Waspada
Waspada » Duhai Para Pemimpin, Insyaf-lah..!
Headlines Opini

Duhai Para Pemimpin, Insyaf-lah..!

Oleh Zulkarnain Lubis

Kebijakan, mereka sering plin-plan, maju mundur, dan berubah-ubah. Suatu saat “dilarang”, kemudian “diperbolehkan”. Pada satu waktu disebut “melanggar”, waktu yang lain “tidak melanggar”

Menjadi pemimpin merupakan amanah yang besar, Allah menebar ancaman kepada pemimpin yang berbuat zalim (kepada yang dipimpinnya), mereka akan disiksa dengan siksaan yang pedih. Siapakah yang dimaksudkan pemimpin itu? Ternyata pemimpin itu adalah kita semua karena pada hakikinya setiap kita adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.

Setiap kita haruslah terhindar dari berbuat zalim. Dari level terendah zalim bagi diri, keluarga, dan orang di bawah kendalinya. Juga bagi para pemimpin—mulai kepala kantor, ketua organisasi, pimpinan instansi, pimpinan perusahaan, ketua RT, ketua RW, kepala desa, lurah, camat, bupati, wali kota, gubernur, menteri, sampai presiden. Semua harus menghindarkan dirinya dari berbuat zalim kepada bawahannya, pengikutnya, anak buahnya, dan rakyatnya, jika tidak ingin mendapatkan siksaan dari Allah SWT.

Namun justru itulah sekarang keprihatinan kita. Banyak pimpinan justru zalim kepada bawahan dan rakyatnya. Membohonginya, tidak adil keputusan, dan tindakannya, serta tidak malu melakukan perbuatan menyimpang bahkan mengingkari perbuatannya tanpa merasa berdosa.

Mereka tidak malu berbohong, tidak malu pula ketika kebohongannya ketahuan. Mereka mungkin lupa zaman sekarang sangat mudah ketahuan berbohong. Karena jejak digital akan terus tersimpan, jika ada pernyataan bohong.

Mungkin juga mereka bukan lupa jejak digital tersebut, tetapi karena rasa percaya diri atau terlalu terbiasa berbohong. Sehingga tidak mau tahu apakah kebohongannya dipercaya atau tidak. Mungkin juga mereka tidak tahu lagi cara menghadapi masyarakat yang tidak puas dengan kebijakan dan keputusan yang penuh kebohongan. Sehingga untuk menutupi kebohongan sebelumnya terpaksa dibuat kebohongan baru.

Bohong demi bohong terus mereka produksi dimana lain yang dihasilkan tapi lain yang diungkapkan. Lain yang dimaksudkan tapi lain yang diucapkan, lain yang diucapkan tapi lain pula yang diinginkan. Lain alasan lain lagi yang dilakukan, lain yang dilaporkan lain yang dilaksanakan. Semestinya mereka sadar kekayaan termahal seorang pemimpin bukanlah jabatan melainkan kesesuaian antara perkataan dan perbuatannya.

Ada satu sifat buruk yang sangat dekat dengan pembohong yang juga menghinggapi para pemimpin yaitu ingkar janji. Mereka suka menebar janji tapi sering tidak menepatinya. Mereka suka berjanji palsu, lain di mulut lain di hati. Lain dibuat lain diucapkan, lain dijanjikan lain diberikan, lain diucapkan lain dijalankan.

Inilah sesungguhnya yang banyak kita saksikan terhadap perilaku pemimpin kita, baik sebagai politisi, birokrat, atau pejabat publik. Saat kampanye seribu janji diumbar, tapi ketika terpilih, lupa atau pura-pura lupa, dengan entengnya abai terhadap janjinya. Saat ada maunya, janji manis, ketika hasil didapat, berbagai dalih dilontarkan.

Akibat suka berbohong dan sering mengingkari janji, para pemimpin sering tidak konsisten dan tidak konsekwen. Pada satu kesempatan ketika ditanyakan tentang kebijakan, dia akan menjelaskan kebijakan tersebut untuk memuaskan yang bertanya. Tapi pada kesempatan lain, yang bertentangan pendapatnya dengan yang bertanya sebelumnya, ia akan menjawab dengan jawaban yang bertolak belakang.

Demikian juga kebijakan, mereka sering plin-plan, maju mundur, dan berubah-ubah. Suatu saat “dilarang”, kemudian “diperbolehkan”. Pada satu waktu disebut “melanggar”, waktu yang lain “tidak melanggar”. Ada juga pernyataan “tidak akan ada pergantian”, tapi dalam waktu singkat diputuskan “ada pergantian”. Ada kecenderungan mereka “asal bunyi”, dan sekedar ngeles.

Sifat buruk lainnya adalah munafik atau hipokrit yaitu orang yang tindakan, sifat, sikap, atau perbuatannya berbeda dengan pernyataan atau ucapan. Seorang hipokrit bisa sangat berbahaya karena kepandaiannya menyembunyikan kebenaran. Ia sangat pandai bermanismuka bahkan kepada orang yang ia musuhi dan hendak ia celakai.

Berhadapan dengan orang hipokrit sering membuat kita terbuai atas kemampuannya menyusun kata, mulutnya seakan penuh madu tapi sesungguhnya sangat beracun yang membahayakan sasarannya. Hati dan kepalanya penuh racun yang siap mencelakakan bahkan mematikan sasarannya.

Jadi bisa saja di mulutnya dikatakan kita kawannya tapi di hatinya sesungguhnya adalah lawan yang ingin dicelakainya. Bisa juga seseorang dikatakannya sebagai lawannya tapi sesungguhnya kawannya yang akan bekerjasama berbuat buruk atau mencelakai siapapun yang diinginkannya.

Sifat hipokrit banyak di kalangan politisi. Di kalangan mereka yang menduduki jabatan publik dan birokrasi, baik di level pusat, nasional, wilayah kabupaten/kota, maupun tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa. Bahkan sampai aparat di tingkat rukun tetangga dan rukun warga juga tak luput dari penyakit ini.

Satu sifat orang hipokrit adalah nifak, yaitu suka menampakkan yang baik dan menyembunyikan yang buruk. Nifak ini sangat dibenci Allah SWT sehingga orang hipokrit diancam oleh Allah dengan siksa amat pedih yaitu di neraka yang paling dasar. Jadi jika tidak mau menjadi penghuni dasar neraka, maka duhai para pemimpin yang hipokrit, sadarlah dan insyaf-lah.

Orang hipokrit, orang pembohong, dan orang penebar janji palsu juga sangat jauh dari berlaku adil. Padahal hanya perilaku adil-lah yang akan membawa kepada kebahagiaan bersama. Tidak mungkin bisa mewujudkan keadilan kecuali dalam kebenaran dan tidak akan ada kebahagiaan kecuali dalam keadilan.

Jadi, keadilan, kebenaran, dan kebahagiaan adalah tiga kata yang tidak mungkin dipisahkan. Itulah sebabnya jika kita bertemu pemimpin pembohong, pemimpin hobi janji palsu, dan pemimpin hipokrit, maka susah akan kita temukan keadilan. Sehingga akan susah mewujudkan kebahagiaan.

Jadi apa yang berlaku bagi negeri ini, dimana banyak pihak yang merasakan tidak adanya keadilan, banyak pihak merasakan diskriminasi, dan banyak pihak merasakan benar dinyatakan salah dan salah dinyatakan benar. Padahal makna dari adil adalah menimbang sama berat, menyalahkan yang salah dan membenarkan yang benar, mengembalikan hak yang empunya, dan tidak berlaku zalim kepada mereka.

Jika para pemimpin masih banyak tidak berlaku adil, dipastikan sangat sulit mewujudkan kebahagiaan bersama. Padahal itulah sesungguhnya makna keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang merupakan cita-cita bangsa ini. Kita membutuhkan pemimpin berani menegakkan keadilan, termasuk terhadap diri sendiri, karena sesungguhnya menegakkan keadilan adalah puncak segala keberanian.

Keberanian menegakkan keadilan tentu saja tidak cukup sebagai modal, seorang pemimpin yang ingin menegakkan keadilan butuh kekuatan. Karena sesungguhnya antara keadilan dan kekuatan juga memiliki kaitan erat. Memang betul kekuatan para pemimpin akan memunculkan tirani jika tanpa keadilan, tetapi keadilan tanpa kekuatan justru akan mengakibatkan kemandulan.

Akhirnya kita berharap dan meminta kepada para pemimpin kita, “duhai pemimpin kami, insyaf-lah, sadarlah, berlaku adillah, jangan zalim, jangan jadi pembohong, jangan suka umbar janji kalau tak ditepati, jangan jadi orang munafik, jika tidak ingin kelak mendapatkan siksa yang perih dari Allah SWT”.    WASPADA

Penulis adalah Ketua Program Doktor Ilmu Pertanian UMA dan Ketua STIE MTU.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2