Jebolnya “Kawah Candradimuka”
Oleh Drs Bahrum Jamil, MAP

  • Bagikan

Seperti petir di siang bolong, demikian kiasan yang selalu kita pakai ketika mendengar 40-an orang tertangkap di kampus USU, Medan, dan digiring ke Mapoldasu untuk diproses

Bagi generasi sebelum Generasi Y dan Generasi Z lahir, cerita Gatot Kaca yang ditempa di sebuah kawah pastinya sudah akrab di telinga. Tidak demikian bagi sebahagian Generasi Milenial.

Cerita Pewayangan seperti Gatotkaca dengan saudara dan kawan-kawan nya mungkin sebuah dongeng yang kalah dengan cerita-cerita kekinian yang sangat banyak bisa disaksikan di media-media komunikasi, terutama media sosial.

Kawah tempat menempa Gatotkaca tersebut dikenal dengan Kawah Candradimuka. Arti kata kawah candradimuka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kawah yg keramat dan sakti yang dalam cerita wayang dikenal sebagai tempat penggemblengan kesatria agar menjadi kesatria yang kuat dan tangguh.

TNI dengan seluruh angkatannya, menganalogikan tempat pendidikan bagi calon taruna dan calon perwiranya sebagai Kawah Candradimuka. Hal ini juga banyak diikuti oleh lembaga-lembaga yang mempunyai program pendidikan dan pelatihan yang mengharapkan out put dari tamatannya atau lulusannya menjadi seorang yang tangguh, kuat, disiplin, dan mempunyai karakter.

Sekolah, Universitas, Pesantren, dan Lembaga-lembaga Pendidikan atau Lembaga Pelatihan lainnya sering menganalogikan tempat atau lembaganya tersebut sebagai Kawah Candradimuka.

Tugas dari lembaga yang memisalkan lembaganya tersebut sebagai Kawah Candradimuka sebenarnya tidak akan terlalu berat ketika setiap rumah tangga juga menjadi Kawah Candradimuka bagi seluruh anggota keluarga.

Ayah dan Ibu merupakan pembentuk utama dan pertama bagi karakter yang kuat dan tangguh untuk putera-puterinya. Orang tua jaman dulu, angkatan 50-an, terkenal ketat dalam urusan pembentukan karakter anak.

Untuk generasi yang lahir pada tahun 60-an atau 70-an, rotan atau sapu lidi yang singgah di punggung atau cubitan emak yang hinggap di paha, bukan suatu hal yang asing lagi. Sudah jadi mainan sehari-hari bagi anak yang sedikit lasak dan bandal. Hasilnya adalah anak-anak yang kuat, tangguh, dan berkarakter.

Kesuksesan dari anak-anak tersebut dapat dilihat pada saat sekarang. Anak-anaknya, yang menduplikasi cara mendidik keluarga juga akan melahirkan putera-puteri yang berkarakter dan tangguh.

Tetapi, pada generasi ketiga, para orang tua mempunyai saingan yang cukup berat untuk dikalahkan dalam membentuk karakter anak yang kuat dan tangguh, yakni dengan berkembangnya teknologi, terutama teknologi komunikasi.

Semua informasi dari luar bebas masuk dan merasuki jiwa anak-anak dan remaja. Hal ini diperparah lagi dengan mobilitas yang sangat tinggi dari orang tua sehingga tingkat pengawasan ke anak-anak menjadi lebih rendah.

Orang tua yang dimaksud bukan hanya ayah, tetapi ibu juga yang menjadi wanita karir. Tinggallah anak mencari dan membentuk jati dirinya sendiri dengan memanfaatkan media komunikai, atau jaringan komunikasi dimana mereka berinteraksi sesamanya.

Syukur Alhamdulillah, ketika pembentukan diluar kontrol orang tua ini, berlangsung kearah yang positif. Si anak bergabung dalam komunitas pendidikan, diskusi, olah raga, atau komunitas yang berorientasi pada perkembangan diri dan jiwa si anak. Orang tua yang sangat sibuk mendapatkan berkah dalam hal ini.

Tidak sedikit pula yang interaksinya tidak mengarah ke hal-hal yang positif. Ini yang menjadi masalah bagi orang tua dan keluarga.

Si anak, baik putera maupun puteri, mempunyai komunitas yang selalu membawanya untuk dugem, clubbing, ngumpul yang nggak jelas, hidup dalam gaya hedonisme yang sangat jauh dari nilai-nilai moral dan budaya bangsa.

Akhirnya terlibat dengan hal-hal yang bersifat kriminal, minuman keras, sex bebas, dan narkoba. Orang tua, untuk membuat aktifitasnya tidak terganggu, menyediakan fasilitas yang dibutuhkan si anak.

Mulai dari kenderaan, pakaian yang tentu saja mengikuti mode kekinian, fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh si anak untuk berinteraksi dengan anggota komunitasnya masing-masing, dan uang yang lebih dari cukup.

Orang tua sendiri tidak mengetahui perkembangan si anak dan si anak hanya sesekali berjumpa dengan orang tua. Yang penting saldo di ATM senantiasa terisi dan komunikasi dapat dilakukan dengan telepon pintar.

Komunikasi tatap muka menjadi tidak terlalu penting. Ketika akhirnya orang tua menerima laporan si anak terlibat tindak kriminal, atau bermasalah di sekolah, atau di kampus, atau di lingkungan masyarakat, barulah orang tua tersebut menyadari kekeliruannya.

Namun, apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Satu Kawah Candradimuka sudah jebol.
Produk rumah tangga yang merupakan Kawah Candradimuka yang sudah jebol ini, memasuki kawah-kawah candradimuka lainnya untuk melanjutkan pendidikannya.

Lembaga pendidikan atau lembaga lain yang merupakan tempat menempa calon-calon intelektual atau pemimpin yang berkarakter dan berjiwa yang tangguh inipun dengan terpaksa menerima anak-anak tersebut.

Anak-anak dari berbagai komunitas, termasuk dari komuniatas yang hedonis dari rumah tangga yang kedua orang tuanya super sibuk. Hasilnya adalah out put yang tidak diharapkan, yang bermasalah ketika sudah selesai dari tempaan Kawah Candradimuka tersebut.

Hal ini membawa nama buruk bagi lembaga-lembaga tempat menempa para punggawa yang diharapkan membawa harapan baik bagi bangsa dan negara kedepannya. Para punggawa yang selesai ditempa tersebut, dalam perjalanan karirnya, harus terhenti karena terlibat korupsi, penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang, penipuan, tindak kekerasan dan tindak kriminal lainnya.

Miris membaca berita ketika misalnya ada anggota kepolisian atau TNI yang tertangkap karena tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan. Juga tindakan yang diluar dari Standar Operasioanal Prosedur (SOP), yang menyebabkan nama lembaga tersebut tercoreng.

Hal ini juga dialami oleh lembaga terhormat seperti Dewan Perwakilan Rakyat yang anggotanya terlibat tindak pidana kriminal. Juga lembaga pemerintahan yang pejabatnya tertangkap tangan dalam operasi OTT yang dilakukan KPK.

Hasil dari didikan yang Kawah Candradimuka-nya sudah jebol. Apakah dari rumah tangga atau dari lembaga pendidikan atau pelatihan yang diikuti, sehingga menjadi SDM yang tidak tangguh, tidak punya karakter baik, dan moral serta perilaku tidak dapat menjadi panutan.

Seperti petir di siang bolong, demikian kiasan yang selalu kita pakai ketika mendengar atau membaca sebuah berita yang mengejutkan. Berita tersebut adalah ketika 40-an orang tertangkap di kampus USU, Medan, dan digiring ke Mapoldasu untuk diproses.

Mereka tertangkap karena sedang berkumpul sambil menikmati narkoba jenis ganja, demikian kata berita tersebut. Kampus yang juga kebetulan alamamaternya penulis. Kampus yang tentu saja menjadi Kawah Candradimuka, menempa calon-calon intelektual atau pemimpin bangsa.

Jagat maya heboh. Banyak netizen yang menghujat Pak Rektor yang belum lama menjabat. Kata-kata marah, kesal, prihatin, bahkan yang ekstrim meminta rektor untuk mundur, memenuhi jagat maya. Di dunia nyata ini menjadi bahan diskusi terutama bagi alumni yang awalnya merasa kecewa.

Hal positif muncul ketika berita mengabarkan bahwa ternyata yang mengundang pihak BNN untuk datang ke kampus tersebut adalah Pak rektor sendiri. Ternyata Pak Rektor sudah mencium adanya gejala bahwa kampus tersebut sudah dipakai untuk tempat pesta Narkoba.

Bukan tidak mungkin hal ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum rektor sekarang menjabat. Tentu saja hal ini membuat pihak-pihak yang tadinya menghujat, berbalik memuji tindakan Pak Rektor tersebut. Pak Rektor sedang berusaha menutup jebolnya Kawah Candradimuka, kampus tersebut untuk tidak semakin parah.

Info terakhir Pak Rektor mengatakan bahwa di samping fakultas yang telah digrebek tersebut, terdapat paling tidak ada tiga fakultas lagi yang disinyalir menjadi tempat pesta Narkoba.
Tindakan Pak Rektor ini selayaknya diikuti oleh para pimpinan lembaga yang merupakan kawah-kawah candradimuka bagi anak bangsa.

Tempat melahirkan para calon pemimpin yang tangguh, kuat secara moral dan mental, serta berkarakter. Kita harapkan Kawah-kawah Candradimuka, yang disinyalir sudah banyak yang jebol, bisa ditutup sedini mungkin, sehingga keluarannya bisa menjadi SDM yang tangguh dan berkarakter baik sebagai calon pemimpin harapan bangsa dan negara. Semoga. WASPADA

Penulis adalah Dosen Tetap Fisipol Universitas Medan Area.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *