Waspada
Waspada » Ingatan Tentang Medan Club
Headlines Opini

Ingatan Tentang Medan Club

Oleh Budi Agustono

Jika pemerintah membeli lahan dan Gedung, terbersit harapan pemerintah tidak merusak dan mengganti gedung dengan bangunan baru untuk berbagai kepentingan. Mempertahankan gedung Medan Club akan menjaga ingatan Medan Club sebagai medium penghubung kekinian dan kelampauan

Peninggalan bangunan bersejarah masa lalu di Medan sampai sekarang masih dapat disaksikan publik. Di belahan dunia kota-kota modern dan mendunia bangunan peninggalan masa lalu selalu dipelihara dan dirawat dengan baik sehingga mendatangkan decak kagum atas kemegahan dan pesonanya yang melampuai batas zaman, meski telah berusia ratusan tahun.

Makin dirawat dan dipelihara bangunan bersejarah ini makin menarik perhatian dunia untuk mendatangi bangunan bersejarah ini. Itu sebabnya dari belahan dunia kota besar yang tetap memertahankan bangunan bersejarah tidak pernah sepi dari kedatangan warga dunia lain bertandang ke negaranya untuk menikmati kemegahan dan kepesonaannya.

Di Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara, kekuasaan kolonial banyak meninggalkan bangunan bersejarah. Sampai sekarang ada yang masih dapat disaksikan publik, tetapi ada pula yang menghilang entah ditukar guling, dijual, rusak atau tak dirawat sampai menghilang dari permukaan bumi kota Medan.

Meskipun bangunan bersejarah masih ada yang berdiri dengan pesonanya, merekam dari perjalanan bangunan bersejarah ini, tidak pernah berhenti dari kecemasan akan menghilangnya bangunan bersejarah. Rasa cemas menyembul lantaran sewaktu-waktu survivalitas bangunan bersejarah dapat berstatus tidak menentu lantaran rusak, tidak terpelihara atau juga dijual pemiliknya ke modal besar.

Ketika berpindah tangan ke pemodal besar, bangunan bersejarah makin mencemaskan keberadaannya. Karena ia kapan saja dapat dimusnahkan berganti bangunan lain yang lebih modern untuk melayani kepentingan beroperasinya modal besar atau tetap dipertahankan berdiri untuk menjaga warisan budaya.

Sebelumnya terpublikasi dan meledak perdebatan publik tentang berpindahtangannya atau melego bangunan bersejarah peninggalan kolonial untuk keperluan bisnis dan perkantoran di lokasi strategis perkotaan. Bangunan bersejarah yang terleak di jantung kota satu demi satu berjatuhan dalam rengkuhan pemilik modal besar.

Paling akhir perdebatan publik yang mengundang keprihatinan publik adalah bekas Gedung pusat perbelanjaan modern di Kesawan masa kolonial, Warenhuis.

Warenhuis salah satu gedung megah di masanya sempat tidak menentu keberadaaannya. Gedung ini pernah diklaim sebagai gedung pemerintah setelah kemerdekaan. Belakangan gedung ini pernah dikuasai kalangan bukan pemerintah yang menguasai.

Setelah gedung Warenhuis ini diambil kembali pemerintah kota Medan belum lama, muncul pendakuan perorangan gedung yang berlokasi strategis di pusat kota ini miliknya. Akibatnya, pecah perdebatan publik soal kepemilikan gedung bersejarah ini.

Kepemilikan sah gedung ini sampai sekarang belum terselesaikan. Sementara gedung Warenhuis ini masih tetap seperti sediakalanya, masih belum terawat. Gedung masih saja tak berubah, masih kumuh dan jauh dari kesan layaknya gambaran gedung yang pernah mengalami kemegahan di masanya.

Hari-hari ini organisasi masyarakat sipil yang mengadvokasi Lapangan Merdeka menjadi cagar budaya sedang berpengadilan untuk memerdekakan Lapangan Merdeka dari serbuan modal besar kuliner yang memancangkan dirinya dengan ragam gerai kuliner di sisi Barat—dan berjuang untuk menetapkan Esplanade, nama lapangan ini di masa kolonial Belanda sebagai cagar budaya.

Jika ini tidak diperjuangkan dikahawatirkan nilai historis Lapangan Merdeka akan tenggelam dalam gegap gempita komodifikasi kuliner yang kian tak terkendali menyerbu kota Medan.

Nestapa bangunan bersejarah yang diselamatkan dari serbuan modal besar ini tidak berhenti di sini. Belum lama salah satu bangunan bersejarah yang lagi-lagi berlokasi di jantung kota adalah Medan Club.

Medan Club berdiri lebih dari paruh ketiga abad kesembilan belas sebagai tempat berkumpul (club house) orang kulit putih jagad raya yang bekerja di Medan dan kota satelit lainnya—setiap waktu datang menghabiskan waktu bersenang, ngobrol, bertemu sesama kawan di perkebunan, bisnis, birokrasi, perbankan dan percabangan macam okupasi.

Mereka sekaligus mendengar perkembangan situasi mutakhir negeri terjajah yang terkait dengan industri perkebunan. Medan Club merupakan tempat nyaman orang kulit putih melepaskan waktu setelah bekerja di tempatnya masing-masing. Tempat yang nyaman dan rindang ini terus berfungsi untuk kulit putih sampai kuasa kolonial rontok berganti dengan kekuasaan Jepang.

Pelihara

Di masa Jepang Medan Club tidak lagi digunakan seperti masa kolonial. Kekuasaan Jepang menjungkirbalikkan bangunan masyarakat kolonial dengan menggusur dan menghabisi nilai barat kolonial.

Termasuk mengalihfungsi Medan Club sebagai simbol kesenangan kulit putih di wilayah keresidenan Sumatera Timur menjadi kuil peribadatan Jepang, Shinto. Kuasa Jepang lebih terkonsentrasi pengelolaan eksploitasi ekonomi Sumatera (Timur) paralel dengan penggalangan dan pemobilisasian rakyat untuk pemertahanan keperluan perang Asia.

Ketika kekuasaan Jepang berganti dengan republik, Medan Club berada di Keresidenan Sumatera Timur dan Sumatera Utara setelah 1950. Tahun 1970-1980-an ingatan Medan Club sebagai tempat nyantai dan kongkow-kongkow kulit putih acap terdengar ke telinga publik.

Pejabat pemerintah, administratur, asisten perkebunan dan keluarga, penguasaha yang berelasi ke perkebunan, keluarga terpandang kesultanan dan kerabatnya selalu menikmati sajian makanan barat dan oriental sambil menonton film di tempat ini di akhir pekan.

Administratur dan Asisten kebun beserta keluarga acap menghabiskan waktu di di Medan Club yang masa itu tetap dianggap bergengsi dan berkelas makan malam dan menonton film di gedung yang teduh ini.

Bergengsi dan berkelas lantaran tidak semua kalangan masyarakat dapat menikmati teduhnya Medan Club, apalagi yang berkunjung orang terpandang sehingga menaikkan tempat ini sebagai tempatnya bersantai kalangan berpunya.

Sewaktu jagad ekonomi perkebunan tidak lagi mampu menegakkan sinarnya seperti sebelumnya. Pelan tapi pasti tamu yang berkunjung ke Medan Club berkurang ditambah lagi tumbuh kembangnya industri hiburan kian beragam dan diversifikasi okupasi terus bermunculan.

Ini menyebabkan Medan Club tidak lagi menjadi satu-satunya tempat bersantai dan nongkrong bagi kaum berpunya dan terpandang kota. Aura Medan Club makin hari terus menurun, tapi tidak sampai menenggelamkan kebesarannya.

Sekarang Medan Club lebih mudah diakses publik. Siapa saja bisa berkunjung ke restoran, cage dan menggunakan gedung untuk keperluan komersial. Namun bersamaan dengan maraknya industri hiburan dan kuliner lokasi baru tempat bersantai dan ngobrol bertebaran di berbagai penjuru kota.

Publik lebih memilih dan memburu lokasi resto dan café sesuai selera ketimbang kongkow di Medan Club. Belum lama publik mendengar Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) akan membeli lahan Medan Club.

Jika pemerintah membeli lahan dan gedung terbersit harapan pemerintah tidak merusak dan mengganti gedung dengan bangunan baru untuk berbagai kepentingan. Mempertahankan gedung Medan Club akan menjaga ingatan Medan Club sebagai medium penghubung kekinian dan kelampauan yang menjadi tonggak kemajuan pembangunan dan modernisasi di Medan.

Mempertahankan, menjaga dan merawat Medan Club sama sebangun dengan memelihara jati diri kota Medan.    WASPADA

Penulis adalah Pengajar Program Studi Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, USU.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2