INTEGRASI ILMU BERBASIS PANCASILA - Waspada

INTEGRASI ILMU BERBASIS PANCASILA
Oleh : Salahuddin Harahap, S. Fil.I., MA.

  • Bagikan

48 Tahun UIN Sumut:
Sebagai sarjana Aqidah dan Filsafat Islam, saya akan mulai uraian ini dengan menegaskan kembali bahwa dalam Teologi Islam, telah umum dipahami kalau Ilmu (العلم) merupakan salah satu Sifat Allah Swt yang identik dengan Zat-Nya. Konsisten terhadap konsep tersebut, maka Ilmu atau ilmu pengetahuan telah memiliki setidaknya dua sifat yang amat substansial yakni sifat kesatuan dan sifat kesucian.
Dari Yang Maha Satu hanya akan lahir yang satu pula, begitu pun dari Yang Maha Suci hanya akan lahir yang suci pula.

Demikian dipahami dalam pembahasan teologi pada bab hubungan Allah Swt dengan asma, sifat dan dengan ciptaan-Nya. Dua karakter kesataun dan kesucian ilmu pengetahuan ini telah menjadi fondasi bagi rumusan paradigmatik Wahdatul ‘Ulúm, sehingga konsep ini dipandang menjadi pilihan yang tepat untuk mewadahi proyek integrasi ilmu pengetahuan.


Konsepsi Wahdatul ‘Ulúm seperti yang disering dijelaskan Prof. Syahrin Harahap, telah memberikan dua sebutan terhadap ilmu pengetahuan yang ada dan berkembang di dunia saat ini. Pertama, Islamic Sciences, yakni bidang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan materi alam semesta (Fisika, Biologi, Astronomi, Matematika dan turunannya).

Kedua, Islamic Studies untuk menyebut ilmu-ilmu yang secara langsung berbasis kewahyuan (Teologi, Filsafat Islam, Tasawuf, Fiqh, Tarbiyah dan Dakwah beserta turunannya).
Penting dijelaskan disini bahwa Islamic Sciencis dan Islamic Studies secara substantif merupakan satu kesatuan sebagai Ilmu Pengetahuan yang bersumber dari Ilmu (العلم) sebagai Sifat Allah Swt, seperti yang telah dijelaskan di atas. Akan tetapi ilmu-ilmu ini harus mengalami keterpisahan secara hierarkis mengikuti realitas wujud yang memang bersifat hierarkis (tasykîk al-wujúd).


Keniscayaan kebertingkatan (hierarkisme) pada ilmu pengetahuan, tentu saja mengharuskan adanya kebertingkatan pada ranah epistemologis. Dalam Islam, setidaknya terdapat empat tingkatan epistemologis (cara perolehan ilmu pengetahuan).
Pertama, nalar kenabian yakni pencapaian pemungsian akal secara unlimited hingga mampu mengakses keghaiban. Terhadap hal ini, para filsuf muslim memberi istilah akal ahdats yang melaluinya para nabi dan rasul menerima wahyu dari Allah Swt sebagai al-Àlim (العالم).


Kedua, nalar kewalian yakni pencapaian pemungsian akal hingga menembus alam metafisika. Terhadap hal ini filsuf muslim memberi istilah akal mustafàd yang melaluinya para filsuf, sufi, saintis telah memperoleh apa yang disebut ilham, karomah, ladunni, hudhuri, kasyaf dan berbagai istilah yang bermakna sejajar.
Ketiga, nalar saintifik yakni pencapaian pemungsian nalar pada alam fisik dan matematis yang darinya lahir hukum-hukum fisika dan matematika. Keempat, nalar empiris yang dengan menggunakan perangkat indrawi dapat mencerap fenomena dan karakter benda-benda yang hal ini sangat diperlukan dalam pengembangan eksprimentasi ilmu pengetahuan.


Keempat tingkatan epistemologi ini dapat berlaku pada ranah islamic scientis maupun pada Islamic Studies, dimana hal itu akan sangat bergantung kepada objek kajian serta tujuan pengkajiannya. Lihatlah, misalnya ketika al-Qur’àn dan Hadis menjelaskan tentang fenomena alam fisika lewat nalar kenabian. Sebaliknya, lihat juga bagaimana fisikawan dan teknokrat mengembangkan teknologi dengan mengambil inspirasi dari qissah para nabi atau bahkan dari informasi-informasi wahyu tentang surga (escatologis) dengan tetap menggunakan nalar saintifik.


Integrasi Ilmu Berbasis Pancasila
Pancasila telah mendudukkan konsep Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama dan menjiwai empat sila sesudahnya. Dari empat sila sesudahnya, terdapat setidaknya lima prinsip dasar yang bersifat universal yakni: kemanusiaan, keadilan dan keadaban, persatuan, hikmah dan kebikajsanaan dan keadilan sosial.
Dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, maka lima prinsip ini mesti diperpegangi. Sebab lewat upaya itulah, kemajuan ilmu pengetahuan akan mendorong terciptanya perkembangan teknologi dalam berbagai bidang yang dapat menunjang kemajuan, keadilan, perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia dan dunia.


Konsepsi pendidikan nasional kita perlu memastikan agar semua bidang ilmu pengetahuan yang dikembangkan di Indonesia harus berbasis realitas potensi dan kebutuhan rakyat dan bangsa. Potensi dan kebutuhan yang ada harus dibingkai oleh lima nilai yang disebutkan di atas yakni kemanusiaan, keadilan dan keadaban, persatuan, hikmah dan kebikajsanaan dan keadilan sosial. Konsepsi ontologis, epistemologis serta aksiologis ilmu pengetahuan kita harus disandarkan kepada nilai-nilai luhur universalitas ini, agar Indonesia dapat mewujudkan kemandirian serta menjadi pelopor bagi kemajuan peradaban dunia.


Penting mendudukkan bahwa lima nilai luhur tersebut berakar pada salah satu prinsip fundanental yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan begitu, dapat dilihat bahwa konsepsi ini telah mengisyaratkan adanya kesadaran Wahdatul ‘Ulúm dalam Pancasila. Jika pengembangan ilmu pengetahuan kita telah didasarkan kepada lima nilai luhur kemanusiaan, keadilan dan keadaban, persatuan, hikmah dan kebijaksanaan dan keadilan sosial yang notabene djiwai oleh Ketuhanan Yang Maha Esa, maka dapat kita sebut bahwa dalam konteks pengembangan ilmu pengetahuan, Indonesia telah pun memiliki kesadaran integrasif bahkan kesadaran Wahdatul ‘Ulúm.


Konsep Wahdatul ‘Ulúm yang dikembangakan oleh UIN Sumatera Utara dengan demikian tidak hanya dibangun di atas kesadaran Teologi dan Filsafat Islam, tetapi lebih radikal telah dibangun di atas kesadaran ideologi kebangsaan kita yakni Pancasila.
Dengan demikian, perlu memastikan bahwa pengembangan kirikulum berbasis Wahdatul ‘Ulúm, tidak saja mempertimbangkan integrasi ilmu umum dengan ilmu agama, tetapi juga harus meretas ketersekatan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia dengan Pancasila dan UUD sebagai yang mewadahi cita-cita luhur Bangsa Indonesia di masa mendatang.


Penutup
Perlu melakukan kajian lebih komprehensif untuk menghubungkan setiap pengembangan ilmu pengetahuan pada UIN Sumatera Utara, agar mempertimbangkan secara serius kebutuhan dan cita-cita luhur Bangsa Indonesia sebagaimana yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945. Lewat upaya itulah kita berharap UIN Sumatera Utara dan PTKIN secara umum dapat menjadi pelopor dan pemberi warna bagi pembaharuan konsepsi pendidikan nasional kita di masa mendatang. Wallàhu A’lam.

Salahuddin Harahap, S.Fil.I., MA.
Dosen Fakultas Ushuluddin & Studi UIN Sumatera Utara

  • Bagikan