Waspada
Waspada » Demokrasi “Memangsa” Rakyat
Opini

Demokrasi “Memangsa” Rakyat

McCormick mengusulkan sebuah badan warga negara yang mengecualikan elit sosial ekonomi dan politik dan memberikan hak veto, legislatif, dan otoritas kecaman yang dipilih secara acak dari orang biasa yang signifikan dalam pemerintahan dan pejabat publik

JOHN P McCormick dari University of Chicago dalam karyanya Machiavellian Democracy diterbitkan Cambridge University Press (2011) dengan amat meyakinkan berkata, krisis akuntabilitas politik telah begitu dahsyat menimpa demokrasi kontemporer.

Ia pun penuh percaya diri mengatakan, sangat banyak bukti bertebaran dimana-mana yang menunjukkan proses pemilihan, yang bahkan dikategorikan sangat bebas dan adil pun, tidak pernah mampu mengangkat dan mengorbitkan individu yang sangat responsif terhadap aspirasi politik dan harapan konstituen mereka sendiri.

McCormick yakin, pemerintahan yang dibangun demokratis tampaknya malah terpupuk semakin mahir saja dalam keberpantangan mencegah anggota terkaya di dalam masyarakat dari pengaruh berlebihan terhadap hukum dan pembuatan kebijakan. Demokrasi malah memasilitasi legalitas praktik seburuk itu.

Alih-alih memfasilitasi pembangunan sebuah model pemerintahan rakyat, demokrasi Pemilu pun tampaknya terlalu lunak untuk sebuah perlawanan. Jalan ini terbukti justru malah mengizinkan dan mungkin bahkan mendorong elit politik dan ekonomi untuk hanya berpikir tentang bagaimana memperkaya diri mereka sendiri dan itu sering dengan penuh kepastian untuk tak terusik.

Anehnya semua itu dibuat menjadi masuk akal dalam logika demokrasi yang disakralkan. Bahkan glorifikasinya untuk tetap berlangsung dengan biaya publik dan serta-merta pula (saat bersamaan) melanggar kebebasan mayoritas warga negara biasa yang semakin dibuat tak berdaya.

McCormick adalah Professor Ilmu Politik yang banyak meneliti dan mengajar dengan ketertarikan khusus kepada pemikiran politik pada masa Renaissance Florence (khsusnya Guicciardini and Machiavelli), teori politik dan sosial abad 19 dan 20, filsafat dan sosiologi hukum, dimensi normatif dalam integrasi Eropa dan teori demokrasi kontemporer.

Machiavellian Democracy adalah satu publikasinya yang cukup berpengaruh selain Reading Machiavelli (Princeton University Press, 2018), Weimar Thought: A Contested Legacy (Princeton University Press, 2013), Weber, Habermas, and Transformations of the European State (Cambridge University Press, 2006) dan Carl Schmitt’s Critique of Liberalism: Against Politics as Technology (Cambridge University Pres, 1997).

Memperkecil Korban Demokrasi

Mungkin, karena kondisi tertentu, menyuarakan kegentingan seperti ini pun akan terasa sangat susah bahkan di negara demokrasi sekali pun. Tetapi apa pun alasannya, tidak mungkin dinafikan, ketimpangan ekonomi dan politik yang semakin meningkat benar-benar menimbulkan ancaman berbahaya.

Bahaya ini hanya dapat dihindari dengan satu cara, yakni pembodohan sistematis yang membuat rakyat tak tahu haknya dan menutup semua saluran informasi yang dapat jadi jendela pengetahuan khalayak tentang kondisi mereka, hak mereka dan kewajiban mereka. Kunci utama menjalankan cara itu ialah represi.

Ketimpangan ekonomi dan politik yang semakin meningkat berbahaya justru bagi kebebasan warga negara yang demokratis atau yang diklaim sebagai demokratis. Karena itu mulailah tak percaya pada definisi dan selektiflah untuk percaya setiap data, apalagi yang datangnya dari penguasa dan jejaring hegemoniknya di dalam dan di luar.

Dimana-mana bukti cukup banyak bertebaran. Bukti yang semakin terang dan jelas menunjukkan kekuatan ekonomi, akhirnya bukanlah keinginan ekspresif populer, yang menentukan kebijakan publik, dan Pemilu secara konsisten telah dan selalu gagal membuat pejabat publik bertanggungjawab kepada rakyat.

McCormick yakin, menghadapi situasi mengerikan ini diperlukan rujukan yang salah satunya sangat tepat melalui penafsiran ulang yang dramatis atas pemikiran politik Niccolo-Machiavelli. Ia dengan cerdas menunjukkan keniscayaan penting menyoroti ketegangan demokrasi yang sebelumnya terabaikan dalam tulisan-tulisan utama Machiavelli.

McCormick berusaha menggali data valid tentang bagaimana orang biasa melalui institusi di republik kuno, abad pertengahan, dan renaisans, berusaha efektif membatasi kekuatan warga negara kaya dan hakim publik. Secara optimistik McCormick berusaha membayangkan bagaimana institusi demokrasi yang efektif semacam itu dapat dihidupkan kembali menjawab dilema demokrasi hari ini.

Kontekstualitasnya jelas, demokrasi Machiavellian pada dasarnya diyakini berusaha menilai kembali salah satu tokoh sentral dalam kanon politik Barat dan secara tegas melakukan intervensi ke dalam perdebatan terkini mengenai desain kelembagaan dan reformasi demokrasi.

Ketika terinspirasi pemikiran Machiavelli tentang kelas ekonomi, akuntabilitas politik, dan pemberdayaan rakyat, McCormick tiba pada keberanian mengusulkan sebuah badan warga negara yang mengecualikan elit sosial ekonomi dan politik dan memberikan hak veto, legislatif, dan otoritas kecaman yang dipilih secara acak dari orang-orang biasa yang signifikan dalam pemerintahan dan pejabat publik. Anda merasa ini sangat perlu namun terasa amat utopis?

Tetapi justru dengan piawai McCormick tangkas menarasikan masalah ini. Bagaimana ketidakmampuan warga negara mengendalikan perilaku pejabat publik dan menangkal kekuatan dan hak-hak istimewa orang kaya menjadi ancaman besar bagi kualitas representasi politik saat ini, menjadi pusat perhatiannya.

Anda tentu sepakat dengan McCormick bahwa hal itu memang sangat dahsyat melemahkan kondisi kebebasan dan kesetaraan di dalam republik zaman yang kita warisi saat ini atau bahkan kita puja.

Terinspirasi analis republik yang paling lihai sejak zaman dahulu, Machiavelli, buku Machiavellian Democracy ini mempertimbangkan kembali langkah konstitusional dan teknik institusional yang oleh pemerintah populer sebelum demokrasi modern dirancang mengawasi dan mengendalikan elit politik dan ekonomi.

Untuk mengusir ancaman yang diberikan elit semacam itu terhadap kebebasan dan kesetaraan, warga negara biasa di dalam republik tradisional mengusulkan dan seringkali menetapkan langkah pertanggungjawaban yang jauh lebih luas daripada Pemilu yang kompetitif.

Sistematika buku ini disusun dengan pembahasan pengantar tentang kebebasan, kesenjangan, dan pemerintahan popular.

Disusul sorotan tajam pada ketegangan demokratis yang sebelumnya terabaikan dalam tulisan utama Machiavelli. McCormick menggali lembaga-lembaga di mana rakyat jelata republik kuno, abad pertengahan, dan Renaissance membatasi kekuatan warga kaya dan hakim publik, dan dia membayangkan bagaimana institusi seperti itu bisa dihidupkan kembali hari ini.

Dalam karya lain berjudul Democracy, Plutocracy and the Populist Cry of Pain (2017), McCormick mengakui, meskipun populisme saat ini adalah kendaraan yang diperlukan untuk mewujudkan reformasi demokrasi kontemporer yang efektif; namun populisme sudah terbukti dapat menjadi sarana yang berisiko dan sangat membahayakan kualitas jenis demokrasi yang kuat yang dapat dicapai melalui mobilisasi massa.

Masalah populisme adalah mekanisme reproduksi banyak kekurangan demokrasi perwakilan atau elektoral, di antaranya memberdayakan orang lain selain rakyat untuk bertindak atas nama rakyat yang merupakan sebuah skenario yang pada prinsipnya selalu bertentangan dengan demokrasi.

Ia cenderung ingin mengatakan populisme adalah sarana yang diperlukan mencapai reformasi yang di dalamnya rakyat dapat mengatur dirinya sendiri. Tetapi harus dipastikan, bagaimanapun, bahwa populisme seharusnya tidak berfungsi sebagai tujuan itu sendiri. Karena itu, ia hanya menggantikan aturan karismatik atau partai untuk aturan oleh elit parlementer, yudisial atau birokrasi.

Ketika mengulas “manfaat dan batas partisipasi dan penghakiman rakyat” di dalam buku ini McCormick mengaku bahwa orang-orang, ketika tertipu gagasan palsu tentang kebaikan, seringkali menginginkan kehancurannya sendiri. Resep Machiavelli untuk bentuk pemerintahan yang inklusif dan diberdayakan secara luas terletak pada penilaian yang sangat menguntungkan atas kemampuan rakyat jelata, terutama kapasitas mereka untuk penilaian politik.

Dalam bagian lain buku ini McCormick terus menekankan argumen Machiavelli tentang penilaian rakyat dan berbagai keterlibatannya dengan kritik serius terhadap kapasitas rakyat yang disuarakan oleh para pendukung kerajaan atau republik oligarkis. Machiavelli mengidentifikasi setidaknya tiga arena di mana rakyat melakukan penilaian yang lebih baik daripada aktor politik lainnya, khususnya, pangeran dan segelintir orang: memutuskan pengadilan politik, menunjuk hakim, dan membuat undang-undang.

McCormick meminjam James Madison dengan pendefinisian-ulangnya tentang republik sebagai rezim yang ditandai oleh perwakilan pemilihan dan dengan “total pengucilan rakyat dalam kapasitas kolektif mereka” dari kerja pemerintah. Dalam pandangannya, sebelum “demokrasi” muncul kembali di cakrawala politik Barat, Madison, seperti sebagian besar rekannya dari republiken abad ke-18, telah menghalangi dari agenda demokrasi fitur-fitur menonjol dari pemerintahan yang populer sebelumnya: magistrasi atau majelis khusus kelas; metode sosial-ekonomi yang tidak bias untuk memilih pejabat publik; dan prosedur formal dengan jaminan warga secara langsung berunding dan memutuskan urusan publik.

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2