Waspada
Waspada » Industri Rumput Laut Nasional
Headlines Opini

Industri Rumput Laut Nasional

Oleh Ir Pohan Panjaitan, MS, PhD

Rumput laut memiliki banyak potensi yang belum tergali. Dengan potensi yang sangat besar, 87% produk rumput laut saat ini masih diekspor dalam bentuk mentah (raw material)

Sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, Indonesia mempunyai sekitas 2 juta hektare luas perairan laut dangkal yang cocok sebagai tempat budidaya rumput laut.

Merujuk data yang dirilis oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 2019, Indonesia menjadi produsen nomor satu di dunia untuk rumput laut jenis Eucheuma cottoni dan menguasai lebih dari 80 persen pasokan untuk dunia.

Untuk jenis Eucheuma cottoni ini, Indonesia sudah berhasil melakukan pengembangan dengan teknologi kultur jaringan melalui kerja sama antara Kementrian Kelautan dan Perikanan dengan Seameo Biotrop Bogor. Dengan kultur jaringan, jenis rumput laut Eucheuma cottoni unggulan, diharapkan akan bisa stabil dan tahan terhadap serangan penyakit.

Budidaya rumput laut, dapat dikembangkan di pulau-pulau terpencil seperti Pulau Nias wilayah provinsi Sumatra Utara dan Pulau Banyak wilayah provinsi Aceh serta daerah pesisir lainnya di Indonesia—mempunyai potensi besar dalam pengembangan industri rumput laut.

Rumput laut menjadi primadona sebagai penghasil devisa negara non migas dalam subsektor perikanan budidaya. Di tengah pandemi Covid-19 yang memengaruhi kegiatan ekonomi nasional, produksi rumput laut secara nasional didorong untuk melaksanakan produksi dengan baik dan melaksanakan kegiatan ekspor dengan rutin untuk menyumbangkan devisa kepada negara.

Rumput laut sebagai komoditi andalan bagi subsektor perikanan budidaya, setiap tahunnya selalu menjadi komoditi yang menyumbangkan kontribusi terbesar terhadap nilai ekspor perikanan secara nasional. Aktivitas budidaya rumput laut diharapkan turut menyumbang devisa di tengah dampak ekonomi akibat Covid-19 yang memengaruhi kinerja ekonomi nasional.

Kinerja positif pembudidaya rumput laut, akan mempercepat tercapainya industri rumput laut secara nasional. Dengan industrialisasi, pengembangan bisa semakin mudah dilakukan karena akan ada keterlibatan lintas sektoral di dalamnya.

Rumput laut memiliki banyak potensi yang belum tergali. Dengan potensi yang sangat besar, 87% produk rumput laut saat ini masih diekspor dalam bentuk mentah (raw material). Padahal kebutuhan industri akan produk rumput laut beserta turunannya sangat besar.

Tercatat ada sekitar 500 jenis produk turunan rumput laut, baik yang bisa digunakan untuk produk makanan hingga kosmetik. Hal ini tentu dapat menggerakkan perekonomian nasional dan menyerap tenaga kerja.

Jika kedaulatan teknologi budidaya perairan khususnya rekayasi teknologi pengolahan hasil budidaya rumput laut sudah tercapai di Indonesia. Maka 500 jenis produk turunan rumput laut dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakat.

Budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan sistem monokultur di laut untuk jenis Eucheuma cottonii dan dengan sistem polikultur di unit tambak udang. Bahkan rumput laut Gracilaria bisa mengurangi resiko serangan virus yang menyebabkan penyakit white spot pada budidaya udang.

Walaupun demikiab harus diketahui juga bahwa masih ada masalah yang dihadapi dalam pengembangan budidaya rumput laut di Indonesia. Masalah utama yang dimiliki para pembubudidaya rumput laut adalah kurang tersedianya sarana dan prasarana budidaya rumput laut misalnya bibit dan peralatan budidaya rumput laut.

Akibat keterbatasan sarana dan prasarana tersebut maka biaya produksi dan pemasaran tinggi. Sebagai contoh pengiriman rumput laut oleh pembudidaya rumput laut ke sentra pemasaran rumput laut dengan biaya tinggi terutama di daerah terpencil. Permasalahan ini semestinya bisa diatasi melalui pengembangan industri rumput laut secara nasional.

Apabila pemerintah telah membangun industri budidaya rumput laut nasional di Indonesia maka lintas sektoral akan bisa ikut terlibat dalam pengembangan rumput laut. Mulai dari proses produksi di hulu, sampai ke proses pengolahan dan pemasaran yang ada di hilir.

Semoga pemerintah selaku regulator dapat membangun industri rumput laut nasional. Selain menciptakan industri budidaya nasional, pemerintah juga sudah seharusnya mengembankan teknologi rakayasa hasil budidaya rumput laut agar Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah (raw meterial) ke negara lain. Waspada

Penulis adalah Dosen Tetap dan Ahli Budidaya Perairan Universitas HKBP Nommensen Medan.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2