Keluarga Dinasti Politik

Keluarga Dinasti Politik

  • Bagikan

Dinasti politik yang berbasis keluarga menampakkan banyak wajah. Hasil Pilkada Serentak 2020 di atas tentu akan menampakkan wajah aslinya setelah mereka dilantik

Ketika mencermati Pemilihan Kepala Daerah 2020, yang telah dilaksanakan 9 Desember, saya—dan tentu saja yang lainnya menemukan fenomena menarik: Hadirnya dinasti politik. Kenyataan ini menarik saya bertanya lebih lanjut: siapa mereka dan dari dinasti politik mana mereka berasal. Bagi saya pertanyaan ini penting untuk mengetahui relasi politiknya.

Lebih seribu kandidat dari 270 daerah di Indonesia ikut bertarung dalam kontestasi politik. Pilkada 2020 menuai kontroversi bukan hanya karena digelar di tengah pandemi Covid-19, tapi sekaligus memperlihatkan kuatnya tren politik dinasti. Nagara Institute mencatat 124 calon kepala daerah terpapar dinasti politik pada Pilkada tahun ini.

Mereka merupakan istri, anak, atau kerabat dekat dari kepala daerah yang sedang atau pernah menjabat. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan fenomena serupa sepanjang tahun 2015- 2018, yakni hanya 86 calon terpapar dinasti politik. Selain kekerabatan kepala daerah, para kontestan Pilkada 2020 juga punya pertalian darah dengan Presiden Jokowi maupun beberapa menteri di Kabinet Indonesia Maju.

Dari berbagi media kita mengetahui hasil penghitungan sementara Komisi Pemilihan Umum (KPU) hingga Rabu petang di laman resminya pilkada2020.kpu.go.id, menunjukkan sejumlah calon kepala daerah yang terpapar dinasti politik unggul perolehan suara. Mereka adalah pasangan calon Wali Kota Surakarta nomor urut 01 Gibran Rakabuming Raka – Teguh Prakosa. Gibran adalah anak Presiden Jokowi.

Pasangan calon Wali Kota Medan nomor urut 02 Bobby Afif Nasution – Aulia Rachman. Bobby merupakan menantu Presiden Jokowi; Pasangan calon Wali Kota Tangerang Selatan nomor urut 01 Benyamin Davnie – Pilar Saga Ichsan. Pilar merupakan anak calon Bupati Serang petahana, Ratu Tatu Chasanah. Sementara Ratu Tatu adalah adik kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah sekaligus ipar dari Wali Kota Tangerang Selatan saat ini, Airin Rachmi Diany.

Calon Bupati Kediri nomor urut 01 Hanindhito Himawan Pramana – Dewi Mariya Ulfa. Hanindhito merupakan anak dari Sekretaris Kabinet, Pramono Anung; Pasangan calon gubernur Kepulauan Riau nomor urut 03 Ansar Ahmad – Marlin Agustina. Marlin merupakan istri dari Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Pasangan calon Bupati Indragiri Hulu nomor urut 02 Rezita Melyani – Junaidi Rachmat. Rezita merupakan istri dari Bupati Indragiri Hulu Yopi Arianto; Pasangan calon Bupati Serang nomor urut 01 Ratu Tatu Chasanah – Pandji Tirtayasa. Ratu Tatu adalah adik kandung mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah sekaligus ipar dari Wali Kota Tangerang Selatan saat ini, Airin Rachmi Diany;

Pasangan calon Bupati Sleman nomor urut 03 Kustini Sri Purnomo – Danang Maharsa. Kustini merupakan istri Bupati Sleman, Sri Purnomo; Pasangan calon Bupati Banyuwangi nomor urut 02 Ipuk Fiestiandani Azwar Anas – Sugirah. Ipuk merupakan istri dari Bupati Banyuwangi, Azwar Anas.

Pasangan calon Bupati Pangkajene dan Kepulauan nomor urut 01 Muhammad Yusron Lagogau – Syahban Sammana. Yusron merupakan keponakan Bupati Pangkajene dan Kepulauan, Syamsudin A. Hamid. Calon lainnya di Pilkada Pangkajene dan Kepulauan, yakni nomor urut 03 Andi Ilham – Rismayani juga merupakan ipar dan istri dari Syamsudin.

Pasangan calon Bupati Sijunjung nomor urut 03 Benny Dwifa Yuswir – Iraddatillah. Benny merupakan anak Bupati Sijunjung, Yuswir Arifin. Pasangan calon Bupati Buru Selatan nomor urut 03 Safitri Malik Soulisa – Gerson Eliaser Selsily. Safitri merupakan istri dari Bupati Buru Selatan, Tagop Sudarsono Soulisa. Kita telah memahami asal-usul Dinasti Politik dan relasi politik mereka. Persoalannya, bagaimana kita memahami dinasti politik itu?

Wajah Dinasti Politik

Beberapa peneliti telah mengemukakan temuan mereka betapa kekuasaan dan kekayaan merupakan modal utama munculnya dinasti politik. Misalnya, Tom Holland dalam karyanya, Dynasty: The Rise and The Fall of The House of Caesar telah menjelaskan bagaimana wajah dinasti politik di Roma.

Sejarah Roma digambarkan sebagai mimpi buruk, dihantui teror dan dibayangi darah, yang tidak memungkinkan warganya untuk bangun. Ini adalah potret despotisme yang banyak generasi berikutnya, menyaksikan meredupnya kebebasan mereka sendiri, tidak lambat untuk mengenali.

Di mana pun tirani ditanamkan di atas tali tatanan bebas sebelumnya, dan kapan pun slogan palsu digunakan menutupi kejahatan yang direstui negara, hal itu akan diingat. Dinasti Augustus masih mendefinisikan tampilan kekuatan otokratis, yang seharusnya menghantui imajinasi publik datang, kemudian, sebagai kejutan kecil.

Ketika orang berpikir tentang kekaisaran Roma, itu adalah kota kaisar pertama yang paling mungkin muncul di benak mereka. Tidak ada periode sejarah kuno lain yang dapat dibandingkan dengan daya tarik yang meresahkan. Pesona mereka yang mengerikan telah membuat mereka menjadi tipe paling khas dari dinasti yang bermusuhan dan membunuh.

Robert Hutchinson (2009) telah meneliti Dinasti Politik Keluarga Howard—bangsawan terkaya dan paling kuat di Inggris. Mereka adalah yang terakhir dari bangsawan “yang sangat perkasa” yang bertahan dari Abad Pertengahan dan mereka memerintah, dengan kebanggaan dan egoisme, atas wilayah yang luas di Inggris.

Hingga 1570-an, Dukes of Norfolk menata diri sangat tinggi dan pangeran perkasa dan tinggal di istana mewah di East Anglia dan London. Mereka termasuk orang terakhir yang menjalankan sistem feodal abad pertengahan yang dibenci.

Howards abad ke 16 dikutuk kesombongan angkuh yang menimbulkan penghinaan bagi mereka, yang semakin menumbuhkan keluarga bangsawan tua dalam politik Tudor dan memperdaya upaya memenangkan kekuasaan dan kekayaan yang lebih besar. Howards telah dengan loyal melayani raja-raja Tudor di garis depan eksploitasi militer dan angkatan laut Inggris, tetapi mereka tidak puas dengan keberuntungan itu.

Intrik dan konspirasi mengalir dalam nadinya seperti darah kehidupan mereka, tetapi selama beberapa generasi berturut-turut mereka membayar mahal untuk ambisi fatal mereka dan kebodohan kasar yang kadang membendung upaya mereka merayap lebih dekat ke tahta Tudor.

William Dalrymple dalam karyanya The Last Mughalthe Fall Of A Dynasty, Delhi, 1857 menjelaskan pada sisi lain. Bagi banyak orang, daya tarik Kaisar Mughal sama banyaknya dengan religius dan politis. Pemberontakan secara berlebihan diekspresikan sebagai perang agama, dan dipandang sebagai tindakan defensif terhadap terobosan cepat misionaris dan Kristen di India, serta perjuangan yang lebih umum untuk kebebasan dari dominasi asing.

Russ Baker dalam karyanya, Family Of SecretsThe Bush Dynasty, America’s Invisible Government, and the Hidden History of the Last Fifty Years, dalam kasus politik Amerika Serikat kondisi riil praktek dinasti politik. Karya besar Russ Baker menakutkan, bukan hanya karena apa yang didokumentasikannya tentang keluarga Bush, tetapi karena juga menunjukkan taktik kasar dan sederhana memungkinkan kaum leviatan korporat dan politik memengaruhi perjalanan sejarah AS.

Dalam kerangka acuan berbeda, yang dibangun Baker, kita sampai pada analisis kritis baru tentang negara kita dan kepemimpinannya. Kasus Baker begitu meyakinkan sehingga cenderung membuat versi sejarah dan jurnalisme sebelumnya tampak naif, membuktikan kita melewatkan kisah nyata, seorang pria dan penggunaan kekuasaan yang sinis untuk kepentingan politik dan pengayaan pribadi; kerahasiaan yang menahan bisnis rakyat dari orang; kronisme dan kesepakatan sendiri yang memperlakukan pemerintah sebagai hak dan kekuasaan pribadi. Seluruh klan yang telah membangun retorika politiknya seputar kebutuhan mengekang pengeluaran pemerintah. Operasi politik kelompok Bush memerlukan pengecualian dari, dan karenanya, kendali atas, hukum.

Dinasti politik yang berbasis keluarga menampakkan banyak wajah. Hasil Pilkada Serentak 2020 di atas tentu akan menampakkan wajah aslinya setelah mereka dilantik. Tapi sejarah dan pengalaman telah memberi gambaran bagaimana wajah dinasti politik di berbagai tempat dan waktu: penuh intrik, haus kekuasaan dan menggunakan kekuasaanya melanggengkan dinastinya. Waspada

Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Politik Fisip USU.

  • Bagikan