Waspada
Waspada » Jangan Sakiti Orang Tuamu!
Opini

Jangan Sakiti Orang Tuamu!

Oleh dr Arifin S. Siregar
Dokter Spesialis

Apabila orang tuamu menyuruh kamu supaya musyrik, jangan ikut, tetapi tetap hormati kedua orang tuamu itu di dunia ini (QS. Lukman 15)

Ulama mengingatkan, dunia ini tempat sementara, tempat berbenah diri membekali syarat-syarat untuk masuk surga. Tentunya untuk itu diperlukan ridha Allah SWT. Allah SWT mengingatkan terutama pada yang bertutur sebagai anak, diancam Allah SWT dengan perintah hormati, jangan sakiti hati orang tuamu, dan berbaktilah agar Allah SWT meridhai segala amal ibadahmu.

Jika pun orang tuamu menyuruh kamu kafir, itu kesalahan besar dan fatal. Namun sekalipun ia “bandit” kesalahan itu bukan urusan kamu, itu urusan Allah SWT. Allah SWT mewajibkanmu tetap menghormati ayah dan ibumu.

Begitu tinggi derajat ayah dan ibumu di depan anak, Allah SWT memerintahkan jangan sakiti hati dan raganya, santuni mereka, penuhi kebutuhan jasmani dan rohaninya, sepanjang yang wajar dibutuhkannya. Sampai-sampai Allah SWT melindungi orang tuamu, mengatakan “Ah” saja pun dilarang Allah SWT.

Begitu juga bila si anak mau masuk surga tentunya harus banyak beribadah shalat, haji, sedekah, dan lain-lain. Namun Allah SWT sebelum menerima (meridhai) semua amal ibadahmu, sebagai bekalmu masuk surga.

Allah SWT masih menunggu laporan malaikatnya, apakah orang tua sianak meridhai anaknya itu. Jika tidak, maka Allah masih menolak untuk sianak masuk surga. Rujukannya: Rasullullah SAW menyatakan: “Ridha Allah SWT tergantung pada ridho orang tua sianak. Dan murka Allah SWT tergantung murka orang tuanya”.

Memang bermacam-macam tipe anak. Ada pameo (guyon) mengatakan : “Bila orang tuanya kaya, maka anak akan menjadi Raja. Tetapi sebaliknya bila anak yang kaya, maka orang tuanya jadi pembantu (mengurus cucu nya)”. Itu kenyataan.

Ada anak merantau jadi pembantu rumah tangga demi membiayai orang tuanya mendirikan rumah orang tuanya. Ada anak sudah disekolahkan oleh orang tuanya jadi sarjana, kaya, tapi tega menuntut orang tuanya 3 miliar gara-gara orang tuanya, menahan harta pencarian orang tuanya, untuk biaya hidupnya, menangguhkan diwariskan. Maka di antara anaknya menuntutnya 3 miliar ke pengadilan. Nabi SAW menyatakan: Dirimu, hartamu adalah milik ayahmu.

Jangan Sakiti Hatinya
Yang bertutur sebagai anak, berpikirlah. Anda dilahirkan ayah ibumu, dibesarkan, disekolahkan, dikawinkan, mereka doakan supaya hidupmu sukses. Untuk itu mereka berhemat menggunakan uang hasil jerih payahnya demi membiayai menyukseskan kehidupan masa depan anaknya.
Masihkah si anak setelah kaya (sukses), masih tega memaksa harta orang tuanya yang bersisa, si anak masih minta bagian sebagai warisan secara paksa? Seharusnya biarlah harta yang dicari orang tuanya yang bersisa untuk digunakannya di hari tuanya.

Anak yang shaleh, tahu berbakti kepada orang tuanya, seharusnya mengatakan: “Hai Ayah/Ibu, kalau masih ada sisa harta ayah ibu, biarlah itu ayah ibu gunakan untuk kebutuhan Ayah dan ibu karena ayah ibu sudah tua renta, tidak kuat lagi bekerja. Kami tidak terlalu mengharapkan warisan, tapi bila masih bersisa, Alhamdulillah, kami terima”.

Contoh kasus pertama: Kisah nyata, seorang gadis 18 tahun merantau ke Malaysia sebagai TKW (tenaga kerja wanita). Gajinya dikumpulnya, dikirimnya pada orang tuanya, untuk membiayai kebutuhan sekolah adik adiknya dan orang tuanya. Orang tuanya kepingin TV atau adiknya minta dibelikan sepeda, maka segera dikirimnya gajinya.

Sepuluh tahun dia bekerja, tidak kelihatan ada gelang emas di pergelangannya atau anting emas di telinganya atau kalung emas di lehernya. Dia pulang ketika Hari Raya, membawa kue oleh-olehnya. Namun suatu ketika, ia jatuh sakit berat, di opname di RS H Adam Malik, rupanya sudah takdir Allah SWT ia meninggal dunia, mungkin Allah SWT ingin cepat menyediakan tempatnya di Surga.

Contoh kasus kedua: Jirayut (nama anak dari keluarga miskin di Thailand) diterima menjadi penyanyi terkenal di TV Indosiar, menerima honor (Liga Dangdut). Maka pertama-tama dibangunnya rumah dan mobil orangtuanya. Kebutuhan dirinya ditangguhkannya.

Kenapa Terjadi Anak Durhaka?
Banyak sebabnya, di antaranya tayangan TV yang menonjolkan sinetron, dimana yang bertutur sebagai anak di pertontonkan melawan kepada Ayah ibunya, dengan suara keras dan lantang. Terkadang lebih tinggi suara si anak membentak orang tuanya ketika beradu argumentasi.

Atau ada anak tega mengusir ayah ibunya. Tayangan TV seperti ini menjadi suatu didikan seolah si anak setara derajatnya di hadapan orang tuanya. Ditunjukkan seolah bentakan atau suara keras si anak ketika berdialog dengan Ayah ibunya, bukan dosa, kesalahan besar atau durhaka.

Berbeda dulu kala TV menayangkan dimana anak takut, lemah lembut, ciut hatinya jika berhadapan dengan orang tuanya, ketika ia dinasehati atau dimarahi. Sekarang terjadi sebaliknya malah anaknya yang membentak memarahi ayah ibunya. Dan ayah ibunya yang ciut hatinya ketakutan dan merasa sedih dan pilu kok punya anak setega itu pada orang tuanya.

Mengherankan, sedih, kenapa tidak takut anak akan mendapat dosa atau durhaka, bila menyakiti, tidak menghormati ayah ibunya. Padahal cukup dalil di antaranya Ali bin Abu Thalib RA berkata: “Siapa yang menyusahkan, menyakiti ayah dan ibunya berarti mereka telah durhaka terhadap keduanya”.

Kemudian rujukan kedua dimana Allah SWT menyatakan: Allah SWT melarang sekedar mengatakan “Ah” sehingga menyakiti hati ayah ibunya. Kemudian: Ridha Allah itu, tergantung ridha ayah dan ibumu. Dan murkah Allah tergantung kepada murka ayah dan ibumu”.

Kemudian rujukan untuk anak tidak rakus pada harta orang tuanya dimana Nabi SAW menyatakan: “Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu”. Rujukan lain HR. Bukhari dan Muslim, Nabi SAW menyatakan: “Adalah dosa yang paling besar selain sirik adalah durhaka kepada orang tuanya”.

Kenapa Berwenang Membiarkan?
Sangat disesalkan pembiaran sinetron demikian, tanggung jawab institusi pendidikan, agama, penerangan, ketertiban? Akan begitukah generasi penerus bangsa dibiarkan? Cerita si Malinkundang anak durhaka, memang tidak akan terjadi lagi, tapi neraka menanti mereka.

Ayah di tinggal (wafat) ibu dari anaknya. Anak keberatan ayah menikah lagi, mengambil “ibu sambung”. Anak menolak, takut harta warisan berkurang. Mereka bereaksi merampas harta ayahnya.

Katanya “Kami bisa cari babysitter untuk merawat ayah. Biaya makan, wisata, umrah, kami siapkan”. Si ayah bertanya “Apakah kebutuhan itu perut saja? Apakah babysitter itu bisa dibawa ke tempat tidur?”.

Si anak terdiam. Pokoknya mereka menolak. Motifnya kerakusan harta, takut harta warisan berkurang, gara-gara ibu sambung. Seraya mereka merampas harta ayahnya. Mereka lupa, betapa besar jasa ibu sambung yang akan merawat ayahnya, teman berbicara, teman bergembira “teman bertengkar”, teman berjalan, sampai hari wafatnya.

Kenapa si anak cemburu, iri hati pada ibu sambung yang merawat, membuat ayahnya senang? Seharusnya si anak berterima kasih sekali kepada ibu sambungnya, yang telah menemani ayahnya sampai wafatnya.

Kalaupun ada harta ke bagian ibu sambung, itu adalah harta ayahnya. Kelanjutan dari protes si anak maka si anak merampas harta ayahnya, sehingga ayahnya terus bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal ia punya harta yang di siapkannya untuk di hari tuanya.

Tetapi akibat kerakusan, keserakahan anak, malah ayahnya menderita, terpaksa bekerja. Padahal ia punya harta tapi tidak dapat digunakannya. Seharusnya anak yang shaleh, tahu berbakti kepada ayahnya (orang tuanya), membiayai kebutuhan ayahnya di hari tuanya. Apakah Surga atau Neraka yang menanti anak demikian? Allah SWT-lah yang tahu!

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2