Waspada
Waspada » ISLAM PHOBIA, Bersabarlah..!
Opini

ISLAM PHOBIA, Bersabarlah..!

Islam phobia atau phobia Islam adalah suatu istilah yang cukup viral seminggu belakangan. Phobia berarti rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu ketika berada dalam suatu situasi atau melihat sesuatu seperti melihat hewan. Misalnya, seorang takut berada di tempat gelap atau takut ketika melihat lipas.

Berarti phobia pada situasi gelap dan phobia terhadap lipas. Sebagai pelampiasan rasa takutnya seorang bisa menjerit histeris atau bertindah yang di luar kenormalan. Dengan pengertian yang demikian dapat diartikan bahwa Islam phobia atau phobia Islam ialah rasa taut yang berlebihan ketika mendengar kata Islam atau melihat simbol-simbol Islam.

Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa takutnya, ia melakukan berbagai ucapan dan bahkan tindakan yang di luar kewajaran, karena tidak sejalan dengan akal sehat.

Misalnya, koq sangat takut di tempat yang gelap atau takut melihat lipas. Koq takut hanya mendengar atau Islam atau simbol Islam seperti serban. Tapi yah, yang namanya phobia begitulah, karena di luar jangkauan akal sehat.

PENYEBAB PHOBIA ISLAM
Phobia Islam seperti disebut di atas sebenarnya tidaklah muncul begitu saja, melainkan memiliki latar berlakang historis. Ketakutan terhadap sesuatu bisa muncul karena sesuatu tersebut menakutkan dirinya.

Misalnya, takut naik pesawat karena pernah mengalami turbulansi seolah pesawatnya mau jatuh, akhirnya melihat pesawat saja seolah dia menggambarkan kematian. Seolah pesawat begitu menawarkan kematian. Jadi phobia lebih pada persoalan psikologi.
Phobia Islam juga bisa terjadi karena gambaran terhadap Islam yang sangar oleh media anti Islam, sehingga Islam dianggap akan membahayakan dirinya.

Misalnya, jika Islam berkuasa akan memaksa semua orang termasuk dirinya harus menjadi Muslim sehingga harus disunat dan sebagainya. Atau akan merubah semua kebiasaan yang tidak bisa dilakukan lagi. Begitulah memang media anti Islam menggambarkan untuk membangun phobia tersebut.

DARI DULU SUDAH ADA
Phobia Islam sebetulnya tidaklah terjadi hari ini saja, sejak awal kehadiran Islam sudah ada. Sejarah Islam mencatat bagaimana phobia Islam sudah muncul sejak titik awal Nabi Muhammad Saw menyampaikan risalah keislamannya. Islam dikhawatirkan akan merubah tatanan hidup Jahiliyah yang sudah ada, sehingga ditakuti.

Pengobatannya ialah dengan mematika Islam sebelum berkembang. Maka dilakukanlah berbagai tindakan intimidasi, termasuk pembaikotan kepada keluarga Nabi dan penyiksaan terhadap pengikut Nabi Muhammad Saw, seperti Bilal bin Rabah.

Kehadiran Islam memang merubah gaya hidup ke arah yang lebih manusiawi, sehingga kehadirannya ditakuti. Itulah yang dirasakan bangsa-bangsa Eropa ketika Islam menampilkan kehadirannya di Spanyol sejak tahun 711 sampai Islam angkat kaki secara formal tahun 1498 M dengan jatuhnya kekuasaan Islam dinasti Bani Ahmar yang diusir oleh Raja Fernando dan Ratu Isabella.
Kemampuan menghabisi Islam ini nampaknya belum cukup, karena phobianya belum sembuh sepenuhnya.

Lalu dikirimlah para ahli keislaman yang disebut Orientalis ke dunia-dunia Islam yang missi utamanya ialah mencari-cari kelemahan Islam. Karena secara obyektif tidak ditemukan kelemahan Islam, lalu dikembangkanlah sikap subyektifitas dengan menjelek-jelekkan Islam yang sesungguhnya bukan menjadi cirinya.

Lahirlah berbagai Orientalis dengan berbagai tuduhannya yang pejoratif terhadap Islam, seperti Islam disebut agama yang dikembangkan kengan kekerasan, agama yang suka kawin, al-Qur’an ciptaan Muhammad sehingga nama Islam dirobah dengan Muhammadanism, dan tuduhan negatif lainnya.

Namun Allah nampaknya tidak membiarkan kebohongan terhadap agama-Nya belangsung lama, lalu lahirlah kemudian para Orientalis yang obyektif melihat Islam, sehingga menghadirkan tesa baru Islam yang kontroversial dengan tesa Orientalis sebelumnya yang negatif pejoratif.

Begitu obyektifnya, sehingga banyak di antara mereka yang kemudian menjadi Muslim, seperti Leopold Weis yang mengganti namanya dengan Muhammad Asad, Margareth Marcus dengan Maryam Jamilah, dan sebagainya.
Namun demikian pandangan negatif terhadap Islam juga tidak mereda. Bahkan terus berkembang di era modern, seiring dengan penambahan kuatitas umat Islam khususnya di Eropa, seperti apa yang terjadi di Francis.

Di negara ini banyak kedatangan imigran Muslim, karena memang negara ini banyak bersintuhan dengan negara-negara Islam, sebab negara ini menjajah beberapa negara Islam, seperti Mesir, Aljazair, dan negara-negara Islam Afrika lainya. Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara lainnya, seperti Belanda asal pembuat karikatur yang menghebohkan.

Trend Islam phobia sebetulnya juga muncul dan sangat berkembang di negara-negara berpenduduk mayoritas sendiri, seperti Mesir dan Indonesia. Islam phobia ini menguat ketika muncul kesadaran umat Islam untuk mengaktualkan ajaran agamanya. Di Mesir misalnya, ketika Islam mampu menghadirkan ajaran yang lebih holistik dengan tampilnya figur yang menampilkan Islam politik, lalu kekuasaan itu diambil paksa secara militer.

Di Indonesia lebih kurang sama, ketika Islam ingin menghadirkan ajarannya, lalu ia dibuli habis-habisan dengan streotipe yang menyakitkan. Sedihnya juga dilakukan oleh umat Islam sendiri, tentu yang Islam minimalis. Dalam kondisi ini Islam phobia tumbuh berkembang bagai jamur di musim juhan.

CARA PANDANG DAN PENGOBATAN YANG SALAH
Adalah fenomena bahkan fakta belakangan menampilkan gambaran yang salah tentang Islam, akibatnya melakukan pengobatan yang salah juga.

Ibarat diagnosa penyakit, didiagnosa alergi padahal sakit kepala, akhirnya obat yang diberikan salah. Seharusnya neoralgine yang diberikan karena obat sakit kepala, tetapi justru diberikan cetirizine, karena diagnosa alergi makanan.
Begitulah Islam diperlakukan. Islam dituduh akan membahayakan dirinya karena memaksanya harus masuk Islam.

Lalu untuk mengobatinya ialah Islam harus dihancurkan dengan segala cara, salah satunya menghidupkan rasisme. Tentu ini pengobatan yang salah karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang memegang prinsip persamaan (al-musawah, equaliy), kemerdekaan (al-hurriyah, independence), persaudaraan (ukhuwah, brotherhood), dan keadilan (al-‘adalah, justice).

Dalam penyebarannya, Islam tidak pernah dikembangkan dengan kekerasan atau diorganisir bekerjasama dengan kolonial Belanda seperti di Indonesia, melainkan berkembang secara damai “panetration fasisique”, kata ahli. Termasuk di Francis dan Indonesia. Di Francis dan juga negara-negara Eropa lainnya, Islam berkembang secara natural, tidak mungkin melalui islamisasi, karena memang Islam diposisikan sebagai warga kelas bawah (underbouw).

Inilah bedanya dengan negara-negara mayoritas Islam seperti Indoneia, semua agama walau jumlahnya tidak sampai 2 %, ditempatkan secara sejajar. Seharusnya negara-negara Eropa yang katanya kampiun kemanusiaan dapat belajar ke Indonesia.

Dan perlu dicatata bahwa di negara mana Islam mayoritas, di situ penganut agama minoritas akan merasa aman. Sayangnya, hal ini tidak dirasakan Islam ketika berada di mana mereka hidup sebagai minoitas.

Yang mereka alami ialah pembulian dan rasa kekurang adilan, sehingga bisa menimbulkan tindakan yang merusak kemanusiaan.
Dunia ini diciptakan untuk semua manusia secara bersama, maka marilah kita hidup bersama, di manapun kita berada. Semua manusia sama di mata Tuhan dan hukum, karena memang kita sama, yang membedakan kita hanyalah identitas kewarganegaraan.

MAKA BERSABARLAH
Phobia sebetulnya tidak dialami oleh umat Islam dan tidak hanya era belakangan. Phobia Islam sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad Saw, dan juga dialami oleh semua agama dan ideologi yang eksis, termasuk di negara tercinta Indonesia.

Mengapa Islam yang menjadi target utama era belakangan, tidak lebih dari karena hanya agama inilah yang masih konsisten dalam menolak perubahan yang minus nilai spiritual, seperti skularisme, materialisme, humanisme, dan lain-lain. Ambillah contoh tentang kawin antar sesama satu jenis, Islam masih memberikan penolakan walau untuk itu ia dibuli sebagai anti kemanusiaan.

Untuk itu, umat Islam jangan sampai terkena jebatan badman yang seringkali dilakukan secara halus sehingga banyak yang tidak menyadarinya. Yang penting ialah terus mengadirkan Islam yang rahmatan lil-‘alamin sesuai petunjuk al-Qur’an dan hadits, seperti kata Habib Nurmagedove petarung UFC dari Rusia: “Orang lain tidak membaca kitab sucimu, maka tampilkanlah prilaku yang menggambarkan kitab sucimu”.

Maka marilah bersabar dan berhati besar, karena ini kita lakukan demi membela nilai-nilai kemanusiaan sebagai inti ajaran agama islam, yaitu Islam. Jika umat ini konsisten dalam menampilkannya, yakinlah bantuan Allah akan datang, karena ini janji-Nya yang tidak pernah engkar janji: “Wahai orang-orang yang beriman, Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu” (Q.S. Muhammad/47: 7). Yakinlah…!

Penulis Guru Besar UINSU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2