Jangan Takut Untuk Korupsi

Jangan Takut Untuk Korupsi
Oleh Zulkarnain Lubis

  • Bagikan

Jangan takut korupsi, pelaku korupsi akan semakin diminati, apalagi ke depannya konon penyintas korupsi bakal jadi penyuluh anti korupsi

Sungguh saya tidak bermaksud mengajari, saya juga tidak bermaksud berkampanye mengajak korupsi. Saya hanya menduga dari berita yang menyebar, seakan bisa dimaknai jangan takut untuk korupsi di negeri ini. Karena yakinlah Anda tak akan dihukum mati, meskipun ada pejabat anti yang dengan meyakinkan berkata bahwa korupsi dapat dikenai hukuman mati.

Ucapan ini rasanya sekedar gertak sambal atau cari sensasi, cari simpati, atau lelucon yang buat geli. Jangankan dihukum mati, hukuman tinggi saja masih mungkin dihindari, seperti terjadi baru-baru ini. Ada pelaku korupsi trilliunan rupiah dicuri, tapi dengan memelas dan menghiba untuk menarik simpati, jaksa menjadi iba hati dan menuntutnya jauh di bawah prediksi.

Jangan takut korupsi di negeri ini, kelihatannya koruptor malah semakin diberi hati, dihargai, dan seakan dapat posisi lebih tinggi. Betapa nikmatnya pelaku korupsi, jika rela dicaci, dimaki, dan dibuli, hukumannya bisa dikurangi. Padahal yang dicuri adalah subsidi untuk rakyat yang terancam mati di tengah pandemic.

Uang yang dicuri bukan sekedar pembeli kopi, tapi cukup berpuluh turunan diwarisi. Parahnya sang pencuri bukan kelas teri. Konon hartanya ibarat daratan tak bertepi. Sesudah ditangkap, minta dikasihani, mengaku sudah cukup tersiksa dan berharap bebas dari derita yang bukan ditanggung sendiri, tetapi juga dirasakan anak istri.

Duhai, pelaku korupsi tanpa hati, uang triliunan dicuri tapi minta tak dicaci, mengeluh karena dimaki, menangis karena dibuli. Tidak malukah sama ibu yang mengambil tiga buah kakao dan nilainya masih lebih rendah daripada harga kue moci, tapi karena harga diri, rela dibui meski batal dijalani karena vonis percobaan saja yang dijalani.

Pelaku korupsi mestinya juga malu dengan Kakek Samirin. Hanya karena memungut getah yang tak lebih mahal dari gantungan kunci, dia dibui, diganjar hakim vonis sekitar 65 hari. Ini mengusik hati sanubari. Ketika rakyat jelata memiliki harga diri, bertaanggungjawab atas perbuatannya yang hanya mencuri demi sesuap nasi, kontras sekali dengan polah elit partai yang saat itu menjadi menteri, berani mencuri tapi tak tak punya nyali saat diadili.

Jangan takut korupsi, karena kehidupan para pencuri uang negara ini lebih nikmat daripada pencuri untuk kehidupan sehari-hari. Berhentilah jadi pencuri sapi, pencopet di kereta api, garong yang menyatroni rumah di malam hari, mencuri ayam, sepatu, sandal, bahkan kue serabi, karena jika tertangkap bisa berakhir ngeri.

Bisa jadi akan dipukuli, ditendangi, disika dan dikeroyok oleh masyarakat yang main hakim sendiri, ditambah caci-maki bertubi-tubi dengan perlakuan tidak manusiawi. Tapi itu semua tak akan menjadi pertimbangan agar hukumannya dikurangi. Berbeda dengan yang menyasar uang negara, seringkali diistimewakan, masih bisa senyum sambil selfi.

Jadi kepada pencuri, garong, begal, dan perampok, beralih profesilah menjadi pelaku korupsi yang membuat kehidupan anda menjadi indah berseri bergelimang materi bahkan puja dan puji siap menanti.

Jangan takut korupsi, karena ada pelaku korupsi yang bisa menghilang dan tak dapat dicari, bak ditelan bumi. Entah dimana dia bersembunyi dengan membawa sejumlah teka teki, entah dia masih hidup atau sudah mati, atau bisa jadi dia sudah “dibuat mati” agar teka-teki tentang “kong kali kong” yang mungkin melibatkan banyak pihak tetap menjadi misteri.

Sehingga pelaku lainnya terlepas dari jerat dan gari, terhindar pula dari hidup dibui, walau mungkin peranannya lebih berarti. Memang begitulah kusut masainya praktek korupsi, biasanya dilakukan tidak sendiri-sendiri, bisa juga merupakan bagian dari oligarki, kasusnya sering tumpang tindih berjalin ibarat jalinan tali temali, uangnya mengalir ke sana kemari.

Mereka bagi-bagi ibarat gerombolan singa ganas yang berebut seekor sapi. Ketika ada yang ketanggap, lainnya berusaha mencari cara menyelamatkan diri, merekayasa, dan mengarang cerita menutupi apa yang bisa ditutupi. Tinggallah yang ketangkap menanggung bencana dan celaka sendiri.

Kasus menghilangnya oknum yang mungkin memiliki segudang informasi dan bisa menjadi saksi kunci, kelihatannya akan tetap menjadi teka teki, atau mungkin memang sudah jadi skenario dari para pemegang oligarki, agar perkaranya tidak menjalar tak terkendali. Sehingga kasus ini tak banyak yang serius menyikapi, sehingga akan tetap menjadi misteri.

Jangan takut berbuat korupsi, seperti berita yang tersaji, kisah pelaku korupsi banyak yang berakhir dengan happy ending yang membuat timbulnya iri di hati. Bisa dibayangkan kisah seorang koruptor buron 11 tahun yang kabur setelah divonis, dia juga terbukti menyuap oknum jaksa dan oknum polisi, termasuk mencemarkan nama baik jaksa dan polisi, serta menipu dan mengelabui untuk mendapatkan surat di imigrasi, tetapi dengan lihainya dia bisa dapat remisi.

Untuk tingkat banding, hukumannya dikurangi lagi, bahkan lagi-lagi kemudian dapat remisi lagi. Sungguh dapat dibayangkan betapa nikmatnya kehidupan para pelaku korupsi, bisa berpergian ke sana ke mari, bisa mengatur dan mengarahkan siapapun yang diingini, pulang kembali disambut dengan “karpet merah” dan “dielu-elukan” ibarat pemenang dari sebuah kompetisi.

Sang koruptor kelas kakap ini sempat juga menyeret oknum jaksa ke dalam pusaran korupsi yang dia lakoni. Jaksa ini juga sepertinya menikmati kemewahan dalam kasus yang dihadapi, hukuman sempat berlama-lama baru dieksekusi, sempat lama dicopot dari jabatan pegawai negeri, sempat menerima tunjangan dan gaji meskipun sudah divonis jadi terpidana korupsi.

Oknum jaksa ini betul-betul merasakan nikmatnya bermain-main dengan korupsi, mendapatkan tuntutan ringan dari jaksa penuntut umum saat di pengadilan negeri, mendapatkan potongan hukuman pada pengadilan tinggi.

Padahal kasusnya bukan ikan teri. Sungguh ironis ketika disebutkan salah satu pertimbangan yang meringankan adalah karena dia perempuan yang harus mendapat perhatian, perlindungan, dan diperlakukan adil. Kata adil terkesan diplesetkan untuk yang tidak adil, pilih kasih, padahal mestinya semua sama kedudukannya di depan hukum, tanpa ada diskriminasi.

Jangan takut korupsi, sebagaimana kita saksikan para tukang korupsi ini akan semakin bernyali, karena peluang untuk selamat dan terus merasakan nikmat semakin tinggi. Kita bisa melihatnya dari kelakuan oknum anggota komisi pemberantas korupsi yang mempunyai sifat “ramah dan baik hati” bertegur sapa dan berkomunikasi dengan pihak terkait korupsi yang sedang diselidiki, pastilah ada saling tukar informasi meskipun tidak ada bukti telah terjadi “transaksi”.

Setidaknya sang oknum dinilai menyalahgunakan jabatan dan atau kewenangan yang dimiliki, termasuk menyalahgunakan pengaruh sebagai insan komisi, baik dalam pelaksanaan tugas, maupun kepentingan pribadi. Kejadiaan ini semakin menguatkan korruptor untuk tidak takut korupsi, karena jalan untuk menyelamatkan diri dan menghindari akan semakin mudah dicari.

Jangan takut korupsi, pelaku korupsi akan semakin diminati, apalagi ke depannya konon penyintas korupsi bakal jadi penyuluh anti korupsi. Jadi koruptor yang memiliki jam terbang tinggi Ketika, selesai menjalani terali besi, bisa beraksi dan bersaksi bagaimana dia bisa bermain-main dengan korupsi dengan memberi testimoni pengalamannya teribat kasus korupsi.

Mungkin koruptor ini akan meminta masyarakat tidak mengikuti langkah keliru yang mereka lakoni, tapi bisa saja sebaliknya yang terjadi, masyarakat semakin terinspirasi dan berangan-angan menjadi garong korupsi. Mereka melihat nikmatnya menjadi ahli korupsi. Kemewahan dinikmati, hukuman bisa dikurangi dengan mengupayakan remisi. Jika nasib mujur bisa menghilang dan bersembunyi agar dianggap tidak terbukti, nasib mujur terus mengikuti, ketika keluar bui, pekerjaan sudah menanti yang pasti akan mendapatkan gaji lagi.

Sehabis menjalani terali besi, bukan sekedar menjadi penyuluh yang diiming-imingi, bahkan mereka bisa menjadi komisaris di perusahaan milik negeri. Jika ada menteri yang mengatakan “akhlak menjadi dasar kesuksesan perusahaan pemerintah” dan “copot direksi atau komisaris yang tak punya akhlak”, itu lucu yang sekedar basa-basi.

Mungkin juga yang dimaksudkan “yang berakhlak itu sama dengan perbuatan korupsi”. Selain di perusahaan, sebagian lainnya bisa kembali manggung menjadi politisi, kadang mereka seakan orang suci, seakan tak pernah menilap uang negara, uang sogok, ataupun memanfaatkan posisi untuk meraup materi demi kepentingan pribadi. Jadi gagasan memiskinkan koruptor hanya halusinasi, ilusi, dan imajinasi ibarat jauh panggang dari api.

Ada ide dahsyat dan sensasional menjadikan koruptor sebagai penyuluh anti korupsi, sekalian saja dijadikan sebagai pimpinan instansi untuk pemberantasan korupsi. Sehingga dengan ilmu mencuri, ilmu rekayasa, ilmu melarikan diri, ilmu alibi, ilmu berkelit, dan ilmu sembunyi yang mereka miliki bisa digunakan mengantisipasi sekaligus menangkap dan memperangkap para koruptor yang beraksi.

Di bawah pimpinan mantan koruptor ini, pemberantasan korupsi bisa dilakukan efektif. Apalagi mereka menggunakan prinsip “satu guru dan satu ilmu jangan saling mengganggu” atau sesama koruptor dilarang “saling mendahului”. Namun bisa saja sebaliknya yang terjadi, koruptor insyaf dan mantan koruptor ini menjadi tergiur kembali karena insyafnya “cuma bohong” atau mantan yang CLBK atau “cinta lama belum kelar” yang artinya cinta terhadap korupsi tak sungguh-sungguh hilang di hati.

Jika ini yang terjadi, maka korupsi akan makin menjadi-jadi sampai mungkin akan muncul motto untuk “menegerikan korupsi dan mengorupsikan negeri”. Sehingga komisi yang seharusnya memberantas korupsi berubah fungsi menjadi komisi penyelamat korupsi, penyanjung korupsi, pembela korupsi, pelayan korupsi, atau mungkin menjadi penjilat korupsi. Kalau sampai terjadi ini, pergantian sebutan koruptor menjadi penggarong, pencuri, perampok, penjarah, atau apapun namanya, tidak akan ada arti. Jika itu yang terjadi, akan muncul pertanyaan dalam hati, Indonesia tangguh, yang tangguh itu siapa dan Indonesia tumbuh, yang tumbuh itu apanya.

Jangan takut untuk korupsi, ini sesungguhnya adalah ungkapan yang tidak saya ingini. Ungkapan ini muncul hanya karena merasa kian maraknya praktik korupsi, merasa melemahnya pemberantasan korupsi, merasa kian permisifnya terhadap perilaku korupsi. Harapannya, apa yang diungkapkan di atas hanya imajinasi, ilusi, halusinasi, dan cerita fiksi. Ke depan Indonesia bebas korupsi, dan kita bisa menjadi negara yang merdeka sejati. Seperti ucapan seorang petinggi KPK, “Indonesia Baru Benar-Benar Merdeka, Jika Bebas dari Korupsi”. WASPADA

Penulis adalah Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Rektor Universitas MTU.

  • Bagikan