Waspada
Waspada » Guru Terbang Membangun Kecerdasan
Opini

Guru Terbang Membangun Kecerdasan

Oleh Shafwan Hadi Umry

SEJAK dulu jabatan guru adalah profesi yang terhormat. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta menguasai Ipteks.

Dalam mewujudkan ini. para guru idealnya selalu tampil secara profesional dengan tugas utama mendidik, membimbing, melatih dan mengembangkan perangkat kurikulum, sebagaimana bunyi prinsip seorang guru bila di depan memberikan suri teladan (contoh). di tengah memberikan prakarsa dan di belakang memberikan dorongan atau motivasi.

Pagi hari guru berangkat ke sekolah, sore baru pulang. Setiap hari tampil di depan kelas, tak pernah absen. Mengajar adalah prioritas utama. Apakah guru tersebut tergolong profesional? Bagaimanakah sebenarnya menjadi guru yang profesional tersebut?

Profesionalisme

Secara etimologi, istilah profesi berasal dari bahasa Inggris, yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental, yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoretis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual (Danin, 2002). Jadi suatu profesi harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.

Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu. Artinya, jabatan profesional tidak bisa dilakukan atau dipegang oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus melainkan melalui proses pendidikan dan pelatihan yang disiapkan secara khusus sesuai dengan bidang yang diembannya. Misalnya, seorang guru profesional yang memiliki kompetensi keguruan melalui pendidikan guru seperti (Sl-PGSD, SI Kependidikan, Akta Pendidikan) yang diperoleh dari pendidikan khusus untuk bidang tersebut.

Jadi kompetensi guru tersebut diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi, yang dilakukan baik sebelum seseorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani suatu profesi (inservice training). Profesi dapat diartikan juga sebagai suatu jabatan atau pekerjaan yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang’ diperolehnya dari pendidikan akademis yang intensif (Webster, 1989).

Guru Terbang

Pemikiran dan konsep ‘guru terbang’ yang disampaikan Gubsu Edy Rahmayadi dihadapan pengurus PGRI Sumut (2020) yakni perlunya mengirimkan guru terlatih dan siap pakai untuk mengabdi di daerah terluar dan tersulit dari aspek sumber daya manusia, lokasi dan minim fasilitas sarana.

Para guru perintis siap terbang ini perlu diterjunkan pada kantong lokasi yang jauh dari kota dan ’tersulit’ dari aspek komunikasi maupun sarana antarlintas kota.Mereka akan diterjunkan dalam jangka setahun dan kemudian berganti dengan guru perintis lain untuk melakukan kesinambungan mencerdaskan para murid yang tinggal terjauh dari pusat kota.

Gagasan ini cukup piawai dan bijak akan tetapi sebelum kegiatan ini berjalan, para pemangku kepentingan keguruan (dinas pendidikan dan lembaga kependidikan bersama PGRI perlu bersinergi) untuk mewujudkan program guru terbang ini.

Fungsi PGRI Sumut sebagai mediator dan komunikator perlu mengajak aparat kependidikan untuk berkomunikasi berkonsultasi terutama dengan institusional kependidikan dan dinas pendidikan. Peran guru sebagai tenaga profesi perlu dibangun sesuai dengan perkembangan dan perubahan paradigma pendidikan.

Profesi adalah suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi, serta cara menyikapi lapangan “pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan yang ahli.”

Pengertian profesi ini tersirat makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan keahlian.

Menjadi guru profesional yang bersifat pelayanan pada kemanusiaan secara intelektual spesifik yang sangat tinggi, hendaklah didukung oleh pengetahuan keahlian serta seperangkat sikap dan keterampilan teknik, Hal ini diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus yang pelaksanaannya dilimpahkan kepada lembaga pendidikan tinggi.

Kearifan Lokal

Para guru terbang sebagai manusia pendatang perlu melihat terlebih dahulu ‘ranjau budaya” dalam konteks pantang dan larang yang dianut oleh masyarakat setempat. Hal ini dimaksudkan agar para guru terbang tidak tersandung dalam tatakrama adat dan budaya lokal yang dianut dan dipelihara menurut versi mereka.Misalnya para pemimpin informal dan tokoh adat setempat memberikan izin praktik atau penolakan praktik yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan adat dan tatakrama wilayah mereka yang diawasi langsung oleh pemerintah setempat maupun asosiasi yang berkepentingan

Gagasan dan pemikiran “guru terbang” yang ditawarkan gubernur kepada PGRI perlu disikapi secara cermat dan seksama terutama melakukan sinergitas kepada perangkat dinas kependidikan di tingkat kabupaten dan kota untuk menuju semboyan: guru mandiri murid berpartisipasi.

Penulis adalah Dosen UMN Al Washliyah

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2