FILSAFAT PANCASILA (Tafsir Milenial atas Titik Temu, Titik Pijak dan Titik Tuju) - Waspada

FILSAFAT PANCASILA (Tafsir Milenial atas Titik Temu, Titik Pijak dan Titik Tuju)

  • Bagikan

TIDAK terbantahkan, bahwa falsafah hidup berbangsa adalah Pancasila. Pancasila memiliki berbagai dimensi agar sejalan dengan fakta bahwa warga negara menjadikan Pancasila sebagai tuntutan hidup, yang memiliki dimensi dalam diri kita. Pancasila mesti memiliki aspek substantif, filosofis bahkan dalam tingkatan tertentu harus memiliki dimensi esoteris untuk dapat dijadikan tuntunan bagi manusia yang memiliki jiwa, akal dan ruh.

Seiring demikian, Pancasila mesti berdimensi rasional, logis dan intelektual untuk dapat menyahuti rasio, logika dan inteleksi manusia atau warga negara yang menjadikannya sebagai tuntunan.

Lebih jauh, Pancasila mesti pula memiliki dimensi empiris, praktis dan aplikatif untuk menyahuti kebutuhan manusia ataunwarga negara di ranah praktis dan aksi.

Dalam dimensi filosofis dan esoteris, Pancasila dapat dijadikan tuntunan dalam urusan ber-Tuhan, beragama, memiliki keyakinan di tengah-tengah situasi dan fakta kita sangat pluralis.

Sejumlah agama dan kepercayaan dapat dianut dan dijalankan ajarannya secara bebas dan merdeka oleh berbagai suku di tempat yang sama atau yang berbeda dalam naungan dimensi substantif dan esoterisnya Pancasila. Keragaman kitab suci, rumah ibadah, bahasa dan mantra do’a-doa serta sikap saat berd’oa dapat dipertemukan dalam satu titik substantif atau titik esoteris yakni setiap orang meyakini dan membutuhkan sesembahan yang Esa, Tuhan yang mencipta dan mengatur segalanya di alam ini terkhusus lagi di Negeri ini.

Keragaman suku, ras, bahasa, alam geografis yang kita miliki dapat dipertemukan secara substantif dan rasional oleh Pancasila pada satu titik yang disebut persatuan dan kesatuan.

Pancasila dalam konteks ini telah dapat mengantarkan keadaan setiap orang di negara ini, untuk memiliki kesadaran dan keinginan bersatu sekaligus meyakini bahwa persatuan menjadi syarat mutlak untuk membangun kebersamaan. Dari kebersamaan lahirlah kepedulian, saling menghargai, tenggang rasa, empati seterusnya cinta dan kasih sayang.

Kesadaran dan kehendak untuk bersatu, bersama saling peduli, saling menyayangi dan menghargai ini, pada ranah praktis dan aksi harus dijadikan dan direvitalisasi sebagai energi bersama untuk membangun semangat, strategi dan kerja-kerja merebut dan menegakkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang seterusnya menjadi titik temu bagi anak bagsa.

Kemerdekaan atau pencapaian kemerdekaan merupakan titik temu bagi anak bangsa ini. Kemerdekaan akan mewadahi kehendak bersatu, bersama, peduli dan saling kasih. Itulah sebabnya mengapa Stanza Pertama dari lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman menekankan pentingnya posisi kemerdekaan dan pencapaiannya sebagai titik temu dalam membagun negara ini.

Fakta ini, menjadi sebuah titik yang mempertemukan keyakinan, kesadaran, kehendak dan komitmen untuk bersatu dan bersama dalam merebut dan menegakkan kemerdekaan yang sejatinya merupakan hak azasi setiap orang dan setiap bangsa. Persatuan dan kesatuan akan mengantarkan kepada kemerdekaan.

Adapun kemerdekaan sendiri akan mewadahi dan menjamin lestarinya persatuan dan kesatuan. Itulah yang menjadi kata kunci dari kemerdekaan sebagai titik temu abak bangsa yang terkemas dalam Pancasila maupun lagu Indonesia Raya sebagai wajah lain dari Pancasila itu sendiri.

Tidak berhenti pada titik temu, bersatu lalu merdeka. Ada stasiun lain dari pemenuhan hak azasi manusia yakni kesejateraan dan kebahagiaan. Pancasila menyebutnya dengan kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial. Kesejahteraan dan kebahagiaan menjadi sangat penting sebagai tindaklanjut dari persataun dan kemerdekaan.

Kesejahteraan dan kebahagiaan akan mendorong semangat bersatu menjadi kebersamaan, kepedulian, rasa keadilan dan kasih sayang sebagai norma-norma yamg secara fitrah dimiliki setiap anak bagsa ini.

Kesejahteraan dan kebahagiaan dapat dilihat sebagai titik pijak yang akan menjadi kata kunci dalam mengisi dan mempertahankan kemerdekaan. Kekayaan bumi, air, tanah dan laut kita dipandang sangat memenuhi syarat untuk memakmurkan dan mensejahterakan seluruh tumpah darah Negara Republik Indonesia ini. Sedangkan kekayaan nilai, spiritual, budaya, suku dan bahasa dipandang cukup untuk menghantarkan kita menjadi bangsa yang beradab dan berperadaban. Integrasi dari kesejahteraan dan keadaban inilah yang menjadi syarat terwujudnya kebahagiaan sebagai titik pijak bagi anak bangsa dalam membangun bangsa ini.

W.R Soperatman memutuskan ada stanza kedua pada lagu Indonesia Raya yang substansinya menjelaskan bahwa negara kita memiliki modal yang cukup baik alam, budaya maupun spirptual untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadaban seterusnya kebahagiaan sebagai titik pijak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kebahagiaan merupakan dambaan setiap orang, setiap warga negara dan seterusnya oleh suatu bangsa. Kebahagiaan sendiri meliputi berbagai dimensi spiritual, rasional dan empirikal. Terjaminnya kebebasan mempelajari, memahami dan mengamalkan agama dan keyakinan akan menghadirkan kebahagiaan secara spiritual.

Terbangunnya kebersamaan, harmoni, saling menghargai, saling menghormati dan saling menyayangi menjadi kekayaan spiritual yang akan sangat membahagiakan.

Kebebasan berfikir, berpendapat, berkasi akan menjadi modal terbangunnya masyarakat yang beradab, beretika dan berperadaban. Sebuah capaian yang akan menghadirkan kebahagiaan secara rasional dan secara intelektual. Kekayaan karya, karsa dan kreasi anak bangsa yang diperoleh secara adil dan merata menjadi kunci bagi terwujudnya kebahagiaan secara rasional dan intelektual.

Kesejateraan atau kemakmuran hidup yang diperoleh dari hasil pengeloaan potensi dan kekayaan alam dan budaya secara adil dan merata, akan menjadi kunci bagi hadirnya kebahagiaan hidup secara praktis. Kemajuan pembangunan yang berorientasi pemenuhan hajat hidup makmur dan sejahtera secara adil dan merata menjadi cita-cita dan tujuan pembahgunan kita demi tercapainya kebahagiaan hidup berbangsa dan bernegara.

Sebagai hak azasi yang melekat pada setiap anak bangsa seterusnya dalam konteks sebagai suatu bangsa, maka kebahagiaan yang diperoleh mesti memiliki aspek kelestarian atau keabadian. Kebahagiaan jangan bersifat temporer yang bisa datang dan pergi sewaktu-waktu.

Kebahagiaan tidak boleh bersifat semu dan parsial, ia harus meliputi keseluruhan dimensi spiritual, rasional dan operasional dan karena itu ia harus bersifat abadi, lestari dan sustainabel.

Lestarinya atau abadinya kebahagiaan hidup berbangsa menjadi stasiun terakhir dari tujuan pendirian suatu bangsa. Suatu bangsa harus abadi karena ia mewadahi abadinya atau lestarinya kebahagiaan anak bangsa yang merupakan hak azasi.

Karena itulah keabadian dan kelestarian harus menjadi titik tuju dari kehidupan berbangsa.

Abadinya suatu bangsa dalam mewadahi abadinya aktualisasi nilai-nilai luhur universal berupa persataun, kemerdekaan, kemuliaan, kebahagiaan dan keadilan menjadi ultimate goal atau menjadi titik tuju dari pembangunan bangsa ini.

WR Soepratman memutuskan ada stanza ketiga pada lagu Indonesia Raya yang menjelaskan bagaimana aktualisasi nilai-nilai luhur sebagai capaian perjuangan, kemerdekaan dan pembangunan bagsa mesti dapat dipertahankan agar lestari dan abadi sebagai titik tuju dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

PENUTUP

Pancasila harus hadir dalam spirit, rasio dan aksi anak bangsa agar kesadaran akan titik temu, titik pijak dan titik tuju benar-benar dapat terintegrasi dalam setiap aktivitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Setiap anak bangsa berhak dan harus mengambil peran untuk memastikan adanya evolusi dinamis dan konsisten membawa bangsa ini dari ntitik temu ke titk pijak untuk seterusnya mencapai titik tuju menjadikan negara ini abadi dan lestari. Meminjam istilah Prof KH Yudian Wahyudi memastikan negara ini sebagai aktualisasi surga di bumi yang mewadahi kebahagiaan, kehormatan, kemuliaan dan cinta kasih secara abadi dan lestari.

TGS Prof Dr KH Saidurrahman, M. Ag Rektor UIN Sumut – Rais Syuria PW NU Sumut)

  • Bagikan