Waspada
Waspada » BERDAMAI DENGAN CORONA
Opini

BERDAMAI DENGAN CORONA

Saya yakin bahwa corona adalah menjadi kata yang paling menakutkan di abas ini, atau paling tiak sejak mamiliki ingatan. Bahkan ada pengamat mengatakan, lebih berbahaya dari krisis tahun 1998.

Soalnya krisis 1998, hanya kehancuran ekonomi yang kemudian bisa distabilkan oleh para petinggi negara. Habibi misalnya, mampu mengembalikan dolar dari Rp.17.000,- menjadi 7.500,-

Sementara corona, selain kehancuran ekonomi juga kehancuran kemanusiaan dengan banyaknya yang menjadi korban.

Dari pidato Menteri Keuangan misalnya memiliki prediksi akan terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi hanya 2 sampai 3 %, turun dari target 5 %. Bahkan bisa saja lebih buruk, yaitu minus %.
Dalam ketidak pastian itu, suatu hal yang pasti ialah korban jiwa yang terus bertambah. Sampai dengan tulisan ini dibuat sudah jatuh orang sebagai korban meninggal.

Sampai di sini banyak kepala negara dhadapkan pada dilema, yaitu mengurangi resiko korban meninggal melalui kebijakan lockdown, dengan resiko mengorbankan ekonomi.

Pilihan lainnya ialah membiarkan ekonomi tetap berjalan walau terseok-seok, tetapi akan memakan korban lebih banyak, karena tidak menerapkan lockdown.
Dilemma ini tentu memusingkan banyak kepala negara.

Adalah presiden Ghana, Nana Addo Dankwa Akufo Addo, dengan lirih berkata: “kami tahu cara menghidupkan ekonomi. Yang kami tidak tahu cara bagaimana menghidupkan kembali manusia” (we know how to bring the economy back to life. What we do not is how to bring poeple to life).
Luar biasa !. Tulisan ini mencoba menghindar dari dilemma tersebut sesuai dengan status yang bukan kepala negara.

LIMA TAHAPAN PERDAMAIAN
Secara psikologi, menerima suatu fakta yang tidak diinginkan adalah hal sulit,apalagi fakta menyakitkan itu untuk pertama sekali. Konsep ini relevan dalam melihat fakta corona. Untuk itu, dibutuhkan empat tahapan untuk berdamai dengan corona, atau masalah menyakitkan lainnya. Izinkah saya menggunakan istilah sederhana, sebagai berikut.
Pertama, tahap penolakan dan kemarahan. Pada tahap ini penolakan terhadap corona merupakan sikap yang reflektif, yaitu secara refleksi otomatis corona ditolak karena ia membahayakan bagi manusia. Sikap ini tidak jarang berlanjut pada kemarahan (ungry), yaitu marah terhadap corona.

Kedua, tahap pencarian kambing hitam. Rasa kemarahan terhadap corona ini berlanjut pada tahap mencari kambing hitam, yaitu siapa penyebab terjadinya corona. Dalam kaitan ini yang menjadi sasaran ialah di mana kasus corona bermula. Sudah barangtentu, yang menjadi obyek/kambing hitam ialah China. Lalu dicarilah bagaimana gaya hidup masyarakat ini untuk kemudian ditarik titik singgung.
Misalnya, faktor pertama terjadinya corona ialah virus yang ditularkan oleh kelelawar buah bersama hewan-hewan lainnya yang dikonsumsi secara tidak wajar oleh masyarakat Wuhan. Lalu disimpulkanlah bahwa gaya hidup inilah yang menjadi pennyebab terjadinya corona.

Ketiga, tahap bargaining (tawar menawar). Penolakan, kemarahan, dan pencarian kambing hitam nampaknya tidak membawa hasil apa-apa, karena corona tetap saja hadir dalam kehidupan manusia. Bahkan dalam intensitas yang lebih tinggi, ditandai dengan semakin banyaknya korban. Akhirnya diadakanlah bargaining, misalnya “jika corona harus ada, jauhilah kami darinya”. Hal ini nampak pada do’a-do’a qunut yang disampaikan setiap shalat.

Keempat, tahap pemahaman. Proses tawar menawar tentulah juga bukan menyelesaikan masalah, apalagi corona bukanlah manusia yang bisa diajak berdamai. Sampai di sini yang bisa dilakukan ialah memahami corona itu sebenarnya apa. Pengetahuan ini perlu sebagai modal untuk menghindar.
Seiring dengan informasi yang terus bereda dari lembaga yang kompeten, akhirnya coronapun difahami.

Misalnya, corona adalah virus yang membutuhkan media, dan media itu ialah semburan air dari mulut ketika bicara atau batuk dan bersin (droplet), tanpa itu ia tidak bisa hidup. Oleh karena itu, menghindrainya, usahakan tidak terkena droplet dengan cara memakai masker.
Kemudian ketika benda yang terkenal droplet dipegang, maka ia nempel di tangan, dan ketika tangan menyintuh mulut, iapun masuk ke rongga dan menyerang paru-paru.

Maka untuk menghindarinya dilakukan dengan selalu membersihkan tangan dengan sabun agar virusnya mati. Jika tidak ada air sabun gunakan handsanitizer. Selanjutnya untuk menghindari kemungkinan menyentu benda yang sudah terkena droplet, hindari keramaian. Selesai.

Kelima, tahap perdamaian. Jika corona sudah difahami wujudnya, penyebarannya dan pengendaliannya, maka masuklah pada tahap terakhir, yaitu berdamai dengan corona. Corona adalah juga makhluk Tuhan, dan manusia dengan statusnya sebagai khalifah Tuhan di bumi dengan ilmunya tentu memiliki cara menghindar. Di sini corona tidak lagi ditakuti, tetapi difahami dan kemudian dihindari.

Dengan demikian tidak perlu takut dan kalut, karena kekalutan akan menurunkan daya tahan tubuh yang justru mengundang kegadiran virus.

APA YANG HARUS DILAKUKAN
Apa yang harus dilakukan ialah berdamai dengan corona. Berdamai dalam arti berusaha semaksimal mungkin agar tidak tertular oleh virus corona. Sesuai dengan ajaran Islam ada aspek syari’at (fisik) dan hakikat atau tasawuf (non fisik), pendekatan ini nampaknya bisa dilakukan dalam menyikapi corona, ada tindakan fisik dan non fisik.

Tindakan fisik (syari’atnya) ialah mengacu kepada protokol pencegahan corona, yaitu memperkuat daya tahan tubuh dengan menjaga kesehatan, pola makan teratur, istirahat yang cukup, dan mengkonsumsi vitamin C dan E.
Kemudian menghindari corona sejauh mungkin, sebagaimana diperintahkan oleh Nabi yang mengatakan: “Larilah dari wabah sebagaimana lari dari singa” (firruw minal awsam firaran minal asadi).

Hadits kedua ialah Nabi melarang umatnya memasuki daerah yang sudah terpapar wabah, dan penduduk daerah yang sudah terpapar wabah tidak boleh meninggalkan daerahnya.
Secara operasional, tindakan aplikasi dari dua hadits di atas ialah berdiam di rumah (stay at home), jika mungkin melakukan lockdown, jika keluar memakai masker, menjaga jarak (social and phisical distansing), menghindari keramaian, dan sebagainya.

Upaya berikutnya yang bisa dilakukan ialah dengan memperbanyak zikir dan bersedekah, karena sedekah dapat menolak bala (ash-shadaqatu tuthfi’ul bala’). Tidak kalah pentingnya ialah do’a tolak bala, seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw: “Ya Allah jauhkan kami dari rasa lapar, bencana, wabah, segala bentuk kejahatan, ancaman yang beraneka ragam, dan paceklit…”.

PENUTUP
Berdamai dengan sesuatu yang tidak bisa dihindari adalah pilihan terbaik, jika tidak ingin menjadi korbannya. Berdamai dengan corona bukanlah dalam arti berteman dengannya, tetapi berusaha melakukan berbagai usaha agar tidak terkena keganasan virusnya, sesuai dengan beberapa upaya di atas.

Yang penting waspada, jangan sampai kalut, karena kalut akan mengundang corona, seperti kata Ibn Sina, dokter Muslim pertama: “kalut merupakan setengah penyakit, kewaspadaan setengah obat, dan shabar menjadi obat terbaik dari setiap penyakit” (al-wahmu nishfud-da’i, wal ithmi’nanu nishfud-dawa’i, wash-shabru bidayatusy-syifa).
Semoga kita terhindar dari virus ini. Amin.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2