Waspada
Waspada » Hoaks dan Kita Oleh Adnan
Opini

Hoaks dan Kita Oleh Adnan

 

Hoaks atau berita bohong merupakan patologis baru dalam kehidupan sosial. Munculnya ragam media cyber telah menyuburkan berita hoaks nyaris di seluruh kalangan. Bahkan kadang hoaks berkembang di dunia akademisi yang dianggap lebih rasional sekalipun.

Ironisnya, berita hoaks telah mengubah persepsi publik tentang sesuatu, hingga hoakspun menjadi kebenaran di ruang publik. Sosiolog asal Prancis, Jean Baudrillard (1929-2007), menyebut hal ini dengan terminologi simulacra, yakni realitas semu yang dibangun atas dasar citra sesuai dengan berita meski hoaks.

Bahkan, kita, sebagai pengguna media cyber sangat mudah dalam menyebarkan berita hoaks tanpa klarifikasi (tabayyun) terlebih dulu. Artinya, menjamurnya media cyber tidak dibarengi dengan edukasi kepada publik mengenai dampak negatif yang diperoleh dari perkembangan media baru ini.

Maka tidak dapat dipungkiri bahwa, hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020 menyebutkan bahwa, pengguna internet di Indonesia mencapai 196,7 juta jiwa dari 270,20 juta jiwa penduduk Indonesia, merujuk hasil sensus penduduk tahun 2020.

APJII juga menyebut bahwa 91 persen pengguna aktif internet berasal dari kalangan melenial. Selain itu, Kementerian Informasi dan Informatika Republik Indonesia merilis data bahwa, ada sebanyak 800.000 lebih situs penyebar berita hoaks di Indonesia.

Ini sangat mengkhawatirkan jika masyarakat tidak mendapatkan edukasi secara komprehensif tentang bahaya hoaks di media cyber. Sehingga akan berefek pada persepsi keliru publik dalam kehidupan sosial.

Bahkan, jauh-jauh hari sebelum pesatnya media cyber, Jeff Zaleski, seorang pakar komunikasi dunia asal dalam bukunya “Spiritualitas Cyberspace” menyebut bahwa perkembangan dunia informasi dan komunikasi telah mencapai tahap yang mencengangkan dan mengkhawatirkan kita.

Satu sisi melahirkan nilai-nilai positif dan mampu mengangkat martabat manusia. Tetapi, di sisi lain perkembangan informasi baik melalui media cetak, elektronik hingga media sosial, jika tidak dibingkai dengan nilai-nilai agama hanya akan melahirkan keresahan, kerusakan. Bahkan kehancuran bagi manusia.

 

Maka ia merekomendasi agar adanya penyeimbang, supaya ruang publik di media sosial (cyberspace) tidak berwajah tunggal, wajah yang bengis. Kehadiran agama di dunia maya adalah satu usaha untuk menyeimbangkan cyberspace. Dari sini dapat dipahami bahwa, hoaks dan kita sangat dekat dan rentan terkena siapa saja.

Pandangan Alquran

Maka diantara edukasi yang mesti diberikan kepada publik yakni pandangan agama atau kitab mengenai berita hoaks. Semisal, Alquran merupakan kitab suci umat Islam yang memiliki perhatian khusus untuk mengedukasi pembaca mengenai berita hoaks. Sebagaimana diungkap dalam ayat berikut:

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar” (Qs. An-Nur: 11).

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Al-Qur’anul Adhim, mengungkapkan bahwa, asbabun nuzul ayat di atas berhubungan dengan penyebaran berita hoaks yang menimpa Aisyah Ra. Ummul Mukminin dituduh telah berbuat serong di belakang Baginda Nabi SAW.

Berita hoaks ini dikembangkan oleh dedengkot kaum munafik, bernama Abdullah bin Ubay bin Salul. Tersebarnya berita hoaks ini telah membuat baginda sedih dan murung, hingga akhirnya wahyu diturunkan oleh Allah SWT sebagai klarifikasi kepada sang Baginda dan kaum muslimin. Ayat di atas memberikan ancaman yang dahsyat kepada penyebar berita hoaks.

Berita hoaks dalam ayat di atas di sebut dengan kata al-ifku. Dimana kata ini di ulang sebanyak 22 kali dalam Alquran, yang bermakna sebuah perkataan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Perkembangan media sosial yang semakin pesat dan menggeliat telah tumbuh suburnya penyebaran berita hoaks di Indonesia.

Mestinya, penduduk Indonesia yang mayoritas muslim hendaknya dapat memusnahkan maraknya berita hoaks di media sosial. Mereka menjadi dai-dai ulung di era modern pada media sosial dengan menjaga etika bermedia: Stop menyebarkan berita bohong.

Bukan sebaliknya, umat Islam yang terjebak dalam penyebaran berita hoaks itu sendiri. Maka Alquran berpesan, agar melakukan proses klarifikasi, cek dan ricek dalam menerima sebuah berita, yang disebut dengan istilah tabayyun.

Konsep tabayyun ini diungkap dalam Alquran berikut ini: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujarat: 6).

Quraish Shibab dalam tafsirnya, Al-Misbah, mengungkapkan bahwa, kata in pada kalimat in jaakum pada ayat di atas bermakna ‘jika’, kata yang biasa digunakan pada sesuatu yang diragukan dan jarang terjadi. Hal ini sebagai indikasi bahwa, kedatangan orang fasik kepada orang beriman jarang terjadi, sebab sulit dibohongi.

Selain itu, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, Al-Qur’anul Adhim, berpesan bahwa, hendaknya seseorang janganlah percaya dengan segala bentuk berita yang diterima, apalagi berita yang berasal dari orang fasik dan munafik. Karena dikhawatirkan berita tersebut belum jelas kebenarannya, yang berakibat pada hancurnya tatanan kehidupan sosial beragama.

Selain itu, Quraish Shihab mengungkapkan bahwa hal ini disebabkan oleh setiap manusia tidak dapat menjangkau seluruh informasi secara mandiri. Sehingga ia membutuhkan pihak lain yang memiliki integritas dalam menyaring sebuah berita, sehingga hanya menyampaikan hal-hal yang benar.

Sebab ada pula sebaliknya, seseorang yang memiliki jiwa munafik dan fasik akan membawakan berita-berita hoaks untuk memecah belah kehidupan anak bangsa. Maka untuk menghindari hal tersebut, berita perlu di saring terlebih dahulu. Baca dulu, Saring, baru sharing! Dengar dulu, saring, baru like and share.

 

Banyak konflik terjadi, fitnah disana-sini, permusuhan dimana-mana, perkelahian saban hari, guru tak lagi dihormati, silaturahmi menjadi langka, pemimpin tak lagi dipercaya, Covid-19 dianggap pura-pura, Vaksin menjadi barang adu-domba, disebabkan oleh berita bohong di media yang merajalela. Maka hoaks sangat berbahaya dalam kehidupan sosial berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia.

Karena itu, Alquran berpesan kepada pembacanya agar mengedepankan etika dalam bermedia, yakni menggunakan perkataan yang menyentuh (qaulan baligha), mulia (qaulan karima), lemah lembut (qaulan maysura), terpuji (qaulan ma’rufa), benar (qaulan sadida), lembut (qaulan layyina), dan hindari perkataan dusta (qaulan zura).

Sebab, berita hoaks hanya dapat dimusnahkan dengan menumbuhkan sikap tabayyun pada pengguna media sosial. Jika tidak, bangsa ini akan saling tuduh-menuduh, caci- mencaci, hingga menimbulkan permusuhan dan kerusakan yang disebabkan oleh pembenaran terhadap berita hoaks yang berkembang tanpa ampun.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2