Baru: Partai Ummat

Baru: Partai Ummat
Oleh Shohibul Anshor Siregar

  • Bagikan

Partai Ummat. Dari namanya saja sudah menantang. Memberontak. Mengoreksi. Kosa kata “ummat” itu sudah lama diubah menjadi “umat”. Dihilangkan satu huruf.

Ini soal yang menyangkut politik bahasa yang banyak mengorbankan kosa kata Melayu yang sudah diadaptasi lama sekali dari bahasa Arab Islam. Jarang orang menyadari masalah besar ini.

                                             

Umat menurut kamus adalah kata benda bermakna para penganut (pemeluk, pengikut) suatu agama, penganut (ajaran) nabi; makhluk manusia; manusia sekalian (bangsa) manusia.

Sebetulnya pemakaian kata ummat untuk partai baru ini pun adalah sebentuk kekeliruan kecil khas Indonesia yang sudah berlangsung lebih tua dari usia republik. Sama seperti kosa kata zakat, siasat, kiamat dan lain-lain yang semestinya adalah zakah, siasah dan kiamah.

Ada juga yang ambigu ketika kosa kata Arab (Islam) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya “amanat” yang juga kerap dan sama pemakaiannya dengan “amanah” meski masing-masing berkemungkinan memiliki konotasi tertentu dalam pemakaiannya.

Begitu juga dengan yang lain, misalnya sejumlah kosa kata Islam yang terdapat di dalam rumusan Pancasila. Rakyah (kerakyatan, sila ke 4 dan 5), hikmah (hikmat, sila 4), musyawarah (permusyawaratan, sila 4). Kosa kata rakyat tetap konsisten untuk semua pemakaian dalam Bahasa Indonesia. Tetapi muswarah sangat sesuai dengan tata Bahasa Arab, tak pernah digunakan dalam penulisan musyawarat.

Jadi, mestinya nama Partai Ummat itu adalah Partai Ummah. Keinginan memelihara originalitas konsep dan kosa kata seperti ini tidak mungkin diintervensi oleh pemerintah sebagai pembuat regulasi pemberi legitimasi atas partai di Indonesia.

Konsep ummah disebutkan 51 kali dalam bentuk tunggal dan 13 kali dengan bentuk jamak (Muhammad Fuad Al-Baqi, t.th). Meskipun tak terbatas pemakaiannya hanya bagi umat manusia (Rahman & Zayad Abd2015), namun ketika Alquran menyatakan “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah yang mungkar dan beriman kepada Allah (Q.S. Ali Imran 110) alamatnya jelas.

Juga ummatan washata (Q.S.Albaqarah ayat 143), alamatnya tidak mengambang. “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.

Mohammad Amien Rais

Pendiri Partai Ummat adalah Mohammad Amien Rais (MAR). Seseorang yang dikenal sebagai lokomotif reformasi. Siapa yang tidak tahu MAR dan partai yang didirikannya, yang sejak tahun 1999 ikut pemilu dan pernah mengantarkannya menjadi Ketua MPR?

Dulu ada kisah seru dihadapi MAR. Dalam jabatannya yang baru saja diemban beberapa bulan pada Lembaga Tertinggi Negara (MPR, waktu itu lembaga ini memang disebut dan berfungsi demikian) itu, ia ditantang menentukan sikap. Presiden BJ Habibie akan segera berakhir masa jabatannya setelah pemilu. Pertanggungjawaban sebagai mandataris pun ditolak pada Sidang Umum MPR. Digalang oleh kekuatan politik tertentu.

BJ Habibie mencari figur yang tepat menggantinya dan menilai MAR adalah sosok yang tepat. Ia beroleh apa yang ia harapkan dan kini ia tidak sendirian. Hampir semua petinggi pemerintahan dan partai yang digalang, di luar pengetahuan MAR, bersepakat meminta kesediannya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Tetapi MAR menolak. Malah segera membentuk “Poros Tengah” yang terdiri dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan (PK), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

Koalisi inilah yang mengusulkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai calon presiden ketiga yang tanggal 20 Oktober 1999 terpilih dengan 373 suara. Rivalnya, Megawati, beroleh 313 suara. Saat itu Gus Dur meyakinkan Megawati untuk ikut dalam pemilihan wakil presiden, dan pada 21 Oktober 1999 terpilih sebagai wakil presiden. Megawati adalah Ketum PDIP dengan perolehan suara mayoritas pada pemilu (1999).

Gus Dur tak mampu mengawetkan jabatannya, dan itu menjadi jalan bagi Megawati menjadi Presiden setelah sebuah dekrit Gus Dur gagal menghempang arus perlawanan tak lama sebelum resmi dimakzulkan.

Saat-saat begini tentu sedikit banyaknya bernilai untuk dikemukakan serba sedikit latar belakang akademik MAR. Di tengah wabah gila titel dan jabatan akademik yang menghinggapi beberapa elit politik Indonesia yang sama sekali tak pernah bersentuhan dengan pengabdian dalam dunia akademik, yang sekaligus merendahkan martabat perguruan tinggi, institusi yang mengurusi dunia akademis dan ilmu pengetahuan itu sendiri, MAR adalah salah seorang di antara beberapa orang politisi Indonesia yang mantan guru besar. MAR dikenal sebagai guru besar Ilmu Politik UGM, Jogjakarta.

Dari UGM MAR belajar lagi untuk beroleh kepakarannya di Amerika, Magister dan Doktor. Di Universitas George Washington ia mengikuti pascadoktoral (1988-1989). Di Chicago University, USA, ia beroleh gelar Ph.D dalam ilmu politik (1984). Ia pun pernah belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir (1981), dan Universitas Katolik Notre Dame, Indiana, AS (1974).

Mengapa MAR Mendirikan Partai Baru?

Pasca Kongres PAN terakhir, MAR keluar dari partai yang didirikannya itu. Jika ia mau, dari dulu ia bisa mengabadikan jabatan puncak di tangannya hingga ia meninggal kelak atau hingga partai itu bubar. MAR tak memilih cara itu. Baginya demokrasi itu pro sirkulasi kekuasaan.

Tetapi dengan tak menjadi Ketua Umum abadi, otoritas pun otomatis melemah. Akhirnya ia malah hanya menjadi semacam simbol belaka.

Selama era Jokowi, Amien selalu opposisional secara pemikiran meski tak memantangkan kadernya masuk dalam kabinet. Sebagai perbandingan, selama masa kepemimpinan SBY yang dua periode itu, Mega terus beroposisi dan tak seorang pun kadernya menjadi menteri. Itu sebuah cara berhitung yang terbukti efektif membangun fanatisme pendukung terutama di akar rumput.

Usai pilpres 2019 pendukung capres menang menanti jatah jabatan. Partai yang sama sekali tak berminat merasa partainya akan lebih sehat jika berada di luar pemerintahan.

Gerbong kalah pilpres menerima kenyataan capres dan cawapres yang mereka dukung “minta suaka” kepada Joko Widodo. Diganjar jabatan menteri. Itu menambah kegairahan memperluas pikiran-pikiran oposisional di kalangan civil society yang memiliki cara menyambungkan gagasan dengan komunitas-komunitas terabaikan atau dipilahkan karena sikap politiknya.

Kongres PAN terakhir menjadi titik tolak baru tegas memecah MAR dengan semua yang berbeda pendapat dengannya dalam partai itu. Susunan kepengurusan di bawah Ketua Umum satu-satunya penjabat dua periode, tak berhasil meyakinkan MAR agar misalnya tenteram saja dengan atau tanpa jabatan partai.

Selain Ketua Umum ada dua jabatan puncak prestisius yang keduanya dijabat oleh mantan Ketua Umum PAN masing-masing dari periode berbeda. Semula orang tak begitu serius menanggapi isu akan didirikannya partai baru oleh MAR. Orang PAN tentu wajar merasa ada ancaman serius. Bisa membelah kader dan berbagi paksa konstituen yang sama.

Orang tak lupa MAR adalah mantan Ketua PP Muhamadiyah yang direlakan keluar dari jabatannya itu karena rencana mendirikan PAN. Tidak dapat disangkal, jejaring Muhammadiyah berandil besar dalam proses pendirian partai ini. Begitu pun dalam menyumbang suara pada setiap pemilu.

Semua alasan kepergian MAR dari PAN dan keputusannya mendirikan partai baru harus diresume dengan ketat untuk tak menjadi hal yang mengkendalai perjalanan Partai Ummat ke depan.

Tantangan Partai Keumatan

Apa masalah khas Partai Ummat? Pertama, tentu sumberdaya, baik insaniah maupun yang lain: uang misalnya. Siapa pun yang mendirikan partai saat ini, tentu temannya separtai adalah tokoh yang sama, yang sudah capek bersama dan kurang puas atau kurang sukses pada partainya.

Kedua, konstituen. Hanya jika ada sesuatu yang amat istimewa sekali yang diperhitungkan dapat membelokkan dukungan ke partai baru ini. Lalu apa keistimewaan Partai Ummat? Figur MAR mungkin masih begitu anggun pada daerah dan segmen tertentu sehubungan dengan sejarahnya sebagai mantan Ketua PP Muhammadiyah, pendiri PAN, dan lokomotif reformasi. Khususnya di lingkungan Muhammadiyah, hal ini akan sangat terasa.

Konstituennya pastilah pilahan umat yang selama ini mendukung partai dengan segmentasi pendukung keumatan. Karena rivalitas ini tak satu pun yang mampu tampil sebagai penggondol suara terbanyak dalam pemilu. Ini jauh berbeda dengan perolehan suara Masyumi pada pemilu pertama (1955) yang memang relatif memiliki instrumen penting untuk memersatukan dukungan.

Masih ada partai-partai baru lainnya dengan irisan konstituen yang sama yang menjadi rival sengit Partai Ummat. Dalam pemilu transaksional tentu saja Partai Ummat mengharamkan uang sogok. Bagaimana ia bisa beroleh suara? Untuk menjaga suara pasca pencoblosan, banyak pengurus dan caleg partai keummatan tak mampu melakukan.

Penutup

Umat dalam konsepsi yang diberikan oleh Q.S. Ali Imran 110 dan Q.S. Albaqarah 143 adalah prestasi (achievement) yang harus digapai dengan sungguh-sungguh. Bukan sebuah status yang serta-merta hadir (ascribe) tersebab status formal sebagai warisan kemusliman formal. Tidak sama sekali.

Dunia Islam saat ini tak seindah dikonsepsikan oleh Q.S. Ali Imran 110 dan Q.S. Albaqarah 143. Begitu juga umat Islam Indonesia yang terus diterpa berbagai masalah, mulai dari kemiskinan struktural, ketidakpandaian, mentalitas pengalah, tak terkonsolodasi, dan juga terus diterpa perlakuan yang berbasis perspektif Islamofobia.

Kehadiran Partai Ummat mestinya dengan gagasan baru yang terlupakan selama Indonesia merdeka. Misalnya, pemerintahan berbasis konstitusi. Sesuai pembukaan UUD 1945, Partai Ummat dapat mengatakan ke seluruh dunia “pada pemerintahan Partai Ummat nanti tidak ada lagi pengangguran”. Sebab Pembukaan UUD 1945 dan pasal 27 ayat (2) UUD 1945 memaksanya berlaku.

Jika gagasan itu yang diusung Partai Ummat, peluang menyeberang melampaui sekat psikologis dan ideologis kepartaian selama ini akan besar dan hasilnya bisa sangat dahsyat. WASPADA

Penulis adalah Dosen Fisip UMSU, Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS).

  • Bagikan