Italia, Euro 2021 & Covid-19

  • Bagikan

Kesepahaman kita mengenai visi penanganan Covid-19 butuh kerjasama yang baik dari semua pihak. Saatnya kita membuktikan jika kita bersama, bersatu mendukung kebijakan publik penangangan Covid-19

Pertandingan kita yang sebenarnya adalah melawan Covid-19 yang saat ini menjadi pandemi di dunia. Ketika Italia menggunakan formasi 4-3-3 misalnya melawan Inggris yang berakhir dengan kemenangan Italia, kita butuh formasi yang lebih sulit dalam menghadapi dan melibas Covid-19.

Artinya, kemenangan Italia saat melawan Inggris adalah pesan moral bagi kita semua untuk bisa menghadapi Covid-19 yang saat ini melanda dunia. Kememangan Italia mengajari kita bagaimana menghadapi Covid-19. Covid-19 dengan segala dampak yang ditimbulkannya saat ini telah membuat perekonomian dunia lesu, bahkan mengalami gejolak. Jika tidak ditangani dengan strategi yang jitu bisa jadi malapetaka global dan berdampak buruk (bad effect) beberapa tahun ke depan.

Apa yang harus dilakukan agar Covid-19 bisa kita atasi? Anggaplah dulu Covid-19 ini adalah simbol yang menjadi musuh dunia yang sangat merugikan. Covid-19 dengan segala kedigdayannya telah membuat banyak masalah dalam dunia saat ini. Artinya, covid-19 menimbulkan dampak negatif yang membuat banyak kesusahan.

Mengapa tidak, energi yang telah kita keluarkan sudah banyak dan menguras semua sumber daya. Ini tentu berpengaruh buruk (bad effect) bagi sektor yang lain, secara khusus sektor ekonomi.

Saat sektor ekonomi jadi andalan dunia karena sektor ini langsung berhubungan dengan pendapatan yang bermuara kepada pencapaian kesejahteraan (achievement of well-being), ternyata Covid-19 ini sangat signifikan mengganggu sektor ini.

Saat ini dunia diperhadapkan pada keterpurukan ekonomi dengan berbagai indikator yang nyata. Angka pertumbuhan ekonomi yang mandek, belum lagi banyak sektor usaha yang tidak bisa jalan dan semuanya memberikan sebuah gambaran betapa dampak buruk Covid-19 ini sangat nyata.

Kini yang menjadi tugas bersama semua negara-negara global adalah bagaimana agar dampak Covid-19 ini bisa teratasi dengan baik. Strategi penangangan Covid-19 sekalipun dalam konteks masing –masing negara berbeda, tetapi ada kesamaan nilai (common value) yang harus dilakukan.

Kesamaan nilai itu adalah pentingnya kebersamaan, pentingnya saling memahami, pentingnya kerjasama, saling menolong, saling menguatkan, dan butuh semangat kerja keras. Dengan nilai-nilai ini penangangan Covid-19 akan bisa teratasi dengan baik. Saat ini sudah ada negara yang progres penanganannya dalam menangani Covid-19 sudah sangat baik.

Negara sekelas Denmark, Inggris, Austria, Hungaria menunjukkan progres yang sangat luar biasa. Bahkan final Euro 2021 di Stadion Wembley sudah sesak dengan penonton. Ini memberikan harapan baru betapa kita bisa mengatasi Covid-19 dengan segala dampak yang ditimbulkannya.

Terlepas dari kemenangan Italia atas Inggris di Final Euro 2021, sepak bola banyak mengajarkan kita tentang makna kehidupan dalam rangka menghadapi Covid-19 ini. Kita harus belajar kepada sepak bola agar bisa hidup dengan bagus, toleran, dan penuh kasih.

Ajaran sepak bola kepada manusia adalah bekerja keras, kerjasama, sportivitas, mau menerima kekalahan, tidak egois, dan hidup jujur dan jauh dari segala bentuk penipuan. Semua team tentu persiapan yang matang dan sangat mempersiapkan diri dengan sebai mungkin agar bisa melakukan yang terbaik.

Pakar manajemen Philip Kotler selalu menekankan spirit kerjasama dalam manajemen kalau ingin berhasil. Spirit kerjasama yang didukung oleh nilai kejujuran, kerja keras, disiplin akan mampu membawa korporasi pada tujuan yang telah ditentukan, sesulit apapun tantangan yang akan dihadapi korporasi dimaksud.

Hidup yang penuh dengan kerja keras, disiplin, jujur adalah jaminan untuk sukses dalam semua hal. Itulah yang diajarkan oleh sepak bola (Euro 2021) bagi kehidupan kita lepas pribadi-pribadi pasca Jerman mengalahkan Argentina.

Kini piala Eropa telah berakhir dengan kemenangan tim nasional Italia atas Inggris dengan drama adu penalti. Tentu negara Italia akan sangat bangga dan Italia mengajarkan kita banyak hal, sekaligus merupakan gambaran kehidupan yang sebenarnya.

Sudah seharusnya semua manusia secara personal memaknai hidup melalui sepak bola. Hidup adalah perjuangan, bekerja keras, kejujuran, dan toleran dimana sejak dari awal penciptaan manusia oleh Tuhan sudah seharusnya bekerja keras.

Bahkan Socrates menegaskan manusia adalah apa yang dipikirkannya. Apa yang dipikirkan oleh manusia merupakan gambaran jati dirinya. Dalam hidup, apalagi era kosmopolitan saat ini manusia mengejar kesuksesan, kebahagiaan, ketentraman, dan kenyamanan.

Semua manusia secara ragawi ingin sukses, ingin kaya, ingin dihormati, bahkan Abraham Maslow jelas mengatakan salah satu kebutuhan manusia yang paling diburu adalah kebutuhan akan aktualisasi diri melalui berbagai prestise.

Ketika manusia mengejar apa yang disebuh kemakmuran dan kesejahteraan dengan berbagai indikator yang terukur seperti kepemilikan harta benda, kadangan manusia mau melakukan semua cara. Termasuk cara yang diluar norma dan nilai dasar yang mana kejujuran, ketulusan, kerja keras, adalah nilai universal yang diakui oleh semua manusia di dunia ini.

Kalau kita melihat para koruptor, sekalipun sudah memiliki kekayaan yang mungkin di atas rata-rata tetapi masih mau melakukan perilaku korupsi, ini merupakan perbuatan yang serakah dan sekaligus mush kehidupan. Agama, norma budaya di belahan dunia manapun selalu mengajarkan hidup jujur, hidup hemat, dan melakukan sesuatu dengan baik dan benar.

Tetapi para koruptor mau menabrak norma, meminjam istilah Mochtar Lubis dengan sebutan mental menerabas. Perilaku seperti ini tentu sangat tidak kita inginkan.

Dalam konteks penangangan Covid-19 ini kita bisa memalingkan diri filosofi sepak bola. Ada 11 orang bekerjasama dengan nilai kejujuran, kerja keras, tidak egois, saling mengisi untuk mengejar “goal” maka korupsi tidak akan pernah terjadi di negara ini.

Sebagai contoh, kemenangan 1-0 saja sudah lebih dari cukup untuk menang. Kemudian sekalipun strikter (pemain depan) yang ditugaskan dalam mencetak “goal”, jika pemain belakang (stopper) atau pemain tengah yang melakukannya semua merayakannya dengan senang, striker tidak akan marah.

Bahkan mengucapkan selamat. Inilah bentuk ketidakegoisan yang menekankan betapa kerjasama sangatlah penting dalam kehidupan ini.

Sepakbola adalah sebuah “game” dimana aturan selalu ditegakkan. Tidak peduli siapa orangnya yang melakukan pelanggaran, semua akan dihukum sesuai dengan porsinya.

Dalam konteks penangangan Covid-19 jika ada yang melakukan praktek pelanggaran seperti melakukan korupsi kepada bantuan yang seharusnya peruntukannya kepada rakyat maka harus dihukum berat. Karena dia adalah penjahat kemanusiaan.

Saat ini PPKM Darurat sedang dilakukan. Pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi mengenai obat dan oksigen. Tentu ada saja yang manfaatkan ini dengan cara menimbun obat-obatan untuk Covid-19.

Siapa saja yang melakukan pelanggaran, maka saatnya dihukum layaknya menghukum pemain bola dengan kartu merah karena pelanggaran berat.

Penutup

Kesepahaman kita mengenai visi penanganan Covid-19 butuh kerjasama yang baik dari semua pihak. Saatnya kita membuktikan jika kita bersama, bersatu mendukung kebijakan publik penangangan Covid-19.

Maka hasilnya bisa lebih baik. Italia yang menjuarai Euro 2021 telah mengajari kita bagaimana menangangi Covid-19 melalui kerjasama team yang solid dan semangat yang membumi. Butuh kerjasama team dan kerja keras dari semua pihak dengan meninggalkan ego masing-masing.

Semoga kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam menangani Covid-19 ini bisa efektif dan efisien serta berdampak positif bagi pemulihan berbagai sektor yang sedang kita rasakan pahitnya. Semoga!    WASPADA

Penulis adalah Dosen Prodi Ilmu Administrasi Negara Fisipol Univ. HKBP Nommensen Medan, Peneliti RE Foundation.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *