Waspada
Waspada » Islamofobia: Amerika Dan Eropa Oleh Shohibul Anshor Siregar
Opini

Islamofobia: Amerika Dan Eropa Oleh Shohibul Anshor Siregar

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

 

Beate Winkler E merekomendasikan agar komunitas Muslim tidak menjadi korban ganda. Pertama, dari serangan teror. Kedua, tanggapan kebijakan terhadap serangan ini

Christopher Allen (Islamophobia, 2007) mengakui terjadinya peningkatan produksi sumber yang semakin melazimkan penggunaan istilah Islamofobia. Tetapi ia sendiri heran atas kekurangan sumber tekstual yang benar-benar mempertimbangkan fenomena itu, atau manifestasi dan konsekuensinya.

Ia pun menuding tidak adanya teks otoritatif yang mencoba memahami atau mengontekstualisasikan apa yang mungkin dianggap sebagai salah satu prasangka paling berbahaya dalam iklim kontemporer.

Allen memulai analisis dengan melihat cara-cara mendefinisikan dan memahami Islamofobia. Dia menelusuri evolusi historisnya hingga kini, mempertimbangkan kejadian serta dampak dari peristiwa. Bayangkan jika di sebuah negeri seperti Indonesia terus ditimpa kejadian yang dapat diklasifikasikan sama (teror) secara berketerusan, yakni tragedi 11 September yang terkenal itu.

Kemudian serangkaian investigasi secara tematis dilakukannya dengan mempertimbangkan beberapa variabel. Pertama, peran media. Kedua, posisi kontemporer Muslim di seluruh dunia. Ketiga, apakah Islamofobia dapat dilihat sebagai kontinum anti-Muslimisme historis atau anti-Islamisme, atau apakah Islamofobia adalah konsep yang sepenuhnya modern.

Keempat, Isu Islamofobia itu harus dipandang dari perspektif lokal, regional, dan global Insiden Islamofobia? Kelima, besarnya fenomena dan konsekuensinya.

Allen menilai diperlukannya penyelidikan lebih besar bahkan dari keberadaan kebesaran dunia saat ini. Sejumlah variable berkelindan itu ada pada budaya besar Amerika Serikat.

Karena itu tidak mengherankan jika temuan Carl W. Ernst (Islamophobia in America: The Anatomy of Intolerance, 2013) dan yang didukung dokumentasi kuat para kontributor sejarah sentimen anti-Islam dalam budaya Amerika, ruang lingkup propaganda anti-Muslim yang terorganisir, dan pelembagaan intoleransi semacam ini di negeri itu, menunjukkan Islamofobia di AS benar-benar menawarkan perspektif baru tentang prasangka buruk terhadap Muslim.

Prasangka buruk itu semakin meluas di AS dekade terakhir. Kini “Islamofobia” adalah istilah yang telah diterapkan luas pada ide dan tindakan anti-Muslim, terutama sejak 9 September, sebagaimana Andrew Shryock kemukakan tanpa sedikit keraguan (Islamophobia, Islamophilia: Beyond the Politics of Enemy and Friend, 2010).

Kritiknya dalam eksplorasi kegunaan konsep memahami konteks dimulai dari Abad Pertengahan hingga zaman modern. Beranjak dari penjelasan umum tentang aneka konsep yang dilahirkan dengan semangat permusuhan seperti stereotip Muslim yang baik atau Muslim yang buruk; atau konsekuensi psikologis dan politik yang dihasilkan oleh introduksi istilah “benturan peradaban” (Clash of civilization, Huntington, 1991), para kontributor dalam karya ini menggambarkan mitra Islamofobia, Islamofilia, yang menyebarkan oposisi serupa untuk kepentingan mendorong penerimaan publik terhadap Islam.

Para kontributor dalam karya ini juga memberi perhatian yang cermat atas fenomena lain seperti konflik Islam di luar dan di dalam komunitas Muslim di Amerika Utara, Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Tak ketinggalan masalah politik budaya sastra, humor, dan pembaruan perkotaan; dan konversi agama ke Islam diakumulasi sedemikian rupa.

Nathan Lean dalam The Islamophobia Industry: How the Right Manufactures Fear of Muslims (2012) menuturkan rembesan deras rasa ketakutan lain dengan munculnya apa yang ia sebuat sebagai “jihad diam-diam” atau “shariah (perjuangan) yang merayap”. Islamofobia AS memandangnya sebagai bibit baru teror sebagaimana dengan begitu jelas mereka juluki sebagai The United States of Islamica; Eurabia; dan Londonistan.

Dalam produktivitas menjual ketakutan dan Industri Islamofobia ini kader sayap kanan para intelektual penjaja, blogger, politisi, pakar, dan bahkan pemimpin agama, sangat mengetahui hal itu dengan sangat baik. Selama bertahun-tahun mereka telah bekerja di belakang layar untuk meyakinkan rekan-rekan mereka bahwa Muslim adalah musuh, sembari dengan begitu intensif menggali hantu tragedi 9 September dan menggantung mereka di depan mata penduduk yang ketakutan untuk mendapatkan keberuntungan dan ketenaran yang besar.

Arun Kundnani (The Muslims Are Coming!: Islamophobia, Extremism, and the Domestic War on Terror, 2014) mengisahkan dua tragedi rekayasa. Pertama, tragedi kematian langsung yang menimpa Imam Luqman, ketika empat agen FBI menembakkan senapan semi-otomatis ke arahnya dalam jarak hanya beberapa kaki.

Enam puluh petugas mengepung gedung, puncak dari penyelidikan rahasia selama dua tahun yang telah menyusup ke masjid imam Detroit. FBI dengan cepat mengklaim Luqman Abdullah “pemimpin kelompok teroris domestik”. Namun, tertangkap dalam rekaman, dia menolak membantu “melakukan sesuatu” kekerasan, karena dapat melukai orang yang tidak bersalah, dan tidak ada tuduhan terorisme yang diajukan terhadapnya.

Tragedi kedua yang dialami Jameel Scott. Ia merasa sedang menggunakan hak normatifnya ketika pergi untuk ikut menantang kuliah pejabat Israel di Universitas Manchester. Namun kehadiran remaja ini pada protes dengan sesama sosialis membuatnya menjadi subjek pengawasan polisi selama dua tahun ke depan.

Agen kontraterorisme mengunjungi orang tuanya, kerabatnya, sekolahnya. Mereka menyuruhnya tidak menghadiri demonstrasi, menelepon ibunya dan menyuruh keluarganya pindah ke lingkungan lain. Meski belakangan di pemukiman baru itu dia tidak mengidentifikasi diri sebagai Muslim, Jameel telah menjadi sosok yang dianggap teroris, yang tumbuh di dalam negeri.

Barangkali perlu dicatat, berdasarkan beberapa tahun penelitian dan reportase, seperti di Texas, New York, dan Yorkshire, buku Kundnani ini adalah kritik komprehensif pertama terhadap strategi kontraradikalisasi. Yakni sebuah kebijakan baru dan kampanye kepolisian yang didukung industri ahli baru dan komentator liberal: The Muslims Are Coming!: Islamophobia, Extremism, and the Domestic War on Terror.

Bagaimana keadaan di Eropa? Menilik berbagai karya yang lahir dari tangannya. Terutama A Suitable Enemy: Racism, Migration and Islamophobia in Europe (2009), tampaknya Liz Fekete adalah salah seorang otoritas terkemuka dalam masalah rasisme, Islamofobia, dan UU keamanan nasional.

Narasi utama A Suitable Enemy mengacu penelitian 16 tahun. Liz Fekete berhasil menyajikan tinjauan komprehensif tentang kebijakan imigrasi, suaka, ras, dan keamanan Uni Eropa. Secara khusus bagian pembahasannya sangat meyakinkan. Di antaranya The Emergence Of Xeno-Racism; Anti-Muslim Racism And The Security State; Enlightened Fundamentalism?; Immigration; Feminism And The Right; The New Mccarthyism; The Deportation Machine; Speech Crime And Deportation; They Are Children Too: Islamophobia, Youth Resistance And The Meaning Of Liberty.

Dari laporan Beate Winkler E (Muslims in the European Union: Discrimination and Islamophobia, 2006) diketahui posisi minoritas Muslim yang terus menerus dirugikan, adalah salah satu bukti terpenting meningkatnya Islamofobia dan keprihatinan atas proses alienasi dan radikalisasi yang sekaligus juga telah memicu perdebatan sengit di Uni Eropa mengenai perlunya memeriksa kembali kohesi komunitas dan kebijakan integrasi.

Menurutnya serangkaian peristiwa seperti tragedi 11 September di Amerika Serikat, pembunuhan Theo van Gogh di Belanda, Pengeboman Madrid dan London serta debat tentang kartun Nabi Muhammad. Semua itu berakumulasi memberi penekanan lebih lanjut pada situasi komunitas Muslim bahkan menyebar ke seluruh dunia.

Pertanyaan sentralnya: bagaimana menghindari generalisasi stereotip. Bagaimana mengurangi ketakutan dan bagaimana memperkuat kohesi dalam masyarakat Eropa yang beragam sambil melawan marginalisasi dan diskriminasi atas dasar ras, etnis, agama atau kepercayaan?

Dilihat dari asal-usulnya, jelas Beate Winkler E, Muslim Eropa campuran sangat beragam etnis, afiliasi agama, keyakinan filosofis, persuasi politik, kecenderungan sekuler, bahasa dan tradisi budaya—merupakan kelompok agama terbesar kedua dalam masyarakat multi-agama Eropa.

Nyatanya komunitas Muslim tidak berbeda dengan komunitas lain dalam kompleksitasnya. Diskriminasi terhadap Muslim dapat dikaitkan sikap Islamofobia, seperti kebencian rasis dan xenofobia, karena elemen ini dalam banyak kasus saling terkait erat.

Sisi pertama yang segera terlihat di Eropa ialah kontekstualitas tentang situasi Muslim dalam bidang utama kehidupan sosial, seperti pekerjaan, pendidikan dan perumahan, serta diskusi tentang isu-isu utama dan perdebatan. Manifestasi Islamofobia di semua Negara Anggota Uni Eropa yang dapat mencakup area masalah dan kesenjangan.Sangat menyedihkan mengetahui inisiatif pemerintah dan masyarakat sipil yang ada yang menargetkan Muslim.

Beate Winkler E menegaskan terorisme menguji demokrasi dan prinsip fundamentalnya. Muslim umumnya ingin dilihat sebagai mitra yang memiliki banyak taruhan dalam memastikan keamanan komunitas. Tindakan pengamanan diperlukan, tetapi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap semua komunitas dan implikasi hak asasi mereka.

Akhirnya Beate Winkler E merekomendasikan agar komunitas Muslim tidak menjadi korban ganda. Pertama, dari serangan teror. Kedua, tanggapan kebijakan terhadap serangan ini. Dibutuhkan lebih banyak dialog, inklusi sosial dan kebijakan non-diskriminasi untuk mendukung kelompok minoritas, yang pada akhirnya akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

Para pemimpin politik dan lembaga, lanjut Beate Winkler E, memiliki tanggung jawab khusus untuk mengirimkan pesan yang jelas tentang penghormatan kepada semua komunitas dan memberikan jawaban yang meyakinkan.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2