Waspada
Waspada » Dakwah Yang Transformatif-Fungsional
Opini

Dakwah Yang Transformatif-Fungsional

 

Kegiatan dakwah yang berkembang sekarang ini pada umumnya masih bersifat kerja perorangan belum menjadi agenda kelembagaan

Selama sebulan lalu telah kita saksikan betapa kegiatan dakwah tampil dalam berbagai model dan ungkapan. Hampir seluruh jam sudah terisi dengan kegiatan dakwah mulai dari tingkat kampung sampai level nasional.

Berbagai sosok da’i telah tampil baik yang sifatnya pemula sampai pada tingkat mahir baik nasional maupun internasional. Pelaksanaan kegiatan dakwah biasanya dimulai dengan cara adanya transaksi antara massa yang diwakili panitia penyelenggara dengan da’i yang ditunjuk.

Bagi da’i yang telah punya nama tentu akan mengalami kesulitan untuk membagi waktu dan perhatian guna melayani kehausan siraman rohani yang datang silih berganti. Sementara bagi da’i pemula atau yang belum memiliki kemampuan membentuk opini publik.

Mereka lebih banyak bersikap menunggu ada yang berminat mencoba kemampuannya untuk menarik perhatian publik. Apa yang mereka lakukan sifatnya positif karena semuanya memiliki cita-cita ingin berupaya membangun dakwah yang transformatif dan fungsional.

Suatu fenomena baru, munculnya para da’i yang tidak lagi sekedar lulusan pesantren akan tetapi jebolan universitas dengan derajat pendidikan pascasarjana. Melihat hal itu, saatnya dipikirkan dakwah dapat dikembangkan dengan model pendekatan pribadi (personal approach) guna penyelesaian masalah.

Dapat dibayangkan besarnya dampak dakwah yang solutif tersebut apalagi yang membutuhkan dakwah tersebut tokoh-tokoh kunci dalam pergaulan sosial. Sehingga hasil dari prestasi dakwah akan lebih nyata buktinya dalam kehidupan masyarakat.

Dakwah yang transformatif dianalogikan dengan kepemimpinan transformasional yaitu berusaha menginspirasi kinerja jamaah agar melakukan kegiatan keberagamaan yang terus meningkat. Gaya muballig transformasional memiliki berbagai cara memotivasi khalayaknya agar dapat meningkatkan ‘ubudiyah dengan cara memberikan dorongan kepada pengikut.

Selain itu, memberikan contoh yang lebih mementingkan kepentingan berorientasi terjadinya transformasi dalam beragama yang berdampak sosial, dari pada individu guna kebaikan bersama. Apabila mungkin memberikan contoh kepada pengikutnya yang lebih bersemangat dalam pengamalan agama.

Lebih dari itu, juga mendorong massa pengikutnya agar lebih sabar dan tabah menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, kegiatan dakwah yang menerapkan gaya kepemimpinan transaksional.

Seorang da’i akan meningkatkan kinerja memotivasi massa pengikutnya dengan memberikan berbagai penghargaan untuk memberikan semangat kerja kepada pengikutnya. Da’i pada dasarnya juga sebagai pemimpin akan memberikan penghargaan yang bersifat kolektif.

Berdasarkan kewenangan yang ada padanya baik yang sifatnya kasat mata (tangible assets) maupun yang tidak kasat mata (intangible assets). Sehingga mendorong jamaahnya lebih bergiat dalam kegiatan ‘ubudiah yang memberikan dampak positif bagi para pengikutnya.

Usaha yang dilakukan da’i patut memperoleh apresiasi dari masyarakat karena tidak terbayangkan kerelaan mereka mengerahkan tenaga, pikiran bahkan terkadang materi dalam rangka berupaya mengembangkan kualitas dakwah.

Sehingga terlaksana pesan yang mereka bawa yaitu untuk menyampaikan pesan kabar gembira (tabsyir) dan kabar peringatan (tanzir) kepada massa yang meluangkan waktu mengikuti pembinaan dari para da’i. Berdasarkan hasil pengamatan serta dialog dengan para jamaah pasca dilakukannya dakwah, terdapat beberapa saran untuk peningkatan kualitas dakwah.

Pertama, kegiatan dakwah yang berkembang sekarang ini pada umumnya masih bersifat kerja perorangan belum menjadi agenda kelembagaan. Sehingga peserta dakwah yang mereka tuju adalah bersifat massa dan da’i tampil menjadi tokoh massa dan belum mempersiapkan diri sebagai tempat melakukan konsultan pribadi. Sehingga materi dakwah lebih bersifat normatif belum praktis tentang akidah, ibadah dan akhlak.

Sayangnya, dakwah yang sekerang berlangsung masih sangat sedikit menggugah kesadaran pengembangan pranata sosial. Sementara sekarang dibutuhkan dakwah yang menggugah kesadaran massa guna membangun format pranata sosial yang bernuansa Islam namun berdampak secara massa terhadap semua orang.

Karena fenomena keberhasilan dakwah akan bisa dilihat indikatornya pada seberapa besar dampak yang dihasilkan terhadap pembentukan pranata sosial yang islami: pendidikan, ekonomi, politik, hukum dan sosial-budaya. Karena kekuatan gema dakwah akan dilihat dari seberapa besar daya ungkitnya terhadap tumbuhnya minat melakukan kinerja sosial kemasyarakatan atas kesadaran iman.

Dalam rangka itu, diperlukan terbentuknya jaringan kerja (network) para praktisi sosial dengan komunitas da’i sehingga terjadi kesinambungan antara dakwah yang menggugah kesadaran jamaah dengan perluasan wilayah garapan dari agenda pengayaan spritual kerohanian kepada pengembangan pranata sosial.

Kedua, dengan perkembangan kehidupan global sekarang ini hampir tidak mungkin lagi seseorang yang akan melakukan perubahan pola kerja yang bersifat transformtif hanya bergerak sebagai pemain tunggal. Tetapi memerlukan jalinan kolaborasi dengan berbagai pihak agar dakwah bisa mengalir ke hilir dan ditampung realisasinya oleh para pegiat sosial.

Jaringan kolaborasi dapat dibangun melalui kerjasama dengan komunitas pengusaha, praktis politik, pendidikan, praktisi hukum dan pegiat sosial-budaya. Hasilnya diharapkan dakwah tidak berhenti seakan hanya sebagai menara gading yang memancarkan sinar yang terus berkilauan namun jauh dari jangkauan massa.

Tetapi melalui kolaborasi ini, dakwah berkembang dengan terjadi peningkatan dari sekedar konsep-konsep rekayasa sosial yang sekilas bersita utopis akan tetapi sebaliknya, dakwah dapat berkembang dalam bentuknya yang fungsional. Dampak lanjutan dari model kolaborasi dakwah dengan sendirinya akan memperkuat kerukunan sosial.

Topik dakwah yang selama ini cenderung memerkuat fragmentasi umat melalui penonjolan topik khilafiah akan bergeser menjadi perlombaan membangun prestasi keumatan dalam berbagai aspek pranata sosial yang berbasis dakwah.

Ketiga, dengan melakukan penataan terhadap kondisi massa di lapisan bawah. Maka dengan sendirinya, para da’i memiliki bahan yang akan dibahas secara tematik pada masyarakat tertentu. Sehingga mereka dapat merasakan adanya korelasi antara tema pengajian dakwah peningkatan kualitas hidup mereka baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, politik dan sosial budaya yang kesemuanya berlandasakan kepada panggilan nurani keimanan.

Da’i tentu saja tidak mampu senirian menggarap hal tersebut. Karena itu diperlukan partisipasi berbagai organisasi dakwah untuk urun rembuk mengkaji secara sistemik pengembangan kehidupan umat untuk menjemput masa depan.

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2