Bisnis Dan Islam - Waspada

Bisnis Dan Islam
Oleh Zulkarnain Lubis

  • Bagikan

Jadi berbisnis adalah pekerjaan yang dianjurkan untuk dilakoni oleh kita, sebagaimana yang dijalani oleh Rasulullah. Karena itu sudah tepat jika entrepreneurship dan jiwa berwirausaha menjadi materi yang ditanamkan sejak dini

Ada satu hal penting yang saya dapatkan ketika mengikuti ceramah agama ba’da shubuh di masjid dekat rumah beberapa hari yang lalu yaitu ternyata bisnis memiliki arti sangat penting dalam Islam.

Apalagi jika kita amati dan cermati kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasulullah. Memang kehidupan Beliau sebelum diangkat menjadi Rasulullah sekarang ini jarang dibahas dan dijadikan topik ceramah.

Padahal dahulu saat masih anak-anak, saya masih ingat masa di kampung dahulu, ketika ada acara memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. Riwayat hidup Beliau sejak lahir disampaikan bergiliran yang biasanya dilakukan para santri dan remaja yang tentu saja terlebih dahulu sudah harus menghapalnya di bawah arahan para ustadz.

Sesudah saya dewasa, saya sudah tak pernah lagi melihat yang demikian, jikapun ada acara peringatan maulid Nabi, isinya hanyalah ceramah umum di seputar kehidupan Rasul serta pelajaran yang diambil untuk menjalani kehidupan saat ini.

Selebihnya adalah pidato sambutan serta sedikit hiburan berupa lagu-lagu Islami dan pembacaan solawat Nabi saw, itupun sekarang persoalan peringatan maulid Nabi tersebut malahan menjadi kontroversi antara yang mempertanyakan dasar dan boleh tidaknya dilakukan serta kelompok yang menganggap peringatan tersebut tidak masalah dilakukan dan dianggap bermanfaat bagi syiar Islam dan faedah lainnya.

Saya tidak membahas persoalan maulid Nabi lebih jauh, tapi pentingnya bisnis dalam Islam yang setelah mendengarkan ceramah Subuh tersebut, saya menganggap betapa strategisnya posisi bisnis dalam Islam.

Sebagaimana diyakini umat Islam bahwa perilaku Rasulullah sejak lahir telah menunjukkan perilaku, sifat, dan perbuatan yang pantas dan layak jadi tauladan bagi seluruh ummat manusia.

Akhlak Beliau sejak lahir selalu terpelihara, karena memang Beliau sudah di-setting akan menjadi Rasul, tentu saja Beliau tidak tiba-tiba saja diangkat jadi Rasul pada usia 40 tahun, sehingga Beliau dari sesuatu yang tidak apa-apa seketika menjadi apa-apa, bukan pula dari sesuatu nothing seketika menjadi everything.

Sebelum diangkat menjadi Rasul, Beliau sudah melalui proses yang panjang bahkan sangat panjang, jauh sebelum Beliau dilahirkan. sehingga saat diangkat jadi Rasul, dari aspek apapun Beliau sudah memenuhi “kelayakan, kecukupan, dan kecakapan”.

Karena itu, sesungguhnya keteladanan dan kepribadian dari Rasulullah SAW, tidak hanya kita ikuti dan tiru sejak Beliau jadi Rasul tetapi juga kehidupan Beliau saat sebelum menjadi Rasul juga patut, layak, dan penting dijadikan sebagai contoh kehidupan untuk diikuti dan diteladani.

Satu hal menarik yang patut kita cermati dari kehidupan Beliau sebelum diangkat jadi Rasul adalah bahwa Beliau telah terlebih dahulu “dimasukkan” ke dalam “sekolah bisnis” tapi tanpa kelas yang formal serta dengan “kurikulum” yang utuh dan terintegrasi dengan kehidupan beliau.

Ada empat fase tingkatan “sekolah bisnis” yang Beliau lalui untuk menjadi bekal Beliau “dilantik” Allah sebagai pemimpin untuk semua aspek kehidupan dan dalam segala macam urusan, yaitu “dilantik” sebagai Rasulullah.

Fase pertama Beliau SAW menjadi penggembala, saat berusia 6 sampai 12 tahun. Saat Beliau belajar menjadi pemimpin, yaitu belajar memahami dan menjalankan fungsi-fungsi manajemen khususnya dalam merencanakan, menindaklanjuti, mengarahkan, mengendalikan, memonitoring, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan, ditambah lagi dengan memberikan perlindungan kepada “rakyatnya”.

Pekerjaan mengangon dan menggembala mulai dari mencari tempat makanan yang baik, mengawasi, dan meyakinkan tidak ada masalah pada hewan yang diangonnya adalah praktek awal dari praktek manajemen yang dilakukan Rasulullah di usia yang sangat dini.

Pekerjaan menggembala juga menjadi awal bejalar berbisnis, karena dinilai dengan menggembala akan terasah kesabaran, kerja keras dan disiplin, manajemen waktu, keakuratan, dan kebesaran Allah melalui mengingat dan menjaga ciptaanNYA.

Dengan demikian, pekerjaan menggembala menjadi wadah pertama untuk mengasah dan meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual, khususnya yang terkait dengan self awareness, self control, self management, dan kepasrahan kepada Zat yang Maha Tak Terbatas, Maha Tak Terhingga, dan Maha Kuasa terhadap dirinya dan ternak-ternaknya.

Mungkin saja ada kaitannya kenapa para nabi sebelumnya beberapa diantaranya juga kehidupannya dilalui dengan menjadi penggembala, seperti Nabi Adam, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Nabi Luth, dan Nabi Ismail. Jika demikian, bisa jadi, pekerjaan menggembala hewan bisa sebagai awal “kampus merdeka dan merdeka belajar” untuk menjadi pemimpin.

Fase kedua dari “pendidikan kepemimpinan” dan “bisnis” Rasulullah adalah ketika Beliau berusia antara 12 sampai 20 tahun, dimana Beliau melanjutkan “perkuliahannya” dalam bentuk “magang” dengan dibawa pamannya, Abu Thalib, berniaga ke berbagai daerah khususnya ke negeri Syam yang mencakup Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.

Dari “magang” tersebut, kehidupan berbisnis semakin mampu diselami dan dijalani oleh Rasulullah yang membuat Beliau terlatih untuk berinteraksi, berkomunikasi, dan bertransaksi dengan berbagai ragam dan corak peniaga dari berbagai latar belakang.

Sehingga Beliau akhirnya matang menjadi pebisnis saat berusia 20 tahun dan sudah bisa menjalankan bisnis sendiri sampai Beliau berusia 25 tahun. Pada masa usia 20-25 tahun yang merupakan fase ketiga dalam “pendidikan bisnis dan kepemimpinan”.

Beliau merintis dan memulai bisnis sendiri dan berhasil membangun bisnisnya sehingga mencapai reputasi yang bagus dalam dunia bisnis dan dikenal luas di Yaman, Syiria, Yordania, Irak, Basrah, serta kota-kota perdagangan lainnya di jazirah Arab.

Ekspedisi perdagangan Beliau telah mengarungi 17 negara ketika itu yang dianggap aktivitas perdagangan yang luar biasa. Jadi dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW telah membina dirinya menjadi seorang pedagang profesional, yang memiliki reputasi dan integritas yang luar biasa dan berhasil mengukir namanya di kalangan masyarakat bisnis pada khususnya dan di kalangan kaum Quraisy pada umumnya.

Kejayaan Beliau dalam berdagang, menjadi lebih bersinar ketika Beliau dipertemukan dengan orang kaya Mekah yang tidak lain adalah Siti Khadijah. Khadijah saat itu meminta Muhammad sebagai tangan kanan bisnisnya dan disetujui Beliau.

Ternyata keputusan Khadijah memilih Beliau sebagai tangan kanannya adalah keputusan tepat, sehingga hubungan keduanya bukan lagi menjadi majikan dan pekerjanya tetapi berubah menjadi mitra bisnis yang membuat bisnis mereka semakin terus tumbuh dan berkembang.

Ketika Muhammad berusia 25 tahun, hubungan keduanya meningkat lagi dari sekedar hubungan bisnis menjadi suami istri, setelah Muhammad yang sudah tampil menjadi pengusaha sukses melamar dan menikahi Siti Khadijah dengan mahar bernilai ratusan juta rupiah yang merupakan hasil dari berniaganya.

Kehidupan sebagai pedagang terus dilakoni oleh Rasulullah dan bisnis Beliau terus berkembang dan semakin besar pada fase keempat Beliau dalam “sekolah bisnis dan kepemimpinan”, yaitu pada usia 25-40 tahun, dimana Beliau tampil menjadi pengusaha sukses. Namun demikian, kesuksesan tersebut tidak menjadikan Beliau tampil mewah dan hidup glamour, justru pola hidup Beliau malah makin sederhana dan hidup hemat, namun sebaliknya semakin dermawan kepada para fakir miskin, orang yang membutuhkan, dan kepada budak.

Perilaku ini terus Beliau laksanakan sampai Beliau diangkat menjadi Rasul pada usia 40 tahun dan sebagaimana disinggung tadi bahwa saat diangkat, Rasulullah sudah matang dan mapan dalam segala hal, termasuk dalam masalah finansial.

Sepanjang hidup Beliau, Rasulullah diketahui selalu berperilaku baik, berakhlak mulia, suka menolong, dan selalu adil dalam memberi pertimbangan, sehingga masyarakat menjuluki Beliau sebagai Al Amin.

Akhlak mulia dan kepribadian baik tersebut jugalah yang menjadi modal utama Beliau dalam berniaga serta didasari oleh tauhid yang kuat. Sebagaimana juga pengakuan mitra-mitra bisnis beliau, bahwa Muhammad adalah pebisnis yang matang dalam perhitungan, jujur dan profesional.

Ringkasnya, Beliau jalankan dagangnya dengan akhlak mulia dan dengan etika bisnis yang tinggi, mengedepankan kejujuran, tidak mengandung najis dan kotor, dan menepati janji.

Dalam berbisnis, Muhammad juga memiliki karakter dan sifat ketauladan yang melekat pada diri Beliau yaitu shiddiq atau benar dengan tidak pernah menyembunyikan barang dagangan yang cacat, amanah atau terpercaya.

Baik oleh pemilik barang maupun oleh pelanggan, fathanah atau cerdas dan pandai khususnya dalam menyusun perencanaan dan melihat peluang bisnis, serta tabligh atau memiliki kemampuan negosiasi, membangun komunikasi dan reputasi yang baik.

Dari apa yang diuraikan di atas, bahwa sebelum Muhammad diangkat menjadi Rasul, Beliau terlebih dahulu telah menjalani “proses pembelajaran” melalui “on the job training”, “magang”, dan “langsung praktek” yang akhirnya membuat Beliau tampil sebagi pebisnis dan pemimpin bisnis yang handal.

Tentunya dipilihnya “kurikulum” bisnis dan kepemimpinan dalam proses pembelajaran sebelum jadi Rasul bukan secara kebetuan tapi by design dan “sengaja dipilih” Allah SWT yang sekaligus menunjukkan betapa pentingnya bisnis bagi Islam dan menunjukan pula bahwa bisnis adalah pekerjaan yang baik karena merupakan cara yang digunakan dalam mendidik Muhammad sebelum menjadi Rasul.

Jadi berbisnis adalah pekerjaan yang dianjurkan untuk dilakoni oleh kita, sebagaimana yang dijalani oleh Rasulullah. Karena itu sudah tepat jika entrepreneurship dan jiwa berwirausaha menjadi materi yang ditanamkan kepada pelajar sejak dini.

Sudah tepat pula jika kurikulum kita diboboti dengan pemahaman dan praktek langsung tentang kewirausahaan dan melahirkan pebisnis handal tapi yang jujur, berakhlak, berbudi pekerti, bekerja keras yang tidak hanya sekedar mencari keuntungan dan menumpuk materi.

Tetapi sebagai wujud ibadah kepada Allah sekaligus untuk memenuhi keperluan masyarakat, untuk berbuat baik, untuk bersilaturrahmi, untuk membangun jaringan, sekaligus sebagai jalan untuk mendapatkan rezeki dari Allah.

Dengan demikian, mestinya berniaga dilakukan bukan sekedar untuk mendapatkan economic benefit tapi yang paling penting adalah social benefit dan spiritual benefit, sebagaimana ditunjukkan oleh Rasulullah dalam berniaga.

Beliau berniaga juga bukan sekedar untuk mengejar keuntungan, apalagi hanya sekedar memaksimumkan keuntungan, tetapi Beliau berniaga adalah untuk memuaskan pelanggan, memenuhi harapan, keinginan, dan keperluan pelanggan, tanpa merasa perlu menyebut-nyebutnya seperti itu.

Beliau juga selalu berusaha memegang prinsip customer satisfaction meskipun juga tidak menyebut-nyebut dan mengklaimnya demikian. Berniaga yang ditunjukkan oleh Rasulullah juga bukanlah berniaga yang semata-mata berorientasi untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya.

Tidak untuk menumpuk harta dan memaksimumkan kepuasan hawa nafsunya, tidak melakukan segala cara untuk meraup untung, termasuk tidak melakukan cara licik, menipu, curang, dan berbohong.

Berbisnis juga mestinya tidak dilakukan dengan cara yang berbau judi, tidak memperdagangkan barang yang mengandung bahaya dan mudharat, tidak berniaga barang haram, serta tidak berbisnis barang yang tidak jelas ukuran dan satuannya.

Karena prinsip yang Beliau tunjukkan bahwa rezeki yang diperoleh dari bisnis bukan karena kehebatan dan kemampuannya, tetapi karena Allah, karena pemberian Allah, dan karena karunia Allah SWT.

Penulis adalah Guru Besar UMA dan Rektor Universitas MTU.

  • Bagikan