Bisnis: Berpikir Cerdas
Oleh Bachtiar Hassan Miraza

  • Bagikan

Cara pimpinan ini adalah sebuah metode agar bawahan mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan. Sebab itu pimpinan/pengusaha bis harus berpikir cerdas

Di antara usaha UMKM masih terdapat UMKM yang belum juga berbenah diri menyambut pertumbuhan ekonomi. Perkiraan pemerintah dan bank dunia mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak menjadi perhatian mereka.

Sudah bergeraknya beberapa sektor ekonomi juga tidak menciptakan kepercayaan mereka untuk mulai berbenah. Naiknya nilai ekspor dan impor dan bergeraknya sektor wisata secara massif serta berkembangnya kegiatan transportasi juga tidak menggerakan mereka berbenah.

Pengucuran kredit perbankan berbunga murah juga demikian. Mereka khawatir pandemi Covid akan datang lagi dan akan memukul usaha mereka kembali. Mereka sangat trauma atas kejadian masa lalu.

Sifat kehatihatian mereka dianggap wajar tetapi terlalu berlebihan. Dengan sikap seperti itu dipastikan mereka akan tertinggal dengan kawan usahanya yang lebih dulu berbenah. Kala ekonomi telah tumbuh pesat dan kawan kawannya telah bekerja normal mereka masih tertinggal jauh di belakang

Mereka akan terkena malapetaka lagi. Sebagai pengusaha sifat berhati hati dalam menghadapi resiko sebagai suatu kewajaran. Namun sifat kehatihatian yang berlebihan tidaklah benar dalam dunia usaha. Semua harus berjalan secara rasional yang penuh dengan perhitungan.

Mengelola resiko memang tugas dari seorang pengusaha asal pengusaha itu sadar bahwa resiko adalah teman bermain pengusaha. Keberhasilan mengelola resiko akan menghasilkan laba. Itu sebabnya seorang pengusaha berbeda dengan seorang manusia biasa.

Seorang pengusaha bukan sekadar memiliki modal tapi mampu mengelola resiko. Dan diperolehnya laba bukan karena penerimaan lebih besar dari pengeluaran. Tapi karena berhasilnya ia mengelola resiko. Sebab itulah seorang pengusaha dituntut untuk memiliki keahlian dalam usaha yang ditekuninnya.

Ada cerita yang dialami pengusaha sukses dalam mengelola resiko. Perusahaannya berskala nasional. Secara tak terduga nuraninya mendorongnya untuk memperbesar skala usahanya dengan menambah investasi dalam jumlah besar untuk memperluas ruang kerja fabrik bagi meningkatkan produksi.

Padahal pada saat itu secara umum permintaan akan barang yang dihasilkannya sedang menurun. Sementara kawan usahanya menahan diri tapi ia bangkit memperbesar produksinya. Ternyata perhitungannya tepat dan berhasil.

Saat permintaan naik kawan usahanya masih berbenah diri sementara ia telah menjadi market leader. Waktu dalam dunia usaha merupakan faktor penting.

Pasar ia kuasai dan laba yang diperoleh mengembalikan seluruh modal yang ia tanam. Itulah dia Tanri Abeng saat menjabat sebagai Direktur PT Bir Bintang.

Penulis bertemu dengannya di tanah suci beberapa tahun lalu saat melaksanakan ibadah umrah. Ia berkata membangun usaha harus pada kondisi usaha (pasar) secara umum menurun.

Bukan pada saat kecenderungan pasar sedang naik. Tapi hal ini harus disertai dengan akal yang jenius yang dapat meramal pasar masa mendatang.

Jika membangun usaha saat pasar telah berkembang kita hanya mendapatkan sebagian saja dari pangsa pasar yang ada karena sebagian besar lainnya telah diambil pengusaha lain. Kita tidak bisa menjadi market leader terkecuali sebagai follower saja.

Sebab itu pula seorang pengusaha harus mempunyai keahlian dalam menganalisa pasar masa depan berdasar data dan pemikiran yang cerdas. Dan harus jauh dari sifat gambling. Bukan sekadar punya modal dan berharap datangnya laba secara untung untungan seperti dilakukan banyak pengusaha.

Contoh ini mungkin tidak cocok untuk usaha UMKM. Tapi contoh ini sekadar menunjukan bahwa seorang pengusaha tidak boleh buta dengan seluk beluk dunia usaha. Ia harus berkeahlian dan ada semangat untuk berkembang.

Nuraninya mengarahkannya untuk maju dan mencari pemikiran baru. Tidak pasif dan menunggu keberuntungan. Mengapa harus demikian karena maju dan mundurnya sebuah perusahaan ada ditangan pengusahanya/pimpinannya.

Ada lagi cerita lain. Ada seorang pengusaha (pedagang) membeli barang dalam jumlah besar dan tiba tiba menjual kembali semua barang itu dibawah harga pembeliannya dalam waktu sangat dekat. Secara rasional ia pasti mengalami rugi.

Ternyata tidak. Kawan dagangnya mejadi heran kenapa ini bisa terjadi. Rupanya secara tiba tiba ia mendapatkan kesempatan lain yang dapat memberi keuntungan yang lebih besar tapi dengan modal yang besar pula.

Ia tidak memiliki modal tambahan pada saat itu sehingga ia harus menjual kembali barang yang baru dibelinya dibawah harga pembelian.

Inilah yang disebut dengan pengusaha cerdas yang dapat berpikir secara kilat sehingga mendapatkan keberhasilan besar. Sebab itu seorang pengusaha harus cerdas dan berakal dan dapat melakukan perhitungan secara cepat.

Resiko dalam perusahaan memang ada dan pengusaha diminta dapat mengelola resiko secara tepat. Resiko dan laba adalah sahabat seorang pengusaha.

Ada lagi contoh lain dimana seorang pemimpin/pengusaha mendekatkan diri kepada bawahannya. Ia selalu bertemu dengan bawahannya menyampaikan maksud hatinya dalam mengembangkan perusahaan. Iapun mendengarkan dan meminta usulan bawahan tentang keinginannya itu.

Karena seringnya bertemu maka bawahan tidak segan menyampaikan usulan pada nya. Pimpinan membuka ruang dialog kepada bawahan. Banyak usulan yang ia terima.

Tapi siapa menyangka dengan cara ini loyalitas bawahan semakin tinggi pada perusahaan sehingga dengan mudah pimpinan dapat menumbuhkan produktifitas perusahaan. Kita harus sadar bahwa mendengarkan usulan bawahan berarti kita telah menghargai bawahan yang pengaruhnya sangat positif.

Cara pimpinan ini adalah sebuah metode agar bawahan mempunyai loyalitas tinggi pada perusahaan. Sebab itu pimpinan/pengusaha harus berpikir cerdas.

Saat ini perekonomian Indonesia sudah tumbuh walau dalam tingkat rendah. Bagi banyak pengusaha meyakini bahwa pertumbuhan ini akan terus naik dan memberi harapan akan berkembangnya dunia usaha sesuai dengan bidangnya masing masing.

Semua pengusaha berekspektasi dengan pertumbuhan ini. Mereka yang berekspektasi tinggi akan terus berbenah dan mempersiapkan perangkat perusahaan secara lengkap. Perbedaan dalam berekspektasi inilah yang nantinya membedakan kemajuan antar perusahaan.

Saat ini Indonesia harus mendorong pertumbuhan sektor produksi. Tidak seperti yang terlihat saat ini yang lebih mendorong sektor perdagangan. Apalagi dengan dikenalkannya perdagangan secara online. Pertanyaannya apa yang mau dijual kalau produksi tidak ada.

Akhirnya banyak terjadi transaksi barang impor bagi memenuhi pasar online dalam negeri. Akibat lanjutannya tercipta konsumsi tingkat tinggi (high consumption) dampak dari demonstration effect barang impor. Ini merugikan Indonesia karena pasarnya diambil oleh barang impor walau pemerintah memungut pajak dari barang import itu.

Dorongan membangun usaha produksi (manufaktur) harus dilakukan bagi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. Pembangunan usaha produksi secara otomatis akan menciptakan permintaan. Pertambahan permintaan ini akan mendorong tumbuhnya sektor produksi.

Antara produksi dan permintaan saling berinteraksi bagi memajukan perekonomian Indonesia. Ini yang disebut dalam teori ekonomi dengan supply creats its own demand and demand creats its own supply. Terima kasih dan semoga.

Penulis adalah Pemerhati Ekonomi, [email protected]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *