Waspada
Waspada » Corona, Runtuhnya Arogansi Manusia
Opini

Corona, Runtuhnya Arogansi Manusia

Berakhirnya perang dingin (cool war) antara Amerika dan Rusia nampaknya tidak serta merta membuat negara-negara istirahat atau menahan diri mengembangkan teknologi militernya.

Justru ada yang menjadikan ini sebagai momen pengembangan senjata untuk mempertahankan negaranya, atau entah motivasi lain. Itulah yang terlihat ketika mencoba membuka link kekuatan militer dunia.

Seiring dengan kemajuan ekonominya, selain Amerika dan Rusia, belakangan muncul negara ketiga yang memiliki kekuatan ekonomi dan militer baru, yaitu Cina. Begitu kuatnya militer tersebut, sehingga sang kepala negara dalam salah satu acara sesumbar mengatakan “tidak ada kekuatan yang bisa menaklukkan China”.

Betulkan demikian !
Ternyata tidak. Kekuatan militer China nampaknya tidak berdaya menghadapi virus Corona yang belakangan disebut Covid 19. Hanya dalam hitungan hari ratusan bahkan ribuan mayat bergelimpangan.

Ironinya, yang menyelamatkan rakyat bukan kecanggihan peralatan militer, pesawat tempur super canggih, senjata nuklir, tank serba bisa, dan lain-lain. Ternyata, yang menyelamatkan sehingga tidak terjadi kepunahan ialah manusia tanpa peralatan militer, tanpa senapan AK 16 atau pesawat pembom Panthom, bahkan tak pernah latihan baris berbaris sebagai latihan dasar militer.

Justru sang penyelamat adalah manusia sipil yang tidak pandai baris berbaris atau tidak pernah memegang bedil, yang dia pegang hanya jarum suntik kecil memasukkan vitamin ke tubuh pasien, atau infus kecil yang memasukkan anti bodi sehingga tidak terjadi kematian. Tanpa operasi militer, mereka mengakhiri gempuran virus, dan katanya kota Wuhan kini sudah normal seperti sebelum kedatangan tamu tak diundang corona.
Begitu juga ketika virus ini memasuki negara kuat dunia Amerika.

Amerika ternyata kelabakan. Konon korban jatuh di Amerika melebihi negara asal corona, yaitu China, walau ada dugaan China menyembunyikan jumlah korban. Entahlah, yang pasti begitulah kata media.
Mengenai ketidak siapan Amerika itu, dalam salah satu video singkat menggambarkan bagaimana seorang perawat beserta perawat lainnya harus mengerjakan tugas dengan tanpa masker dan alat pengaman lainnya.

Ketika ditekan untuk terus bekerja, sang perawat hanya mengatakan “biarkanlah saya membuat pengaman diri saya dulu karena saya juga mempunyai keluarga”. Ternyata Amerika yang hebat secara militer dan juga ekonomi sehingga digelar “polisi dunia” tidak mampu menyediakan alat pengaman untuk tenaga medisnya, yang berujung pada demonstrasi.

RUNTUHNYA AROGANSI
Lalu, pesan kecil yang bisa diamati ialah “ternyata kehebatan manusia mempunyai batas, sesuai dengan kemampuan yang diberikan Tuhan kepadanya”.

Apa yang dilakukan presiden China ketika corona menyerang negerinya. Ternyata, seperti nampak dalam media sosial, ia mendatangi masjid-masjid, meminta kepada para jama’ah untuk berdo’a kepada Tuhan agar virus corona cepat teratasi di negaranya. Tentu ini di luar dugaan, ternyata ada saat di mana orang yang tidak percaya kepada Tuhan akhirnya harus mengakuinya.

Dalam psikologi agama memang disebutkan, rasa keputus asaan atau kondisi sulit bisa membuat orang lari “dari” agama dan bisa juga lari “menuju” agama. Atau bisa membuat orang tidak lagi percaya kepada agama (ateis), atau sebaliknya membuat orang beragama (teis) bahkan semakin beragama (religius).

Teori lain menyebutkan bahwa, ada dua cara yang dilakukan manusia dalam kondisi sulit atau putus asa, yaitu bunuh diri (socide) atau lari ke agama. Orang yang memilih cara bunuh diri karena ia sudah kehilangan pegangan (anomali), tidak ada lagi yang bisa tempat berlindung (anorm), karena Tuhan yang dijadikan sebagai tempat perlindungan sudah terhapus dalam dirinya. Bahkan dianggap karena Tuhanlah dia seperti ini.

Sementara mereka yang lari ke agama kemudian mampu melepaskan diri dari belitan masalahnya. Tentu atas anugerah Tuhan atas kepasrahannya.

MENGAMBIL ‘IBRAH
Semua yang terjadi dalam hidup ini tidak ada yang sia-sial. Begitu pesan salah satu potongan pendek ayat al-Qur’an. Begitu pentingnya pesan ini sehingga dijadikan sebagai salah satu do’a yang diajarkan al-Qur’an, seperti tercatat dan surat Ali Imran/3: 190-191:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, seraya berkata: Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia. Maka Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka” (Q.S. Ali Imran/3: 190-191).

Salah satu ‘ibrah sesuai judul di atas, ialah betapa lemahnya manusia dan betapa berkuasa Allah SWT. Apa yang disebut dengan pesawat super canggih dengan kecepatan tinggi, tank tempur serba bisa, kapal selam yang mampu menyelam berbulan-bulan, nuklir yang mampu menjangkau antar benua, semuanya tak berdaya hanya oleh virus Corona.

Corona telah meruntuhkan arogansi anak manusia, arogansi negara China, Amerika, dan lain-lain. Ternyata manusia ada kelemahannya.
Di sisi lain, ternyata betapa Mahakuasa dan Mahaperkasanya Tuhan, Ia bisa melakukan apa saja, yang kadang di luar kemampuan otak manusia. Sebab itulah, Islam menjadikan arogansi sebagai salah satu dosa besar bersama sifat lainnya, yaitu mendurhakai orang tua, berzina, mencuri, berkata jorok, dan berlaku tidak adil.

Khusus arogansi mendapat ancaman dari Allah dengan memberinya kehinaan sebagai imbalan atas arogansinya, sebagaimana dijelasnya dalam salah satu hadits qudsi, yang artinya: “Arogansi (takabbur) adalah perhiasan-Kua, maka barangsiapa yang mengambilnya dari-Ku, akan Kuhinaklan” (at-takabburu ‘izariy, waman akhzahu ‘anniy fa ahan-Tuhu).

Pada hadits lain disebutkan bahwa terdapat tiga sifat yang merusak manusia, yaitu “hawa nafsu yang diperturutkan, kikir yang dipelihara, dan kekaguman manusia terhadap dirinya” (Tsalatsun muhlikatun, sahhun matha’un wa hawa muttaba’un, wa i’jabul mar’i binafsihi, H.R. Ahmad). Rasa kagum kepada diri inilah kemudian sebagai bibit lahirnya takabbur (arogansi).

Dalam konteks jangka panjang, takabbur seprti halnya riya’ (hipokrit) dan dengki (hasad) akan dapat menghapus kebaikan seseorang, sehingga kelak di hari kiamata semua kebaikan yang disertai dengan tiga sifat ini tidak akan memperoleh imbalan pahala.

Oleh sebab itulah Islam menuntun manusia agar memiliki sifat sebalik dari arogansi, yaitu rendah hati (tawadhu’). Suatu ketika ditanya tentang makna tawadhu’, Ali Bin Abi Thalib yang dipandang sebagai sahabat yang memiliki keluasan ilmu mengatakan: “Takabbur ialah ketika engkau menempatkan dirimu setingkat di atas orang lain, sedangkan tawadhu’ ialah ketika engkau menempatkan dirimu setingkat di bawah orang lain”.

PENUTUP
Manusia diciptakan Tuhan dalam status yang sama dalam bidang sosial, hukum, agama, dan sebagainya. Sebab itu, Islam melarang sifat arogansi, lebih hebat dari orang lain sehingga melecehkan manusia lain, apalagi arogansi kepada Tuhan. Manusia yang arogan akan mendapat imbalan langsung dari Tuhan, maka tidak ada pilihan lain kecuali menjauhinya. Corona ternyata mampu menepis arogansi itu, semoga manusia menyadarinya, sehingga tidak ada sikap semena-mena dan ketidak adilan di atas dunia ini. Amin.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2