Bahasa Mandailing Dulu & Sekarang Oleh Marataon Nasution & Marlian Arif Nasution - Waspada

Bahasa Mandailing Dulu & Sekarang Oleh Marataon Nasution & Marlian Arif Nasution

  • Bagikan
Penulis adalah Guru SMA Negeri 1 Panyabungan Dan Dosen STAIN Mandailingnatal, Provinsi Sumatera Utara.

Bahasa Mandailing memliki linguistik yang sama dengan bahasa-bahasa pada umumnya. Memiliki vokal, sistem, simbol, dan arbitreri.

Bahasa Mandailing adalah bahasa daerah yang dipakai sebagai alat komunikasi di daerah Mandailingnatal (Madina). Namun demikian, merupakan bahasa daerah di sekitar Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidimpuan, dan Madina sebelum dimekarkan.

Bahasa Mandailing kini menjadi perhatian setelah para pemikir dan tokoh budaya merasakan adanya persoalan dalam bahasa Mandailing. Persoalan tersebut adalah jangan sampai bahasa Mandailing menjadi punah di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Khususnya di zaman sekarang kemajuan pesat kebudayaan luar yang sampai ke daerah Mandailing menjadi penyebab kepunahan tersebut bila dibiarkan tanpa ada usaha mempertahankan bahasa Mandailing tersebut.

Sejalan dengan itu, rRealitas menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat ribuan bahasa. Summer Institute of Linguistics (dalam Grimes, 1996) melaporkan bahwa ada 6.703 bahasa di dunia yang tersebar di berbagai kawasan.

Secara rinci disebutkan bahwa di kawasan Amerika terdapat 1.000 (15%) bahasa, di kawasan Afrika terdapat 2.011 (30%) bahasa, di kawasan Eropa terdapat 225 (3%) bahasa, di kawasan Asia terdapat 2.165 (32%) bahasa, dan di kawasan Pasifik terdapat 1.302 (19%) bahasa (lihat juga Purwo, 2000:6-7; Mbete, 2003:2; dan Artawa, 2005:4).

Laporan tersebut menunjukkan bahwa kawasan Asia menempati urutan teratas dari segi banyaknya bahasa. Dari segi persebaran berbagai bahasa tersebut yang dikaitkan dengan negara tempat bahasa-bahasa itu berada, Grimes (dalam Steinhauer, 1995) menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan kedua dengan 706 bahasa setelah Papua Nugini dengan 867 bahasa.

Penemuan terakhir tentang jumlah bahasa-bahasa itu adalah 731. Dari jumlah tersebut, 726 bahasa yang masih hidup, dua bahasa tanpa penutur bahasa ibu, dan tiga bahasa telah punah (SIL Internasional Indonesia, 2000:1).

Banyaknya bahasa di Indonesia itu menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang multilingual yang sangat kaya dengan bahasa daerah. Masing-masing bahasa daerah itu memiliki kedudukan dan fungsi sangat penting dalam kehidupan para pendukungnya.

Mengingat kedudukan dan fungsi bahasa daerah sangat penting, bahasa daerah tersebut tetap saja diberi hak hidup dan berkembang dalam era global ini sebagaimana bahasa lainnya, misalnya bahasa Indonesia. Keberadaan bahasa daerah itu dijamin kuat baik secara internasional maupun secara nasional.

Secara internasional, adanya jaminan hak asasi bahasa untuk tetap bertahan dan mengembangkan diri. Untuk itu, Unesco menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (lih. Alwasilah, 2001:1). Dalam konteks masyarakat Indonesia, umumnya Bahasa Ibu mereka adalah bahasa daerah/lokal (vernacular).

Secara nasional, jaminan hak hidup dan berkembang bahasa daerah tersebut dimuat dalam UUD 1945, khususnya pada Pasal 32 ayat 2, hasil amandemen ketiga, tentang Pendidikan Nasional yang berbunyi “negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional”. Bersamaan dengan itu, arah kebijakan bahasa daerah dinyatakan dalam Politik Bahasa Nasional (Alwi dan Sugono, 2003:13).

Berdasarkan paparan di atas, kepunahan bahasa daerah tentu sangat dikhawatirkan karena berbagai alasan. Misalnya, suatu bahasa daerah tidak lagi dipakai secara dominan dalam bahasa sehari-hari di daerahnya;

Tidak ada pemertahanan berupa buku asal usul atau kamus secara teoretis, kurangnya sikap bangga menggunakan bahasa daerah di tempat tertentu misalnya dalam acara istiadat daerah,; Tidak adanya perhatian masyarakat, dan pemerintah daerah ke arah pembinaan dan pengembangan bahasa daerah di daerahnya.

Realitas di atas menjadi motivasi berpikir bagi masyarakat Mandailing untuk menjaga bahasa Mandailing jangan sampai punah. Sejalan dengan itu, pada ulang tahun Kabupaten Madina ke-22 bersama STAIN Madina diadakan webinar internasional bahasa Mandailing secara zoom tanggal, 8 Maret 2021.

Ini dimaksudkan sebagai konteks kajian akademis tentang bahasa Mandailing dulu dan sekarang. Kebetulan penulis sebagai peserta webinar itu.

Sebagai pembicara adalah Drs Askolani Nasution (budayawan), Dr Torkis Lubis, Lc, D.E.S.S. dari STAIN Madina, Dr M. Daud Batubara,M.Si. dari STAIN Madina, dan Prof Dr Uli Kozok, M.A. dari Universitas Honolulu, AS.

Dari paparan mereka didapat beberapa hal yang menjadi perhatian kita terhadap bahasa Mandailing. Pertama, bahwa bahasa Mandailing memliki linguistik yang sama dengan bahasa-bahasa pada umumnya. Memiliki vokal, sistem, simbol, dan arbitreri.

Vokal atinya memiliki ucapan atau bisa diuacapkan, system artinya memiliki aturan kebahasaan. Simbol memiliki rujukan atau foto ucapan, dan arbiter bahasa yang timbul apa adanya secara historis.

Kedua, bahasa Mandailing mulai mengalami kepunahan dalam kosa kata yang jarang diucapkan seperti: tataring (tempat masak yang terbuat dari kayu atau bambu diisi tanah sebagai tempat tungku api).

Kemudian ampahan (alat pemeras kelapa), sikup (mainan anak-anak yang terbuat dari bungkus rokok), sikarap (getah karet kering untuk menyalakan api), kayapi (korek api). Semua ini jarang diucapkan karena diganti oleh kata kompor gas, mesin pemeras air kelapa atau santan, game, dan mancis atau korek gas.

Ketiga, dalam tataran morfologi, bahasa Mandailing memiliki imbuhan misalnya: Mar- pada kata marpio, marsikup, marsambar, martondi, serta lainnya. Ini semua terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ini semua terjadi karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masuknya budaya baru atau modernisasi kehidupan.

Dari beberapa argumen di atas, disimpulkan bahwa menjaga bahasa daerah agar tidak punah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Selain membutuhkan tenaga, biaya, dan dukungan pemerintah daerah juga harus ada kesengajaan secara terus menerus yang sungguh-sungguh untuk membina dan mengembangkan bahasa daerah dalam hal ini bahasa Mandailing seiring kemajuan global saat sekarang.

Dengan demikian, kini pemertahanan bahasa daerah Mandailing perlu dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya menumbuhkan kepercayaan dan kebanggaan dalam menggunakan bahasa Mandailing dengan konteks yang benar.

Menulis kamus-kamus bahasa Mandailing, mencipta film dan lagu daerah mandailing oleh masyarakat, akademisi, dan pemerintah daerah. Akhirnya, semoga bahasa Mandailing terhindar dari kepunahan. Amin. Semoga!

 

  • Bagikan