Waspada
Waspada » Empat Rekor MURI Capaian Unik Rektor UINSU Medan 2016-2020
Opini

Empat Rekor MURI Capaian Unik Rektor UINSU Medan 2016-2020

Sejak menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN-SU, “Pak TGS”, panggilan akrab Prof. Saidurahman, memang banyak melakukan terobosan-terobosan unik dan menarik.

TIDAK satu pun sivitas akademika UINSU yang berpikir perlunya memperoleh rekor MURI, paling tidak sebelum tahun 2016. Mungkin salah satu alasannya adalah, UINSU tidak perlu rekor MURI karena memang tidak ada hal unik, menarik, atau penting di UINSU yang perlu dicatatkan di Rekor MURI. Alasan lain, bisa jadi mencatatkan prestasi di rekor MURI membuat orang menjadi ria, sombong dan angkuh. Sebenarnya tidak di UINSU saja, tapi bisa jadi di seluruh PTKIN di Indonesia sehingga ketika kita membuka lembaran-lembaran buku rekor MURI, sulit menemukan catatan MURI yang berkaitan dengan dicatatkan PTKIN.

Berbeda dengan TGS. Prof. Dr. Saidurrahman, M. Ag, sebagai Rektor UINSU Medan. Sejak menjadi Dekan Fakultas Syariah IAIN-SU, “Pak TGS”, panggilan akrab Prof. Saidurahman, memang banyak melakukan terobosan-terobosan unik dan menarik. Termasuk kebijakannya untuk mendongkrak akreditasi program-program studi di Fakultas Syari’ah UINSU Medan. Hasilnya, dua program studi berhasil meraih akreditasi unggul A dan dua prodi lainnya akreditasi sangat baik B.

Yang menarik dari pribadi Pak TGS adalah, kemampuannya menemukan hal-hal unik di dalam lingkungannya. Bisa jadi bagi orang lain, acara atau kegiatan itu hal biasa. Namun ketika dikemas menjadi sesuatu yang bernuansa, nilai menjadi berbeda. Inilah yang terjadi pada 4 prestasi MURI UINSU Medan sejak tahun 2018-2020.

Pertama, Membaca dan mengkhatamkan Al-Quran sesungguhnya telah menjadi tradisi warga IAIN-UIN sejak lama. Bahkan menjadi amal harian. Lalu bagaimana bisa, membaca Al-Quran dicatatkan di Rekor MURI.

Keunikannya justru membaca Al-Quran dan mengkhatamkannya dengan jumlah mahasiswa 7000 orang dalam waktu yang singkat, lebih kurang 9 menit. Tidak kalah menariknya adalah, hal itu dilakukan mahasiswa baru UINSU tahun akademik 2018-2019. Pesan pentingnya adalah, ketika mahasiswa baru UINSU menginjakkan kakiknya di kampus UIN, mereka diingatkan bahwa yang akan dikaji di UINSU adalah Al-Quran sebagai sumber utama dan pertama ajaran Islam. Apapun yang mereka kaji di berbagai program studi dan fakultasnya masing-masing, tidak boleh lepas dari Al-Quran. Bukankah rekor MURI Khatam Al-Qur’an oleh Mahasiswa UINSU Terbanyak menjadi kegiatan luar biasa, bentuk dan maknanya. Rekor MURI ini tercatat di nomor 8600/R.MURI/VIII/2018 tanggal 29 Agustus 2018.

Kedua, Rekor MURI Nomor 9151/R.MURI/IX/2019 tentang Mahasiswa Pewakif Terbanyak. Piagam penghargaannya diterima tanggal 2 September 2020. Bagi mahasiswa berwakaf menjadi amalah yang elitis. Jangankan bagi mahasiswa, banyak umat Islam yang berpandangan bahwa wakaf hanya mungkin dilakukan orang-orang yang berlimpah harta. Seiring dengan perkembangan kajian ekonomi Islam, wakaf adalah instrumen ajaran ekonomi Islam yang penting. Bahkan sejak tahun 1990, telah pula digalakkan wakaf uang. Kendati demikian, wakaf menjadi amal yang sedikit asing bagi umat Islam. Keberhasilan Rektor menemukan keunikan wakaf pada akhirnya bermakna sebagai sindirian keras terhadap sebagian besar umat Islam yang enggan berwakaf. Sindirian itu tidak melalui ceramah dan dakwah. Melainkan Frektor melakukannya dengan menggerakkan wakaf mahasiswa. Mahasiswa diminta berwakaf dengan memasukkan uangnya di amplop berapapun jumlahnya. Mereka berikrar bersama untuk berwakaf yang dikelola oleh lembaga wakaf UINSU Medan. Sampai saat ini wakaf UINSU akan mencapai Rp1miliar dan sebagiannya adalah wakaf mahasiswa. Bukan pemandangan biasa, ketika mahasiswa UINSU mengangkat amplopnya yang telah diisi uang kertas sembari berikrar. Kita terharu sekaligus bahagia, sembari berharap, umat Islam terketuk hatinya untuk berwakaf uang tanpa pernah memandang jumlah harta yang diwakafkan.

Ketiga, Rekor penulisan dan Pembacaan Selawat oleh Mahasiswa Terbanyak. Tertuang di dalam piagam Nomor 9323/R.MURI/XI/2019 tanggal 25 November 2019. Ini adalah penyerahan Piagam Rekor MURI yang paling syahdu dan mengesankan. Bukan karena kehadiran Prof. Mahfud MD, Gubernur Sumut, para ulama dan tokoh-tokoh lainnya, yang juga dengan syahdu melantunkan shalawat. Namun kegiatan pembacaan shalawat ini adalah cara UINSU mengetuk pintu langit sembari memberi salam hormat dan cinta kepada Baginda Rasul. Shalawat ditutup dengan bermohon kepada Allah, agar Indonesia tetap dalam keadaan damai dan penuh kerukunan. Siapapun yang hadir saat itu, mendengar lantunan shalawat 7000 mahasiswa UINSU Medan, akan tergetar dan menitikkan air mata. Shalawat yang sangat mendamaikan. Tentu saja harapannya ke depan, shalawat menjadi amal harian mahasiswa UINSU Medan.

Keempat, Rekor MURI UINSU terakhir pada tahun 2020 ini yang akan tercatat dalam Buku Rekor MURI berjudul, Sosialisasi Membumikan Pancasila Melalui Teknologi Digital yang ditonton oleh Mahasiswa Terbanyak. Tentu saja rekor MURI kali ini berbeda dengan tiga model rekor di atas yang nuansa keagamaannya lebih kental. Sebagaimana yang ditegaskan Rektor, dan ini termasuk salah satu keunikah Pak TGS, kepanjangan dari UINSU adalah Ulama Islam yang religius dan Nasionalis sekaligus. Ulama bukan hanya dalam makna tradisional tetapi juga dalam makna modern, sebagai ilmuwan dan intelektual. Religius dan Nasional sekaligus itu menunjukkan bahwa keduanya tidak pernah terpisah dari diri warga UINSU Medan.

Insya Allah, Piagam Rekor MURI yang ke 4, diterima UINSU akan berlangsung dalam waktu dekat ini setelah warga UINSU khususnya dan masyarakat Sumatera Utara pada umumnya menyaksikan acara Titik Pandang: Tantangan Idiologi Pancasila di Era Digital” di Kompas TV bersama TGS Prof. Dr. KH. Saidurrahman, M. Ag.

Rekor MURI yang tidak pernah dicapai oleh PTKIN lainnya, dan UINSU telah mencatatkan 4 Rekor MURI, tidak berlebihan jika dikatakan, untuk maju dan berkembang, seorang harus jadi pemimpin yang unik. Unik dalam arti menemukan hal-hal baru dan menarik untuk diekspose demi kebesaran lembaga. Tentu kita menunggu terobosan-terobosan Pak TGS di masa-masa mendatang, khususnya buat UINSU Juara, buat Sumut yang bermartabat dan Dunia yang berperadaban, sesuai dengan Hymne dan Mars UINSU Medan. Amin.

Penulis adalah Dosen UINSU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2