Barus Jelang Maret 2023

  • Bagikan
<strong>Barus Jelang Maret 2023</strong>

Walau masih berstatus debatable, namun keberadaan tugu titik nol peradaban Islam nusantara bisa dimaknai lebih dari sekadar pengakuan akan validitas teori Makkah. Tugu titik nol peradaban Islam nusantara juga menjadi simbol adanya harapan untuk masyarakat Barus

Peresmian tugu titik nol peradaban Islam nusantara di kecamatan Barus memang tidak serta merta mengakhiri perdebatan para ilmuwan sejarah. Namun adanya tugu yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada tanggal 24 Maret 2017 itu membuat masyarakat Barus patut berbangga. Teori Makkah yang memberikan pengakuan bahwa Islam mulai masuk ke Indonesia melalui kota tua itu kembali mengemuka. 

Pengusung teori yang lebih terkenal mengemukakan pendapatnya bahwa Islam masuk ke Imdonesia dibawa oleh para pedagang dari Gujarat, negara bagian dari India yang letaknya ada di sebelah barat berbatasan dengan Pakistan dan Rajasthan. Pendapat ini pertama kali dikemukakan oleh seorang sarjana dari Universitas Leiden bernama Pijnappel. Dia menghubung-hubungkan sejarah masuknya Islam ke Indonesia dengan wilayah Gujarat dan Malabar. Menurut pemikirannya, orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i berimigrasi dan menetap di wilayah India, kemudian orang-orang Indialah yang membawa Islam ke Nusantara.

Teori ini kemudian  dipopulerkan oleh Snouck Hurgronje melalui bukunya L’Arabie et Les Indes Neerlandaises atau Reveu de I’Histoire des Religious. Menurutnya, banyak Muslim India yang datang sebagai pedagang perantara dalam hubungan dagang antara Timur Tengah dengan Indonesia. Jadi merekalah yang secara langsung menyebarkan Islam pertama kali ke Indonesia, baru disusul orang-orang Arab yang melanjutkannya.

Pemikiran Snouck Hurgronje ini didasarkan atas tiga hal yaitu kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam menyebarkan agama Islam ke Indonesia, hubungan dagang Indonesia-India telah terjalin lama, dan sumber informasi tertua tentang Islam terdapat di Sumatera memberikan gambaran antara hubungan antara Sumatera dengan Gujarat. 

Teori Gujarat ini kemudian didukung pula oleh pendapat ilmuwan asal BelAnda lainnya bernama Moquette. Dasar dari pendapatnya adalah artefak berupa batu nisan yang ada di Pasai, kawasan utara Sumatera, terutama yang bertanggal 17 Dzulhijjah 831 Hijriah atau 27 September 1428 Masehi. Menurut pengamatannya, batu nisan Pasai mempunyai kemiripan dengan nisan yang ada pada makam Maulana Malik Ibrahim (wafat tahun 822 Masehi atau 1419 Masehi) di Gresik. Kedua nisan tersebut kemudian diyakini memiliki kesamaan dengan bentuk batu nisan yang ada di Cambay, Gujarat. Dari sinilah ia berkesimpulan bahwa Islam masuk ke Indonesia pertama kali oleh orang-orang dari Gujarat. 

Kesimpulan senada dihasilkan oleh W.F. Stutterheim. Melalui bukunya De Islam en Zijn Komst In Archipel,  arkeolog itu menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia sejak abad 13. Jejak sejarah yang dijadikan landasan atas pendapatnya itu berupa batu nisan pada makam Sultan Malik Al Saleh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai. Pada nisan tersebut tertulis angka tahun 1297. Menurut pengetahuan Stutterheim, relief nisan makan Sultan Malik Al Saleh serupa dengan nisan di Gujarat. Karena itulah ia pun meyakini bahwa Islam datang ke Indonesia dari Gujarat melalui jalur perdagangan antara Indonesia dengan Cambay.

Dalam perkembangannya, teori Gujarat ini diragukan validitasnya setelah ditemukan beberapa kelemahan, salah satunya oleh G.E Marisson. Dia kontra teori Gujarat ini dengan mengacu  pada fakta bahwa saat masuknya Islam ke Samudera Pasai yang raja pertamanya, Sultan Malik Al Saleh wafat tahun 698 Hijriah/1297 Masehi, Gujarat justru masih merupakan kerajaan Hindu. Artinya, Pasai sudah lebih dulu dimasuki ajaran Islam daripada Gujarat. Setahun setelah Sultan Malik Al Saleh wafat, Cambay, Gujarat baru ditaklukkan kekuasaan muslim.

Atas dasar fakta tersebut, kemudian diambil kesimpulan logis. Jika para penyebar Islam datang ke Indonesia dari Gujarat maka ajaran Islam telah berkembang secara massif di Gujarat sebelum kematian Sultan Malik al-Saleh Marrison juga  mencatat, meski Gujarat beberapa kali diserang pasukan muslim, masing-masing tahun 1024, tahun 1178, dan tahun 1197, raja Hindu di sana mampu mempertahankan kekuasaannya hingga tahun 1297.

Terkuaknya kelemahan itulah yang kemudian melahirkan antitesis dari teoru Gujarat dengan salah satu pengusungnya adalah Buya Hamka. Teori baru ini dikenal dengan nama teori Makkah. Ada dua poin inti dari Teori Makkah. Pertama, Islam masuk ke Indonesia disebarkan langsung oleh para pendakwah dari Arab. Kedua titik nol masuknya Islam ke Indonesia adalah Barus. 

Keyakinan Buya HAMKA bahwa Islam masuk wilayah Nusantara langsung dari Muslim Arab semakin masuk akal jika dihubungkan dengan sebuah fakta sejarah pelayaran bangsa Arab. Sebagaimana ditulis oleh T.W. Arnold, sejak abad ke-2 sebelum Masehi bangsa Arab telah menguasai perdagangan di Ceylon (nama lama dari negara Sri Lanka).

Jika dihubungkan dengan penjelasan kepustakaan Arab Kuno yang memasukkan Indonesia sebagai pulau-pulau Cina atau Al-Hind, bisa ditarik hipotesis bahwa bangsa Arab telah sampai ke Indonesia pada abad 2 Sebelum Masehi. Bila kesimpulan ini benar, maka bangsa Arab merupakan bangsa asing pertama yang datang ke Indonesia. T.W. Arnold dalam “The Preaching of Islam” juga menyebut bahwa ada seorang pembesar Arab yang menjadi kepala daerah di Pantai Barat Sumatera pada 674 Masehi.

Dugaan bahwa Barus adalah titik nol masuknya peradaban Islam ke wilayah Indonesia, salah satunya didasari penafsiran terhadap ayat 5 Surah Al Insan: Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan meminum dari piala yang campurannya ialah kafur. Kata “kafur” dalam ayat tersebut kemudian diinterpretasikan sebagai kapur barus atau kamper. Menurut keyakinan Buya HAMKA, satu-satunya tempat di bumi yang memiliki kapur barus asli adalah Barus.

Walau masih berstatus debatable, namun keberadaan tugu titik nol peradaban Islam nusantara bisa dimaknai lebih dari sekadar pengakuan akan validitas teori Makkah. Tugu titik nol peradaban Islam nusantara juga menjadi simbol adanya harapan untuk masyarakat Barus. Menjelang 6 tahun pasca berdirinya tugu tersebut, masyarakat nasional dan bahkan global masih menunggu lahirnya calon intelektual Muslim dari sekolah, madrasah dan juga Sekolah Tinggi Agama Islam Barus. yang kelak akan berkontribusi merekonstruksi peradaban sesuai dengan kapasitas keilmuannya.

Penulis adalah Kabid Humas dan Publikasi Perkumpulan Kerukunan Keluarga Besar Sutan Syahi Alam Pohan.


Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.

<strong>Barus Jelang Maret 2023</strong>

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *