Waspada
Waspada » FILOSOFI ‘MARPANGIR’
Opini

FILOSOFI ‘MARPANGIR’

Prof H Hasan Bakti Nasution

By Hasan Bakti Nasution

Marpangir atau balimau atau bahasa lainnya ialah tradisi mandi secara khusus menjelang puasa Ramadhan dengan menggunakan sabun/shampo bauh jeruk purut atau jenis jeruk lainnya. Oleh karena itu, ada tiga syarat disebut marpangir, yaitu (1) mandi dengan mencuci seluruh badan, termasuk rambut, (2) membersihkan seluruh badan sebersih-bersihnya, termasuk kepala dengan menggunakan jeruk tersebut, dan (3) dilakukan menjelang puasa Ramadhan.

Begitulah tradisi lama di kampung-kampung dahulu yang dilakukan sebagai upaya bersih-bersih menjelang puasa Ramadhan, sebagai upacara penyambutan atas kekaguman dan kemuliaan bulan suci Ramadhan. Begitulah patuhnya generasi lalu dalam memuliakan Islam.

Secara syar’iy tentu tidak ada ayat maupun hadits yang khusus memerintahkan mandi pakai jeruk atau limau. Yang ada hanya perintah membersihkan diri secara umum dengan mandi membersihkan badan dari segala kotoran badan sebagaimana termaktub dalam beberapa al-Qur’an dan hadits, baik yang sifatnya mandi wajib (manji junub) maupun mandi sunat, seperti mandi pada hari Jum’at dan sebagainya.

Begitulah universalitasnya ajaran Islam, sehingga mandipun diperbincangkan. Kata dosen sejarah dulu, yaitu Prof. Harun Nasution, DR. Arbiyah Lubis dan Joesoef Soy’b, Allahu Yarhamhum, salah satu yang dicontoh Barat dari Islam ialah cara mandi saat Islam menapakkan kakinya di Barat awal abad 8 sampai akhir abad 15, yaitu sejak Thariq bin Yiyad menapakkan kakinya di bumi Spanyol tahun 711 sampai kejatuhan dinasti terakhir, yaitu dinasti Alhamra di Granada tahun 1498. Beberapa pengaruh lainnya dapat dilihat dengan mengetik kata Arabesque.

Lalu mengapa harus pakai jeruk,? atau limau sehingga disebut balimau ?.
Begitulah canggihnya ulama dulu, mereka mampu menerjemahkan nilai Islam dengan kacamata dan potensi setempat, yang dalam hal ini jeruk. Ini dilakukan sebab dibenarkan oleh yurisprudensi Islam, karena terdapat salah satu sumber hukum Islam, yaitu tradisi lokal (al-‘urf) tentu tradisi yang baik (al-‘urf al-syar’iyyah).

Tradisi yang buruk tentunya tidak, sehingga disebut al-‘urf al-fasidah, seperti tradisi minuman keras, menyabung ayam, berjudi, dan sebagainya.
Jeruk adalah jenih buah yang paling cepat dan akurat dalam membersihkan kotoran, sehingga sabun pembersih moderenpun menggunakan bahan jeruk. Lalu mengapa jeruk purut, karena jeruk ini menghadirkan aroma harum, sehingga harun dan bersih diperoleh secara bersamaan setelah marpangir.

Jika itu filosofinya, maka tradisi marpangir hari ini boleh terus dilakukan dengan menggunakan media yang paling canggih, yaitu Shampo. Tentu tidak bermaksud promosi shampo, tapi shampo adalah pembersih terbaik dan instan yang dihasilkan teknologi modern.

Itulah kearifan ulama dulu, jadi biarkanlah umat Islam menikmati kearifan masa lalunya yang diyakini sebagai kepatuhan mengamalkan ajaran Islam seperti petuah ulamanya. Tak perlulah disibukkan menghakimi “ini salah itu salah, ini bid’ah ini bid’uh. Betapa sempitnya dunia ini, jika hanya yang ada pada zaman Nabi saja yang menjadi standard atau alat ukur benar salah, baik dan buruk.

Bayangkan kita tidak boleh menggunakan pengeras suara di masjid, karena tidak ada pada zaman Nabi; tidak boleh pakai laptop karena tidak ada pada zaman nabi padahal status ini saya ketik pakai laptop, tidak boleh pakai HP karena tidak ada pada zaman nabi, dan setrusnya.

Selain sempit juga tidak sejalan dengan idealitas Islam yang diingini sang pembawa, Nabi Mhammad Saw yang menginginkan agar Islam tetap relevan. “Islam relevan bagi setiap waktu dan tempat” (al-Islamu shalihun likulli zaman wa makan), katanya dalam salah satu haditsya. Tentu jika menyangkut mu’amalah, hubungan sesama manusia.

Jika menyangkut ibadah seperti shalat, puasa, dan sebagainya memag seharusnyalah tidak bisa dimodernisasi, seperti shalat pakai bahasa Indonesia dengan alasan Islam nusantara, ini bukan Islam nusantara. Kata kuncinya, menyangkut ibadah, polanya ialah pengamalan Nabi dan shabat, karena Nabi berpesan “ikutilah sunnahku dan sunnah khualafa al-rasyidun sesudahku” (fattabi’uw sunnatiy wasunnati khulafa’ al-rasyidin min ba’diy). Kemudian ikuti petuah ulama, karena mereka adalah pewaris tugas Nabi (al-‘ulama’u waratsatul anbiya’), kata Nabi pada hadits lainnya.

Namun jika menyangkut mu’amalah, hubungan sesama manusia, relevansi terhadap perkembangan dunia harus menjadi pertimbangan dan ini mendapat legalitas Nabi seperti hadits yag disebut di atas. Dalam hal mu’amalah yang penting ialah nilainya, bagaimana aplikasinya disebuaikan dengan perkembangan modern.

Ambillah contoh pendidik, yang penting ialah aktifitas transmisi nilai, bagaima prakteknya disesuaikan dengan perkembangan zaman, bisa menggunakan multi media atau metode tercanggih lainnya. Sekian !.
…-2021…

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2