Waspada
Waspada » Idul Adha mengajarkan Keikhlasan dalam cobaan berat
Opini

Idul Adha mengajarkan Keikhlasan dalam cobaan berat

 

#Waspada Covid-19 adalah Syahid

Alhamdulillah… Ummat Islam segera memperingati Iedul Adha atau Hari Raya Kurban yang insya Allah jatuh pada hari Jumat 31 Juli 2020 bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijjah 1441 H.

Penulis ingat do’a khatib sholat jumat yang lalu di Masjid BKKBN Pusat meminta kepada Allah SWT Sang Pencipta dan Maha Mengatur segala sesuatu di alam semesta, agar dicabut musibah Pandemi Covid-19, supaya Ummat Islam bisa melaksanakan Sholat Iedul Adha bersama, dilanjutkan memotong hewan kurban sebagai wujud menteladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS yang atas perintah Allah SWT bersedia dan ikhlas mengorbankan Ismail putra tercinta yang lama dinantikan kelahirannya untuk dijadikan sebagai kurban.

Dan memohonkan pula agar Ummat Islam yang mampu dapat kembali memenuhi rukun keislamannya melaksanakan Haji di Padang Arafah serta Ibadah dan ziarah di Makkah dan Madinah.

Sehari sebelumnya, pada 9 Dzulhijjah sekitar 3 juta Ummat Islam yang berniat Haji berkumpul sejak pagi hari di padang Arafah, suatu padang pasir luas terbuka yang terletak 19 Km sebelah timur kota Makkah di Kerajaan Arab Saudi, tempat dimana Nabi Adam dan Hawa diturunkan dari Surga ke Bumi.

Saat paling dinanti adalah ketika tiba waktu dhuhur, saat mana dimana salah satu dari 6 rukun haji dilaksanakan mulai dari sholat dzuhur dan ashar dijamak qasar, mendengar Khutbah Wukuf dan dilanjutkan memperbanyak do’a memohon ampunan dan keberkahan Allah SWT.

Pengalaman penulis saat menjadi Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI 2013-2019) melihat tidak semua Jamaah haji bisa wukuf bersama di Arafah.
Ada ratusan jamaah sakit harus melalui mekanisme Safari Wukuf, diperjalankan dari Rumah Sakit dengan dukungan fasilitas Kesehatan (darurat) dengan ambulans atau Bus yang dipersiapkan menuju wilayah Arafah dan tetap berada didalam kenderaan berdoa dibimbing petugas Haji dan kemudian kembali ke Rumah Sakit.

Ratusan lainnya karena penyakit berat sehingga tidak bisa dimobilisasi melalui Safari wukuf dan yang telah wafat, akan di badal haji kan oleh petugas ibadah haji yang ditetapkan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji Indonesia.

WABAH PANDEMI COVID-19

Pada tahun 2020 ini bertepatan dengan tahun 1441 Hijriyah, situasinya BERBEDA.

Kondisi nya hampir sama diseluruh dunia. Dampak ganas virus Covid-19 telah membuat banyak Negara menutup aktivitas transportasi dan mobilitas manusia antar Negara.

Setiap Negara sedang perang mengendalikan transmissi virus yang begitu unik, cepat, luas, merusak, bukan hanya menjadi masalah Bidang Kesehatan, tetapi dampaknya meluas mengancam aktivitas manusia.
Manusia harus membatasi gerakan dan aktivitasnya, karena penyebaran virus Covid-19 sangat bergantung pada GERAKAN manusia.

Publikasi yang dibuat @honest_physio pada Maret 2020 pada suatu flyer viral tertulis “The Virus Doesn’t Move. People Move it. We Stop Moving, The Virus Stops, It Dies. Its That Simple”. Maknanya bahwa Virus Covid-19 sesungguhnya diam tidak bergerak, tetapi Manusia lah yang membuatnya bergerak dan berpindah antar Manusia.

Jika kita diam (#Dirumah saja) maka Virus Covid-19 pun diam, selanjutnya mati. Sederhana kan?…

ANTARA IEDUL FITHRI DAN IEDUL ADHA 1441H

Sejak Indonesia terpapar virus Covid-19 pada awal Maret 2020, Bapak Presiden Jokowi sudah meminta seluruh masyarakat untuk #Belajar dari rumah, Bekerja dari rumah dan Beribadah di Rumah.

Dilanjutkan dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dibeberapa wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang memenuhi syarat kegawatdaruratan dan kemampuan social.

Bulan berikutnya Lembaga-lembaga Keagamaan termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) membuat Edaran keseluruh Rumah Ibadah untuk menutup aktivitas Ibadah sholat 5 (lima) waktu dan sholat Jumat.

Dukungan masyarakat dan pengorbanannya untuk tidak beribadah di Rumah ibadah, ternyata belum optimal, apalagi 2 bulan terakhir dilakukan Pelonggaran PSBB.
Hal itu bisa dilihat dari perkembangan penyebaran Kasus antar waktu.

Saat hari raya Iedul Fithri pada 24-25 Mei 2020 :
Kasus Dunia : 5.470.621 orang, dan Kematian 349.411 orang
Indonesia : 22.271 orang dan kematian 1.372 org.

Tiga hari menjelang Iedul Adha, 28 Juli 2020 (64 hari stlh Iedul Fithri):
Kasus Dunia : 16.689.533 orang (Bertambah 3 kali), Kematian 657.502orang (Bertambah 1,9 kali)
INDONESIA : 102.051 orang (bertambah 4,6 kali) dan Kematian 4.907 orang (3,6 kali).

Antara Iedul Fithri dan Iedul Adha, sekitar 64 hari, tampak dari data diatas bahwa PERTAMBAHAN kasus Indonesia 1,5 kali lebih cepat dari dunia, dan kematian 1,9 kali dibanding angka dunia.

Selain FATALITAS kasus di Indonesia yang lebih tinggi dibanding rata-rata Dunia.
Juga dilaporkan bahwa usia yang terserang virus Covid-19 menyerang semua usia, sejak Balita hingga Lanjut Usia, dan yang terbanyak pada usia diatas 40 tahun, terutama sangat berisiko kematian pada kasus dengan penyakit penyerta (komorbiditas) seperti Hipertensi, Penyakit Jantung, Diabetes, Gangguan Paru serta Asma.

Masalah lainnya yang menonjol, bahwa penyebaran virus Covid-19 ini menurut WHO telah terjadi transmisi antar orang dan masyarakat (community spreads) dan melalui moda transportasi (transport spreads), disamping terjadi melalui media udara tidak hanya melalui droplets/percik ludah orang terinfeksi yang batuk/bersin.

Repotnya, diketahui pula bahwa lebih 60% mereka yang terinfeksi Covid-19 berada disekitar kita karena dia tidak memiliki gejala khas orang sakit. Orang ini disebut Orang Tanpa Gejala (OTG).

DUNIA GUNAKAN HADIST RASULULLAH MENCEGAH COVID-19

Sebagai manusia yang diciptakanNya “..sesempurna sempurnanya ciptaan”. Dan mendapat tugas Khalifah atau pemimpin diatas dunia sebagai “rahmatan lil’alamin”, maka semangatnya di gerakkan perintah Allah SWT untuk “menolong sesama adalah sama dengan menolong seisi dunia”.

Peristiwa pandemik Wabah pernah terjadi di zaman Rasulullah Muhammad SAW, pada abad ke-7 sekitar tahun 632 M atau tahun 18 Hijryah.
Ketika itu terjadi Wabah Tha’un di Amwas, Negeri Syam, wilayah tempat lahir semua agama Jahudi, Kristen dan Islam.
Ketika itu sekitar 20.000 orang meninggal, atau lebih separuh dari penduduk Negeri Syam.

Dr.Craig Considine, seorang Sosiolog populer Rice University Amerika Serikat, yang Opininya luas keberbagai media global seperti New York Times, CNN, Al Jazeera, Newsweek, BBC, CBS News, Washington Post, France-24, Toronto Star dan banyak lagi.
Menulis di Newsweek pada pertengahan Maret 2020 tentang Pemikiran dan Kebijakan Nabi Muhammad SAW menghadapi Wabah.

Considine membuat kejutan dengan artikel berjudul, “Can the Power of Prayer Alone Stop a Pandemic like the Coronavirus? Even the Prophet Muhammad Thought Otherwise”.

Maknanya kira-kira, Bisakah Do’a menghentikan Pandemi Covid-19, Sementara Nabi Muhammad SAW berfikir sebaliknya seperti Hadist yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, “Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri, maka jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu, janganlah kalian keluar untuk lari darinya”. (H.R.Bukhari & Muslim).

Sabda Rasulullah SAW itu kemudian menginspirasi Management Disaster dengan istilah : Lockdown, Quarantine, Isolation dan Social Distancing.
Bahkan kepada mereka yang rela dan sabar patuh berdiam di wilayah wabah (karena dilarang), Rasulullah SAW mengatakan mereka Syahid.

Kata Consideine “Muhammad, Nabi umat Islam, lebih dari 1.300 tahun silam sekalipun bukanlah seorang ahli tradisional dalam soal penyakit mematikan. Namun Nabi Muhammad telah menyampaikan nasihat yang sangat baik untuk mencegah dan memerangi perkembangan (penyakit mematikan) seperti Covid19”.

BAGAIMANA IBADAH IEDUL ADHA KITA

Berangkat dari peristiwa yang sama di Negeri Syam, Akibat yang kemudian terjadi dan Sabda Rasulullah SAW, maka Ummat dan Ulama masih diminta kecerdasan dan keikhlasannya untuk aktif mencegah penularan Virus Covid-19 yang semakin meluas di Indonesia.

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau :

1.Idul Adha merupakan momentum untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah SWT dengan berbagai rangkaian ibadah sebagai komitmen ketertundukan dan ketaatan. Diharapkan dengan ketaatan yang optimal bisa menjadi modal utama dalam menyelesaikan kasus-kasus yang terjadi di masyarakat, khususnya terkait wabah Covid-19.

2.Pada Rabu 29 Juli 2020 atau 8 Dzulhijjah, disunnahkan melaksanakan puasa Tarwiyah (saat normal, jamaah haji berada di Tanah Haram untuk berdoa).

3.Pada Kamis 30 Juli 2020 atau 9 Dzulhijjah, disunnahkan berpuasa Arofah (yang pada saat normal jamaah haji melaksanakan wukuf di Arofah).

4.Pada Kamis malam Jumat, disunahkan untuk melaksanakan takbir, tahmid, dan tahlil dengan mengagungkan asma Allah. Baik sendiri dan bersama Keluarga atau Rekan mematuhi protokol kesehatan dengan menghindari kerumunan, memakai masker, dan menjaga jarak.

5.Pelaksanaan Shalat idul Adha pada 10 Dzulhijjah atau Jumat 31 Juli 2020 yang hukumnya sunnah muakad. Untuk daerah yang belum sepenuhnya terkendali, pertimbangkan kondisi faktual dan sebaiknya SHOLAT IED DI RUMAH sesuai rukun sholat Ied.

Untuk kawasan yang mulai terkendali maka Shalat Idul Adha dapat dilaksanakan di masjid, mushala, lapangan, gedung-gedung atau tempat lain, tetapi harus tetap istiqamah menjalankan PROTOKOL Kesehatan. Memakai masker, membawa sajadah dari rumah, menjaga jarak, dan Kesehatan prima.

6.Penyembelihan hewan kurban pada 10, 11, 12, dan 13 Hijriyah atau Hari Tasyrikh, dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan atau di tempat-tempat lain dengan melaksanakan protokol kesehatan.

Semua unsur yang terlibat memakai masker, membawa peralatan sendiri (bagi petugas penyembelih hewan), menjaga jarak, diatur menghindari kerumunan, petugas benar-benar kondisi kesehatan prima dan area/tempat penyembelihan dijaga kebersihannya dan di desinfektan.

#Pengorbanan dan keikhlasan ulama dan ummat untuk mencegah diri dari wabah (virus Covid-19), disabdakan Rasulullah SAW setara dengan pahala Syahid.

Selamat Iedul Adha 1441 H, semoga Do’a Ulama dan Ummat untuk keselamatan Bangsa dan Negara Indonesia diijabah Allah SWT.

Jakarta, 28 Juli 2020, jam 22.20

Dr.Abidin/ GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

*) Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Mantan Deputi BKKBN/ Mantan Komisioner KPHI/ Mantan Kepala Pusat Promkes Depkes RI/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Ketua Orbinda PP IKAL Lemhannas.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2