Waspada
Waspada » Islam Dan Etika Kebebasan
Opini

Islam Dan Etika Kebebasan

Oleh TGS Prof Dr KH Saidurrahman, MAg

TELAH umum dipahami atau bahkan disepakati bahwa kebebasan berpikir, berimajinasi, berbicara hingga berekspresi telah menjadi bagian dari hak dasar (asasi) setiap manusia yang mesti dijaga dan dijamin keterwujudannya. Karena itulah, negara-negara penganut demokrasi di dunia, telah menjadikan hak atas kebebasan tersebut sebagai sesuatu yang amat substantif sehingga menjadi salah satu syarat bagi terbangunnya demokratisasi.

Sampai pada batas ini, tentu saja kebebasan belum melahirkan persoalan, bahkan di berbagai kasus justeru kebebasan berpikir, berbicara dan berekspresi tersebut terkadang masih saja terkangkangi. Demokrasi sendiri sejatinya telah hadir dalam rangka memastikan hak atas kebebasan-kebebasan tersebut dapat diperoleh oleh setiap orang dimana saja dan dengan kebangsaan dan agama apa saja.

Seiring dengan kehadiran globalisasi yang telah menembus berbagai sekat, kebebasan kemudian hadir dalam wajahnya yang baru. Kebebasan yang dahulunya diharapkan hadir untuk memperkuat eksistensi manusia dan kemanusiaan justeru terkadang telah tampil menentang eksistensi manusia atau bahkan dapat mengancam kamanusiaan itu sendiri.

Kebebasan Based on Utility (al-Mashlahah)
Penting memberi bingkai kepada kebebasan agar tidak menjadi kebablasan. Jika kebebasan telah berganti baju menajdi kebablasan, tentu akan kehilangan makna dan substansi sejatinya. Karena itulah, kebebasan harus dibangun diatas utility yakni kemanfaatan atau dalam khazanah Islam disebut “al-mashlahah”. Para penganut aliran Utulitarianisme, secara lebih khusus Utulitarianisme Etika berpendapat bahwa kebebasan yang diperjuangkan dalam rangka penguatan eksistensi manusia (Hak Asasi Manusia) mesti didasarkan kepada kegunaan yang mencakup kebahagiaan dan kemartabatan.

Jika jalan pikiran ini dapat diterima, maka kebebasan harus bermakna sesuatu yang dapat memberi manfaat kepada manusia agar ia dapat hidup lebih bahagia dan lebih bermartabat. Dalam makna demikian maka kebebasan dapat identik dengan kemaslahatan yakni sesuatu yang harus digapai karena ia dapat memberikan kemanfaatan bagi kemanusiaan baik berupa kebahagiaan maupun kehormatan atau kemartabatan.

Baru-baru ini opini dunia sedang dihadapkan kepada polemik serius yang bahkan telah melampui diskursus dan perdebatan akademik. Berita tentang statemen Emanuel Macron Presiden Prancis yang mendukung publikasi kartun Nabi Muhammad SAW oleh Charlie Hebdo yang diyakini mengandung unsur pelecehan dan penghinaan atas Islam, telah mengundang bukan saja pergumulan opini dan wacana, tetapi lebih jauh telah menjadi sebab lahirnya polemik dan konflik bahkan yang sangat ekstrim.

Berbagai respon dari tokoh-tokoh penting dunia seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Pemimpin wilayah Chechnya Ramzan Kadyrov, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi Menteri Agama Republik Indonesia serta sejumlah pemimpin negara-negara mayoritas Islam telah menyampaikan bukan hanya protes dan keberatan atas sikap Presiden Prancis tersebut, tetapi lebih jauh telah mengecam bahkan pada wilayah tertentu telah berujung kepada aksi pemboikotan produk Prancis di sejumlah pasar.

Argumentasi pembelaan atas kebebasan berekspresi yang dikedepankan oleh Emanuel Macron dalam membela penerbitan kartun Rasulullah SAW tersebut, tidak dapat diterima oleh sejumlah kalangan karena dipandang telah bersinggungan dengan titik amat sensitif dari keyakinan atau akidah Islam. Kebebasan yang diusung dengan ekspresi ini dipandang telah bertentangan dengan hakikat kebebasan sebagai hak asasi manusia. Atas dasar itulah kecaman yang ditujukan kepada Presiden Prancis yang disebabkanoleh tindakan dan keputusannya menjadi sangat wajar.

Betullah bahwa, setiap orang memiliki kebebasan berkarya apalagi yang sifatnya ekspresif dan imajinatif, tetapi penting dipahami bahwa perolehan kebebasan harus dalam makna pencapaian kemanfaatan berupa kebahagiaan dan kemartabatan. Kebebasan seseorang memang tidak dapat dibatasi oleh orang lain, tetapi ia dapat dibatasi oleh makna dan hakikat yang diharapkan dengan diperolehnya kebebasan itu sendiri. Kebebasan individual pasti berbatasan dengan sosial, begitu pun kebebasan suatu faham akan juga berbatasan dengan faham lainnya, demikian seterusnya sehingga berbagai kebebasan dapat dipertemukan pada suatu titik yang dapat mengakomodir kemaslahatan bersama dan sesama.

Jika kebebasan berekspresi seperti yang dilakukan oleh Charlie Habdo dengan membuat kartun karikatur Nabi Muhammad SAW tidak mendatangkan kemashlahatan bagi dirinya, berupa penambahan kebahagiaan dan kemartabatannya, maka kebebasan tersebut tidak dapat disebut sebagai kebebasan dalam makna hak asasi yang mesti diperjuangkan. Lebih jauh, jika ekspresi kebebasan ini justeru dipandang dapat mencederai nilai-nilai lain yang juga bersifat asasi seperti kebahagiaan, keimanan, keharusan saling menghormati, saling menghargai, maka teranglah bahwa aktualisasi atas kebebasan dalam model ini telah menyimpang dari hakikatnya sebagai hak asasi setiap orang.

Sebagai agama yang diturunkan sebagai “rahmatan lil’alamin” yang bermakna mengayom kebaikan dan martabat bagi siapa saja, maka Islam pastilah tidak memiliki tendensi untuk eksploitasi hak apa pun dari umat manusia, termasuk hak untuk bebas berbicara, berkespresi dan berimajinasi. Namun, konsep kebebasan dalam Islam telah dibingkai oleh apa yang disebut dengan “al-Mashlahah”, sebuah idiom yang di dalamnya terintegrasi putusan rasio dengan pertimbangan etis bahkan estetis. Padanya bertemu orientasi individu si pelaku dengan orientasi sesama yakni untuk menggapai kebahagiaan dan kemartabatan untuk sesama.

Sebagai aktualisasi dari komitmen akan kemaslahatan tersebut, Islam telah menggariskan bagaimana seorang Muslim dapat menyikapi secara etis dan estetis atas berbagai kebebasan, bahkan pada ranah yang amat fundamental berupa agama dan keyakinan. Al-Qur’an misalnya telah mendudukkan bagaimana seorang muslim bersikap terhadap kebebasan orang atau pemeluk agama lain (nonmuslim): “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku” (QS Al-Kafirun: 6). Dalam ayat lain: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikian Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka…” (QS. al-An’am: 108).

Dari sejumlah isyarat itulah kemudian dirumuskan konsep “al-Mashlahah” yang akan mampu mengawal setiap ekspresi kebebasan untuk tidak berubah menjadi kebablasan. Orientasi kemaslahatan akan memastikan bahwa setiap ekspresi kebebasan yang diaktualisasikan akan memperkuat eksistensi manusia dan kemanusiaan. Sehingga setiap orang yang mengaktualisasikan kebebasannya dalam bingkai “al-Mashlahah” ini akan menghadirkan kemanfaatan berupa kebahagiaan dan kemartabatan, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi sesama. Karena itulah, maka umat Islam mesti menegaskan penentangan terhadap sikap dan keputusan Presiden Prancis yang dipandang telah secara keliru memahami dan menyikapi substansi dan aktualisasi kebebasan berekspresi itu sendiri.

Penutup

Kebebasan hendaknya dipandang sebagai sebuah nilai yang lahir dari inheritas eksistensi manusia, sehingga aktualisasinya mesti dalam rangka pengokohan eksistensi manusia itu sendiri. Jika bagian hakikat dari eksistensi itu adalah kebahagiaan dan kemartabatan, maka setiap kebebasan harus dalam rangka pengukuhan kebahagiaan dan kemartabatan tersebut baik dalam konteks individu maupun bagi sesama. Jika aktualisasi ekspresi kebebasan yang dipertontonkan oleh Charlie Hebdo ini dipandang tidak memenuhi substansi itu, maka dapat diduga bahwa ekspresi tersebut dapat mengarah kepada kebablasan sehingga berpotensi untuk mengusik kemaslahatan sesama bahkan kemartabatan sesama manusia.

Penulis adalah Guru Besar Fikih Siyasyah UIN SU dan Dewan Penasehat DPP Gerakan Dakwah Kerukunan & Kebangsaan (GDKK)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2