Waspada
Waspada » I’TIKAF, Momen Introspeksi diri
Opini

I’TIKAF, Momen Introspeksi diri

 

Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada 10 akhir Ramadhan ialah melaksanakan I’tikaf. Secara bahasa I’tikaf berarti berhenti (berdiam diri di masjid) dengan syarat-syarat tertentu, diniatkan semata-mata karena Allah. Dengan kata lain, i’tikaf, yaitu menetap di masjid untuk melakukan ibadah sambil mendekatkan diri kepada Allah.

Dari definisi ini suatu perbuatan disebut I’tikaf jika memenuhi 3 syarat, yaitu (a) niat iktikaf sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah, dan (2) berdiam diri di masjid, selain masjid tidak disebut I’tikaf. Oleh karena itu, i’tikaf bisa dilakukan kapan saja asal di masjid, namun lebih utama pahalanya pada 10 akhir Ramadhan.

Penempatan masjid sebagai tempat I’tikaf, karena masjid memiliki keutamaan sebagaimana dijelaskan hadits Nabi Muhammad Saw yang artinya: “Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa, dan Allah akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan memberikan kasih sayang, rahmat dan keberhasilan melewati titian menuju keridhaan Allah sampai ke syurga” (H.R. Ath-Thabrani).

Begitulah kayanya ajaran Islam, semua persoalan ada kajiannya, sehingga tidak ada persoalan yang luput dari konsep Islam. Selain itu, semua instrumen tersebut dinilai sebagai ibadah yang memiliki fungsinya masing-masing, termasuk juga I’tikaf.

Shalat misalnya, fungsinya ialah sebagai media komunikasi manusia dengan Tuhan, zakat fungsinya untuk membersihkan jiwa dan harta yang berzakat sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan dan masyarakat.
I’tikaf fungsinya ialah sebagai media mengadakan introspeksi diri; siapa saya, sedang di mana dan mau ke mana.

Introspeksi ini penting, ibarat perjalanan agar diketahui sebetulnya sudah sampai di mana perjalanan hidup dilalui. Pengetahuan ini perlu, ibarat minyak, jangan sampai minyak sudah habis, tujuan belum tercapai. Jika kematian sebagai terminal akhir di dunia, sesungguhnya kematian kata Imam al-Ghazali adalah peristiwa yang paling dekat.

Katanya ada 4 “yang paling”, yaitu: “yang paling dekat ialah kematian, yang paling jauh ialah masa lalu, yang paling mudah ialah menunda-nunda shalat, dan yang paling sulit ialah membayar hutang”. Seolah Imam al-Ghazali berpesan, “persiapkan diri menghadapi kematian, karena ia sudah dekat, jangan kejar lagi masa lalu ia sudah pergi jauh, jangan suka menunda-nunda shalat, karena ringan melakukannya, dan bayarlah hutang secepatnya, karena ia pekerjaan sulit”.

I’tikaf diharapkan akan menyadarkan manusia sedang di mana posisi agar kematian dihadapi dalam kondisi sudah siap, karena sudah merasa benar, seperti kata al-Qur’an surat al-Baqalah/2: 95, yang artinya: “Katakanlah Muhammad, jika negeri akhirat di sisi Allah, khususnya untukmu saja bukan untuk orang lain, maka mintalah kematian jika kamu orang yang benar”.

Jika sudah disiapkan tentu tidak akan khawatir lagi mengahdapinya, karena memang sudah siap. Ibarat orang yang kegelian, jika dia sudah mempersiapkan diri akan digelii orang lain, ia tidak akan merasa kegelian.

Tentu bukan sebaliknya. Tidak jarang orang yang digelitiki menjerit kuat seolah tanpa kendali, karena belum mempersiapkan diri. Yah, kira-kira begitu contoh sederhananya. Semoga I’tikaf membantu manusia memrsiapkan diri menghadapi termainal akhir, yaitu kematian tersebut. Amin.

(22 Ramadhan 1442 H/4 Mei 2021 M).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2