Waspada
Waspada » Ironi Dunia Pendidikan Indonesia
Headlines Opini

Ironi Dunia Pendidikan Indonesia

Oleh Deo Peter Surbakti

Hanya 59.33 persen dari seluruh siswa yang mampu mengakses internet dan hanya 24.11 persen yang menggunakan komputer. Nampaknya masih banyak siswa yang harus berjuang untuk memeroleh akses terhadap perangkat digital

Kesenjangan dalam dunia pendidikan kian terasa dari hari ke hari. Baik itu kesenjangan antara mereka yang di kota atau di desa hingga kesenjangan antara mereka yang berpendapatan menengah keatas dengan menengah ke bawah.

Terutama dalam masa pandemi ini, pendidikan berubah bak layaknya barang eksklusif yang hanya bisa dinikmati sekelompok orang saja. Perubahan metode pembelajaran dari konvensional menjadi serba teknologi tinggi menimbulkan guncangan budaya di antara peserta didik dan pengajar itu sendiri.

Perubahan dari proses pembelajaran yang bersifat tatap muka menuju pembelajaran berbasis daring mungkin salah satu perubahan paling mutakhir dalam sepuluh tahun terakhir di dunia pendidikan di Indonesia. Tidak boleh dipungkiri, tidak semua siap dengan perubahan ini. Bahkan, sejauh mata memandang perubahan ini justru cenderung memberikan jurang yang luas bagi kesenjangan pendidikan di Indonesia.

Permasalahan kesenjangan pendidikan di Indonesia sendiri pada dasarnya bukanlah sebuah permasalahan baru. Sudah lama rasanya, pendidikan yang dienyam oleh mereka yang berekonomi menengah ke atas jauh lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas.

Mulai dari sekolah yang lebih bagus, fasilitas lebih lengkap hingga bimbingan belajar di luar sekolah adalah fasilitas-fasilitas yang jarang dinikmati oleh mereka yang hidup dalam ekonomi kelas ke bawah. Ketika peserta didik seharusnya menghasbiskan waktunya untuk belajar, nyatanya masih banyak siswa di Indonesia yang masih harus berjuang mengurus rumah tangga dan bekerja jika ingin melanjutkan sekolah mereka.

BPS setidaknya mengungkap sedikitnya terdapat 18 juta siswa yang juga terlibat dalam mengurus rumah tangga dan 3 juta siswa yang harus bekerja sambil mengenyam pendidikan di sekolah. Jika sekolah adalah pertandingan, mereka seolah petarung yang sudah kelelahan dipaksa bertarung dengan tangan kosong melawan para ksatria berpedang.

Kondisi ini bahkan berkembang jauh lebih parah ditambah dengan adanya pandemi yang mengubah metode pembelajaran menjadi berbasis daring. Perubahan metode pembelajaran ini sendiri sepatutnya diberikan apresiasi karena mampu menjadi solusi di tengahnya pandemi.

Namun apalah daya, perubahan yang mendadak ini tampaknya tidak diikutsertai dengan pembekalan yang matang baik bagi tenaga pengajar ataupun peserta didik. Akibatnya sistem yang dibangun menjadi rancu dan tidak dapat diikuti oleh semua peserta.

Menelisik dari sisi tenaga pengajar, kerancuan dalam metode pembelajaran dan ketidaksanggupan melakukan proses pembelajaran secara daring jelas menjadi tantangan utama mereka. Kerancuan metode pembelajaran terjadi seiring dengan kebijakan belajar di rumah ditetapkan namun tidak diikuti instruksi lebih lanjut.

Tidak ada metode pasti atau platform resmi yang berasal dari pemerintah, semuanya berjalan sendiri-sendiri. Sebagian guru melakukan pengajaran melalui aplikasi berbasis video seperti zoom dan google meet.

Ada juga yang hanya memberikan tugas rutin melalui aplikasi pesan singkat seperti Whatsapp atau Email. Masih banyak lagi metode pembelajaran lainnya yang tidak disadari terkadang metode tersebut sebenarnya tidak efektif dalam mengajar. Akibatnya kualitas pengajaran yang diterima siswa juga berbeda-beda.

Tidak berhenti di situ, kualitas pengajar juga menjadi tuntutan yang penting khususnya dalam penggunaan perangkat teknologi. Harus diakui tidak semua guru paham dan mengenal penuh teknologi yang ada saat ini.

Karenanya, pembekalan secara berkelanjutan diperlukan oleh para guru sehingga mereka khususnya para guru yang sudah berumur masih bisa mengikuti meski perlahan. Tidak tepat rasanya meninggalkan mereka terpuruk dimakan zaman karena yang paling dirugikan sekali lagi tentunya adalah para siswa.

Terlepas dari itu semua, tantangan terbesar sendiri tentunya dirasakan oleh para siswa itu sendiri. Tantangan terbesar bagi mereka tentunya adalah mengikuti pendidikan yang biayanya semakin mahal. Sistem pembelajaran berbasis daring mengharuskan mereka memiliki perangkat elektronik untuk tetap berhubungan dengan pengajar dan teman belajar mereka.

Tidak berhenti di situ, biaya untuk akses internet yang dibutuhkan juga tidak sedikit apalagi jika pengeluaran ini terus kontinu. Bagi mereka yang memiliki perekonomian menengah ke atas, pengeluaran seperti ini mungkin tidak terlalu berdampak, namun tentunya ini memiliki cerita yang berbeda bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Belum selesai di sana, persoalan lingkungan belajar juga menjadi masalah tersendiri yang dihadapi secara pribadi oleh para siswa. Tidak semua siswa memiliki ruang untuk belajar di rumah mereka. Sebagian dari mereka harus belajar di tempat orang tuanya bekerja atau bahkan di tempat mereka bekerja.

Kondisi rumah yang terkadang penuh tekanan juga tidak kadang memengaruhi kondisi pembelajaran para siswa. Hal-hal demikian jelas sangat memengaruhi kualitas pembelajaran yang diterima para siswa.

Rasanya memang tidak berlebihan jika sistem pembelajaran saat ini tidak memberikan ruang kompetisi yang sehat khususnya antara si kaya dan si miskin. Akses terhadap pendidikan sendiri mungkin terbuka, namun untuk berjuang di dalamnya dipenuhi dengan pertarungan modal dan infrastruktur.

Beberapa bukti di antaranya seperti dilansir oleh BPS yaitu hanya 59.33 persen dari seluruh siswa yang mampu mengakses internet dan hanya 24.11 persen yang menggunakan komputer. Di tengah zaman serba digital, nampaknya masih banyak siswa yang harus berjuang untuk memeroleh akses terhadap perangkat digital.

Perencanaan secara menyeluruh dan eksekusi yang tepat diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan kesenjangan pendidikan di Indonesia. Pembangunan sistem dan aplikasi belajar daring jelas menjadi salah satu solusi paling dinanti.

Pembelajaran secara daring bukanlah solusi sementara kala menghadapi pandemi, sebaliknya pembelajaran secara daring adalah bagian dari masa depan dunia pendidikan. Perlahan tapi pasti kita akan menuju ke sana oleh karenya segalanya perlu dipersiapkan. Mulai dari regulasi hingga penyediaan aplikasi resmi menjadi solusi yang tepat.

Persiapan lanjutan yang juga perlu mulai dipersiapkan oleh pemerintah adalah mulai memperlengkapi para tenaga pengajar dan para siswa. Pembekalan para guru khususnya pengenalan sistem dan aplikasi terpadu jelas diperlukan agar para guru bisa mengajar dengan baik.

Selain itu, para siswa juga perlu diperlengkapi mulai dari akses terhadap perangkat elektronik dan ruang belajar. Akses ini tidak harus pribadi namun bisa bersifat ruang publik yang bisa dimanfaatkan bersama. Jika sistem ini terus diperbaiki ke depannya bukan mustahil bahwa mereka yang tertinngal di pedalaman pun bisa mengenyam pendidikan yang setara.

Penulis adalah Statistisi Ahli BPS Kabupaten Padanglawas

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2