Waspada
Waspada » In Memoriam Panusunan Pasaribu
Headlines Opini

In Memoriam Panusunan Pasaribu

Oleh Budi Agustono

Di manapun posisinya ia tak pernah menggenggam erat wibawa untuk dihargai orang. Panusunan Pasaribu tidak mencari hormat dan wibawa…

Panusunan Pasaribu lahir Juni 1946, satu satu setelah Indonesia memproklamirkan sebagai bangsa merdeka tahun 1945. Juni 2020 lalu usia Panusunan Pasaribu genap 74 tahun, lebih muda satu tahun dari usia republik. Meski telah sepuh, tetapi kesehariannya Panusunan Pasaribu terlihat enerjik, cekatan dan tangkas menjalankan aktivitas pekerjaannya.

Penusunan Pasaribu mengawali karirnya sebagai Aparatur Sipil Negara tahun 1970-an yang pelan tapi pasti karirnya terus menanjak naik menejadi birokrat senior di Sumatera Utara. Ia pernah memegang jabatan penting di kabupaten dan provinsi mulai dari Sekretaris Badan Perancanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumatera Utara, Sekretaris Daerah Tapanauli Selatan, Sekretaris Daerah Simalungun, Bupati Tapanuli Tengah sampai Kepala Dinas Pendapat Sumatera Utara. Terakhir Ketua Majlis Wali Amanat Universitas Sumatera Utara (MWA USU) periode 2015 – 2020.

Sebagai birokrat senior dan handal beserta kedudukan yang pernah dipegangnya menempat dirinya sebagai tokoh yang mempunyai pergaulan sosial Sumatera Utara. Selain itu ia dan saudara kandungnya Bomer Pasaribu, Syahrul Pasaribu dan Gus Irawan Pasaribu merupakan orang ternama dan terpandang dalam masyarakat Sumatera Utara. Terlebih lagi di bekas kabupaten Tapanuli Selatan sebelum dan sesudah dibelah menjadi beberapa kabupaten/kota yang tentunya menjulangkan trah Pasaribu ini sangat dikenal luas sampai lubuk hati masyarakat Mandailing.

Meski pensiun sebagai birokrat senior, tetapi passion bergaulnya dengan beragam kalangan masyarakat tetap dijaganya sampai dirinya menjadi MWA USU. Sebagai orang nomor satu di USU ia tidak memandang dirinya lebih tinggi dari yang lain. Ia bersahaja, berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dimengerti dengan semua orang, akomodatif dan adaptif dengan semua kalangan sehingga membuatnya dekat dengan siapa saja.

Dua tahun lalu saya dan Panusunan Pasaribu diminta Rektor USU Runtung Sitepu mewakili USU untuk menghadiri wisuda santri di Pondok Pesantren Modern Daarul Muhsinin. Janji Manahan, Tanjung Siram, Labuhan Batu.

Kami bersepakat ke Pondok Pesantren Modern dengan kereta api malam dari Stasiun Kereta Api. Panusunan Pasaribu tiba di Stasiun Kereta Api lebih dulu. Sesampainya di stasiun kereta api ia menelpon saya beberapa kali menanyakan posisi saya yang belum juga terlihat di stasiun kereta api. Ia menelpon bukan lantaran tak sabar menunggu, tetapi ia khawatir kalau saya terlambat tiba stasiun kereta api. Itulah kepeduliannya terhadap kawan.

Ketika kereta api bergerak menuju Kisaran kami berdiskusi dan berkongsi pikiran. Saya lebih banyak mendengar dan mencerap pengalaman hidup dari orang yang bertubuh kecil ini yang pernah menjadi elit lokal ini. Ia menuturkan dengan rileks, santai, dan acap diselingi lelucon yang memancing rasa tawa.

Dari penuturannya pengalaman hidupnya yang puluhan tahun sebagai birokrat dan terus bertahan di sepanjang karirnya saya menyimpulkan di kereta api malam itu Panusunan Pasaribu tak menyukai konflik. Tetapi jika terjadi konflik harus diselesaikan bukan dengan jalan frontal apalagi dihadapi dengan konflik.

Konflik diselesaikan dengan cara dialog dan musyawarah meskipun meminjam bahasanya berputar memakan waktu lama. Dalam menyelesaikan konflik saya lebih suka menggunakan falsafah Jawa katanya.

Pagi harinya kami tidak sempat beristirahat, sesampai di pesantren modern kami mengikuti kegiatan wisuda santri. Dalam acara wisuda ini Panusunan Pasaribu memberi sambutan sebagai tokoh masyarakat. Di sela sambutannya ia selalu menyelipkan lelucon mengundang tawa.

Ia berbicara tidak terlalu formal karena juga suka dengan formalitas apalagi jika keformalan digunakan sebagai menaikkan wibawa seperti layaknya banyak birokrat, ia hindari jauh formalitas itu.

Karena menjauhi formalitas ia selalu tampil santai, easy going, dan lebih memakai bahasa sederhana sambil melempar canda sehingga mengundang pendengarnya tertawa. Begitulah gaya Panusunan Pasaribu saat memberi pengantar (sambutan ) di Pondok Pesantren Modern beberapa tahun lalu. Gaya santai dan easy going menyembul kuat dalam dirinya.

Meski memiliki pergaulan sosial luas kalangan elit lokal, birokrat daerah dan provinsi kabupaten dan provinsi Panusunan Pasaribu tidak pernah menyimpan pergaulan sosialnya ini didekap untuk dirinya sendiri. Siapa saja yang meminta uluran tangannya berhubungan dengan birokrat yang dikenalnya, meski saat ini sebagai pensiunan birokrat ia banyak mengenal birokrat daerah yang menaruh hormat padanya.

Panusunan Pasaribu dengan cepat membantunya malah dengan enteng menelpon orang yang ingin dihubungi agar segera mungkin dapat bertemu menyempaikan keperluannya. Jika bertemu dengan orangnya ia tak segan menemaninya dan turut terlibat dalam pembicaraan dan selalu memberi pendapat dan komentar. Baginya semua sama tidak ada jarak dengan siapapun.

Milenial

Setelah menjadi anggota dan Ketua MWA USU, Panusunan Pasaribu banyak terlibat dengan pengembangan dan kegiatan akademik di universitas tertua di pulau Sumatera ini. Meski usianya tidak muda lagi tetapi tidak menghalangi menuntaskan pekerjaannya.

Sebagai ketua ia masih enerjik dan gagasannya masih terang memberikan pemikiran, pandangan dan pendapat tentang program dan kegiatan akademik di USU. Dalam kesehariannya ia lagi-lagi tidak terikat sekat sosial dalam menjalankan pekerjaannya. Ia cepat berkomunikasi dengan orang yang jauh lebih muda darinya.

Demikian pula berinteraksi dengan para guru besar, senat akademik, dosen dan tenaga kependidikan bahasa tubuhnya sangat dekat dengan civitas akademi USU. Dalam kegiatan apapun setiap kali ada yang mendapuknya memberi sambutan ia tidak pernah lupa melontarkan kata lelucon dan candaan untuk memecah suasana dan mendekatkan dirinya dengan orang-orang yang disapanya.

Di manapun posisinya ia tak pernah menggenggam erat wibawa untuk dihargai orang. Panusunan Pasaribu tidak mencari hormat dan wibawa karena semua ini telah didapatnya sewaktu menjadi birokrat senior di kabupatan dan provinsi Sumatera Utara. Ia tidak memerlukan semua ini, apalagi harta karena ia telah memilikinya. Ia tidak mencari dan memburu harta di USU.

Sebagai orang yang mempunyai tanggungjawab menentukan anggaran program dan kegiatan Universitas Sumatera Utara dan juga mkenjalankan tumpukan kegiatan sosial di banyak tempat termasuk di bekas kabupaten Tapanuli Selatan ,untuk menjalankan semua aktivitasnya diperlukan kondisi fisik yang bugar.

Kebugaran tubuhnya tetap dirawatnya dengan renang, jogging dan golf masa sebelum pandemi global. Terkadang ia mengajak sahabat berenang bersama dan berolah raga golf di berbagai tempat. Renang dan golf dilakukan dengan berpindah tempat. Kemana saja pergi bekerja dan beraktivitas, pagi harinya tidak pernah meninggalkan olahraga.

Ia sadar betul dengan usia yang tidak muda lagi harus menjaga kesehatan tubuh. Dengan kesehatan dan kebugaran tubuh inilah ia menjalankan pekerjaan dengan baik.

Meski tergolong generasi kolonial Panusunan Pasaribu tidak mau kalah dengan generasi milenial. Ia sangat dekat dengan media sosial. Setiap kali ada kegiatan yang dianggapnya pantas diketahui publik diunggahnya di media sosial.

Berbagai momen mulai dari urusan pekerjaan, urusan dinas, kegiatan sosial, berkumpul dan bersua dengan karibnya dari ragam latar belakang sosial mulai dari elit lokal sampai orang biasa selalu disebarkannya ke media sosial. Pun sewaktu dirinya mencebur di kolam renang di berbagai daerah atau juga saat ia mengayunkan stik golfnya memelantingkan bola golf di lapangan rumput nan hijau selalu diunggahnya di media sosial.

Malah saat di media sosial seperti yang disampaikan koleganya, ia selalu menulis komentar di dinding obrolan media sosial. Ketika ia memberi komentar di dinding obrolan media sosial ia tidak lagi memandang dirinya sebagai tokoh masyarakat, tetapi ia menyatukan dirinya dalam rengkuhan dunia maya yang dibaca ke seluruh jagad raya. Inilah sikap egaliter mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Simalungun.

Di penghujung 2020 setelah purna bakti dari USU, ia sibuk dengan kegiatan sosial di Medan dan Tapanuli Selatan. Ia sering mondar mandir Medan – Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan). Beberapa hari menjelang tutup tahun 2020 tepatnya Rabu 30 Desember 2020 menyebar berita yang menjalar cepat dari grup WhatsApp ke media sosial menyampaikan Panusunan Pasaribu berpulang dipanggil Sang Pencipta.

Kabar duka menyelimuti USU dan masyarakat Sumatera Utara. Seorang tokoh masyarakat dan salah seorang birokrat senior yang disegani yang mewakafkan hidupnya untuk Universitas Sumatera Utara telah meninggalkan kita selamanya. Selamat jalan Abangda Panusunan Pasaribu. Waspada

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2