Waspada
Waspada » Gerakan Nasional Wakaf Uang
Headlines Opini

Gerakan Nasional Wakaf Uang

Oleh Sunarji Harahap, MM

Fatwa wakaf uang sebenarnya telah dikeluarkan MUI pada 11 Mei 2002. Di dalam dokumen fatwa dijelaskan wakaf uang merupakan wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga, atau badan hukum dalam bentuk uang tunai

Fakta perwakafan di Indonesia punya aset besar tapi belum dioptimalkan, artinya pengelolaan harta wakaf belum dilakukan secara profesional. Mestinya, Indonesia sebagai negara jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi pionir dalam pemberdayaan ekonomi umat.

Selama ini wakaf menurut sebagian besar umat Islam yang diketahui hanya wakaf sosial, seperti pembangunan tempat ibadah (masjid, langgar, mushalla). Sejak ditandatanganinya Peraturan Presiden No.28 Tahun 2020 tentang Komite Nasionel Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS ).

Pemerintah melalui KNEKS bergerak mengembangkan empat hal, yakni industri produk halal, industri keuangan syariah, dana sosial syariah, dan perluasan usaha atau bisnis syariah.
Mengurangi ketimpangan sosial dan mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh pelosok Tanah Air.

Salah satu langkah melalui pengembangan dan pengelolaan lembaga keuangan syariah. Launching Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) Senin, 25 Januari 2021 di Istana Negara, Jakarta.

Berdasarkan data yang diterima presiden, potensi aset wakaf per tahunnya Rp2.000 triliun di mana potensi dalam bentuk wakaf uang dapat menembus Rp188 triliun. Wakaf merupakan salah satu sumber dana sosial potensial yang erat kaitannya dengan kesejahteraan umat di samping zakat, infaq dan sedekah. Di Indonesia, wakaf telah dilaksanakan umat Islam sejak agama Islam masuk di Indonesia.

Kita perlu perluas lagi cakupan pemanfaatan wakaf. Tidak lagi terbatas untuk tujuan ibadah, tetapi dikembangkan untuk tujuan sosial ekonomi yang memberikan dampak signifikan bagi pengurangan kemiskinan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat.

Perluasan wakaf tersebut sejalan Undang-Undang No.41 Tahun 2004 tentang Wakaf. Harta benda wakaf diperluas tidak hanya benda tidak bergerak seperti tanah dan bangunan, tapi juga meliputi harta bergerak seperti uang, kendaraan, mesin, hingga surat berharga syariah.

GNWU ini tidak hanya meningkatkan literasi dan edukasi masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah. Tapi juga memperkuat rasa kepedulian dan solidaritas sosial untuk mengatasi persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Pencanangan GWNU ini merupakan tindak lanjut dari fokus pengembangan ketiga tersebut dengan melakukan pengembangan dana sosial syariah yang salah satunya melalui pengembangan dana wakaf. Mekanisme pengumpulan dan pengelolaan wakaf uang diatur dalam UU dan PP.

Pengelolaan wakaf uang hanya diinvestasikan untuk produk keuangan syariah. Pihak yang menjadi nazhir dalam GNWU adalah Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang merupakan lembaga independen. Uang wakaf yang terhimpun kemudian akan diinvestasikan ke berbagai macam produk keuangan syariah yang resmi.

Misalnya, deposito mudharabah, musyarakah, bahkan sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), sukuk atau Surat Berharga Syariah Negara hanyalah salah satu instrumen syariah yang memberikan (bagi hasil) tertentu. Terserah nazhir mau diinvestasikan ke instrumen mana, sepanjang sesuai ketentuan UU dan aturan Syariah.

SBSN atau sukuk saat ini merupakan instrumen investasi unggulan. Sebab, karakteristiknya sangat aman, serta memberikan imbal hasil yang bersaing. Pembiayaan proyek pemerintah hanyalah salah satu bentuk instrumen investasi. Itupun sepanjang instrumen tersebut berbasis syariah, dengan tetap memperhatikan kehendak wakif.

Fatwa wakaf uang sebenarnya telah dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 11 Mei 2002. Di dalam dokumen fatwa dijelaskan wakaf uang (cash wakaf/waqf al-Nuqud) merupakan wakaf yang dilakukan seseorang, kelompok orang, lembaga, atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.

Pengertian wakaf uang ini di dalamnya termasuk surat-surat berharga. “Wakaf uang hukumnya jawaz (boleh). Wakaf uang hanya boleh disalurkan dan digunakan untuk hal yang dibolehkan secara syariah. Nilai pokok dari wakaf uang pun harus dijamin kelestariannya, tidak boleh dijual, dihibahkan, dan atau diwariskan.

Kegiatan wakaf sudah dilakukan sejak zaman Nabi SAW. Namun dengan perkembangan zaman, bentuk wakaf pun terus mengalami perubahan. Wakaf yang dulu hanya berupa tanah kini juga diperbolehkan dalam bentuk uang, saham, hingga hak cipta. GNWU ini sesuai aturan kaidah di perwakafan, sesuai transaksi akad dari orang yang berwakaf dengan nazhir. Ini untuk apa diserahkan, ke penerima manfaat bisa untuk rumah sakit kesehatan, pendidikan, kegiatan sosial, atau yang umum kemaslahatan umat.

Terkait instrumen investasi pemerintah, yakni Cash Wakaf Linked Sukuk (CWLS) yang digunakan sebagai wadah investasi wakaf uang, hal itu dibutuhkan untuk menjaga nilai pokok wakaf dalam bentuk uang. CWLS merupakan opsi dari berbagai instrumen investasi lain seperti bank syariah atau membeli sukuk pemerintah.

Sukuk pemerintah atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sendiri sebenarnya bisa dibeli siapa pun. Termasuk nazhir wakaf uang merupakan investor. Bukan berarti uang tersebut nantinya menjadi bagian dari APBN atau masuk ke kas negara.

Mengingat wakaf biasanya dilakukan oleh mereka yang mapan secara sosial dan ekonomi, maka pengelolaan wakaf profesional diharapkan akan menarik minat pewakaf (wakif) kelas menengah atas. Seperti korporasi, individu pemilik aset besar, sosialita, dan tidak ketinggalan para milenial.

Pengelolaan wakaf uang perlu didukung diperbanyaknya kanal penerimaan wakaf uang. Terutama mengaktifkan peran Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU), yaitu bank-bank syariah dan lembaga keuangan mikro syariah. Lembaga keuangan mikro syariah ini dapat digunakan sebagai tempat penerimaan wakaf uang berbasis masyarakat.

Wakaf, yang awalnya dilakukan sebagai pemanfaatan aset individual untuk kepentingan publik telah mengalami berbagai perubahan, baik pada tataran paradigma maupun dalam hal praktik operasionalnya. Pada tataran paradigma, wakaf telah bergerak dari sekedar pemanfaatan suatu benda tidak bergerak berupa tanah dan bangunan mulai merambah kedalam upaya pemanfaatan berbagai barang/benda yang memiliki muatan ekonomi produktif.

Sementara pada tataran praktik, wakaf mulai dikembangkan kedalam bentuk pemanfaatan alat produksi dan alat ekonomi seperti uang, saham, dan sebagainya. Dalam perekonomian modern, uang memainkan peranan penting dalam kegiatan ekonomi masyarakat suatu negara.

Di samping berfungsi sebagai alat tukar dan standar nilai, uang juga merupakan modal utama bagi pertumbuhan perekonomian dan pembangunan. Bahkan nyaris tak satupun negara lepas dari kebutuhan uang dalam mendanai pembangunannya. Ironisnya tidak sedikit pembangunan di negara mayoritas Muslim masih didanai dari modal hutang.

Wakaf uang ternyata tidak sekedar mentransfortasikan tabungan masyarakat menjadi modal investasi. Tapi manfaat wakaf uang dapat juga menjadi salah satu sarana meratakan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Apabila dana wakaf yang cukup besar tersebut dapat didayagunakan optimal akan menumbuhkan pemerataan pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat kelas bawah.

Sepanjang sejarah Islam, wakaf merupakan sarana dan modal yang amat penting dalam memajukan perkembangan agama. Dalam sejarah peradaban Islam, sejak awal di-tasyrik-kannya, wakaf telah memiliki peran sangat penting dalam langkah meningkatkan kesejahteraan sosial umat Islam pada masa itu dan masa selanjutnya. Ini disebabkan prinsip wakaf adalah memadukan dimensi ketakwaan dan kesejahteraan.

Institusi wakaf menjadi sangat penting untuk dikembangkan. Apalagi wakaf dapat dikategorikan sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak pernah putus, walau yang memberi wakaf telah meninggal dunia.

Wakaf menjadi solusi bagi pengembangan harta produktif di masyarakat. Wakaf secara khusus dapat membantu kegiatan masyarakat umum sebagai bentuk kepedulian umat, dan generasi mendatang. Wakaf hendaknya dikelola dengan baik dan diinvestasikan ke dalam berbagai jenis investasi, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak. Umat Islam juga dapat menyalurkan wakafnya baik uang maupun harta, ke organisasi atau lembaga Islam dalam mengemban amanah wakaf dengan baik, demi kemaslahatan umat. WASPADA

Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN SU, Pengurus MES Sumut, Pengurus IAEI Sumut

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2