Waspada
Waspada » Grosfoguel: Islamofobia Epistemik
Opini

Grosfoguel: Islamofobia Epistemik

Oleh Shohibul Anshor Siregar

 

 

Sebagaimana sejak pertengahan hingga akhir abad 19 bahasa identitas kelompok rasialis adalah “mata uang bersama” budaya yang membenarkan persaingan geopolitik di antara kerajaan Eropa dan Amerika

Dalam “The multiple faces of Islamophobia” (dalam “Islamophobia Studies Journal Vol. 1, Issue 1”, 2012), Ramon Grosfoguel menegaskan setiap diskusi tentang Islamofobia harus berangkat dari kartografi kekuatan “sistem dunia” selama 518 tahun terakhir.

Dalam artikel itu ia menjelaskan bagaimana rasisme epistemik membentuk diskusi kontemporer tentang Islamofobia dengan penegasan atas epistemik rasisme dalam sistem dunia, politik identitas hegemoni laki-laki Barat dan tanggapan fundamentalis terhadapnya, serta tempat Islamofobia epistemik dalam ilmu sosial.

Islamofobia adalah proses subalternisasi (ketertindasan) dan proses inferiorisasi (keterlecehan) Islam yang dihasilkan hierarki agama Kristen yang berpusat pada sistem dunia sejak akhir abad ke 15. Katanya, tahun 1492 adalah tahun dasar penting memahami sistem saat ini. Pada tahun ini, jelas Grosfoguel, Monarki Spanyol Kristen menaklukkan Spanyol Islam mengusir orang Yahudi dan Arab dari Semenanjung Spanyol.

Rasisme epistemik dalam bentuk epistemik Islamofobia adalah logika dasar dan konstitutif dari dunia modern atau kolonial dalam bentuk produksi pengetahuan yang disahkan. Ilmu sosial dirancang dengan manifestasi konkret dari epistemik Islamofobia yang berpusat pada Barat seperti dapat ditemukan dalam karya Max Weber dan Karl Marx.

Jika mengikuti logika Weber, Muslim adalah irasional fatalistik; otomatis harus disimpulkan tidak ada ilmu yang serius yang dapat datang dari mereka. Geopolitik pengetahuan adalah epistemik Islamofobia orientalis Jerman dan Prancis yang diulangi dalam karya Weber tentang Islam. Hanya tradisi Kristen yang melahirkan rasionalisme ekonomi dan, dengan demikian, kapitalisme modern Barat. Islam tidak dapat dibandingkan dengan “keunggulan” nilai Barat karena tidak memiliki individualitas, rasionalitas dan sains, kata Weber.

Mengutip Moore (1977) menurut Grosfoguel pandangan rasis epistemik Marx dan kolaborator dekatnya, Frederick Engels, memang memosisikan Muslim dalam stereotip rasis. Sama dengan Marx, pilihan Engels cukup jelas, untuk mendukung ekspansi kolonial dan membawa peradaban Barat meski itu borjuis brutal mengatasi keadaan “barbar”. Keunggulan “Barat atas yang lain” dan, khususnya, atas Muslim cukup jelas di pernyataan ini.

Grosfoguel merujuk Saliba (2007) dan Graham (2006) menunjukkan pengaruh perkembangan ilmiah Islam di Barat, ilmu pengetahuan modern dan filsafat modern dan rasionalitas adalah prinsip sentral peradaban Islam. Sedangkan Eropa abad pertengahan adalah takhayul feodal. Baghdad pusat produksi dan kreativitas intelektual dan ilmiah dunia.

Dalam karya lain (Decolonizing Post-Colonial Studies and Paradigms of Political-Economy: Transmodernity, Decolonial Thinking, and Global Coloniality, 2011) Grosfoguel dengan jeli mengajukan simulasi untuk menjungkirbalikkan persepsi geopolitik melalui sebuah pertanyaan epistemik; “Bagaimana jadinya sistem dunia jika kita memindahkan lokus pelafalan dari pria Eropa hingga wanita pribumi di Amerika. Misalnya, Rigoberta Menchú di Guatemala atau Domitila Barrios de Chungarain Bolivia.”

Apa yang ia coba simulasikan adalah menggeser lokasi dari mana paradigma ini berpikir. Implikasi pertama dari pergeseran geopolitik pengetahuan dalam simulasi itu bahwa apa yang tiba di Amerika akhir abad ke-15 bukan hanya sistem ekonomi modal dan tenaga kerja untuk produksi komoditas yang akan dijual. Ini adalah bagian penting dari, tetapi bukan satu-satunya elemen dalam, “paket” yang terjerat. Apa yang tiba di Amerika adalah struktur kekuasaan terjerat yang lebih luas dan tidak dapat dijelaskan perspektif reduksionis ekonomi dari sistem dunia.

Dari lokasi struktural seorang perempuan pribumi di Amerika, yang datang adalah sistem dunia yang lebih kompleks daripada potret paradigma politik-ekonomi dan analisis sistem dunia. Seorang Eropa atau kapitalis atau militer atau Kristen atau patriarkal atau kulit putih atau heteroseksual atau laki-laki, tiba di Amerika dan dikukuhkan bersamaan dalam ruang dan waktu beberapa hierarki global yang terjerat yang untuk tujuan kejelasan dalam eksposisi ini saya akan daftar di bawah seolah mereka terpisah.

Formasi kelas global tertentu dengan segenap keragaman bentuk kerjanya (perbudakan, semi-perbudakan, kerja upahan, produksi komoditas kecil, dan lain-lain). Juga harus dibayangkan hidup berdampingan dan diatur kapital sebagai sumber produksi nilai lebih melalui penjualan komoditas untuk mendapatkan keuntungan di pasar dunia itu.

Pembagian kerja internasional antara inti (pusat) dan pinggiran dengan keniscayaan modal mengatur tenaga kerja sedemikian rupa di pinggiran. Di sekitar bentuk yang dipaksakan secara otoriter sebagaimana Wallerstein tegaskan dalam “The Modern World-System: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century” (1974).

Kemudian sistem organisasi politik-militer antarnegara yang dikendalikan laki-laki Eropa dan dilembagakan dalam administrasi kolonial (Wallerstein, The Capitalist World-Economy, 1979); hirarki ras atau etnis global yang mengutamakan orang Eropa daripada orang non-Eropa (Quijano, Coloniality of Power and Eurocentrism in Latin America, 2000); hirarki gender global yang mengutamakan laki-laki atas perempuan dan patriarki Yahudi-Kristen Eropa atas bentuk lain dari hubungan gender (Spivak, In Other Worlds: Essays in Cultural Politics, 1988); hierarki spiritual yang memberi hak istimewa kepada orang Kristen daripada spiritualitas non-Kristen atau non-Barat yang dilembagakan dalam globalisasi gereja Kristen Katolik dan kemudian, Protestan (Ramon Grosfoguel, 2011).

Hierarki epistemik yang mengutamakan pengetahuan dan kosmologi Barat atas pengetahuan dan kosmologi non-Barat, dan dilembagakan dalam sistem universitas global (Mignolo, The Darker Side of the Renaissance, 1995; Local Histories/Global Designs: Essays on the Coloniality of Power, Subaltern Knowledges and Border Thinking, 2000; Quijano, Colonialidad y Modernidad/Racionalidad, 1991).

Juga akan diikuti hierarki linguistik Eropa dan non-Eropa yang keistimewaan komunikasi dan pengetahuan serta produksi teoritis di masa lalu dan menyubalternasikan yang terakhir sebagai satu-satunya produsen cerita rakyat atau budaya, tetapi bukan dari pengetahuan atau teori (Mignolo 2000).

Sebagaimana sejak pertengahan hingga akhir abad 19 bahasa identitas kelompok rasialis adalah “mata uang bersama” budaya yang membenarkan persaingan geopolitik di antara kerajaan Eropa dan Amerika. Ini dimaksudkan melindungi ekonomi mereka.

Terutama di wilayah penjajahan di Timur Jauh dan wilayah perebutan Afrika. Representasi identitas Eropa membenarkan penjajahan. Teori superioritas membenarkan kolonialisme sebagai penyampaian cahaya peradaban kepada orang yang belum tercerahkan. Bagi Grosfoguel semua ini adalah musuh besar umat manusia.

Sosiolog Amerika dari Puerto Rico, ini, adalah Profesor dalam Studi Chicano/Latino di Department of Ethnic Studies di University of California, Berkeley. Ia berada pada jalur dan pekerjaan penting bersama tokoh pemikir terdahulu maupun segenerasi seperti Frantz Fanon (The Wretched of the Earth, 1961; Imperialism, the Highest Stage of Capitalism, 1916); Edward Said (Orientalism, 1978); Gayatri Spivak (Can Subaltern Speak? (1990); Homi K. Bhabha (The Location of Culture, 1994); R. Siva Kumar (Santiniketan: The Making of a Contextual Modernism, 1997); Dipesh Chakrabarty (Provincializing Europe, 2000); Derek Gregory (The Colonial Present: Afghanistan, Palestine, Iraq, 2004); Amar Acheraiou (Rethinking Postcolonialism: Colonialist Discourse in Modern Literature and the Legacy of Classical Writers, 2008) dan lainnya dalam kajian postkolonial.

Wacana kolonialis yang terus diabadikan adalah tantangan besar sebagaimana tercermin dalam La Réforme intellectuelle et morale (1871) ditulis orientalis Joseph-Ernest Renan. Renan mendeklarasikan anjuran penatalayanan kekaisaran membudayakan masyarakat non-Barat di dunia sembari merekonstruksi kolonialisme sebagai perpanjangan peradaban yang secara ideologis membenarkan superioritas ras dan budaya yang dianggap berasal dari dunia Barat atas dunia non-Barat. Agar regenerasi ras yang lebih rendah atau yang merosot, oleh ras lebih tinggi, tetap dapat diatur oleh tatanan pemeliharaan bagi umat manusia.

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2