Waspada
Waspada » Islamofobia Oleh Dr Warjio
Opini

Islamofobia Oleh Dr Warjio

Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Politik Fisip USU.

 

Dunia tidak akan bisa tanpa Islam. Kalaupun muncul Islamofobia ia karena kepentingan politik yang diindustrialisasikan…

 

Agustus 2012, di John F. Kennedy Airport, Amerika Serikat—tepatnya di Hudson Book Store, mata saya tertuju pada buku dengan judul sangat provokatif: The World Without Islam karya Graham Fuller disudut rak bukunya. Bukunya kecil dan tidak terlalu tebal berwarna biru yang menarik.

Bukan hanya saya pasti, tentunya juga orang lain melihat buku itu pasti akan tertarik membaca dan memilikinya. Saya rogoh kantong celana, Alhamdulillah saya beli buku di sekitaran harga 18 dollar dan menjadi teman perjalanan saya di pesawat dari Amerika Serikat menuju Indonesia.

Sebelum membacanya, otak saya sudah dibayangi sesuatu yang sering terjadi dalam menilai penulis Barat terhadap Islam: penuh skeptis dan negatif menilai Islam. Tapi pandangan saya salah. Fuller justeru menjelaskan dengan argumentasi yang baik bahwa Islam tidak sebagaimana yang dibayangkan kebanyakan orang Barat.

Di buku tersebut ia memprovokasi: Bayangkan, jika Anda mau, sebuah dunia tanpa Islam. Tampaknya hampir tidak mungkin, ketika gambar dan referensi tentang Islam mendominasi berita utama, gelombang udara, layar komputer, dan debat politik kita. Kami dibanjiri dengan istilah-istilah seperti jihad, fatwa, madrasah, Taliban, Wahhabi, mullah, martir, mujahidin, Islamradikal, dan hukum Syariah. Islam tampaknya terletak di tengah-tengah perjuangan Amerika melawan terorisme dan komitmen panjang untuk beberapa perang luar negeri yang diluncurkan dengan “Perang Global Melawan Teror.

Di bagian pendahuluan, Fuller menegaskan bahwa satu hal yang ingin dijelaskan: tujuan buku ini sama sekali bukan untuk merendahkan atau mengabaikan peran Islam dalam sejarah dunia. Islam telah berdampak besar pada dunia, sebagai salah satu peradaban terbesar dan terkuat dalam sejarah. Tidak ada peradaban lain yang bertahan selama ini di dunia seluas Islam. Saya sangat menghormati budaya Islam, seni, sains, filsafat, dan peradaban, dan Muslim sebagai manusia. Dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih miskin tanpa adanya peradaban Islam. Saya juga tidak mengabaikan fakta bahwa Islam telah menciptakan bangunan yang kuat dan berbeda — “dunia Muslim” —menghubungkan sejumlah besar orang, negara, budaya, dan iklim yang beragam dengan cara yang mungkin tidak terjadi. Ini sangat penting bagi masyarakat di wilayah itu.

Sebagai orang yang pernah bertugas sebagai agen CIA Fuller tahu bagaimana hubungan Islam dan Barat—bukan saja secara kontemporer tetapi juga sejarahnya. Tulisannya renyah dibaca dan mudah dipahami, Fuller benar-benar memanjakan pembaca seperti saya. Dari bab yang ditulis ringan tapi informatif Fuller seolah mengajak pembacanya: “ayolah…Islam itu bagian dari peradaban kita malah ia banyak memberikan pengaruh dari peradaban Barat. Tidak harus membencinya, hiduplah berdampingan. Dan kita tidak bisa hidup tanpa Islam”.

Munculnya Islamofobia
Buku Fuller ini benar-benar memprovokasi saya. Perjalanan saya ke AS untuk mempresentasikan makalah terkait Politik Pembangunan Islam hasil penelitian dari Research university Team (RUT) ISDEV, University Sains Malaysia (USM), Penang, Malaysia—di Mountclaire State University, New Jersey AS—tentu saja atas pembiayaan proyek RUT itu “harus menghasilkan karya” juga merespons karya Fuller tersebut.

Sesampainya di Indonesia, karena berbagai kesibukan, keinginan itu belum dapat terwujud. Sampai tiga tahun kemudian saya harus berangkat lagi ke AS memenuhi undangan seminar di Harvard University (2015). Suatu sore, saat setelah presentasi makalah di Harvard University, saya berjalan-jalan di Harvard Book Store—salah satu dari banyak toko buku di sekitar Harvard University.

Toko buku ini terkenal di antara toko lainnya. Di sana mata saya tertuju pada satu buku yang selama ini saya cari: The Clash Civilization, karya monumental Prof Samuel Huntington. Dengan tekun saya membaca setiap kalimat yang disampaikan dalam buku tersebut. Tesis Huntington itu menghenyakkan kita bahwa (akan) selalu terjadi clash peradaban Timur—termasuk Islam dengan Barat.

Islam akan dianggap rival Barat. Pandangan ini menguatkan phenomena Islamofobia—anti terhadap Islam dan Muslim. Perspektif teoritis baik yang disampaikan Fuller dan Huntington memberikan dasar kuat mencari atau merasakan kebenaran dari pemikiran mereka.

Tetapi saya juga harus “uji” dengan merasakan dan melihat praktik politik dari konflik yang melibatkan Barat dan Islam dengan menggunakan pendekatan kepakaran menjelaskan dan menguji fenomena Islamofobia. Saya sampaikan pengalaman menarik. Ketika browsing internet terkait disertasi atau pun thesis, saya menemukan ada disertasi menarik dari Leed University, Inggris berjudul Islamofobia and the Emergence of Muslim Political Identity.

Penelitinya Ismail Patel, PhD. Saya coba menghubungi pihak universitas tersebut dan memohon mendapatkan izin mengakses disertasi tersebut. Alhamdulillah direspons dan minta penjelasan alasan saya memerlukan disertasi tersebut. Saya pun menjawab saya (dari Depertemen Ilmu Politik, Fisip USU) dan Apsipol (Asosiasi Program Studi Ilmu Politik SeIndonesia) akan melaksanakan Diskusi Politik terkait Politik Islamofobia. Juga dalam rangka menulis buku terkait Islamofobia.

Saya pun mendapat izin mengakses dan langsung mendapat respons dari penelitinya, Ismail Patel, PhD. Kami pun berkomunikasi secara pribadi dan memohon kesediaan Beliau bisa menjadi keynote speaker. Dengan moderator saudari Nanda—mahasiswi S2 Ilmu Politik Fisip USU, diskusi itu pun dilaksanakan 8 Maret 2021 secara online.

Respons masyarakat luas dengan peserta yang besar. Di samping Ismail Patel juga beberapa pakar hadir sebagai pembicara: Dr Ahmad Syukri dari UIN Jambi; Dr Usni dari S2 Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ); Muhammad Aris dari Program Studi Ilmu Politik Unnes, Semarang; Dr Iding Rasyidi dari Prodi Ilmu Politik, Fisip UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; Dr Lutfi Makahsin dari Prodi Ilmu Politik, Fisip, Universitas Jenderal Sudirman.

Saya sendiri juga bertindak sebagai pembicara dalam acara tersebut dan bendahara Apsipol Dr Lusi Andriyani dan Ketua program Studi ilmu politik seluruh Indonesia lainnya juga hadir beserta peserta lainnya. Diskusi ini tentu saja penting memberikan perspektip Barat terhadap Islam dan memahami Islamofobia secara akademik.

Penutup
Saya sepakat, meskipun memiliki akar kuno, Islamofobia berubah di era pascakolonial, karena berbalik melawan populasi imigran Arab dan Afrika. Permusuhan terhadap Islam berawal dari abad pertengahan, tetapi perlahan berkurang sejak abad ke 18 dan tampaknya telah menghilang setelah Kekaisaran Ottoman berakhir pada akhir Perang Dunia I.

Permusuhan itu kembali pada akhir abad ke 20. Saat ini, bentrokan dengan Islam telah membantu membangun mitos “identitas” Eropa dan terus-menerus disuarakan mereka yang menyatakan akar Yudeo-Kristen di benua itu. Sejak 1980-an, pertama dengan perang di Afghanistan kemudian dengan Perang Teluk, Perang Irak 2003, dan penyebaran terorisme Islam, Islamofobia telah tumbuh tanpa henti (Enzo Traverso, 2019).

Tentu saja, menghadirkan pemahaman Islamofobia bukan karena alasan Fuller ataupun Huntington saja. Juga karena beberapa seminar ataupun penelitan terbaru yang saya lakukan. Tahun 2013 ketika terpilih mempelajari sejarah dan pembangunan Vietnam di Hanoi, atas pendanaan SEASREP (Filipina), ada pengalaman menarik terkait Islam.

Demikian juga penelitian yang didanai kementrian Pendidikan Tinggi Indonesia terkait Politik Pembangunan Islam di Indonesia dengan fokus Politik Pembangunan Hotel Syariah (2015-2017). Terbaru penelitian TALENTA USU terkait Islam Politik Nahdlatul Ulama (NU) pada masa Jokowi (2020).

Dari kegiatan dan penelitian tersebut ada benang merah terkait persoalan Islamofobia. Isu-isu juga saya sampaikan dalam kelas-kelas dimana saya mengajar terkait Mata kuliah Politik Pembangunan di program Pascasarjana USU.

Dengan penjelasan seperti di atas bukan saja saya menepati keinginan saya yang diprovokasi Fuller, lebih dari itu ia dapat memberikan pemahaman kita akan Islamofobia dilihat dari perspektif politik, bukan dari perspektif antropologis ataupun sosiologis sebagaimana yang mungkin selama ini kita pahami.

Juga akan menjawab pertanyaan yang saya ajukan dalam pembuka tulisan ini bahwa dunia tidak akan bisa tanpa Islam. Kalaupun muncul Islamofobia ia karena kepentingan politik yang diindustrialisasikan (Nathan Lean, 2017).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2