Waspada
Waspada » Café Mengepung Medan Oleh Budi Agustono
Opini

Café Mengepung Medan Oleh Budi Agustono

Penulis adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Semakin hari Medan semakin diwarnai ragam bangunan baru. Beberapa tahun belakangan menjamur tempat santai bergaya resto kuliner dan café (kopi) nan artistik menjajakan makanan dan kopi. Tumbuhan kembangnya resto, café (kopi) atau kedai kopi makin hari kian bertambah ke penjuru Medan

Di jalan protokol (utama) kota tidak hanya di berdiri bangunan perumahan dan perkantoran, juga diisi resto kuliner dan café (kopi) yang menyediakan makanan bermenu barat dan kopi. Jika tadinya jalan protokol (utama) hanya terlihat bangunan lama besar kini di berdekatan bangunan tersebut berdiri gedung baru mentereng menjadi resto kuliner dan café (kopi).

Di Jalan Uskup Agung yang mulanya hanya berjajar rumah pribadi, belakangan telah berdiri gerai atau resto kuliner dan café (kopi) yang ramai didatangi pengunjung. Tidak jauh dari sini, Jalan parman yang sebelumnya hanya ada rumah pribadi, kini telah hadir resto kuliner dan café (kopi) di kiri kanan jalan. Di Jalan Mansur misalnya sepuluh tahun lalu masih sepi, tidak ditemukan resto kuliner dan café (kopi), sekarang mulai perempatan Padang Bulan sampai Jalan Setia Budi berjajar resto kuliner dan café (kopi).

Saat ini Jalan Mansur dipadati warung kopi dan gerai kuliner. Ada bank, took olah raga, gerai pakaian, barbershop, dan kolam renang. Tetapi kebanyakan gerai di kawasan ini adalah warung kopi dan gerai kuliner. Menjelang sore sampai malam hari warung kopi dan gerai kuliner acap dipenuhi penikmat kopi dan pelanggannya. Lokasinya tidak jauh dari jantung kota Medan sehingga aksesnya lebih muda terjangkau dari mana saja. Di kawasan Mansuri ada kafe yang banyak disambangi kaum muda, ada juga tempat nongkrongnya generasi 40-an ke atas.

Demikian juga di Jalan Sei Wampu belakangan amat mudah menemukan kedai, warung, gerai, atau café (kopi) dengan ragam nama lokal dan ke barat-baratan mulai dari yang sederhana sampai yang nyaman dan cozy. Kedai, warung, resto dan café (kopi) dirancang apik dan instagrammable bertujuan menarik consumer nongkrong di tempat ini mulai dari yang muda sampai setengah baya.

Situasi tempat nongkrong ini bervariasi, tetapi bila tempatnya relatif besar, selalu ada live music di malam hari. Musik live dihadirkan tidak lain untuk menyihir pengunjung datang ke tempat nongkrong ini. Makin bagus penyanyi dan personil grup musiknya, makin banyak pengunjung yang menyambangi tempat ini. Salah satunya adalah Café Nongkrong, yang sebelum masa pandemi global (Covid 19) pengunjung dihibur dengan musik dan penyanyi bersuara bagus dan lagu yang kekinian.

Tidak hanya di Sei Wampu, yang dengan mudah dijumpai tempat makan berselera barat. Di Jalan Merak yang lebih kecil dan lokasi tergolong di pinggiran kota bertumbuhan warung makanan dan kedai atau café (kopi) yang setiap siang sampai malam hari tetap buka.

Pun di jalan Merak yang lebih kecil yang rada di pinggiran kota bertumbuhan kedai kopi dan warung makan yang ditata bagus bermunculan di sepanjang kiri kanan jalan. Menjelang sore sampai malam jalan ini bertambah ramai karena banyak pembeli nongkrong menyeruput kopi dan makan malam.

Namun di antara semua jalan yang berdiri gerai kuliner dan café (kopi) Jalan Gagak Hitam atau popular dengan sebutan ring road paling fenomenal tempat nongki-nongki dan menyantap makanan.

Saat ini Jalan Gagak Hitam atau ring road ramai dipadati pengunjung resto kuliner dan cafe (kopi). Sejak dibukanya jalan ini menjadi jalan arteri yang menghubungkan berbagai jalan di kota Medan sangat cepat perkembangannya. Jalan ini menjadi kawasan bisnis kuliner.

Sedari mula dibukanya jalan yang sebelumnya sepi ini mendadak sontak berubah ramai mulai dari perempatan Jalan Asrama dan Jalan Gatot Subroto sampai peremmpatan Jalan Ngumban Surbakti berdiri hotel, café (kopi), terminal satelit bus antarkota, kedai kuliner, mal, SPBU, mini market, perbankan, toko, perabot rumah tangga, gerai material bangunan, ruang pamer sepeda motor dan mobil sampai rumah sakit.

Menjelang sore sampai malam hari di lokasi kawasan bisnis kuliner ramai disambangi pembeli yang tidak pernah sepi dari pengunjung saban harinya, terutama di hari libur. Kawasan bisnis kuliner ini semakin hidup dan bergeliat yang menghidupi ekonomi kota. Berbagai kalangan (milenial dan generasi sesudahnya) selalu mendatangi kawasan ini untuk menghabiskan waktu dan merehatkan tubuh di saat waktu senggang saambil menyeruput minuman ringan dan melahap makanan.

Belakangan banyak café di Medan menyediakan live music sebagai penarik pengunjung. Di berbagai café yang tersebar di penjuru Medan makin hari yang menyediakan live music semakin membesar. Ada yang alat musiknya sederhana, ada juga yang menyerupai grup band nampil di café.

Live music sangat diminati pengunjung (tamu). Sambil menikmati kopi dan makanan tamu tidak saja mendengarkan lantunan lagu, melainkan juga dapat juga meminta lagu tertentu kepada pemusik café. Juga tamu dapat tampil menjadi penyanyi menghibur pengunjung lainnya.

Jika lagunya bagus dan enak didengar tepuk tangan terdengar kuat sebagai pertanda apresiasi kepada penyanyi dadakan ini, tetapi jika suara dan lagunya dayat, biasa-biasa saja, tamu lain hanya mendengar penyanyi lain menyumbangkan lagunya di tengah ramainya pengunjung. Tetapi lazimnya jika penyanyi live music suara bagus dengan lagu yang menawan akan beroleh tepuk tangan malah jika ada tamu yang rekues lagi penyanyio live music bersuara bagus penyanyinya akan beroleh tips dari tamu.

 

Gerakan

Namun di atas semua ini agar pengunjung (tamu) dapat bertahan lama di café, biasanya café menyediakan wifi, internet gratis, dengan kecepatan tinggi. Ketersediaan wifi ini membuat pengunjung (tamu) bertahan lama tidak saja untuk mencari informasi dunia lewat internet gratis, terkadang di café tetap bekerja, berkorespondesi dengan surat elektronik, twitter, facebook, instragram, dan media social lainnya.

Belakangan setelah pandemi global (Covid-19) meluluhlantakkan kesehatan dunia dan menghancurkan ekonomi aktifitas ekonomi jagad raya, pengunjung (tamu) dapat bekerja lewat zoom dengan menggunakan fasilitas internet gratis café. Café harus menyediakan internet gratis. Tanpa ini café akan sepi karena tidak ada pengikat yang menahan orang (tamu) untuk bertahan lama.

Kehadiran café dan gerai kuliner tidak semata hanya tempat ngopi di sore sampai menjelang malam, jika lokasi bagus apalagi istagrammable dan cozy, semakin ramai didatangi pengunjung (tamu). Tidak hanya ini, gerai kuliner dan café lokasinya menjadi tempat arisan dan berkumpulnya kaum ibu untuk menjalankan aktivitas sosialnya.

Sambil berkumpul dan makan dapat berfoto bersama kawan-kawan yang seketika itu juga diunggah ke media sosial sehingga bagi yang berteman dengan mereka dapat cepat mengetahui aktifitasnya dari manapun dan belahan dunia manapun. Unggahan foto bareng aktifitas sosial yang disebar ke media sosial ini tidak saja dapat membuat rasa senang dan memamerkan diri, melainkan juga menjadi media promosi tempat mereka berkumpul ke penjuru dunia.

Unruk merespons perkembangan bisnis kuliner hotel berlantai tinggi di bagian atasnya (roof top) dijadikan café atau gerai dengan disain menawan untuk menyedot pengunjung ngopi dan bersantai di roof top sembari memandang kerlap kerlip keindahan kota di malam hari. Gerai kuliner dan café telah mengepung kota Medan. Setiap harinya di masa normal sebelum gelombang pandemi global menyapu dunia orang main senang nongkrong di café. Orang tidak lagi berminat bertemu dan mengajak bermain di rumah, tetapi lebih memilih lokasi nyaman mengobrol sembari menikmati kopi plus santap makanan. Ngobrol dan ngopi lebih nyaman dan enak di café ketimbang di rumah.

Kepungan café di Medan mengundang orang menghabiskan waktunya di tempat ini.

Gerai kuliner dan café yang mengepung kota Medan selain menunjukkan geliat ekonomi juga membuat orang banyak mengobrol bersama kawan-kawan di café ketimbang di rumah. Pada masa menggejalanya pandemi global (Covid-19) orang lebih memilih café sebagai tempat berkomunikasi. Di setiap kampus jika ada café yang lokasinya nyaman orang mengerubutinya mulai siang sampai menjelang malam hari.

Ketika café mengepung Medan ruang publik kota semakin berisik bergerak. Bahkan beberapa resto kuliner dan café menjadi arena lokasi diskusi kaum terpelajar kota Medan. Kaum terpelajar kota mulai memilih café menjadi lokasi kegiatan ilmiah seperti peluncuran dan diskusi buku. Sebelumnya tidak pernah terjadi diskusi buku digelar di resto kuliner dan café, kini dengan fasilitas internet diskusi atau kegiatan ilmiah sambil menikmati dan sajian makanan riang, sambil kongkow dapat menikmati diskusi buku atau diskusi lainnya secara daring melalui tautan zoom.

Resto kuliner dan café yang mengepung Medan yang dilengkapi internet telah bertransformasi menjadi media baru dalam sirkulasi pengetahuan ke berbagai penjuru angin jagad raya. Meski sirkulasi pengetahuan telah dipancarkan, tetapi kebanyakan pengunjung atau penikmat kopi dan kuliner sebagian besar café masih digunakan tempat makan dan ngobrol dan menghabiskan waktu senggang. Café sebagai lokasi strategis belum dilipatgandakan menjadi potensi ruang publuk memproduksi gerakan kebudayaan .

Harapannya dengan tertancapnya digitalisasi informasi teknologi di café para pengunjung atau penikmat kuliner dan kopi di relung café yang mengepung ibukota Provinsi Sumatera Utara ini dapat menjadi agensi dalam gerakan kebudayaan menebarkan virus kemajuan dalam mengisi ruang publik di kota Medan.

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2