Waspada
Waspada » Dari Heroisme Ke Demokrasi Oleh M Ridwan Lubis
Opini

Dari Heroisme Ke Demokrasi Oleh M Ridwan Lubis

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Romantika riwayat kepahlawanan yang menandai bulan November secara sayup-sayup untuk sementara sudah mulai kita tinggalkan dan topik berita kita di tanah air sekarang ini beralih kepada perhelatan demokrasi.

Insya Allah, tanggal 9 Desember 2020 ratusan calon kepala daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota akan dihadapkan kepada kompetisi untuk menentukan figur pemimpin daerah pada masa jabatan berikutnya.

Sekalipun sebagian ahli masih meragukan sisi positif dari demokrasi tetapi secara teoritis, demokrasi adalah sarana yang paling memungkinkan untuk menyalurkan aspirasi dari masyarakat.

Memang, membuat semua orang sepakat terhadap seorang tokoh yang terpilih bukanlah hal yang mudah oleh karena itu dengan nada yang cenderung sinis muncul pandangan yang pesimis terhadap konsep demokrasi.

Namun, bagaimanapun, demokrasi adalah pilihan yang paling sedikit resikonya. Pada masyarakat yang terbentuk melalui sistim monarki atau feodal, pemimpin muncul karena dilahirkan.

Pada sistim demokrasi amat layak biaya dibutuhkan sangat besar karena membangun opini publik bukanlah pekerjaan ringan apalagi calon pemimpin tersebut tidak terlalu dikenal masyarakat sebelumnya demikian juga belum teruji melalui pengalaman kepemimpinan.

Sementara pada sistim monarki dan feodal, cost yang dibutuhkan menuju terpilihnya seorang pemimpin tentu cukup hemat karena tidak dibutuhkan upaya menghimpun suara dukungan dari masyarakat.

Masyarakat disepakati berdasarkan ikatan genealogis serta maupun kharismatik telah menyerahkan sepenuhnya penetapan seorang pemimpin dari pemimpin sebelumnya yang memiliki otoritas sebagai primus interpares.

Dan atas dasar itu, seorang diotetapkan menjadi pemimpin sepenuhnya muncukl dari pengakuan masyarakat berdasarkan wibawa atau kekuatan poly morfix yang mereka peroleh. Tetapi sistim monarki inipun sebagaimana pada negara tetangga kita, semakin dipertanyakan masyarakat sekalipun pada masa lalu merupakan hal yang tabu untuk diperbincangkan.

Dalam sejarah model kepemimpinan masa lalu, seorang terpilih memperoleh bai’at menjadi pemimpin didasarkan karena pertimbangan teologis. Lihat misalnya para khulafa Al Rasyidin: Abu Bakar, Umat, Usman dan Ali terpilih menjadi khalifah al rasyidin, didasarkan dukungan serta pengakuan umat atas kelebihan personalitas serta potensi kemampuan mereka sebagai pemimpin umat.

Secara ekstrimnya, seorang pemimpin dapat mengambil kesimpulan terhadap suatu kebijakan berdasarkan keyakinannya sendiri sekalipun berbeda dengan hasil kecenderungan dalam musyawarah.

Besarnya bobot otoritas yang dimiliki seorang pemimpin merupakan konsekuensi logis dari besarnya beban kewajiban dan tanggung jawab yang dipikulnya. Dalam pada itulah, pada masa klasik, menjadi pemimpin itu bukanlah suatu keadaan yang disikapi dengan rasa gembira tetapi didahului tetesan air mata seorang calon pemimpin.

Karena dalam dirinya muncul sejumlah pertanyaan terhadap kapasitas dan kompetensinya dalam memikul kewajiban. Memang harus diakui bahwa situasi psikologi sosial antara masa lalu dengan masa kini terdapat perbedaan.

Apabila pada masa lalu, menjadi pemimpin diterima sebagai amanah yang didalamnya terpikul tanggung jawab (mas-uliah). Tetapi pada masa kini, jabatan kepemimpinan lebih cenderung dilihat sebagai hak yang melekat pada diri seorang pribadi yang merasa memiliki kapasitas serta dukungan profesionalitas dalam riwayat perjalanan hidupnya.

Meskipun harus menjadi catatan bahwa bagi orang yang memandang jabatan kepemimpinan sebagai hak, belum tentu akan terjadi penyimpangan dalam pelaksanaan kepemimpinannya. Manakala ketika mulai memperkenalkan dirinya sebagai pemikul amanah rakyat terlebih dahulu didasari oleh motivasi ingin membangun kehidupan sosial menuju kepada taraf yang lebih baik.

Konsep ini sesungguhnya bukan hanya kepemimpinan yang dihasilkan melalui Pilkada akan tetapi relevan menjadi acuan pada semua model kepemimpinan baik birokrasi maupun swasta. Maka dalam rangka menuju kepada cita-cita yang demikian, seorang pemimpin yang terpilih berjanji pada dirinya akan berupaya sekuat tenaga untuk berbuat yang terbaik.

Melalui cara pendekatan yang demikian maka tentulah kepemimpinan yang demikian akan berlangsung dengan baik. Akan tetapi manakala yang terjadi sebaliknya yaitu kepemimpinan bertujuan sekedar untuk meraih privelese maka Nabi Muhammad SAW mengingatkan:

Apabila disandarkan sesuatu urusan kepada orang yang tidak memiliki kepasitas kemampuan (baik teknis-manegerial maupun moral) maka tunggulah kejatuhannya. Peringatan Rasulullah tersebut tentunya berlaku umum pada setiap ruang dan waktu.

Masa Pemilihan Kepala Daerah pada tahun ini menjadi dilema pada satu sisi tuntutan dari konstitusi sementara di pihak lain ancaman pandemi Covid-19. Bangsa kita dihadapkan kepada sejumlah kesulitan yang pada dasarnya bermula dari pandemi Covid-19 yang sampai sekarang belum bisa ditentukan kapan akan berakhir.

Bisa saja ada sebagian masyarakat diliputi kekhawatiran ketika akan mengikuti perhelatan demokrasi ini. Tetapi sebagian lainnya berpandangan mengikuti Pilkada merupakan bagian dari upaya menuju kepada kebaikan dari sebuah kegiatan dakwah yang disebut fiqh siyasah yaitu implementasi pemahaman ajaran agama dari aspek politik.

Hal tersebut, tentulah tidak perlu dipertentangkan dan terserah kepada masing-masing dalam menentukan pilihannya termasuk memilih pasangan calon yang dirasakannya dapat lebih mendekatkan suasana kehidupan sosial menuju perkembangan pembangunan yang lebih baik.

Karena para calon yang akan dipilih sesungguhnya mereka juga tidak bisa memastikan apakah akan berhasil melaksanakan visi, misi dan programnya. Karena faktor keberhasilan itu ditentukan oleh berbagai aspek baik internal maupun eksternal termasuk kondisi sosio-ekonomis-politis yang mengitari jalannya program pembangunan.

Karena itu adalah wajar masyarakat ikut berdoa agar pelaksanaan Pilkada berlangsung dengan aman serta para calon terpilih dapat mengemban amanah warga dengan sebaik-baiknya.

Bagi yang belum terpilih selayaknya memilih sikap untuk menerima dengan sabar dan tawakkal seraya mengucap syukur karena beban amanah itu lebih sesuai untuk dipikul oleh saudaranya yang lain.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2