Filosofi Kematian

Filosofi Kematian
Oleh M Ridwan Lubis

  • Bagikan

Dalam pengalaman para sufi yang sudah mencapai derajat tabahhur yang menyelam ke samudera ilahi, justru merasa terlalu lambat datangnya kematian. Mereka khawatir sikap, perbuatan maupun ucapan yang selama ini telah dibangun dirinya sebagai tradisi kebaikan akan hilang akibat datangnya godaan yang datang mengganggu

Kematian akan menimpa semua orang bahkan juga termasuk semua yang bernyawa. Oleh karena itu, merenungkan kematian bukan berarti akan membuat manusia menjadi fatalis, pesimis.

                                             

Tetapi justru melalui renungan terhadap datangnya kematian membuat manusia semakin dinamis, kreatif dan inovatif. Karena melalui pemahaman terhadap filosofi kematian justru akan memperoleh ketenangan batin.

Alasannya sederhana saja karena melalui renungan terhadap kematian maka hal itu berarti kita memperoleh terafi menjalan kehidupan duniawi.

Kehidupan duniawi tidak ada gunanya dengan berupaya menumpuk kekayaan, jabatan, pangkat, pujian dan menekan setiap kritik yang dialamatkan kepada kita.

Karena semua pernik-pernik duniawi itu akan segera hilang dan bermanfaat begitu pemiliknya dipanggil ke hadirat Tuhannya. Bayangkan saja, betapa banyak macam ragam orang yang menghadapi kematian.

Dilihat dari segi usia, mulai dari janin, kanak-kanak, remaja, dewasa, tua, tua bangka dan seterusnya akan menemui kematian.

Dari segi karier mulai dari yang terus-terusan gagal, setengah berhasil, sangat berhasil bahkan menolak terjadinya tawaran jabatan akibat dari daftar perolehan karier yang sudah menumpuk.

Dari segi penampilan mulai dari orang yang tidak terlalu jelek penampilan, cantik, sangat cantik, terlalu cantik, bahkan orang yang takut disebut tua dan memasuki klinik gerontologi pada akhirnya juga akan menghadapi kematian.

Dari segi kondisi kepemilikan harta mulai dari orang yang pas-pasan hidupnya dalam keseharian, cari pagi untuk dimakan sore, lumayan, makmur, sangat makmur, jutawan dan terus keatasnya, juga akan menghadapi kematian.

Karena umur yang panjang pada dasarnya juga menyakitkan karena harus terus menerus melakukan upaya penyesuaian budaya.

Pendeknya tidak akan ada orang yang berpeluang memohon perkecualian (excuse) untuk menghadapi prores kematian. Dengan kematian, percuma saja kalau ada orang yang berupaya menghindar dari kematian.

Tetapi paradoknya, sekalipun kematian akan datang namun setiap orang hendaklah berusaha untuk memelihara kesehatan dirinya.

Hal itu bukan bermaksud untuk menghindari kematian karena semua usaha yang dilakukan manusia seperti periksa kesehatan, minum obat, vaksin pada hakikatnya bukanlah untuk menunda datangnya kematian.

Karena takdir Allah tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan datangnya karena semua itu telah ditentukan dalam perbendaharaan Allah yang disebut ajalin musamma.

Karena itu, setiap manusia hendaklah tidak sampai melupakan datangnya kematian karena melalui renungan kematian paling tidak kita akan memperoleh dua keunggulan (privelege).

Keunggulan pertama, setiap yang sadar datangnya kematian maka dengan sendirinya tidak akan kehilangan kendali dari rasa kegembiraannya.

Karena manusia tidak tahu, sampai berapa lama Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk menikmati kegembiraan itu. Bisa jadi Allah memberikan kegembiraan justru untuk menaikkan derajat kejatuhan seseorang (istidraj).

Sehingga manusia tenggelam dalam lumpur kemunkaran dan kemudian tidak memperoleh kesempatan untuk bangkit menyadari kesalahannya.

Keunggulan kedua, datangnya ujian kesulitan hidup bagi seorang yang menyadari filosofi kematian justru akan menjadikan dirinya semakin matang.

Karena sadar bahwa dihadapannya terbentang jalan kelulusan apabila berhasil melewati proses penderitaan hidup dengan berbagai ujian yang dihadapinya.

Filosofi Kematian

Karena itu, setiap orang hendaknya perlu menyadari bahwa kematian bukanlah suatu penderitaan akan tetapi merupakan jalan keluar dari seluruh rangka pengalaman kehidupan keduniaan.

Kematian bukanlah suatu peristiwa kealaman yang luar biasa tetapi kematian tidak lebih dari sebuah pintu gerbang yang menandakan akan terjadi perpindahan.

Karena orang yang usianya juga terlalu lanjut justru akan mengakibatkan kesulitan baik bagi dirinya maupun lingkungan keluarganya karena setiap saat harus melakukan adaptasi budaya.

Kematian disebut sebagai barzakh yaitu perindahan dari alam dunia ke akhirat. Inti dari semua prosesi di akhirat adalah pembalasan (yaum al jaza’) atas segala perbuatan yang dilakukan manusia semasa hidupnya.

Karena fungsinya sebagai keluaran maka disebut kematian sebagai pintu gerbang dan semua orang akan melewatinya (al maut babun wa kulla al nas dakhilun).

Bagi orang yang memahami filosofi kematian maka kematian tidak dianggap sebagai peristiwa luar biasa. Adanya manusia yang memahami kematian sebagai peristiwa yang luar biasa disebabkan adanya anggapan terhadap keabadian hidup di dunia.

Padahal kehidupan di dunia ada batasnya dan batas itu tidak dapat dlewati dari ketentuan batas yang ditetapkan dalam takdir.

Betul memang, setiap datangnya kematian Allah menciptakan sebab akan tetapi bukanlah sebab itu yang membuat kematian akan tetapi karena Allah telah menentukannya di alam azali.

Karena kematian hakikatnya pemberian dari Allah (given) maka tidak ada yang mampu berpeluang menolaknya.

Bahkan dalam pengalaman para sufi yang sudah mencapai derajat tabahhur yang menyelam ke samudera ilahi, justru merasa terlalu lambat datangnya kematian.

Mereka khawatir sikap, perbuatan maupun ucapan yang selama ini telah dibangun dirinya sebagai tradisi kebaikan akan hilang akibat datangnya godaan yang datang mengganggu orisntasi dan pandangan hidup yang selama ini telah dibudayakan menjadi perilaku keseharian.

Yaitu awas (muraqabah), perhitungan (muhasabah). Bayangkan betapa indahnya idealisme tentang kematian yang disebut sebagai orang yang memperoleh kasih sayang Allah (almarhum dan almarhumah).

Kita sering tidak sadar datangnya ancaman dengan terjadinya penyimpangan perilaku padahal sejak di alam azali telah dibekali modal kehidupan yang disebut fitrah lalu kemudian hilang karena telah bergelimang dalam perbuatan dosa.

Kita sering tidak menyadari bahwa relasi, pendukung, pengikut, follower yang selama ini dibangga-banggakan sebagai bukti keberhasilan sebagai figur publik tetapi begitu datang ajal maka semua relasi tersebut masing-masing akan pergi menjauh dari dari sahabat yang tadinya dijadikan sebagai idola.

Akhirnya di alam barzakh kita berpisah dari kegemerlapan kehidupan, dan harus mempertanggungjawabkan sendiri apa yang diperbuat selama di dunia.

Andaikata laporan progress report kinerja pribadi dan sosial tertolak maka tentu seorang diri yang akan menanggung akibatnya.

Melihat beratnya beban yang dipikul oleh setiap orang, maka tentulah seorang manusia tidak akan menghabiskan usianya hanya untuk mengejar kemegahan duniawi.

Ia akan cepat-cepat kembali kepada Allah dengan melakukan taubat yang mampu menasehati dirinya, lingkungannya alam sekitar yang dapat dijangkaunya.

Maka dalam pada itulah, berbagai perumpamaan yang dinyatakan dalam Alquran sering dipahami masyarakat sebagai a historis padahal ayat-ayat tersebut justru bertujuan sebagai pengungkapan agar dipahami secara historis.

Berbagai kisah yang diungkapkan dalam Alquran itu hendaknya dijadikan sebagai refleksi terhadap kenyataan yang terjadi sekarang.

Dengan membaca berbagai kisah masa lalu dalam Alquran akan mendorong manusia untuk melakukan proses transformasi dari sikap a historis kepada sikap historis.

Semestinya kita berpikir ungkapan kisah kejadian yang terjadi pasa masa lalu, sesungguhnya menjadi kesadaran pada masa kini bahkan terus berlanjut dengan pola yang lebih menyedihkan.

Kisah tentang perilaku Fir’aun yang menyiksa bangsa Israil sering hanya dipahami pada konteks zaman itu.

Padahal perilaku Fir’aun sebagai fakta sejarah hendaknya dapat dilihat sebagai fakta yang hidup sepanjang masa yaitu bahwa kaum penindas masyarakat yang tidak berdaya terus berada sepanjang waktu.

Kaum penindas datang dengan berbagai ragam pola yang intinya adalah berupaya merebut hak orang lain seperti kemerdekaan, kebebasan dan pikiran.

Kelompok mustad’afin adalah merupakan korban dari perilaku aniaya dari pihak yang memiliki kekuasaan dan terus berkembang dalam kehidupan sosial.

Mestinya orang yang sadar terhadap datangnya kematian berupaya menghilangkan terjadinya setiap penindasan dengan mengembangkan berbagai cara untuk menolong orang-orang yang teralienasi.

Dengan demikian, melalui filosofi kematian, kita tidak hanya berpikir untuk kepentingan pribadi atau kelompok termasuk pertimbangan karena kesamaan agama dan keyakinan akan tetapi bentuk kepedulian terhadap semesta alam.

Bukankah Allah mengirim utusanNya justru untuk berupaya dengan berbagai cara mengembangkan pesan kedamaian kepada semesta alam.

Melalui pembudayaan filosofi kematian maka setiap pribadi terdorong untuk melatih untuk meningkatkan hati, pikiran, cara pandang agar semakin menjaga jarak dari perilaku yang buruk.

Melalui pemahaman yang kuat terhadap filosofi kematian maka setiap orang akan selalu berupaya meningkatkan etos kerja produktif untuk menebar kebaikan dan menjauhkan diri dari berbagai perilaku kemunkaran. WASPADA

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • Bagikan