sudah seharusnya tujuan hidup itu berlandaskan pada kekuatan “rasa hati”. Untuk itu kita harus bisa menyusun target kehidupan kita untuk mendapatkan tujuan hidup yang semestinya.

Al-Qur’an pun tak kalah serius bertanya “apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu sekalian secara sia sia?” (Q.S. Al-Furqan 23:115). Nada yang sangat tandas ini menunjukkan bahwa ada konsekuensi dari penciptaan itu. Tegasnya, ada akibat lanjut dari kehidupan ini. Allah menciptakan manusia bukanlah untuk hal yang sia – sia belaka, melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, apakah kita sudah berhasil menemukan tujuan hidup kita? Mari renungkan sesaat.

ENJOY DALAM BEKERJA

John Afifi (2015) berpendapat bahwa ada kalanya kita merasa tidak enjoy dalam bekerja. Memang, setiap pekerjaan yang dijalankan selalu mengandung risiko yang seakan mengancam.

Namun sebaiknya kita jangan terlalu berlebihan dalam menyikapi risiko – risiko tersebut. Dari segi lingkungan hendaklah kita menjadikan pikiran kita lebih jernih agar rasa tidak enjoy pun segera lenyap.

Dari segi pribadi, hendaklah kita melakukan segala sesuatunya dengan ikhlas. Jika sudah ikhlas apapun ketakutan yang dihadapi akan hilang. Bagaimana agar bisa ikhhlas? seperti yang dikatakan oleh Ust. Abdul Somad Lc. Ma dalam ceramahnya tentang ikhlas.

“Ikhlas itu berarti tidak bercampur dengan apa – apa”. Niat yang bersih dalam menjalankan suatu hal pasti akan dibalas Allah dengan yang setimpal.

Contohnya penulis ambil dari pekerjaan yang gajiannya tiap bulan, beberapa hal yang mesti dihadapi adalah tak pernah bisa kaya sampai umur berapa pun, setiap hari dikejar-kejar deadline, kalau salah sedikit dimarahin atasan, tak pernah bisa freedom, dan harus lembur apalagi akhir bulan.

Jika semua hal itu terus dipikirkan dan tidak ada rasa ikhlas dalam bekerja. Kita tidak akan bisa enjoy dalam mengerjakan pekerjaan kita. Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy Syanqiti (2014) mengatakan bahwa sudah seharusnya kita melakukan suatu amalan itu dibangun di atas fondasi akidah shahihah (keyakinan yang benar) karena amalan itu seperti atap, sedangkan aqidah itu seperti fondasi.

Tertuang di dalam ayat suci Al-Qur’an bahwa, “ Barang siapa mengerjakan amal shaleh, baik laki – laki maupun perempuan dalam kedaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami beri balasan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl 16:97).

Ayat tersebut juga sepadan dengan slogan zaman sekarang ini “Lelah Menjadi Lillah”. Artinya semua yang dilakukan baik itu dengan usaha yang keras tetapi karena dilakukan dengan ikhlas  “Lillah” kita akan merasakan kepuasan batin terhadap proses yang telah kita lakukan.

DO YOU WANNA BE THE WINNER?

Subki Albughury  dalam Alviko (2014), beliau mengatakan ada tiga slogan yang biasa digunakan untuk memotivasi orang agar semangat dan yakin dalam menjalani kehidupannya yaitu Man Saara ‘Aladdharbi Washala, Man Jadda Wa Jada, Man Shabar Zhafira. Dari 3 slogan islami tersebut, yang paling popular hanyalah Man Jadda Wa Jada. Ketika 3 slogan ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita, “we will be the winner”. Menjadi golongan orang – orang yang sukses dan menang di dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya akan penulis uraikan pada pembahasan selanjutnya.

Pada sub bab 2 telah dibahas mengenai  “Target Kehidupan Atau Tujuan Hidup?”. Kemudian pada bagian ini juga membahas tentang tujuan. Man saara ‘aladdharbi washala yaitu mereka yang berjalan pada jalannya akan sampai pada tujuan. Banyak orang yang merasa yakin bahwa jalan yang dipilihnya saat ini sudah tepat dan akan membawanya pada tujuan hidupnya.

Padahal mereka tidak sadar bahwa jalan yang sedang mereka jalani saat ini tidak akan membawa mereka ke tempat tujuan akhirnya.

Penulis ilustrasikan sebagai berikut : Dua orang laki – laki yang sedang dalam perjalanan melaju di Desa Tanjung Botung, dengan kecepatan 70 km/jam pada pukul 24.00 WIB. Tentunya pada jam tersebut pengemudi dapat memacu kendaraan lebih cepat lagi, namun yang menjadi permasalahannya adalah tujuan akhir pengemudi tersebut adalah Kecamatan Sosopan.

Mereka akan mengikuti acara Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Kabupaten Padang Lawas. Bisa kita bayangkan, secepat apapun pengemudi tersebut mengendarai mobilnya, dia tidak akan tiba di Kec. Sosopan jika pada saat di Pasar Sibuhuan dia hanya lurus menuju latong atau Jalan Lintas Gunung Tua.
Karena jalan tersebut tidak akan membawanya menuju tempat Musabaqah Tilawatil Qur’an di Kecamatan Sosopan.

Alviko(2014) berpendapat bahwa ada beberapa tahapan dalam menentukan tujun hidup. Tahapan tersebut adalah menentukan situasi saat ini, menyusun tujuan – tujuan, mengidentifikasi alternatif – alternatif, merumuskan rencana, memeriksa dan memperbaiki rencana.

Man Jadda Wa Jada

Motto kehidupan ini sering kali diucapkan dan digunakan oleh banyak orang untuk memotivvasi hidupnya dalam rangka meraih kesuksesan hidup. Tetapi sekarang ini, banyak orang menjadikan kata – kata motto ini sebagai penghias profile picture di media social. Kata kunci makna dari Man Jadda Wa Jada “Siapa yang bersungguh – sungguh maka dia akan berhasil” adalah bersungguh – sungguh.

Dapat kita renungkan beberapa contoh yang nyata bahwa tujuan dan keinginan manusia yang akhirnya tidak bersungguh – sungguh hingga dia gagal, seperti wanita yang memutuskan berhenti bekerja untuk menjadi ibu  rumah tangga akhirnya kembali menjadi wanita karir atau business woman, orang yang ingin sekali memiliki karir dan memutuskan untuk bersungguh – sungguh namun akhirnya kembali malas dalam bekerja, dan contoh yang paling dekat adalah kita sebagai umat muslim ingin bertobat dan memutuskan unruk memperdalam agama (ternyata kita kembali melakukan perbuatan dosa).

Bersungguh – sungguh dalam bekerja bukan hanya kesungguhan pada tujuan utama. Tetapi menjadi pekerja yang amanah dan tidak merugikan pihak apapun dan siapapun. misalnya korupsi.

Perilaku tersebut sudah tidak lagi bersungguh sungguh. Feri Tjahjono (2017) mengatakan bahwa korupsi merupakan perbuatan yang dilakukan dengan sengaja untuk mengambil keuntungan pribadi atau golongan dengan cara yang tidak sah. Didalam Al-Qur’an surah Al-Insan ayat ketiga “sesungguhnya kami telah menunjukkan jalan yang lurus, ada yang bersyukur ada pula yang kufur.”

Bersungguh – sungguh disini adalah jalan Allah, dan jalan sesat (korupsi adalah jalan setan. Alviko (2014) memberikan pendapat  bahwa dalam proses bersungguh –sungguh kita harus selalu bersungguh –sungguh pada diri sendiri, lingkungan dan waktu.

Man Shabara Zhafira

Poin terakhir adalah “Man shabara Zhafira” (siapa yang sabar maka ia akan beruntung). Makna dari slogan ini bukan pada kesabaran pribadi semata saja, melainkan kesabaran dalam banyak aspek kehidupan ini. Bukankah kita tahu bahwa tidak ada suatu tujuan yang bisa diraih dengan instan.

Cara melatih kesabaran adalah dengan menganggap dan menjadikan segala hal yang menjadi kendala dalam hidup kita ini sebagai motivasi untuk menjadi yang lebih baik. misalnya pekerjaan yang sudah beberapa kali kita perbaiki, namun tetap tidak sesuai dengan harapan atasan kita di kantor.

Tentu dia menyuruh kita untuk memperbaikinya lagi. Tetapi sebagai umat muslim, kita dianjurkan untuk selalu bersikap sabar. Kalam Allah dalam Al-Qur’an bahwa Ia selalu bersama orang orang yang sabar.
Kemudian untuk menjadi seorang pemenang, kita tidak boleh memaksakan diri untuk bergerak lebih cepat.

Apapun tujuannya, halnya, harus dikerjakan step by step. Maka kita harus benar–benar memiliki stamina, strategi, teknik yang kesemuanya memerlukan kesabaran tingkat tinggi dalam menjalaninya. Dan kita mesti selalu ingat bahwa “Man shabara Zhafira” (siapa yang sabar maka ia akan beruntung). Semoga kita termasuk orang – orang yang beruntung.

Untuk menjadi winner (pemenang) di dunia dan di akhirat hendaklah kita bekerja keras, tuntas dan ikhlas. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan hidup tentu harus diperhatikan apakah jalan yang dipilih saat ini akan mengantarkan kita pada tujuan kita kelak.

Jika  memang sudah yakin akan jalannya, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah bersungguh – sungguh dalam meniti jalan tersebut dan kemuudian bersabar dan ikhlas. Jika dalam perjalanan tersebut kita mendapatkan sebuah cobaan atau tantangan, kita harus menjadikannya sebagai motivasi. (Susi Suaidah Hasibuan, Penulis adalah Mahasiswi S2 UINSU Program Tadris B.Inggris)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2